"Dalam hidup, manusia tak selamanya bisa mendapat apa yang diinginkan. Kerap kali banyaknya rasa sakit memaksaku untuk bertahan dengan sebuah harapan. Meski pada akhirnya hanya menelan kekecewaan. Pada saat itu, yang kulakukan hanyalah belajar untuk menikmati rasa sakit sambil menertawakan luka."
*U T A R I*
Keringat membanjiri seluruh tubuh yang hampir telanjang dan hanya tertutupi selimut tipis. Mataku nyalang menatap jendela yang tersibak tirainya karena embusan angin. Nampaknya, Sang surya sudah mulai muncul dari timur dengan sinarnya yang menyadarkanku untuk bergegas menepikan semua luka ini. Meski tak sepenuhnya siap menghadapi pagi, perlahan kuambil napas dalam-dalam. Namun, sial ... yang ada sesak itu justru semakin menjadi. Luka lebam di seluruh kulit semakin perih menjalar hingga ke ulu hati. Sesak tak tertahan membuat kepalaku berputar nyeri, aku benar-benar ingin mati.
Kurasakan nyeri di sudut bibir yang menyisakan darah yang telah mengering. Luka cambuk pada punggung ini juga terasa semakin panas dan membuatku makin lemah.
Lantas ingatanku melayang pada hari kemarin. Bahwa hanya semangkok bubur ayam dan segelas teh tawar masuk ke dalam perut. Ah, jangan lupakan cacian juga kalimat busuk yang keluar dari bibir para lelaki biadap semalam. Saat mereka menyentuhku seperti binatang, saat mereka memperlakukan diriku seperti sebuah benda yang tak memiliki perasaan. Meski nyatanya, semua kejadian yang telah kulakui sukses membikin perasaanku mati pula.
Ironi memang.
Kukerjapkan mata lamban, membiasakan dengan sinar yang kuharap bisa membiaskan luka ini untuk sejenak saja pergi. Karena pagi sudah datang lebih awal. Maka, rasa sakit pun harus segera pergi lebih cepat, 'kan? Tak ada lagi waktu untuk terpejam, menikmati luka yang kian merajam.
Sosok berbaju putih itu masih melayang-layang di sekitarku. Wajahnya memang mengerikan, tetapi tak sekelam kisahnya yang malang. Ia menepuk-nepuk punggungku yang dingin dan merah karena luka lebam. Mencoba untuk sepenuhnya membangunkanku pagi itu dengan tangannya yang putih sedingin es. Karena jujur saja meski kini telingaku telah mendengar banyak riuh suara ramai di luar sana. Namun, rasa sakit ini nyatanya tak mudah untuk dienyahkan begitu saja.
"Bangun. Masih belum waktunya, Tari."
Aku masih bisa tersenyum miring mendengar suara selirih angin tersebut. Sudut bibir yang robek terasa perih pula terabaikan seperti biasa. Kupikir, bukan sekarang waktunya untuk mati. Lantas aku bangkit perlahan memegangi selimut tipis yang membungkus tubuh telanjang ini. Dalam kamar gelap yang pengap, langkahku tertatih menuju kamar mandi. Untuk membersihkan diri, juga segala luka nyata yang kadang seperti sebuah fantasi bagiku.
Tepat di depan sebuah cermin berukuran panjang, aku mematung di sana. Menatap diriku yang bahkan tidak pernah kukenali sepenuhnya. Menatap raga yang begitu asing untuk kutelaah sendirian. Menatap aku yang meragukan eksistensi diriku sendiri di dunia fana ini. Apakah aku ini nyata? Apakah luka ini benar-benar ada? Apakah dunia sekejam ini memang tempat di mana aku menghabiskan waktu?
'Bersama para binatang itu?'
Rambut hitam sepunggung yang kusut, pelipis lebam dengan mata sayu, sudut bibir yang robek, dan tubuh telanjang yang penuh dengan luka-luka. Aku nyaris tertawa jika rasa nyeri sialan ini tak menyerang bibirku lagi. Bagaimana bisa makhluk menyedihkan seperti aku masih hidup setelah semua pukulan dan kejadian mengerikan yang telah kualami?
Orang-orang b******k itu tidak akan membiarkan aku mati secepatnya. Dan aku, tidak akan pernah bisa lari dari mereka.
Karena rasa sakit ini adalah teman yang abadi bukan? Kecuali mati.
Dengan begitu semuanya akan benar-benar berakhir.
*U T A R I*
Anjani menyipitkan mata sambil memperpendek jarak di antara kami. Seringai tipis muncul di bibirnya sambil sibuk meng-cover wajahku yang lebam dengan concealer serta alat-alat make up yang sering ia bawa. Mataku melirik padanya, kemudian senyum itu seolah merambat pula padaku. Kutatap ia tepat pada sepasang manik matanya yang hitam sekelam malam.
