Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
1989 - Sapardi
*A b i m a n y u*
Tak ... tak ... tak ...
"Anjeng!" umpatku merasakan sakit di bagian kuping yang kuyakini memerah sempurna.
Ah, sial! Aku yakin lelaki tua bau tanah berkaca mata itulah yang menyentil kupingku dengan tak manusiawi. Meski sudah tua, kekuatan tangan dosen sejarahku ini sepertinya memang tak ada lawan untuk perihal sentil-menyentil.
"Siapa anjing?!" tanyanya galak sambil melotot.
Aku menggaruk tengkuk sambil menguap malas. "Mimpi Pak, kuping saya digigit anjing."
"Keluar dari kelas saya sekarang!"
Aku merengut mendengar perintahnya. Namun, dengan senang hati aku menenteng tas yang hanya berisi beberapa buku. Kutundukkan kepala ketika melewati Dosen pembimbing dengan sopan. Begitu sampai di depan pintu langkahku berhenti sebentar. Melirik cowok berwajah imut yang duduk di kursi paling belakang.
Sedangkan aku sudah nyengir berdiri di depan pintu dengan wajah sumringah. Ber-da-da-da-da ria lantas melepaskan satu kecupan yang kemudian kutiup ke arah cowok cute tersebut.
"Abimanyu!" teriak Pak Dosen mangkel membuatku bergegas meninggalkan kelas dengan cengiran lebar.
Anggap saja teriakan membahana dari Dosen barusan adalah pengenalan spesial dari seorang trouble marker di kampus. Yaitu aku.
"Lanjutkan catatan!"
Suaranya masih bisa kudengar dari lorong koridor yang tak begitu sepi.
Kalau biasanya seorang trouble marker, kebanyakan berada di lingkungan putih abu-abu. Beda halnya dengan di sini. Banyak yang bilang bahwa sikapku tak pernah berubah. Sejak naik kelas dua SMP, aku sudah menunjukkan bibit-bibit manusia perusuh. Hingga SMA, bukannya membaik justru makin parah. Percaya atau tidak, waktu kelas sebelas aku pernah mencium pipi guru bahasa Inggris yang kala itu adalah Mamah muda. Istri seorang Tentara angkatan darat. Kalian tentu bisa membayangkan apa yang terjadi keesokan harinya.
Aku ditatar di depan kelas. Di sentil kuping, jidat bahkan sampai di tampar bibirku hingga ngilu. Aku diam saja karena kupikir, memang aku yang salah. Sampai pada akhirnya Tentara itu murka karena pipi istrinya dicium siswa tengil macam Aku, kepalaku dipukul cukup keras dari belakang.
Selain kepala, okelah! Aku terima. Tapi, ini sudah kelewatan bagiku. Kedua orang tuaku saja tak pernah pukul-pukul kepala, paling sasaran Papa itu b****g. Nah, siapa Pak Tentara ini sampai berani pukul-pukul kepala. Memang kalau aku bodoh mau tanggung jawab. Meskipun sepertinya aku ini memang sudah bodoh dari lahir.
Merasa tak terima saat itu aku mendorong dan berteriak di depan wajah Tentara sangar tersebut. Memaki bahkan mengumpat dengan menyebut seluruh isi Ragunan. Hingga pada akhirnya terjadi baku hantam yang tentunya di menangkan oleh Tentara sialan itu. Untung hanya memar di wajah yang kudapatkan. Ah, ditambah ceramah panjang dari Mama yang tak habis pikir dengan kelakuanku kala itu. Berbeda dengan Papa yang menanggapi ulahku dengan santai.
"Bagus. Besok-besok harus ada peningkatan, ya?" ucap Papa mengacungkan jempol di hadapanku.
Mama yang mengobati luka lebam di wajahku melemparkan kapas yang sudah dibasahi alkohol ke arah Papa.
"Anaknya nggak bener malah didukung! Gimana sih?"
"Lho, yang namanya anak laki itu emang harus berani Ma," balas Papa enteng tanpa nada berdosa sedikitpun. "Lanjutkan, Bi!"
Aku hanya menggeleng menyaksikan Mama yang melempari Papa dengan bantal sofa kala itu. Kadang aku berpikir, dosa apa aku memiliki Papa seperti Papa.
Menaiki kelas tiga SMA, aku taubat. Aku sadar bahwa sebentar lagi saatnya melaksanakan ujian nasional. Dan jelasnya aku nggak mau nilaiku jelek sampai nggak lulus dari bangku SMA ini.
"Jangan terlalu keras Bi. Kasihan otakmu yang sekecil upil itu. Nggak lulus nggak apa-apa. Nanti Papa masukkan kamu ke Pesantren."
Ucapan dari Papa itu nyatanya selalu menghantuiku. Masuk pesantren? Ayolah, untuk anak cowok seusiaku, Pesantren sama saja dengan di penjara.
