25. Secangkir Kopi

2327 Kata
Happy reading! * A b i m a n y u * Secangkir kopi arabika yang masih panas dan mengepulkan asap itu tak lagi se-menggoda pada awalnya. Saat aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, pikirku tubuh yang sempat kehujanan sebentar tadi, tengah membutuhkan kopi hitam untuk mengembalikan mood yang sempat rusak dan tak tertata lagi. Sekitar setengah jam setelah hujan turun semakin deras dan Tari semakin larut dengan isak yang terlepas. Kupeluk gadis itu di atas kasur sambil terus berusaha menenangkan, tau betul sekejam apa luka yang sudah ditorehkan oleh manusia biadab dalam hidup Tari. Tau betul pula bahwa melawan trauma dari masa kecil bukanlah perihal sepele. Semua itu terasa menyakitkan saat kita terus berusaha untuk melupakan. Kutinggalkan Tari setelah gadis itu merasa lebih tenang. Ia memilih untuk merebah di atas kasur ketimbang keluar untuk makan malam bersama mamam. Dan kali ini, aku menuruti keinginannya. Aku bawakan ia beberapa buah dan biskuit gandum agar perutnya tak benar-benar kosong. Sebelum kemudian aku sungguh-sungguh meninggalkan gadis yang tak mau berbicara denganku saat itu. "Sumpah, Tar. Aku nggak bermaksud bikin kamu terluka. Semua ini, murni karena aku pengen bantu kamu buat keluar dari rasa sakit itu." Aku menghela napas bosan. Entah sudah kali ke berapa kini aku mulai bicara dengan diri sendiri. Sialan. Biasanya di saat-saat seperti ini, dalam pikiran yang kalut di mana bayangan tentang masa kecil yang tak pernah ingin kuingat bak sedikit saja, mereka justru muncul tanpa permisi mengisi kepala penuh dengan luka-luka di masa lalu. Padahal, sungguh aku tak ingin mengenang lagi masa-masa di mana duniaku nyaris saja sepenuhnya runtuh saat tak ada lagi seseorang yang bisa kuandalkan untuk menjadi tempat berlindung. Saat satu-satunya kerabat yang kumiliki justru sibuk mengaiayaku demi mendapatkan sejumlah harta yang bahkan tak pernah aku tau seperti apa rupanya. Sekali lagi, entah sudah yang keberapa kali aku menghela napas demi membuang sesak. Akan tetapi, tak ada artinya. Justru saat ini perasaanku semakin kalut setelah mengetahui sepenuhnya masa lalu kelam milik Tari. Seorang gadis yang berhasil membuatku luluh dan jatuh kepada sosoknya yang tak biasa. Duduk di depan jendela kamar sambil menatap rintik hujan yang kembali jatuh malam itu, telingaku masih sibuk mendengarkan pelafalan musikalisasi puisi milik Usman Arumy. Meski semua itu tak agi membuatku merasa tenang. Setidaknya melupakan sejenak tentang kenangan yang sangat mengganggu dari masa silam. Tanganku kemudian terulur ke depan meraih pegangan cangkir. Kuhirup untuk sesaat aroma kopi arabika yang masih mengeluarkan asap beraroma nikmat. Dengan mata terpejam, sebisa mungkin berusaha menlenyapkan pikiran-pikiran yang saat ini sangat mengganggu angan. Bibirku telah menyentuh pinggiran cangkir, cairan hitam yang terasa hangat sekaligus pahit itu menyapa indera perasa sampai mengalir hingga kerongkongan dan turun ke perut. "Nggak ada rasa sakit yang abadi, karena semua yang ada di dunia ini diciptakan dengan saling berdampingan satu sama lain untuk saling mengisi kekosongan. Antara kebahagiaan dan kesedihan, tawa dan air mata, atau bahkan hidup dan mati. Nggak ada rasa sakit yang abadi, karena sebagai manusia yang memiliki hati, kita selalu punya kesempatan untuk memaafkan kesalahan yang pernah