*A b i m a n y u*
Seandainya saja gadis yang tengah berjalan di depanku ini bukanlah Utari, mungkin sudah dapat kuhentikan langkahnya sedari tadi. Keras kepalanya mengalahkan batu raksasa, entah angin dari mana mendadak pagi ini ia menumpang di mobilku untuk keluar dari perpustakaan sebagai tempat hunian baru untuknya. Tak ada sepatah kata pun yang ia keluarkan dari bibir ranumnya saat aku melontarkan begitu banyak tanya kepada Tari. Ia hanya duduk diam di sepanjang perjalanan sambil mendekap tas ransel hitam yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Kali ini, sengaja aku menghentikan mobil di depan gerbang kampus. Meminta Gibran menjemput dan memasukkannya ke dalam parkiran kampus. Sebab Tari turun begitu saja tanpa sepatah kata lagi. Terus berjalan di sepanjang trotoar, mengabaikan kehadiranku yang sedari tadi menjadi bayangan dalam setiap langkah yang ia emban. Dan akhirnya kini aku tau ke mana gadis keras kepala ini akan pergi.
"Tar? Ada apa, sih? Kenapa?" tanyaku padanya.
Tetapi, Gadis itu tak menjawab apapun, ia hanya diam dan bungkam menghentikan langkah kakinya yang sengaja kuhadang. Kutatap sepasang matanya yang sendu, seperti biasa nyalang dan dingin sampai perasaanku turut menggigil.
"Ada apa? Bilang sama aku." Lagi, hanya kalimat itu yang dapat aku ucapkan kepada sosok Tari yang masih membisu.
Dapat kulihat ia bahkan melepaskan perban yang melilit luka di lengannya, padahal aku juga tau bahwa luka itu belum sepenuhnya pulih. Namun, aku hanya tak ingin memperburuk suasana hati Tari saat ini, setidaknya aku tau apa yang akan dilakukan Utari, itu sudah lebih dari cukup.
Dan, entah apa yang sedang berada dalam pikirannya, alih-alih menjawab pertanyaanku, Gadis itu lagi-lagi menghindar. Ia malah duduk di atas rerumputan yang masih setengah berembun, tepat di bawah pohon tabebuya, saat pertama kali ia membalas sekian banyak puisi yang selama ini telah kusuguhkan kepadanya. Sekian banyak puisi yang kutulis dengan tulus, sesuatu yang tak pernah rnag kupersembahkan kepada cewek mana pun selain dia.
Pikirku, dengan banyaknya kalimat manis yang sungguh kutulis dengan perasaan paling dalam. Ia akan mengerti dan luluh, sikap dingin layaknya es kutub akan mencair dengan kalimat hangat yang kususun dengan perasaan sayang. Akan tetapi, ternyata aku salah. Tari sungguh gadis yang sangat tak terbaca. Ia begitu abu-abu di mataku, yang pikirku selama ini begitu ingin tau apa dan siapa yang tengah mengikat gadis ini. Selain dari Ardhan, kenyataan bahwa Tari bungkam dan tak pernah berniat mengatakan fakta tersebut. Lantas aku juga sadar bahwa sepenuhnya hati Tari belum juga sanggup aku dapatkan.
Setelah menatap punggung rapuh itu cukup lama. Aku duduk di sebelah Tari tanpa sepatah kata pula. Membiarkan gadis itu diam selama yang ia mau dan aku hanya akan menemaninya duduk di sini dalam kebisuan yang saling membebat kami dalam hening. Mengabaikan tatap mata para mahasiswa yang turut sibuk menelisik kami berdua di sini dalam bungkam. Juga, mata kuliah sejarah yang seharusnya pagi ini kuhadiri, tapi aku justru memilih untuk duduk di sini menemani Tari dalam hening yang telah ia ciptakan sedari tadi. Toh, aku bisa menitipkan absen pada Gibran, pun tak perlu kukatakan lelaki itu pasti sudah dengan tanggap menuliskan namaku di buku daftar kehadiran. Yah, meski sebatas numpang nama saja.
Kelopak kembang tabebuya gugur diterpa angin sepoi. Dingin sisa hujan semalam masih terasa, bulir halus embun yang beterbangan pagi itu ikut seliweran tak kasat mata. Sedangkan sesekali sisa air hujan semalam yang melekat di antara dahan pohon turut turun saat angin menggoyangkannya perlahan.
Suasana yang manis, tetapi tidak dengan situasi kami berdua. Hanya ada dingin yang benar-benar membekukan kita tanpa sepatah kata.
"Pernah nggak sih kamu mikir kalau kita terlalu jauh berbeda."
Tanya itu mendadak muncul dari bibir Tari, dan aku pun tak tau apa yang sedang ada di pikirannya.
Aku tak mengerti, kesalahan apa yang sudah aku lakukan sampai kemudian. Ia menjadi seseorang yang mendadak diam. Padahal aku lebih suka jika Tari melawanku seperti biasanya. Memaki bahkan melakukan kekerasan untuk membalas puisi yang kusuguhkan.
Saat ini aku memutar kepala dan menatapnya yang masih enggan membalas tatapanku. Sepertinya memang, ia lebih menyukai objek hejijauan yang tersuguh di depan mata. Taman depan kampus yang pagi ini sepi, hanya ada beberapa penjual pinggir jalan yang biasanya menjadi tempat singgah para mahasiswa mengisi perut saat sarapan mau pun makan siang.
"Dan, aku ... dengan nggak tau dirinya mendadak harus tinggal di rumah kamu—."
"Perpustakaan," potongku membuat ucapan Tari tak sepenuhnya terselesaikan.
Kudengar ia menghela napas panjang.
"Ya, apa pun itu." Tawanya terdengar samar, tetapi tak da sepercik kebahagiaan yang muncul di wajah bahkan sorot matanya.
"Harusnya, aku nggak ikut kamu gitu, aja 'kan, Bi?" tanya Tari.
Giliran aku yang membuang napas dengan kasar. Sebisa mungkin aku memendam rasa amarah yang tengah memberuncah naik ke kepala, siap saja aku mengeluarkan umpatan atau apa pun itu kepada Tari yang tiba-tiba menjadi begitu samar.
"Nggak. Emang udah seharusnya begini. Kamu bakalan aman di sampingku, Tari."
"Kenapa kamu seyakin itu? Apa kamu pikir aku nggak sanggup melindungi diriku sendiri dari mereka?"
"Nyatanya gimana?" bisikku masih mencoba meredam amarah. "It's not something you can go through on your own, Tar. Setiap orang butuh orang lain buat saling melindungi dan memulihkan diri. Termasuk kamu, kamu juga butuh orang lain buat pulih dari rasa sakit itu, dan orang itu aku."
"Why, you?!" Tari tertawa pendek.
Namun, lebih terdengar kali ini. Dan hal itu membuat kepalaku teleng ke samping melihat sosok di sebelah ku lebih dalam lagi.
"Memang kenapa kalau aku?" tanyaku, "kamu punya kandidat lain? Selain aku, nggak ada orang lain yang sudi kenal kamu sejauh ini, Tar. Aku tau hidup kamu nggak baik-baik aja sejak dulu, tapi ...," ungkapku menggantung.
Kini sepasang mata kami saling bertubrukan dan mengunci satu sama lain. Kutelisik begitu dalam dan semakin jauh berharap aku dapat menemukan jawaban yang sedari tadi menggantung dalam benak. Seperti sebuah tanya mengapa Tari terkesan seolah ingin menjauhkan diri dariku?
Tiba-tiba?
"Tapi kamu memang nggak akan pernah punya pilihan lain, Tar."
Suaraku melirih saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Hidup ini udah terlalu brengseekk, dan aku harap kamu nggak akan bikin jalan gelap ini semakin kelam. Suka nggak suka, apa pun itu, kamu nggak punya hak buat milih ke mana akan pergi."
Kedua tangan Tari yang menganggur sedari tadi, kini kutarik dalam genggaman. Dingin seperti perasaannya yang memang sudah mati sejak lama. Gadis ini tak pernah memiliki harapan selain mati. Sebab sejak kematian ibunya ia tak lagi memiliki tempat untuk berharap, tempat ia merasa nyaman dan dilindungi, tempat ia merasakan kehangatan lewat raga juga jiwa.
