28. Gamang

1165 Kata
S e l a m a t M e m b a c a ! *U t a r i* "Kamu nyata?" kutatap lelaki yang sedari tadi tak henti membuntuti ke mana pun kaki ini melangkah. 'Aku juga ingin nggak peduli dengan kenyataan bahwa kami ini nyata atau sekedar ilusi semata. Hanya saja, sering kali realita membuat dadaku sesak dengan rasa tercekik yang begitu hebat. Aku nggak tau, apakah semua ini bentuk perasaan sayangku kepadamu, atau hanya sesak sekilas yang tak beralasan, Bi," batinku. Hanya batin yang dapat kulontarkan pada diriku sendiri saat menatap sepasang matanya. Sialnya, sepasang mata Abi yang tajam itu pagi ini terlihat teduh, entah karena suasana yang tengah berkabut membuat suhu tubuhnya ikut mendingin atau memang lelaki itu sedang berusaha memamerkan pesonanya kepadaku. Bibirnya, caranya bicara, tertawa, bahkan cara Abi menatapku ... lelaki ini selalu mempunyai sisi yang tak pernah kutemukan pada lelaki lain sebelumnya. Ia memperlakukan dengan sangat berbeda, bahkan puluhan puisinya sudah menyeruak masuk meninggalkan jejak yang sangat membekas di hati ini. 'Tapi, kenapa aku belum juga sepenuhnya jatuh pada lelaki ini?' Batinku kembali bertanya akan perasaanku sendiri. Sebab aku sadar, kami berdua memang terlalu jauh berbeda. Ia adalah seorang anak yang tumbuh dengan cinta juga kasih sayang yang menciptakan kisah indah. Kedua orang tuanya utuh saling menjaga dan melindungi. Ia dibesarkan dengan kehidupan yang layak dan baik-baik saja. Sedangkan aku sudah melihat semua itu kemarin, malah sejak aku menginjakkan kaki di rumah besar nan megah itu. Hanya saja sejujurnya Aku tak peduli seberapa besar dan mewah hunian milik Abi dan keluarganya. Terlepas dari duniawi yang memang tak bisa di pandang remeh. Satu hal yang membuat aku merasa takut untuk menetap lebih lama di sana adalah kehangatan juga kenyamanan yang aku temukan di tempat itu. Aku hanya takut jika semakin lama kenyamanan itu kelak akan membuat keadaanku semakin melemah. Aku tak mau bergantung pada orang lain, dan aku tak mau lemah di mata musuhku sendiri. Sedangkan kenyataan bahwa ayah gila-ku itu masih terus dengan gencar mencari keberadaanku ke sana dan kemari. Hal itu semakin membuatkan tekadku untuk tetap tegap dan mengandalkan diri sendiri. Setidaknya, aku berharap untuk tetap kuat bertahan sampai kematian benar-benar menjemputku menemui ajal. "I wish I had a choice once in a life time," gumamku secara tiba-tiba. "No, u dont, have a choice, Tar." pada akhirnya kedua mata kami saling bersirobok satu sama lain. Kali sama-sama diam dan saling menelisik lebih dalam, kurasa lelaki ini sedang mencoba untuk memahami aku dan segala sifat yang begitu abu-abu. "Pliss, Tari. Aku tau ini kedengerannya jahat, tapi kamu memang nggak akan pernah punya pilihan lain." "Ya," balasku pendek, "karena nggak pernah ada yang namanya keadilan dalam hidupku, beda sama kamu, Bi." Kini aku mengalah, melepaskan tatapan mata kami yang sedari tadi saling mengikat. Mataku menerawang lurus ke depan, pada hamparan taman luas yang sebagian rumputnya terlihat indah karena mulai tertutup oleh kelopak Tabebuya. Bising geseeek suara sayap jangkrik masih sesekali terdengar. Di barengi dengan alunan lagu melankolis dari radio tua yang berasal dari gerobak mie ayam bakso yang memang selalu mangkal di sekitar trotoar kampus ini. Tenang, tenang yang tak kunjung datang Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu Kadang-kadang kelam ini datang menghampiri, oh-oh Tenang, tenang yang tak kunjung datang Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu Tenang, tenang, oh, datanglah tenang hari ini Aku terdiam, ia pun sama. Namun, nyatanya lelaki itu tak pernah memalingkan kedua bola mata indahnya dariku sedikit pun. "Kamu udah bener-bener kenal sama aku, Tar?" Mendadak ia melontarkan kalimat itu. Aku terkekeh pelan, nyaris tak bersuara sambil mencabut sebuah rumput dan mempretelinya menjadi serpihan kecil. "Apa aku