terjadi. Atau setidaknya, berdamai dengan rasa sakit diri sendiri." Aku kembali melafalkan dialog yang seringkali diucapkan oleh mamam kepadaku saat perasaan kalut seperti ini menyerang batin. Kini meski mataku terpejam erat, aku masih belum bisa melupakan sosok Tari degan dunianya yang amat sangat kelam. Kusadari saat ini mengapa Tari begitu keras kepala dengan menutup diri dariku, tentang masa lalu bahkan perasaannya detik ini. Aku tau, apa yang membuat ia selalu merasa sebagai wanita yang tak pantas untuk di cintai ataupun mencintai. Karena telah terlalu banyak pelecehan yang ia terima bahkan dari seseorang yang semestinya bisa melindungi ia dari rasa sakit, tetapi kenyataan bahwa ayahnya sendiri justru memperlakukan Tari seperti manusia yang tak berharga. Wajar saja jika gadis itu tak memiliki kepercayaan diri untuk sekedar mempercayai orang lain. Karena sepanjang hidupnya sudah terlalu banyak kelam yang ia lalui bahkan tak ada siapapun yang bisa ia percaya di dunia ini. Maka di sini, aku harus menjadi satu-satunya orang yang setidaknya dapat membuka gadis itu meyakini bahwa tak semua manusia di muka bumi ini sama-sama berengseknya. "Jadi, ini jalannya aku harus menuntun kamu untuk menemukan kembali kepercayaan itu, Tar." Aku berdialog sendirian malam itu. Lagi dan lagi. Masih sambil mengamati hujan yang turun semakin deras, dan nyatanya tetes demi tetes itu tak membuat sosok Tari lenyap dalam ingatan. Justru semua kisah serta apapun yang pernah terjadi dalam kehidupan Utari, semua itu masih saja menjadi satu-satunya fokus yang mengisi kepala saat ini. Aku menoleh, saat mendengar suara pintu kamar yang di ketuk dengan nada berirama dan jenaka. Aku tertawa pendek tanpa suara dan kembali menatap lurus ke luar jendela. Suara derit halus pintu kamar yang terbuka tak juga membuat aku merasa penasaran dan menoleh ke sana. Sebab tanpa melihat siapa yang masuk sekali pun aku sudah bisa merebak siapa yang datang dengan aroma vanilla yang begitu maskulin dan menggemaskan. Siapa lagi jika bukan papan. "Begadang jangan begadang ...," ujarnya dengan nada yang sangat mirip dengan lagu ciptaan Sang raja dangdut. Aku menatap papan yang saat ini duduk di sofa panjang, bersebelahan denganku. Lelaki paruh baya yang cukup tenar pada masa mudanya karena kegiatan sosial yang kerap ia lakukan juga wajahnya yang tampan. Kini duduk sambil menyadarkan punggung tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Kami berdua sama-sama diam. Papan pun juga tak melanjutkan lagi candaannya seperti biasa. Aku tau, pekerjaan di kantor hari ini pasti membuat papan merasa capek. Padahal sudah berulang kali papan menawariku untuk duduk di posisi direktur, tetapi aku tak juga meng-iyakan tawaran itu. Entah kenapa aku masih merasa belumpantas, dan lagi jiwaku ini sungguh nggak pantas untuk menjadi seorang direktur. Tak seperti papan yang terlihat berwibawa namun memiliki sisi jenaka tersendiri di kalangan karyawan dan relasi kerjanya. Tetapi, papan selalu mampu mengemban tanggung jawab besar dari perusahaan yang sudah sejak lama ia bangun tersebut. Makannya aku tak berani mengiyakan permintaan papan, karena aku sadar seberapa jauh batas kemampuan. "Gimana, Bi?" tanya papan tiba-tiba. Lelaki itu memejamkan matanya sambil bersandar pada punggung sofa. Matanya terpejam sambil mengetuk-ngetuk jemari tangan di lengan sofa. Kalian tau, wibawa