Metamorfosis
Ada yang sedang menanggalkan
kata-kata yang satu demi satu
mendudukkanmu di depan cermin
dan membuatmu bertanya
tubuh siapakah gerangan
yang kukenakan ini
ada yang sedang diam-diam
menulis riwayat hidupmu
menimbang-nimbang hari lahirmu
mereka-reka sebab-sebab kematianmu
ada yang sedang diam-diam
berubah menjadi dirimu
-Sapardi Djoko Dhamono
S e l a m a t M e m b a c a!
~A b i m a n y u~
Saga.
Sebuah nama itu masih membekas dengan jelas di dalam kepala. Seperti apa rupanya, makhluk berdarah dingin yang selama ini mengintai Tari, dan menginginkan gadis itu sebagai alat agar ia dapat hidup dengan abadi. Menjadi sosok paling kuat dan ia akan menguasai dunia ini, menyingkirkan klan manusia dan berusaha menguasai dunia se-isinya.
"Mereka tak begitu menyukai cahaya matahari, jadi mereka memang cenderung menampakkan diri di saat senja dan malam tiba."
Pesan wasiat dari Ardhan masih teringat jelas di telingaku. Membekas dengan rapi di dalam kepala.
"Kegelapan akan jadi sumber kekuatan bagi mereka, saat merasa terancam."
"Jadi, apa pun yang terjadi, jangan sampai kamu melepaskan Tari. Apa pun, yang terjadi, Bi. Takdirmu sudah diharuskan untuk menjaga klan terakhir dari bangsa Bidadari."
Aku menghela napas malam itu memikirkan semua perkataan Ardhan yang selalu mewejangiku dengan pesan-pesan tersebut. Yah, sekalipun Tari bukan klan bidadari terakhir dari bangsanya. Bagiku ia sudah menjadi bidadari patah sayap yang turun ke bumi.
"Aku nggak akan biarin kamu pergi dariku, Tar." Aku bermonolog lalu menarik selimut hingga menutupi wajahku sendiri kemudian terlelap malam itu.
-A b i m a n y u
I know it's been a while since our eyes last met
Too many words were left unsaid
Your head was poking out of the driver's seat
Eyes full of tears, I couldn't leave
Sama, serupa dengan Tari yang selalu pandai dalam mengolah ekspresi. Gadis ini selalu tenang bahkan saat rasa sakit di tubuh yang terlihat nyata itu nyaris saja membuatnya mati. Sekalipun wajahnya telah pucat pasi, bibir itu masih sempat menyunggingkan senyum miring padaku.
No matter what I do I still feel you coming back to me
When I know that you never will
So before I say goodbye, would you do one last thing for me?
Be happy
Hidup itu misteri, 'kan?
Bahkan aku yang dulu babak belur nyaris saja mati, hari ini masih berdiri tegap dan mengejar ke mana pun cewek keras kepala ini pergi. Aku masih bisa menyesap nikmatnya kopi pahit yang mengepulkan asap indah. Dan, menatap wajah dingin yang selalu menentang perkataanku, sekalipun ia tau bahwa tak pernah ada pilihan di hidupnya. Tolong katakan kepadanya bagaimana caranya aku bisa tertidur dengan lelap saat sehari saja tak melihatnya, jantungku bisa berdetak macam manusia kalap. Dan bisakah kalian membayangkan betapa hambar hari-hari di mana jika aku tak pernah bertemu dengan Tari?
Kisah cintaku sudah pasti mirip dengan Arjuna yang memikat banyak gadis. Tidur semalam kemudian melupa. Tertawa sebentar kemudian pergi begitu saja. Kisah cintaku tanpa Tari, sepertinya benar-benar hanya akan berisi tentang teman tidur sesaat.
Tak akan ada gadis garang yang berani menantang, bahkan merobek ban mobilku dengan pisau lipat hanya karena aku mengumpankan ia kepada dosen berkepala botak yang meminta lima puisi ciptaan Tari. Yah, kalau di pikir-pikir memang menyebalkan.
Puisiku yang sudah bertumpuk di kepalanya saja hanya pernah di balas sekali, bagaimana bisa pak tua itu meminta lima puisi ciptaan Tari. Yang seharusnya setiap baris manis penuh dengan kisah dari Tari itu hanya ditujukan kepada aku, Abimanyu.
Lihatlah, sekarang ia mendelik padaku setelah menyesap kopi hitam dalam cangkirnya.
Lagu yang mengalun merdu di seantero kafe pagi itu membuat suasana dingin yang sempat membekukan kami berdua. Kini menjadi lebih baik, setelah ia memaksa masuk ke dalam kafe untuk kembali bekerja dan ngeyel mencari tempat tinggal sendiri. Gila memang, tapi ... itulah Utari. Gadis yang selama ini kukenal dengan sikap nya yang elusif.