harus?" "Wajib hukumnya, karena kamu udah berani mengomentari kehidupan aku tanpa tau latar belakangku sebelumnya." "Tapi, aku nggak tertarik sama hal itu," balasku cepat. Sayang, lelaki itu tak se-emosian seperti hari-hari biasanya. Saat ini ia justru masih bisa tertawa menanggapi leluconku yang sebenarnya sangat tak lucu untuk dilontarkan pada saat seperti ini, bukan? "Oke, karena kamu cantik aku maafin. Tapi, nggak mengubah keputusanku buat mempertahankan kamu apa pun yang terjadi, Tar." Kutatap sorot matanya yang kini nampak seperti dua bulan sabit yang melengkung manis dengan hiasan buluuu mata lentik. Berengseeek satu ini, menang tak bisa dikatakan jelek. Visualnya tak pernah mengecewakan dan main-main. Pantas saja banyak para juniooor yang kepincut dengan Abi, terlepas dari jabatan ketua organisasi di kampus ini. "Kenapa kamu berjuang sampai sejauh ini cuma karena cewek kayak aku, sih Bi?" tanyaku, "toh di luar sana ada banyak cewek yang lebih cantik dan lebih seksi dari aku ...," ucap ku terhenti sebentar. Sebelum kemudian aku menarik napas panjang dan melepaskannya dengan keras. "Dan tentunya, lebih layak." Sudah pasti mereka memiliki keluarga yang hebat, atau setidaknya kehidupan normal yang tak begitu pelik macam duniaku yang selalu kelam semenjak dulu. Bukan gadis yang tak memiliki masa depan seperti aku, keluarga pun tak perlu ditanyakan. Anggap saja aku tak memiliki hal itu sepanjang hidup. Akan tetapi, siapa sangka Abi justru menarik kedua tanganku dalam genggamannya. Cukup lama lelaki itu mengelus punggung tanganku dengan ibu jarinya. "Yang cantik dan seksi emang banyak, Tar. Tapi, kamu cuma ada satu." Abi tersenyum padaku. Entah kenapa, ucapan se-sederhana itu membuat jantungku berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Aku tak mau menjatuhkan harapan juga perasaanku kepada sosok Abi yang terlalu jauh untuk kugapai. Mungkin karena aku terlalu membentengi diri darinya. Sebab itu aku tak sepenuhnya merasakan jatuh cinta yang sebenarnya kepada sosok Abimanyu. "Ada tapi nggak kelihatan, kelihatan tapi nggak bener-bener ada, Tar." Dialog itu ... milik Anjani. Kedua mataku membulat sempurna mendengar ucapannya barusan. Sampai kini aku membalas tatapan Abi meski sebelumnya aku masih acuh dengan sikap lelaki ini. Bagaimana bisa Abi menirukan dialog milik Anjani dengan begitu jelas? Hei, sungguh aku nggak sepenuhnya percaya dengan yang namanya kebetulan. "Apa yang kamu lihat saat ini, mungkin emang bukan segalanya kebenaran, Tar. Tapi, percaya deh, kalau takdir itu nggak pernah salah untuk berkisah," ucap Abi tepat di dekat daun telingaku. Seketika buku kudukku merinding mendengar ucapannya yang terdengar Misterius secara tiba-tiba. *U t a r i* -B e r s a m b u n g- Now playing : Yura Yunita - Tenang. Dialog dini hari Kepada diriku sendiri Tak bisa ku tertidur lagi Melayang pikirku tak pasti Dialog dini hari Resah gelisah mengiringi Berharap ada yang mengerti Berharap kau ada di sini Tenang, tenang yang tak kunjung datang Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu Tenang, tenang, oh, datanglah tenang hari ini Dialog dini hari Resah gelisah mengiringi Berharap ada yang mengerti Berharap kau ada di sini Tenang, tenang yang tak kunjung datang Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu Kadang-kadang kelam ini datang menghampiri, oh-oh Tenang, tenang yang tak kunjung datang Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu Tenang, tenang, oh, datanglah tenang hari ini Tenang, tenang yang tak kunjung datang Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu Kadang-kadang kelam ini datang menghampiri, oh-oh Tenang, tenang yang tak kunjung datang Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu Tenang, tenang, oh, datanglah tenang hari ini Jauhkanku dari sedih itu Aku merindu padamu Jauhkanku dari gelap itu Aku kembali pada-Mu Terima kasih sudah baca ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN