"Bi, andai saja layak. Ingin kuperjuangkan hidupku sepenuhnya padamu. Andai saja mungkin, ingin kugengam tangan yang akan membasuh segala luka yang ada. Andai saja mampu, ingin kupertahankan hidupku yang singkat, hanya bersamamu." - Utari
*U t a r i*
Ia Tak Pernah
Ia tak pernah berjanji kepada pohon
untuk menerjemahkan burung
menjadi api
Ia tak pernah berjanji kepada burung
untuk menyihir api
menjadi pohon
Ia tak pernah berjanji kepada api
untuk mengembalikan pohon
kepada burung
-Sapardi Djoko Dhamono
Kutatap setumpuk kain perban berwarna merah di atas lantai. Lalu beralih pada lengan yang sudah terbalut dengan perban baru. Menutup luka perih yang tampak di atas kulit. Mengingat siapa yang menorehkan luka ini, membuatku ingin berhenti lari. Perasaan seperti ini bukan lagi hadir secara terkadang, namun justru seringkali. Sesekali ingin lari untuk sejenak melupakan sesak dan rasa sakit. Seringkali pula ingin segera mengakhiri kehidupan ini, berharap luka baru tak akan datang padaku.
Sesekali aku merasa bahwa pelarian ini, bisa saja tak semudah yang kubayangkan selama ini.
Perasaan ingin lari, tetapi juga berhenti di waktu yang bersamaan. Mungkin karena aku sudah terlalu sering bergelut dengan rasa sakit, sampai sedikit ketenangan yang kurasakan justru terasa seperti ancaman nyata. Melihat Abi, kini membuatku tenang dan dengan bodohnya aku datang ke kampus dengan kondisi seperti ini hanya untuk memastikan bahwa aku benar-benar tak sedang bermimpi. Bahwa aku benar-benar telah keluar dari apartemen yang memenjarakanku selama ini.
Kadang rasa takut dan kesakitan itu bahkan lenyap entah ke mana. Namun, hari ini aku sadar bahwa langkahku terlalu jauh dan terburu-buru. Bahwa kenyataannya aku belum siap membuka diri di depan siapa pun. Termasuk diserang dengan pertanyaan siapa pelaku atas luka-lukaku.
Untuk yang kesekian kalinya kuhela napas panjang demi mengusir sesak. Sialnya yang hadir justru uraian air mata. Saat ini mungkin adalah waktu di mana aku harus jatuh sementara. Di ruangan kecil ini tak akan ada seorang pun yang tahu aku menangis, 'kan? Di kamar usang ini seluruh topeng dan dalil baik-baik saja akan luruh dalam setetes air mata.
Namun, pintu mendadak terbuka. Menampakkan Anjani yang berdiri di sana. Membuatku mau tak mau mendongak karena suara derit yang cukup keras. Sebelum ia melangkah masuk kuusap wajah yang basah dengan lengan baju. Tangis ini setengah tertahan begitu ia duduk di sampingku.
"Kalau sakit jangan ditahan. Nggak selamanya manusia bisa baik-baik aja," ucapnya setelah cukup lama diam.
Keras kepala masih kupertahankan untuk bungkam. Meski sesak ini semakin menekan d**a hingga terasa sakit, aku masih diam membiarkan jemari saling meremas satu sama lain.
"Tiap manusia itu pasti pernah patah hati. Ada beberapa dari mereka yang patah hatinya sengaja diperlihatkan, sebagian juga justru menyembunyikan itu. Cuma karena kamu nangis, itu nggak akan bikin kamu terlihat lemah. It's okay. Saat ini, kamu cuma perlu mengikuti apa yang ada di sini," sambung Anjani menunjuk d**a atas bagian kiri.
Tak ayal, karena ucapannya dan banyak hal. Tangisku kembali jatuh. Membiarkan Anjani melihat segala rasa sakit yang kumiliki, sebab dia adalah obat bagiku. Bagi rasa sakit yang kupikir abadi sampai kematian menjemput.