Dan meskipun begitu, tak sepenuhnya aku bisa berpaling dari sosok ini.
"Jadi?" tanya Tari setelah setengah dari isi cangkir kami masing-masing sudah berpindah ke dalam perut.
Aku yang sedang menopang dagu dengan sebelah tangan dan bertumpu di atas meja sambil terus mengamati Tari hanya menaikkan kedua alis secara bebarengan. Membuat gadis itu berdecih dan menendang tulang keringku.
Sialan!
Untung saja sayang.
"Apa, Tar?" Aku meringis sakit merasakan nyeri yang menjalar dari tempat di mana ia melakukan serangan.
"Dari mana kamu dapet dialog barusan?"
"Emang kenapa, sih? Perkara dialog doang diribetin. Kayak anak teater aja," balasku sewot.
Kuangkat cangkir kopi berwarna putih gading sampai tepiannya bertemu dengan bibir. Sudah semakin mendingin, dan aku bergegas menyesapnya hingga tetes terakhir.
"Ini penting buat aku, Bi."
"Kalau gitu bilang dulu, kenapa kamu tiba-tiba kayak gini?" cangkir kosong yang berada di tangan langsung kuletakkan begitu saja di atas meja.
Kutatap Tari lebih dalam, lebih serius, lebih penuh dengan kasih berharap ia tau bahwa aku benar-benar khawatir kepadanya.
"Tiba-tiba apanya? Aku emang gini, 'kan? Nggak jelas, nggak normal," balas Tari annoying.
"Aku tanya lagi, kenapa kamu nyoba buat pergi dari aku? Ada yang ngancam kamu?"
Sepasang mata Tari yang sebelumnya menatapku, kini beralih ke arah jendela kaca yang menampakkan ramainya jalanan pagi yang sudah di penuhi dengan kendaraan lalu lalang.
Aku tau, ia enggan menjawab, dan selalu seperti ini. Ia tak pernah mau menceritakan apa pun kepadaku.
"Sampai kapan, Tar?" ucap ku kembali bersuara, "kemarin kamu nyaris aja mati. Dan sekarang, aku bahkan harus tau soal kamu dari orang lain."
"Karena kamu nggak akan ngerti, sekali pun aku cerita semuanya, Bi."
"Oke, tapi seenggaknya aku tau apa yang bikin kamu jadi sekeras ini? Nggak bisa, ya? Sekali aja kamu nyoba buat percaya sama aku, Tar?"
Kedua mataku masih memaku sosok Tari yang kini menghela napas pendek. Ia masih enggan menatapku. Tangannya justru memainkan cangkir di depan dengan raut wajah yang sedang bingung. Aku sungguh nggak ngerti, apa yang ada dalam pikiran Tari.
"Nggak bisa," cicitnya lemah, tetapi cukup jelas terdengar di telingaku, "udah sejak dulu, semua orang-orang yang aku percaya, mereka berubah, Bi. Mereka pergi tanpa aku, mereka ...." Kulihat bibirnya bergetar menahan tangis. Tetapi, Tari tetap mempertahankan dirinya agar tak lepas kendali.
Sedetik kemudian ia menghela napas berat, berulang kali sampai mendung di matanya mengusir kabut yang sempat hadir sesaat.
"People changes," bisiknya.
Kedua bahu Tari mengendik diiringi tawa yang mendadak terlontar dari bibir ranumnya.
"But, I'm not." Suaraku ikut setengah berbisik. Bersamaan dengan kedua tanganku yang meraih jemari Tari dengan erat. Sehingga gadis itu membalas tatapan ku.
"Kamu pikir, buat apa aku bikin puisi sebanyak itu kalau pada akhirnya cuma buat ninggalin kamu? Buat apa kemarin aku kelimpungan kayak orang stress demi nyariin di mana kamu, Tar?"
Akan tetapi, Tari malah tersenyum padaku. Bukan, bukan senyum pertanda ia sedang bahagia, melainkan hiperbolis. Ia, jelas tak mempercayaiku semudah itu.
"Mereka sama kayak kamu pada awalnya, Bi?" Tari masih dengan ekspresi yang serupa menatapku dengan senyumnya, "They said they wouldn't leave me, like u." Wanita itu terkekeh lagi.
-A b i m a n y u-
-B e r s a m b u n g!
NB : sekali lagi, saya ingatkan kalau cerita ini mengandung unsur melankolis dan dramatis, bakalan banyak main narasi dan puisi yang over, maybe :v
No-no, nggak over tapi emang porsinya cerita ini segitu. Wk-wk-wk
So, buat yang kurang suka dengan Genre seperti ini bisa di skip cerita nya ya atau baca dari awal biar ngeh
Makasih udah baca gais. ^^