*U t a r i*
"Apa itu kehidupan?"
Sebuah tanya yang sedari tadi mengisi benak hingga sesak. Dan sampai detik ini pula tak menemukan jawaban yang melegakan.
Bagiku, hidup adalah sebuah musibah. Rasa sakit tak berujung tanpa henti. Paksaan tentang hal-hal serta kejadian yang tak pernah kita inginkan. Namun, meski demikian, tak sekalipun kita dapat menolak rasa sakit itu semua. Mereka justru datang semakin kerap, menargetkan perasaan serta hati yang telah remuk tak tertolong lagi.
Kesakitan itu abadi. Bagiku, tak ada rasa sakit yang benar-benar lenyap. Tak ada luka-luka yang pulih dengan semestinya. Sekalipun tak lagi nampak di atas kulit, tetapi mereka begitu menyakitkan di dalam hati. Sesekali mereka datang bersama hujan, angin, pun kesepian malam. Sayangnya, hidupku terlalu banyak didominasi dengan sunyi. Entah aku yang sengaja menciptakan itu sendiri, atau orang-orang memang tak pernah sepenuhnya peduli dengan keberadaanku di bentala ini.
"Lantas, bagaimana caranya aku menjalani kehidupan ini?"
Tak ada tujuan, tak ada sebuah keinginan. Pada detik ini sekalipun, rasa ingin meninggalkan dunia terlalu kuat mengisi relung jiwa. Sebab hidupku telah lama mati. Raga yang sedang menderita dan berdarah-darah ini, aku bahkan tak tau apa yang sedang ia perjuangkan di dunia ini. Ia bahkan tak memiliki seseorang yang menjadi alasan mengapa ia harus bertahan di sini. Ialah aku, yang bertahan seperti mayat hidup di lorong gelap tak berujung. Langkahku telah lama tertatih, sampai kemudian aku menemukan sosok Abi yang menjanjikan banyak hal kepadaku.
Termasuk sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya amat sangat tabu. Lelaki itu, seolah tengah memberikan secercah cahaya dalam perjalanan panjang yang kulalui. Dalam terowongan panjang yang bahkan tak dapat kulihat seperti apa ujungnya itu, ia senantiasa menggandeng tanganku. Membisikan ribuan diksi yang begitu manis untuk mengusir sepi. Hanya dia satu-satunya lelaki yang peduli kepadaku, juga rasa sakit yang tak pernah enyah dalam hidup ini.
Aku menghela napas berat. Duduk di tepian ranjang menghadap ke arah jendela kaca yang masih menampakkan rintik kecil hujan di luar sana. Dahan flamboyan itu sebagian mengetuk kaca jendela bak simpfoni. Meliuk-liuk diterpa hujan seperti aku yang tak pernah tenang dengan hidup ini. Entah kenapa malam ini pikirku begitu rumit. Dalam ruangan remang yang dipenuhi dengan buku-buku ini, adalah malam pertama aku akan memejamkan mata. Aku tak menyukai suasana hati yang seperti ini, lantas segera kusibak selimut dan merebahkan tubuh di atas kasur.
Untuk beberapa detik aku masih berusaha memejamkan mata. Namun, saat itu juga makin terasa dengan jelas bagaimana kedua lengan kekar Abi mengunci tubuh ini dalam dekapan yang begitu erat. Masih jelas pula setiap kalimat yang ia lontarkan kepadaku barusan, yang meski ia ucapkan dengan biasa saja. Akan tetapi, kalimat dari Abi selalu berhasil menggetarkan perasaanku. Entah kenapa, tatap matanya yang sendu, selalu sukses membuatku mau tak mau melepaskan emosi yang tak ingin kutunjukkan di depannya.
Dan, karena gagal menahan diri agar tak menangis di depan Abi, aku bahkan mengorbankan diri untuk tak makan malam. Sebab saat ini kedua mataku sembab parah. Isakku jelas masih tersisa di balik bantal. Beruntung Jenar tak sampai datang ke kamar ini dan menjemputku untuk makan. Mungkin saat masuk tadi, Abi sudah beralibi agar mama-nya itu tak khawatir lagi.