"Lucu, ya?" tanyaku mencoba untuk tidak banyak bergerak.
"Kalau orang awam, kayaknya udah pasti mati."
Aku terkekeh mendengarnya. Ia menegakkan tubuh sambil membereskan alat-alat untuk membuatku terlihat baik-baik saja. Kemudian menatapku sekilas.
"Mau pergi sama aku? Aku bawa kamu keluar negeri, kamu hidup di sana. Nggak usah balik lagi ke negara b*****t ini," tawarnya.
Aku mendengus pendek. Kuteguk soda dalam kaleng hingga kosong dan meremasnya hingga tak berbentuk lagi.
"Terus kapan aku matinya?"
"Kenapa harus mati, kalau bisa lari?" ucapnya sambil menyelipkan rambut di belakang kuping. Ia mengisap e-ciggarete dengan mata terpejam.
Kutatap cewek berambut hitam pekat sepanjang punggung itu. Matanya pun sehitam arang jelaga, tapi senyumnya yang dingin selalu membuatku merasa lebih baik. Tidak ingin munafik, hanya Anjani satu-satunya yang kupunya di dunia ini. Hanya dia, yang selama ini tahu tentang kelam duniaku. Anjani mengembuskan napas bersamaan dengan kepulan asap yang mengikuti arah perginya angin.
"Buat apa lari, kalau udah pasti bakalan ketangkap juga?" sahutku kemudian.
Aku membuang pandangan ke depan. Duduk di sebelah tenda mie ayam bakso sambil mengamati bangunan kampus yang berdiri megah itu membuat anganku melayang. Skenario apa yang sebenarnya sedang kujalani, bahkan aku pun tak pernah paham. Mereka memperlakukanku seperti hewan, pun mengizinkanku untuk berbaur dengan dunia luar yang mengerikan.
Seperti sedang memberikan pilihan ambigu. Sengsara dalam pilihan bertahan dengan kesakitan, atau menyerah pada kematian.
Seolah-olah sedang mempermainkan otak yang telah jengah untuk dipaksa berpikir keras. Kuamati satu persatu objek yang tertangkap netraku dengan pikiran berkelana jauh. Selama dua puluh tahun lebih, rasanya tidak ada yang benar-benar bisa kukenali selain rasa sakit. Selama itu juga, aku sadar bahwa sepanjang hidup yang kuinginkan hanya cepat-cepat pergi dari dunia yang kelam ini. Namun, setengah hati takut untuk benar-benar mati.
"Kalau takut, nggak usah dibahas terus." suara Anjani kembali membuyarkan lamunanku.
"Orang kayak aku mungkin nggak pantas ngomong hal-hal yang terlalu tabu, Tar. Tapi, mati itu urusannya sama Tuhan. Kalau belum waktunya, separah apa pun luka itu, nggak akan bikin kamu mati." Anjani kembali menghisap rokok elektrik yang terapit manis di kedua jarinya.
Aku menoleh demi menatapnya. Perempuan itu, kadang-kadang kelewat menyebalkan. Namun, di saat-saat seperti ini, dia selalu bisa diandalkan. Tidak banyak yang kuketahui tentang Anjani selain nama dan kebiasaan merokoknya. Yang selalu datang kapanpun aku sedang membutuhkan.
"Kalau bisa lari, meskipun cuma sementara. Aku bakalan ambil kesempatan itu, Tar."
Kali ini dia tersenyum padaku. Dingin, tapi selalu membuatku merasa lebih baik. Kembali kulempar pandangan ke depan. Pintu gerbang yang tidak terlalu ramai itu diisi dengan tawa juga candaan. Hatiku berkelit untuk tidak merasa iri. Memangnya siapa di dunia ini yang tidak ingin hidup dengan bahagia?
"Ambil kalau bisa!"
Aku menoleh secara kaget, menatap seseorang yang baru saja membawa pergi tas ransel yang kugeletakkan di sebelahku secara paksa. Suara tawanya masih terdengar menyebalkan di telinga. Kutatap Anjani yang ikut tertawa kecil menatap kepergian Abimanyu.
"Berengsek! Nyari gara-gara terus sama aku!" umpatku.
Aku berdiri siap untuk mengejarnya. Namun, Anjani sudah lebih dulu menarik lengan jaket yang kukenakan. Membuatku menoleh padanya yang masih duduk di atas kursi plastik.
"Apa?"
"Pikirin baik-baik apa yang barusan aku bilang. Kalau ada kesempatan buat hidup, kenapa mesti pasrah nunggu kematian?" ucap Anjani dengan sebelah alis yang terangkat.