Samar kudengar ia bersenandung nyanyian yang tak pernah kudengar sebelumnya. Sedangkan tangannya yang dingin mengusap punggungku pelan. Hingga perlahan ketenangan menelisik hati menyalurkan kehangatan baru. Sentuhan Anjani terasa hangat menjalar di seluruh kulit.
Bahkan kini tubuhku terasa seringan bulu angsa. Senandung Anjani yang beriringan dengan suara jangkrik, digantikan dengan cericit burung dan ramai tawa anak kecil. Mata yang sejak tadi terpejam, perlahan terbuka. Melihat apa yang ada di hadapanku, nyaris aku terkena serangan jantung ringan.
Bagaimana bisa ada tempat seperti ini?
Aku berdiri di tengah padang rumput luas. Cericit burung itu nyata, kulihat mereka hinggap di antara ranting-ranting pohon yang tumbuh tinggi dan berdaun lebat. Gemercik aliran air terdengar jelas, bahkan sekarang kulihat anak-anak kecil berlarian saling mencipratkan air satu sama lain. Beberapa dari mereka kemudian menghampiriku dengan segenggam bunga yang tumbuh di sana.
Seorang anak perempuan menyerahkan bunga tersebut padaku. Lantas berlari disusul teman lelakinya yang baru saja mencipratkan air padaku. Mereka tertawa gembira.
"Ini mimpi?" tanyaku entah pada siapa.
Kusingkap bajuku menampakkan tanganku yang terlihat baik-baik saja. Kusentuh beberapa titik yang awalnya sakit, namun kini semuanya baik-baik saja. Aku terhenyak seketika berlari mendekati tepian sungai yang airnya jernih. Sungguh, tak ada lagi luka-luka yang masih membiru itu.
Kemudian sadar bahwa ini benar-benar mimpi. Seluruh luka-luka itu hilang. Memang lucu bukan jika tempat ini benar-benar nyata adanya? Aku tertawa hambar. Sedetik kemudian kurasakan sebuah tangan menyentuh bahuku ringan. Saat menoleh, kupikir Anjani berdiri di sana. Namun, seorang lelaki bertubuh tinggi tetap meraih tanganku menuntunnya pada sebuah perahu kecil.
Matanya sehitam arang jelaga, namun di sana ada banyak binar yang menunjukkan kehidupan yang menenangkan. Pada sepasang mata yang tersenyum kepadaku, lelaki berwajah rupawan dengan rambut putih itu menggenggam erat tanganku dengan senyum.
"Naik, Tari."
Sesuai perintahnya, aku menaiki perahu tersebut kemudian disusul olehnya. Lelaki itu memegang sebuah dayung membuat perahu yang kami naiki berjalan mengikuti arus air yang tenang. Lama terpesona dengan dunia mimpi yang luar biasa, aku terus memerhatikan lelaki asing yang wajahnya begitu tenang di hadapanku. Sekilas melihatnya aku teringat pada Anjani, ia seperti Anjani dengan versi laki-laki.
"Kamu mengenaliku?" tanyanya tanpa menatapku.
Aku terdiam beberapa saat sebelum kemudian mengulum bibir tak yakin dengan jawabanku sendiri. "Anjani itu, aku, Tari."
Kedua alis menyatu tak mengerti makna ucapannya barusan, aku masih menunggu berharap ia melanjutkan sebuah penjelasan.
"Nggak perlu terburu-buru. Pelan-pelan, nikmati semua yang terjadi dan semua hal baik akan datang kepadamu, nanti."
"Rasa sakitmu nggak akan berhenti di sini. Kalau kubilang ini baru permulaan, Utari," ucapnya tenang.
Mata yang sejak tadi mengelilingi dunia fantasi, kini kembali fokus pada sosok lelaki yang tak kukenal. Pikirku melayang mendengar kalimatnya barusan. Jika semua ini permulaan, maka pasti ada yang lebih menyakitkan dari ini, begitu?
"Maksudnya?"