Sudahlah lupakan masa lalu! Aku menguap lebar sambil mengangkat kedua tangan untuk meregangkan otot yang lemas selepas tidur. Aku memilih untuk ngorok saja di perpustakaan karena di sana pasti lebih tenang. Sesampainya di sana kuhampiri kursi paling ujung di dekat pojokan. Di sana adalah tempat paling nyaman untuk terlelap tanpa gangguan. Tapi, ternyata sesampainya di sana, seseorang sudah lebih cepat mendahuluiku.
Mengambil teritoriku tanpa izin. Segaris senyum miring terukir di bibirku menatapnya dengan memuja.
Kuambil kursi dan duduk tepat di sampingnya yang terlelap dengan penuh ketenangan. Kemudian kutelengkan kepala ke samping sampai menyentuh permukaan meja yang dingin. Kutatap wajahnya yang ayu saat sedang diam seperti ini. Tak seperti saat ia sadar dan selalu menantang dengan tatapan sinisnya padaku. Sayangnya, gadis ini pula yang sukses membuat diriku jatuh bertekuk lutut pada pesonanya yang biasa saja.
Dia, Utari.
Gadis misterius yang masuk di universitas ini tanpa tujuan yang pasti.
*A B I M A N Y U*
Masih kuingat jelas hal pertama yang membuatku menandai Utari. Hari pertama saat ia menjadi perserta Maba paling menonjol karena gayanya yang berbeda. Waktu itu masih musim kemarau. Udara panas, matahari seolah bersinar dua kali lebih menyengat. Peserta Maba yang wajib mengenakan kemeja putih lengan panjang, mayoritas menyingkap lengan kemejanya sebatas siku, mengipaskan sepuluh jarinya di depan wajah yang gerah. Namun, Utari justru seperti seorang pelayat yang tersesat di antara kerumunan Maba.
Celana, dan jaket hitam yang tudungnya menutup kepala. Ia bahkan mengenakan masker untuk menutupi wajah. Para panitia ospek yang melihatnya berkali-kali meminta Utari untuk maju. Tapi, gadis itu tetap membatu di tempatnya. Aku yang kala itu ikut menjabat sebagai ketua panitia ospek sempat menegurnya beberapa kali untuk melepaskan jaket juga masker, namun Utari tidak juga menuruti. Sampai waktu itu, seorang gadis dari panitia ospek yang berani menarik paksa tudung jaketnya justru dipelintir tangannya oleh Utari.
"Maaf, Kak. Saya alergi sinar matahari," ucapnya waktu itu tanpa menatapku sedikit pun.
"Emangnya kamu vampir? Ada-ada aja deh. Udah buka dulu jaketnya." Aku bersedekap dadaaa di hadapannya. Masih menunggu perintahku dilaksanakan olehnya.
Namun, siapa sangka ia justru diam. Kutelengkan kepala untuk melirik wajahnya, tapi saat itu juga Utari malah semakin menunduk. Otakku bekerja keras waktu itu untuk mempercayai alibinya.
"Buka tudung jaketmu, aja. Seenggaknya biar kami tau muka kamu."
Ia menggeleng pelan. Kedua tangannya saling meremas gelisah.
"Buka jaket atau kena hukuman? Kamu joget sama temen-temenmu di tengah lapangan," ucapku lagi.
Lagi-lagi Utari hanya menggeleng pelan. Aku berdecak kesal. Kutatap dia yang masih menunduk entah menatap apa di bawah sana. Cantiknya kelewatan atau malah jelekya nggak ketulungan, sih ini cewek? Kepalaku digetok oleh malaikat yang selalu berada di pundak kanan.
Pada akhirnya kedua tanganku meluruh di sisi tubuh dan masuk ke dalam saku almamater. Aku melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara dirinya dan aku. Tepat di sebelah telinganya, aku berbisik pelan menawarkan sebuah solusi.
"Kalau di ruangan tertutup bisa buka jaket kamu?"
Kulihat kepalanya bergerak pelan meski lambat untuk menoleh ke samping. Beberapa mahasiswa menatapku yang sedang menginterogasinya. Kemudian terdiam cukup lama. Kuanggap diamnya itu sebagai jawaban setuju.
"Bisa, 'kan?" Aku mengulanginya.
Ia cuma mengangguk sekilas kemudian kutarik lengannya agar membuntuti langkahku. Tapi, belum sedetik tanganku sudah ditangkis olehnya. Ia melirikku dari balik tudung jaketnya. Menimbulkan tanya yang semakin membengkak di dalam kepala.
"Saya bisa jalan sendiri," ucap Utari.
Saat itu juga, untuk kali pertamanya di ruang teater yang sepi kulihat wajah Utari yang penuh lebam. Beberapa luka-luka yang masih basah di sekitar lengan yang tertutup jaket hitam. Aku melongo sejenak, jelas pandangan iba terpancar dari sana. Membuat Utari terburu-buru menutupi kembali seluruh luka-lukanya. Gadis itu kembali mengenakan atributnya—masker, jaket beserta penutup kepala.
"Siapa yang bikin kamu kayak gitu?" tanyaku mencoba untuk menelan gugup di depannya.
"Bukan urusan kamu."
Satu tanya itu masih menggantung sampai detik ini. Gadis itu tak ingin berbagi, pun memberitahu sedikit saja tentang siapa pelakunya.
Setelah hari itu ada banyak hal yang membuatku semakin penasaran tentangnya. Satu rahasia Utari dan hanya aku yang tahu. Karena itu, pada saat ospek jurusan ia sempat memohon padaku agar membantunya mencari alasan saat para panitia menanyainya tentang gaya berpakaiannya. Tentu saja bukan masalah besar, karena aku ketuanya maka semuanya bisa kukendalikan dengan gampang.
*A B I M A N Y U*
Aku melempar senyum. Sepasang mata sayu yang selalu menantangku belum juga ingin mengalah. Aku mendekap ransel yang barusan kucuri dari pemiliknya. Kupikir Utari tak akan mengikutiku sampai sejauh ini. Nyatanya sekarang ia sudah berdiri di depanku. Di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi.
"Balikin."
Aku tersenyum sumringah. Bahuku bersandar pada rak buku di dekatku. Entah kenapa, rasanya sangat menyenangkan membuatnya kesal. Kupandangi wajahnya tanpa rasa bosan.
"Kamu lupa? Aku nggak menerima perintah?" Kulihat matanya berputar jengah, tatapannya kembali tajam ke arahku.
Ia maju selangkah, berusaha merebut tasnya dariku. Namun, aku juga tak lengah menghadapi gadis istimewa seperti dirinya.
"Berapa kali kubilang? Aku nggak akan berhenti ganguin kamu, kalau kamu nggak mau ngaku."
Kini giliran ia yang tersenyum iblis. Uh, dia paling menggemaskan saat seperti ini.
"Berapa kali kubilang, bukan urusan kamu," balasnya dingin.
"Berapa kali juga kubilang, kalau aku nggak menerima perintah ataupun penolakan, Utari," kusentuh rambutnya yang menjuntai ke depan untuk diselipkan ke belakang telinga, "Kamu nggak berhak memilih."
Kalimat itu sukses membungkam dirinya cukup lama, dan aku menikmati ekspresi itu dengan seksama. Wajahnya dingin tapi selalu memesona, aku tau Utari ini sangat berbeda dengan gadis-gadis di luar sana. Karena itu aku selalu tertarik seolah dia memiliki magnet yang membuatku tak bosan untuk mengikuti ke mana ia pergi.
"Urus aja sana puisi buat Pak Dosen. Kamu, itu cuma buang-buang waktu ngerti nggak?" ucapnya tajam.
Semakin aku menyukainya. Utari menarik ransel dalam pelukanku, tapi masih kupertahankan dalam dekapan.
"Balikin sekarang, Bi. Aku mau ngerjain tugas sama Anjani!"
"Kamu sama Anjani itu beda jurusan. Kalau mau bohong pinter dikit, dong!" ucapku menyentil dahinya pelan. Sangat pelan, nyaris seperti membelainya dengan cara yang berbeda.
Ia berdecak sembari menangkis tanganku dari jidatnya, kakinya sudah bergerak cepat hampir saja menindih sepatuku jika aku tidak gesit mundur selangkah. Kutatap dia dengan pandangan tak percaya.
"Masih di Perpustakaan, Tar."
"Kamu yang mulai, b******k banget sih jadi cowok."
Ia berdecak kesal. Semakin membuatku senang melihat reaksi yang kuharapkan darinya. Utari membrengut dengan tatapan membunuh yang sudah biasa dilemparkan kepadaku. Sedetik berikutnya aku mempersempit jarak di antara kami. Kutatap ia tepat di manik mata cokelat tuanya.
"Siapa yang udah bikin kamu terluka?"
Kubisikkan pertanyaan yang sama untuk yang kesekian kali. Tepat di telinga Utari. Waktu kupandangi manik matanya yang indah, Utari berpaling. Menunjukkan reaksi menolak untuk melanjutkan percakapan ini. Namun, aku semakin merapat, dan ia masih juga tidak ingin membalas pandanganku. Keras kepala Utari memang tak ada lawan.
"Siapa pun itu, bukan urusan kamu."
Aku tertawa pelan mendengar jawabannya. Masih saja sama seperti tahun lalu. Ia mencoba mendorong rusukku agar menjauh. Namun, masih kupertahankan ia dalam kukungan lengan hampir tanpa jarak.