Ia berdiri sambil menyandang tas di sebelah bahu kemudian mendahuluiku untuk pergi. Mataku menatap punggungnya yang semakin menjauh menyebrangi jalanan yang tidak begitu ramai. Anjani terlalu keren untuk jadi seorang cewek biasa. Dia itu, luar biasa bahkan dari langkahnya saja Anjani sudah terlalu menawan. Berbanding terbalik dengan diriku.
Seseorang yang kehadirannya saja tak diakui oleh dunia. Bahkan keluarga sendiri. Pahit memang.
"Aku tunggu di Perpustakaan!" ucap suara familier yang mengganggu telingaku.
Siapa lagi kalau bukan Abimanyu. Lelaki b******k itu memang senang sekali mencari masalah denganku. Setelah kemarin sengaja kurobek ban mobilnya, ternyata masih belum jengah juga mengganggu. Aku berdecak kesal. Kemudian melangkah lebar mengikuti kemauan Abi yang selalu menantang.
Masih teringat dengan jelas bagaimana kemarin si b******k sialan itu mengumpankan aku pada dosen berkepala botak. Yang dengan entengnya meminta lima buah puisi padaku.
~ U t a r i ~
Kepala botak, kumisnya lebat, matanya melotot galak. Aku hanya diam menatapnya yang masih berkacak pinggang. Perut besar itu sedikit tampak karena kancing kemeja yang hampir mencuat saking kecilnya ukuran kemeja. Di tangan kanan ia menenteng tas hitam, kini menghunjam pandangan galak kepadaku yang tak berdosa.
"Jadi kamu?"
"Saya kenapa, Pak?" tanyaku enteng.
"Kamu yang nendang kaleng ini?" katanya mengangkat kaleng penyok berwarna merah tepat di depan wajahku.
Aku menggeleng singkat. "Bukan saya."
"Alah, jangan mengelak. Kalau bukan kamu siapa lagi?"
Kuputar bola mata malas. Selalu saja begini. Sudah terlanjur terlambat, Anjani bisa semakin mengamuk denganku gara-gara dosen nggak jelas yang mencegatku di tengah koridor.
"Bapak nuduh saya, bukan bertanya."
"Sudah jelas-jelas kamu yang berdiri di sini, pasti kamu yang nendang kaleng ini sampai kena kepala saya," ucapnya lagi lebih galak.
"Siapa nama kamu?"
"Utari," jawabku pendek.
"Dari kelas mana?"
"Sastra Indonesia," jawabku cepat.
"Wah, bagus-bagus. Kebetulan saya suka puisi. Sebagai hukuman, besok kamu harus menyetorkan lima puisi murni buatan kamu sendiri. Paham?"
Wajahnya berubah berseri setelah mengucapkan permintaan laknat tersebut. Biadabbb.
Aku diam mengutuk setan di sebelah kiri yang tertawa mengejek. Kesialan apa ini? Sampai aku diminta dosen tua berkepala botak untuk dibikinkan puisi? Kalau ganteng sih, nggak masalah, lah ini? Bodinya aja udah bikin eneg.
"Paham nggak?!"
Kuanggukkan kepala malas. Lalu aku berbalik mengepalkan tangan setelah beliau berlalu pergi. Di balik tembok seseorang tertawa tanpa suara mengangkat kedua tangan. Satu tangan menunjukkan jari telunjuk memberi isyarat angka satu, sementara tangan satunya menyatukan semua jari seperti terkepal memberikan isyarat nol besar. Sedetik kemudian lengannya bersandar dinding sambil melipat kedua tangan di depan dadaa dengan wajah angkuh.
Aku melotot dibuatnya. Ingin kuhampiri dan kutarik kedua telinganya sampai kesakitan. Sialnya, aku sibuk hari ini. Dan benar, lihat saja Anjani yang sudah melemparkan pandangan membunuhnya padaku di ujung koridor.
"Buruan!" Anjani memelototiku dari kelokan ujung koridor menuju Perpustakaan.
Mengingat kejadian itu aku menggeleng pelan. Si iblis di pundak kiri berbisik untuk membalas perbuatan Abi. Namun, sedetik kemudian malaikat di pundak kanan mengetuk tongkatnya ke kepalaku.
"Jangan diperpanjang, Tar. Nggak selamanya kejahatan dibalas dengan kejahatan itu baik."
Halah, kalau nggak dibalas juga lama-lama pasti makin ngelunjak. Batinku menepis dua sisi dalam diriku yang sedang adu argumen. Setelah kemarin kurobek ban mobilnya, ternyata masih belum jengah juga menggangguku. Aku tak akan main-main kali ini.
Abimanyun, tunggu pembalasanku.
B e r s a m b u n g
Jadi, gimana? '-'