Ia tersenyum dengan kedua mata. "Takdirmu nggak sama seperti kebanyakan manusia. Kesedihan dan kesepian, mereka berdua yang akan mendominasi kehidupan kamu. Karena nggak semua manusia ditakdirkan untuk merasakan yang namanya bahagia. Karena kamu istimewa, setiap tetes darah yang mengalir dalam tubuhmu adalah sumber kehidupan bagi para wizard."
"Anjani bilang, akan ada kerub yang datang untuk melindungiku, 'kan?"
Tepat setelah pertanyaan tersebut terlontar, perahu kecil ini berguncang. Pergerakannya semakin cepat dan tak beraturan tak ayal membuatku berpegangan pada kedua sisinya. Kutatap lelaki itu bingung, ia masih tenang dan mempertahankan senyum. Atau aku yang berlebihan menanggapi mimpi ini?
Semuanya seperti nyata.
Lambat-laun perahu kembali bergerak normal. Aliran air juga kembali tenang seperti sebelumnya. Lelaki itu mendekat padaku, tangannya masuk ke dalam air dan memainkannya di sana.
"Seperti ini, takdirmu. Seperti air yang mengalir, ada kebahagiaan yang hadir meskipun itu cuma sementara waktu. Sedikit waktu yang berharga itu harus kamu manfaatkan sebaik mungkin. Mengerti maksudku?"
Aku menggeleng bodoh. Mendadak perahu berhenti dan saat itu lelaki tersebut sudah berdiri. Aku mengekor langkahnya melewati padang rumput yang luas.
"Kebahagiaanmu ada di sana, Utari."
Aku menoleh mengikuti arah telunjuknya. Di tengah padang rumput itu ada sebuah taman bunga dandelion. Tepat di mana lelaki tersebut mengarahkan jarinya, seseorang berdiri di sana. Tepat sebelum aku melangkah pergi, kedua tangan lelaki itu bernaung pada pundak, sepasang matanya menatapku lekat.
"Aku dan Anjani, kami akan tetap melindungimu, sebisa mungkin. Aku akan menghiburmu sesempat mungkin. Dan aku, Ardhan ... akan menuntunmu melewati lembah kegelapan ini dan bertahan menghadapi Wizard," ucapnya panjang, "Sekarang pergilah."
Entah karena dorongan apa langkahku mendekatinya. Semilir angin kembali berdesir, menerbangkan anak rambut serta dandelion mekar yang bergoyang pelan. Senandung Anjani di kamar waktu itu kembali kudengar merdu mengantarkanku pada sosok misterius yang masih berdiri membelakangi.
Lantas, setibanya di sana, tepat selangkah lagi kami berada dalam satu titik ia berbalik. Aku hampir tertawa melihat siapa yang ada di sana. Mimpi indah penuh fantasi ini mungkin akan berakhir konyol karena kehadiran Abimanyu.
Wajahnya tampan seperti biasa. Namun, tak ada senyuman sedikit pun di sana. Aku mendekat perlahan mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Demi memastikan bahwa sosok di depanku adalah nyata. Sedetik kemudian, aku justru dikejutkan dengan luka-luka lebam yang kembali terlihat di lengan. Bahkan di bagian tubuh lain yang terasa pula sakitnya.
"Dia Kerub yang akan melindungimu, wahai Bidadari."
Tepat setelah suara itu terdengar menggema. Sebuah sayap besar berwarna putih muncul mengukungku bersama Abi. Kepakannya membuat kelopak dandelion beterbangan. Pada saat itu mata kami saling bersipandang. Seperti biasa, hal yang kudapatkan saat menatap manik hitam milik Abimanyu. Seperti sedang disuguhkan swargaloka dan seisinya.
*U t a r i*
Seperti dikejutkan aku terbangun dengan napas memburu. Pandangan mengelilingi seluruh isi ruangan kecil ini kemudian berhenti pada sosok Anjani yang sedang duduk bersandar tembok sambil menghisap rokok. Ia melirikku kemudian tertawa kecil.
"Are you okay, Tar?" tanya Anjani memainkan kepulan asap yang keluar dari bibir.
Aku menegakkan tubuh menatap lengan dan menyentuh beberapa luka. Kemudian tersenyum hambar. Benar, bahwa barusan itu cuma mimpi. Andai diizinkan aku ingin menetap di dunia fantasi itu selamanya, sampai kematian menjemputku kelak.