Dan kini, aku sendirian. Terbaring di atas ranjang dengan pikiran bercabang. Kedua mataku masih enggan terpejam meski kantuk sudah menyerang. Mungkin efek beberapa obat yang baru saja masuk ke dalam perut. Dari posisi telentang, kini aku miring ke samping menatap jendela yang sengaja tak ditutup tirainya. Gemercik suara rintik gerimis terdengar lagi di luar sana, membuat angin semakin terasa dingin berembus. Beruntung ruangan ini memiliki penghangat juga pendingin udara. Sungguh, tempat ini di desain dengan sangat nyaman. Aku jadi terpikir betapa menyenangkan saat satu keluarga itu berkumpul menjadi satu untuk membaca buku di tempat ini.
Pasti menyenangkan.
Sesuatu yang tak pernah kumiliki sejak dulu. Bahkan sejak mama masih berada di sampingku. Tak pernah ada kebahagiaan melainkan sebuah perasaan terancam yang selalu diimbangi dengan ketakutan.
"Mama," bisikku lirih.
Entah kepada siapa. Dinding-dinding dingin yang membisu, atau atap kamar yang terlihat lembab. Sesuatu yang terasa nyeri berdesir sampai ke hati. Terasa pedih sama seperti luka pada lengan yang terkena hawa dingin. Saat kedua tanganku beralih meremas ujung selimut tebal yang menutup tubuh. Entah kenapa saat itu pula air mata ini turun mengalir begitu saja. Dadaaku mendadak sesak. Ada sesuatu yang bergejolak hebat dan terasa menikam di dalam sana. Mungkin, ini adalah salah satu sebab setelah sekian lama aku tersesat.
"Ma?" bisikku lagi.
Entah, sudah sejak berapa lama aku melafalkan panggilan itu. Entah kapan terakhir kali aku memanggil sebuah sebutan yang mestinya terasa begitu akrab dan hangat, namun begitu menggigilkan untuk sekedar kusebut dalam batin. Hanya saja kali ini, aku sungguh-sungguh merindukan sosok yang telah sejak lama pergi meninggalkan aku dalam kesakitan ini. Dalam mimpi sekalipun ia bahkan tak mengizinkan aku untuk ikut dengannya. Menyudahi sakit di bumi ini dan pergi ke surga.
"Tapi, mana mungkin wanita jahat yang sudah meninggalkan anaknya untuk menderita itu bisa masuk ke surga?"
Meski demikian aku juga tak rela jika mama pergi ke neraka.
Suara-suara itu terus mengisi ruang kosong dalam kepala, dan aku juga masih terus berusaha untuk menyangkalnya. Menjawab sebagian tanya yang ia lontarkan seolah-olah suara asing itu adalah satu-satunya teman bicara yang aku punya.
"Aku kenapa, sih?" Masih bermonolog. Kini aku miring ke samping kembali menatap jendela yang dibasahi oleh air hujan.
"Aku baik-baik aja sejauh ini, apa aku harus menyerah aja?"
Dadaku mendadak sesak. Kini kembali aku menegakkan tubuh dan beranjak dari kasur. Dengan napas tersengal membiarkan air mata terus mengalir membasahi pipi. Malam itu, di samping rak buku yang menjulang tinggi tanganku yang sudah terulur ke atas untuk menggapai sebuah buku mendadak melunglai ke bawah kembali. Menyentuh dadaa bagian kiri atas yang semakin terasa sesak. Sehingga saat ini aku terduduk di lantai sambil terisak pelan.
"Kenapa?" bisikku, "aku nggak datang sampai sejauh ini buat nyerah. Nggak boleh."
Dalam ruang temaram itu tak satupun seseorang yang akan melihat kejatuhanku di sana.
"Semua orang selalu bilang kalau aku bisa." Mataku memaku lantai kayu yang dingin.
"Tapi sebenarnya, aku beneran udah capek. Aku nggak bisa lagi berdiri tegak."
Sehingga air mata meluruh ke lantai tanpa bisa dicegah lagi. Dalam keheningan yang didominasi dengan suara hujan juga tangisan ini, aku benar-benar merasa kedinginan. Kesepian yang selama ini seolah bukan apa-apa bagiku, rasanya terlalu menyiksa sampai aku tak sanggup untuk lagi berkata-kata.
"Kamu nggak harus memenuhi apa yang mereka mau, Tari."
Suara itu membuatku tersadar dan menoleh. Mencari di mana sumber datangnya suara, sampai kemudian aku menemukan sosok Suri yang terduduk di atas ranjangku dengan wajah berantakan.