"Kalau aku bikin lima puisi buat Dosen itu, kamu mau ngaku?"
"Nggak ada hubungannya, bego!" ia tertawa kecil.
"Kalau gitu, mau jadi pacarku aja? Biar hubungan kita jelas, gimana?"
Akhirnya sepasang mata Utari kembali menatapku. Kusuguhkan senyum termanis padanya, sosok bidadari yang terlalu banyak menyimpan misteri. Ia bungkam, namun lewat pandangan mata seolah ingin menyampaikan kata-kata.
Tersibak setiap halaman buku yang kubaca
Namun, di sana tak juga ketemukan takdir sang Bidadari
Yang menangis tanpa air mata
Yang terluka, namun mencoba tertawa
Yang bahagia, meski berpura-pura
Matanya sayu menyembunyikan bulir permata yang disimpan rapat-rapat
Kepadanya kusampaikan sebuah sajak singkat
Namun, sedikit pun tak kunjung ia menjawab
Dalam hati juga angan kubisikkan padanya
Bidadari, jadilah milikku
Sebab sekarang akan selalu kulindungi sayap-sayap patahmu
"Auh!" aku mengaduh pelan saat ia menginjak kakiku dengan kuat.
Satu puisi indah yang kusuguhkan untuknya justru dihadiahi penganiayaan seperti biasanya. Ia tertawa meremehkan. Lalu mendorongku hingga menjauh darinya.
"Harusnya kamu masuk jurusan sastra Indonesia," ucapnya pelan sembari melangkah menjauh.
Aku mengekori. Masih kudekap tasnya sambil sesekali menekan kaki yang masih terasa sakit.
"Kenapa? Puisiku kelewatan, ya bagusnya?"
Ia sudah menjatuhkan diri di atas kursi yang berada paling pojok. Tempat favori kami untuk sekedar tidur. Tari menatapku dengan intens.
"Biar kamu makin jago baperin anak orang."
"Kamu cemburu?"
Aku yakin ia hampir saja menyemburkan tawa jika tidak segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. "Ngaco," balasnya.
"Biar bakatmu tersalurkan, lah. Lagian kamu kan suka puisi, kenapa malah masuk jurusan game design sih?" tanyanya sambil menopang dagu dengan siku yang bertumpu di atas meja.
Kuhela napas panjang. Lalu melakukan gerakan serupa dengan Utari. Ia cantik, matanya selalu indah untuk kupandang dengan jarak sedekat ini. Dan lagi, kursi paling pojok memang paling cocok untuk mahasiswa penyamun seperti aku. Jika tidak menimbulkan suara yang berlebihan, maka tidak akan ada yang mendengar percakapan kami.
Utari memalingkan wajah ke luar jendela. Entah objek apa yang lebih indah daripada memandang wajahku baginya.
"Emang cewek mana yang mau nikah sama penyair kere?"
"Dengan mobil mewah, jam tangan, tas bahkan sepatu mahal yang kamu pakai. Itu yang namanya kere?"
Aku menggeleng cepat. Lalu kuputar kepalanya hingga ia kembali bersipandang denganku.
"Tar, semua yang aku punya saat ini masih punya orang tuaku. Beda ceritanya kalau nanti kamu bersedia jadi istriku. Kita berjuang bareng-bareng dari nol. Kita bisa jadi penulis sekaligus pebisnis buku. Atau, jadi penulis bayaran. Apa, aja. Yang penting kita bahagia."
Ekspresi Tari terlalu monoton. Ia diam, masih membiarkan tanganku menangkup kedua pipi tirusnya. Matanya berkedip beberapa kali sebelum kemudian menonyor kepalaku kuat.
"Bacot! Gatel kupingku dengernya."
Secara alami tubuhku terhuyung karena tepukan di dahi. Kedua tanganku melepaskan pipi tirusnya. Tetapi, dengan segera kutegakkan kembali tubuh. Kurapatkan jarak di antara kami hingga deru napasnya bisa kudengar dengan jelas.
"Aku nggak main-main, Tar. Kamu pikir buat apa selama ini aku gangguin kamu kalau cuma sekedar iseng? Buang-buang waktu," ucapku serius.
"Aku suka sama kamu, Utari."
Mata kami sama-sama saling mengunci dalam diam. Dalam perpustakaan yang sunyi, dikelilingi rak-rak buku yang menjulang tinggi. Sedang kukurung sang bidadari untuk menemukan jawaban atas tulisan takdir yang tidak kutemukan dari sebuah halaman.
B e r s a m b u n g
Sekali lagi saya ingatkan bahwa, cerita ini mengandung banyak kata-kata puitis, dan puisi yang terselip. Kalimat melankolis dan bagian flashback.
Sekian terima kasih