papan sangat kental saat sedang duduk dalam posisi seperti ini. Ia bahkan masih mengenakan pakaian kerja. Kemeja berwarna abu muda dan celana bahan hitam. Entah di mana papan menanggalkan jas kerja miliknya, tapi jika saja pria paruh baya itu tak meletakkan jas di tempat yang seharusnya. Rumah yang semula sepi seperti ini pasti akan mendadak riuh karena konser duet antara mamam dan papan. Dahiku mengernyit dengan sepasang alis yang menyatu keheranan dengan maksud pembicaraan papan yang sangat random. "Cewek baru kamu? Udah grepe-grepe belum?" tanyanya kini sambil menarik turunkan alis dan menatapku dengan wajah menggoda. Aish, sedetik kemudian aku ikut membanting tubuh ke punggung sofa. "Anakmu nggak seberengsek itu, Pa. Jangan sembarangan deh kalau ngomong," balasku kesal. "Lagian Papan ngapain coba di sini. Pulang kerja bukannya mandi, nunggu apaan lagi?" tanya ku secara tak langsung ingin mengusir papan dari kamarku. "Nunggu di mandiin Mamam," ucap papan diikuti tawa jenaka yang keluar dari bibirnya. Edyan, memang. Aku berdecak kesal menanggapi lelucon papan yang kelewat fulgar. Sudah pasti tangan papan membiru karena cubitan mamam kalau kalimat barusan sampai di dengar oleh mamam. Sedetik kemudian tanpa menanggapi ucapan papan barusan, aku menatap penuh selidik ke arah papan, "Emang Papan udah ketemu?" tanya ku kemudian. "Cewekmu?" "Yang mana coba?" "Yang sekarang tinggal di perpustakaan pribadi kita itu, 'kan? Yang mukanya pucat tapi cantik?" terka Papan lagi. Sepasang mataku menatap penuh selidik mencoba mencari tau apakah yang baru saja dikatakan oleh papan adalah sebuah kebenaran. Sebab papanku ini adalah seseorang yang sangat-sangat sulit untuk sekedar di tebak atau dipahami. "Iya, dua lengannya diperbankan itu? Kenapa? kamu nggak main tangan sama cewek, 'kan?" "Emang aku kelihatan kayak cowok berengsek yang suka main tangan?" tanyaku dengan cepat penuh nada ketidak sukaan. "Dikit," balas papan, "yang jelas, kamu kayaknya bukan tipe-nya cewek itu,' kan?" imbuh papan lagi disertai tawa kecil. Aku mendengus malas tetapi tak juga dapat mengelak dengan jawaban. "Di jidatmu itu udah kelihatan jelas kalau, kamu lagi galau gara-gara cewek di perpustakaan itu. Nggak usah bohong sama Papan." Aku terdiam dan mengalihkan tatapan, ke luar jendela dan menghindari bersipandang dengan Papan yang tengah cengengesan menyebalkan. Satu kenyataan bahwa gadis itu belum juga membuka hatinya untukku, membuatku kembali berpikir bagaimana caranya untuk meluluhkan dinginnya perasaan Tari yang sudah mati karena sebuah realita yang ia lalui. Sedetik emudian ak mengabaikan keberadaan papan. Kuangkat kembali cangkir kopi di atas nakas dan menyesapnya seperti biasa. "Kopi akan terasa sempurna karena rasa pahitnya. Demikian pula dengan cinta," ucap Papan. Saat aku menoleh, papan sudah tak lagi bersandar, ia ikut menatap ke luar jendela dengan lurus entah fokus ke pada apa. "Perasaan wanita itu, nggak bisa se-transparan kaca jendela. Kalau mereka belum mau membuka hati dan perasaannya buat laki-laki, udah pasti ada luka yang belum sembuh." Dapat kurasakan kini papan menepuk punggungku dan mengusapnya pelan. "Kadang skenario Tuhan emang lucu, Bi. Apa yang kita mau nggak bisa datang gitu aja, tapi seringkali hal-hal yang nggak kita kehendaki malah terjadi tanpa aba-aba." Begitu kata papan. Lelaki paruh baya paling ajaib yang