"Karena tempatmu di sini, nggak mungkin selamanya kamu bisa di sana Utari. Beberapa hal yang sengaja ditunjukkan, bukan berarti bisa kamu jadikan pilihan."
Mendengar ucapannya barusan, kutatap Anjani heran. Ia terlalu mengerti banyak hal, bahkan yang belum sempat kuutarakan lewat kata-kata.
"Sebenernya siapa, sih kamu?"
Ia mengembuskan kepulan asap beraroma stroberi. Lalu beralih menatapku. "Kok pertanyaanmu begitu?"
"Karena kamu terlalu tau banyak hal, yang bahkan aku sendiri nggak tau apa itu."
"Wajar, karena aku punya sixs tense," balasnya enteng.
Kutatap Anjani tepat pada sepasang manik mata hitamnya. Sepasang mata itu tak asing, dan baru saja kutemui dalam mimpiku dalam wujud lelaki tampan bernama Ardhan. Dan ia pun melakukan hal yang serupa denganku. Lama, kami berusaha menanamkan kepercayaan dan menemukan kebohongan lewat pandangan mata. Aroma stroberi menguar semakin kuat, hingga sebuah suara pecahan kaca memecah fokus kami berdua.
Prang!
Fokusku berpaling pada sebuah batu berukuran sedang yang dibalut dengan kertas. Aku meraih dan membukanya dengan tergesa.
"KEMBALI ATAU MATI!"
Tak ada respon yang berarti selain tawa meremehkan. Aku meremasnya lalu melemparkan kertas tersebut ke sembarang arah. Tulisan berwarna merah disertai tanda seru itu jelas menggambarkan kemarahan. Yang kini sedang kupikiran justru siapa pengirim surat tak tau sopan santun yang kelewat b******k ini? Jika itu Ayahku, sudah pasti ia langsung masuk dan menyeretku tanpa sebuah ancaman seperti ini.
"Jadi, kembali atau mati?" celetuk Anjani mengembalikan kesadaranku.
"Toh, mau aku balik ke sana atau enggak, aku juga bakalan mati, 'kan?" balasku enteng, "udah lama aku pengen mengakhiri semuanya, tapi kenapa sekarang aku jadi gamang?" sambungku menghela napas.
Lagi-lagi asap stroberi itu menguar memenuhi ruangan. "Karena memang udah begitu seharusnya."
"Kamu bahkan tau semuanya, Jan."
Ia mengendikkan bahu dengan senyum misterius.
"Ini akan semakin sulit, jadi kamu juga harus semakin kuat, Utari. Hati-hati sama apa yang kamu lihat. Karena kadang, ada kenyataan yang menipu seperti mimpi. Takdirmu, masih panjang dan penuh kesakitan yang menghujam."
Kutatap matanya yang kini beralih memandang tembok usang. Gadis ini benar-benar sangat kelabu.
"Jadi, siapa kamu sebenarnya?"
Ia tertawa kecil, mengepulkan asap dari bibir dengan tatapan datar.
"Aku bagian dari dirimu yang lain, Utari."
Pertanyaan Kerikil yang g****k
“Kenapa aku berada di sini?”
tanya kerikil yang g****k itu.
Ia baru saja
dilontarkan dari ketapel seorang anak lelaki,
merontokkan beberapa lembar daun mangga,
menyerempet ujung ekor balam yang terperanjat,
dan sejenak membuat lengkungan yang indah
di udara, lalu jatuh di jalan raya
tepat ketika ada truk lewat di sana.
Kini ia terjepit di sela-sela kembang ban
dan malah bertanya kenapa;
ada saatnya nanti,entah kapan dan di mana,
ia dicungkil oleh si kenek sambil berkata,
“Mengganggu saja!”
- Sapardi Djoko Dhamono
*U t a r i*
B e r s a m b u n g!
Hayu jangan sungkan buat krisar!
Alurnya maju mundur emang, semoga kalian ndak bingung ya, mue-he-he.