Mengerikan, tetapi tak lebih menyakitkan ketimbang kesunyian yang menyiksa detik ini.
"Kadang ekspektasi orang lain kepada kita justru menjadi sesuatu yang menyakitkan, dan nggak jarang membuat kita tersiksa tanpa sadar." Masih kutatap Suri yang kini balik menatapku.
Wajahnya penuh luka, sebelah matanya berdarah hingga meleleh jatuh ke pipi. Dua sudut bibirnya robek hingga ke telinga, sehingga saat gadis itu tersenyum ia tampak begitu mengerikan. Untuk beberapa detik kami saling diam, sebelum kemudian ia melayang seperti asap dan berhenti tepat di hadapanku dengan wajah yang lebih baik.
Pucat pasi seolah tak ada aliran darah yang dimilikinya.
"Lepasin semua yang melukai perasaan kamu. Lakukan apapun yang kamu mau, Tari. Aku nggak sepenuhnya tau soal perasaan manusia, tapi aku pernah ada di posisi itu," kata Suri.
Entah sudah berapa lama jiwanya yang hampa itu berada di sini. Tertahan dan tak bisa benar-benar pergi ke langit untuk pulang yang sesungguhnya. Meski kami kerap kali berbagi kisah berdua saja, dalam kebisuan, dalam semua kejadian yang Suri saksikan. Kurasa tak perlu lagi aku menjelaskannya terlalu banyak. Sebab ia lebih mengerti apa yang tengah aku tangisi saat ini.
"Katanya hidup itu singkat, dan kenyataannya memang begitu. Sepanjang aku hidup, nggak pernah ada satupun hal yang bisa kulakukan sesuai dengan apa yang aku mau. Yah, meskipun nggak sepenuhnya ingat ... tapi, samar-samar aku seperti melihat diriku sendiri di dalam mata kamu," ujar Suri panjang.
Kakinya yang putih sepucat wajahnya itu berselonjor tampak seperti awan. Gadis itu tertawa ngeri, mengangkat tangannya yang dingin dan menyentuh telapak tanganku begitu saja.
"Jadi," ucapku terhenti. Sepasang mata ini menatap Suri yang dingin tersenyum tanpa arti di depanku.
Untuk kali pertama, pada akhirnya ada yang mengatakan bahwa aku boleh menyerah kapan pun. Ia tak menuntutku untuk tetap hidup seperti biasanya lagi. Dan untuk beberapa alasan aku merasa lega atas hal tersebut.
"It's oke, Tari. Kamu yang berhak ambil keputusan dalam hidup kamu. Tapi, sebelum bener-bener kamu memulainya, kamu juga harus ingat bahwa setiap keputusan yang kelak kamu ambil akan memiliki konsekuensi."
*U t a r i*
-B e r s a m b u n g
IBU
ibu
sekian lama
aku bersemedi direlung gua teduhmu
sembari bertapa
kau suapi aku dengan cinta
dari telagamu
aku meluncur bagai kesiur…
ibu
kaulah danau
tempat aku meredam racau
tak pelak
dari kawahmu aku bermula
ibu
kaulah langit
tempat aku mengemis harap
yang sekali ketika
kau rinaikan hujan kasihmu
ibu
kaulah bumi
tempatku terlentang dan berbaring
bermain dan istirah
ibu
kaulah tanah
tempatku mukim diceruk rahim
seketika kau sawah
tempatku memanen bebutir padi
ibu
kaulah awan
tempatku bernaung dari terik yang pengap
ibu
kaulah laut
tempatku berenang di ombak kasihmu
ibu
kaulah gunung
tempatku memijak dan berdiri regak
dari lerengmu aku mendaki kasihmu
ibu
kaulah samudra
tempatku menampung paru dan jantung
ibu
kaulah dermaga
tempatku melabuhkan perahu jiwa
ibu
kaulah cahaya yang lenyapkan gelapku
kaulah api yang hangatkan dinginku
kaulah air yang sejukkan panasku
kaulah mentari yang terangkan petangku
kaulah rembulan yang menjadi pahlawan malamku
ibu
kasihmu tulus tak perlu di tebus
cintamu teduh tak butuh di sepuh
doamu sejuta lebih mustajab
tinimbang doa seribu kekasih
ibu
sambil mengembara
aku menjadi musafir
yang mencari surga di telapak kakimu
17082011, Demak.
- Usman Arumy