sangat jarang bicara serius. Tetapi, sekali saja papan membahas sesuatu dengan sungguh-sungguh, bagiku ia suda h menjadi manusia paling keren di muka bumi ini. Saat ini aku hanya ingin duduk menenangkan pikiran dan merenungkan tentang kenyataan yang sedang terjadi. Sebuah realita yang sama sekali tak pernah tepikirkan dalam kepala mengenai makhluk lain yang tinggal di bumi ini. Di zaman sekarang, masih ada penyihir dan juga kekuatan supranatural yang sangat ak bisa masuk ke dalam logika. Akan tetapi, emua itu benar dan nyata adanya. Aku sendiri telah melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa keberadaan mereka itu sungguh nyata. "Udah nggak usah dipikirin, kasian otakmu yang sekecil upil itu dipaksa buat mikir keras," ucapnya lagi sambil berdiri dari posisinya. "Pa?" panggilku pada lelaki paruh baya yang saat ini sudah beranjak dari sofa. Ia menatapku dengan kedua alis yang terangkat ke atas menuntut kelanjutan dari pertanyaan ku barusan. "Papa percaya kalau di dunia ini ada kehidupan lain selain manusia biasa?" Pria paruh baya itu terdiam menatapku dengan sorotnya yang berubah tak seperti sebelumnya. Kedua mata papan menyipit kemudian tubuhnya menunduk sebentar dan menatapku dengan sangat intens. Seperti ingin membisikkan sesuatu yang penting kepadaku. "Bidadari, Kerub, penyihir. Maksud kamu mereka?" tanya papan membuat kedua mataku membola sempurna. "Jangan ngawur. Mereka itu cuma dongeng," lanjut papan sambil menyentil jidatku cukup kencang dan kontan aku mengusap jidat dengan telapak tangan agar tak terlalu menyakitkan. Sedetik kemudian papan pergi meninggalkan kamarku sambil bersenandung kecil. Meninggalkan aku sendirian sambil menatap kopi dalam cangkir yang tinggal seteguk saja. ~A b i m a n y u~ Di antara rintik gerimis yang masih menyisakan hawa dingin itu, entah kenapa aku memutuskan untuk keluar dari kamar dan menurun anak tangga satu persatu. Aku benar-benar merasa tak tenang, dan secepat mungkin harus memberi tahukan kepada Utari bahwa saat ini kami tak bisa berkeliaran dengan seenaknya sendiri karena bangsa penyihir itu telah berani berkeliaran untuk mencari keberadaan Tari. Akan tetapi di ujung tangga paling bawah yang seharusnya cahaya lampu kuning menjadi sorotan paling terang di sana. Justru menjadi tempat yang semakin gelap saat kupijak, hanya siluet bangunan perpustakaan yang dapat kulihat. Itu pun tak begitu jelas. "Tari?" Pintu kayu kuketuk dengan ritme cepat, tapi tak juga ada tanggapan dari gadis tersebut. Kuulangi memanggil namanya, sambil terus mengetuk pintu, tetapi tak pula ada pergerakan di sana. Mungkin saja gadis itu sudah benar-benar terlelap di kasurnya. Lantas, aku memutuskan untuk kembali. Akan tetapi, baru selangkah beranjak dari tempat itu, pintu yang semula tertutup rapat kini terbuka menciptakan celah kecil yang membuat langkahku kembali terhenti. Secara alamiah aku kembali memutar tubuh dan bergegas masuk. Sialnya, tak kudapati Tari melainkan seorang lelaki berpakaian serba hitam dan sorot mata tajamnya yang tengah menatapku dengan amarah yang tergambar jelas di mataku. Aku yang semula berada di depannya dengan jarak satu meter kini bersiap mengepalkan tangan dan menjaga jarak aman. Mencari apapun yang dapat kujadikan tameng jika sewaktu-waktu penyihir sialan itu menyerang tanpa aba-aba seperti pada waktu itu. "Kembalikan gadis itu. Dia milikku," ucapnya