Tari, telah mati bersama dengan kepergian ibunya saat itu. Dan saat ini, sosok gadis ayu yang rumit dan duduk di sebelahku. Ia begitu menyebalkan dan keras kepala, ia begitu dingin dan sangat menggigilkan. Ia Utari, satu-satunya gadis yang tak akan kulepaskan apapun yang terjadi selanjutnya.
Selain karena kisah kami yang memang saling terikat, antara kerub, bidadari juga sosok penyihir gila itu. Aku berjanji, tak akan pernah menghalangi jalan mana pun yang akan membuat Tari bahagia. Selama aku bisa berada di sampingnya, bidadari yang rapuh ini akan senantiasa kulindungi dalam kungkungan kedua tanganku sendiri.
"Meskipun aku nggak tau apa yang bikin kamu mendadak begini, tapi please! Jangan pernah coba-coba buat melarikan diri dari aku, Tar. Karena cuma aku yang bisa bikin kamu aman."
"Kamu nyata?" tanya Tari menjawab ungkapanku.
Dan hal itu tak sampai di kepalaku, apa yang sedang ia tanyakan. Aku tak mengerti makna yang tersirat di sana. Sebelum sebulir air matanya sendiri jatuh di kedua pipi pucat tersebut. Aku mengerti, saat perlahan sorot mata Tari menghangat tanpa aba-aba. Kutarik ia dalam dekapanku dan mengusap punggungnya lemah.
"Kalaupun aku nggak nyata, di mana pun kamu terluka aku akan tetep ada, Tar."
Gadis ini, sedang butuh atensi dunia padanya. Ia bahkan meragukan eksistensinya sendiri, sebab rasa sakit yang ia terima tak sedikit.
Sebab semua luka itu terlalu kejam merajam Tari hingga ke dalam hati. Dan aku, akan berusaha memaklumi hal itu. Akan tetapi, meski bagaimana pun juga, aku tak akan membiarkan ia keluar dari pengawasanku seperti hari ini. Bisa-bisanya ia mendadak keluar dari perpustakaan sebelum sepenuhnya pulih.
Dan kalian tau ke mana tempat yang sedang Tari tuju?
"Aku udah maafin kamu, tapi hal itu nggak akan merubah keputusanku, Tar. Kamu harus pulang."
Mendadak, ia mendorong dadaku dengan kasar.
Lantas berdiri dengan tegap dan meraih ransel pada sebelah pundaknya.
"Dan, kamu tau, aku nggak suka diperintah," balas Tari.
Ia menyeka kedua mata dengan kasar sebelum kemudian berlalu meninggalkan aku yang masih duduk dengan perasaan dongkol menatap punggung gadis itu.
"Emang bener-bener keras kepala!" bisikku setengah mengumpat.
Sedetik kemudian aku bangkit dari posisi duduk dan bergegas mengejar langkah Tari yang sudah semakin jauh menuju ke kafe yang berjarak sekitar lima meter dari kawasan kampus.
"Tar, tunggu aku!" teriaku padanya. Dan sayang, Gadis itu tak menggubrisnya sama sekali.
Berengseeek bukan?
Bisa kupastikan bahwa tak akan ada satu orang pun gadis yang berani memperlakukan aku seperti ini. Kecuali Utari, hanya dia.
*A b i m a n y u*
Now playing : Biarlah - Payung Teduh.
Turunlah kepelukanku
Nyanyikan lagu rindu para wanita
Menata sanggul di tepi sungai
Menarilah bersamaku
Turunlah kepelukanku
Nyanyikan lagu rindu para wanita
Melenakan para penjamah
Meratapi kepergian malam
Biarkan dewi malam menatap sayu
Meratapi bulan yang memudar
Biarkan bulan berjalan tunduk
Menyambut senyuman matahari
Biarkan matahari membuka mata
Membangunkan alam yang lelah
- B e r s a m b u n g-