dengan suara besar yang sedikit pun tak membuatku merasa takut atau sejenisnya. "Milikmu? Jangan mimpi, nggak akan kulepaskan Tari pada makhluk berdarah dingin seperti kamu." Justru saat ini, aku merasa sangat tertantang untuk menghajar lelaki sialan yang berhasil membuatku merasa marah secara tiba-tiba itu. Namun, begitu ia mengangkat tangannya ke atas seolah-olah sedang menggerakkan sesuatu, muncul sebuah kilatan petir yang menyambar-nyambar rak buku di serta cahaya biru yang mengerikan. Seperti aliran listrik yang begitu tinggi ia tarik ke sana - ke mari dengan telunjuk dan jari tengahnya. Ia berteriak dan menciptakan ledakan di sudut rak paling ujung. Saat itu juga aku pun mendengar teriakan Tari yang ternyata tengah meringkuk di sudut kamar untuk bersembunyi. Dan sial, Saga yang menyadari itu tertawa seperti iblis. Kulangkahkan kaki secepat mungkin untuk menghampiri sosok Tari dan menyembunyikan gadis itu dari hadapan Saga. Tetapi, penyihir licik itu menggunakan kekuatannya. Tangan kanan Saga bergerak ke depan, jemarinya pun bergerak seperti sedang mencengkeram sesuatu, dan sedetik itu berlalu dengan sangat cepat. Tari mendadak seperti diseret oleh kekuatan angin yang begitu pesat sehingga gadis itu sudah berada di tangan Saga. Dengan posisi melayang di udara Tari meneteskan air mata, gerakan tangan Saga seperti berusaha mencekik dan Tari juga semakin terpekik. Aku tak tau harus berbuat apa selain maju dan berusaha menghajar Saga sebisaku. Namun, saat Saga mengepalkan tinju ke udara, aku merasakan pukulan keras di bagian ulu hati. Dan, sedetik kemudian terhempas di antara rak buku dengan lembar kertas yang beterbangan. Sialnya, aku sungguh tak berdaya. Terbatuk sampai berdarah-darah aku benar-benar berharap Ardhan datang dan menyelamatkan Tari. Hanya saja di depan ku itu Saga semakin tertawa lebar penuh kemenangan. "You're lost her!" ucap Saga, "Kamu sungguh bukan tandinganku bodoh!" Angin bertiup kencang membawa Saga dan Tari pergi, sedangkan aku semakin sekarat tanpa seorang pun yang datang menghampiri. Saat itu, sebuah cahaya paling terang membuat mataku semakin terpejam. Kemudian ... "Bangun!" di sebelahku, Mamam sudah berkacak pinggang sambil mengumpulkan pakaian kotor yang seringkali kuletakkan secara sembarangan. 'Shitt! Cuma mimpi,' bisikku merasa lega. - B e r s a m b u n g! Kwatrin Tsuroysme Selain puisi, adakah jalan untuk menujumu? Aku mengandaikan kau sebagai kertas putih, yang berkenan menampung kata-kata sedih sebab aku percaya betapa kaulah kekasih di hadapanmu yang sentosa, seluruh kataku moksa, sefana dunia seisinya bagaimana kutulis kau, Cinta sedang tatapanmu lebih puisi, ketimbang berlaksa sang pencipta aksara Puisi adalah satu-satunya kendaraan, yang mau mengantarkan kesedihan mencapai kenangan menuju jauh ke dalam dirimu, berpaling dari masa depan di banding Pujangga terkenal tatap matamu lebih kekal nyatanya detakku fasih menyebutmu tanpa sesal sembari mengembarai semesta, aku mencari kata paling luka untuk kusampaikan kepadamu wahai sengsara Selain puisi, adakah yang lebih kenangan? aku menghayalkan jadi kata yang terselip di sela kalimatmu di antara larik lirik di balik bilik yang kaulafalkan dengan rindu aku akan tumbuh sepenuh yang tak bisa direngkuh aku akan mengembara sejauh yang tak bisa ditempuh - usman arumy
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN