30. Namaku, Gada

1782 Kata
S e l a m a t M e m b a c a~ ~U t a r i~ Aku Utari, yang merupakan klan terakhir dari bangsa bidadari. Katanya. Apakah aku sedang hidup di negeri dongeng? Bagaimana bisa orang-orang mengatakan kalimat yang lebih mirip dengan omong kosong itu? Hidup dengan alur seperti ini saja, rasanya sudah terlalu memusingkan diriku sendiri. Apalagi harus ada drama bidadari dan sejenisnya. Dan satu lagi, meski pun aku menyukai sastra juga membaca. Tetapi, untuk sebuah dongeng, aku sungguh-sungguh membencinya. Bagiku, dongeng seperti sebuah gurauan yang sengaja ditulis dengan bahasa manis agar pembacanya tertarik pada tokoh utama yang sebenarnya hanyalah penipuan publik. Macam tokoh Cinderella yang dipandang baik hati, nyatanya ia rela meninggalkan ibu tiri dan juga saudaranya untuk pindah ke istana bersama pangeran? Bukankah jika ia memiliki hati yang suci, Cinderella turut serta membawa orang-orang yang pernah menyakiti dia ke istana sebagai bentuk kemuliaan hati? Tak ada manusia se-suci Cinderella. Apa pun itu, manusia tetaplah makhluk paling munafik, paling licik, dan paling serakah. Macam Rahwana yang pernah Abi ceritakan padaku. Manusia itu terbentuk dengan dua sisi yang berbeda, hitam dan putih. Selalu ada dua sisi yang mendominasi kisah kita. "Seperti dunia yang nggak selamanya diisi dengan terangnya siang, atau gelapnya malam. Tuhan selalu adil, di balik dunia dan kisah brengsekk-nya ini, pasti ada hal-hal baik yang nggak pernah kita sadari, " ucap Abi pada detik-detik terakhir kopi dalam cangkir kami telah mengering. Lelaki itu penuh dengan sampul kejutan. Seperti banyaknya puisi yang ia suguhkan kepadaku. Kadang sikapnya tenang, kadang juga terlalu berlebihan sampai aku tak bisa sepenuhnya menilai sampul yang ada padanya. Hanya saja, satu hal yang bisa kupastikan. Rasa nyaman dan hangat saat di dekatnya tak pernah bisa aku pungkiri. Menghela napas ringan, aku menatap kembali sampul buku antologi puisi dalam genggaman. Di dalam perpustakaan ini, aku masih duduk di kursi favorit sejak dulu. Berada di pojok dekat jendela, tempat paling nyaman dan aman dari pengawasan. Di mana aku bisa memilih membaca atau terlelap di sana menghabiskan waktu tanpa berbuat apa-apa. Namun, di depanku sudah ada dua buku kumpulan puisi yang di tulis oleh Usman Arumy. Penyair yang karyanya sungguh edan apik-nya tiada lawan. Puisi buatan beliau itu sederhana, tapi seperti ada jiwa yang di masukkan ke sana dan menghidupkan tulisan itu kepada pembacanya. Aku bahkan tak bosan mengulang-ulang bacaan puisi karya beliau. Tentunya aku di sini karena Abi. Selepas menghabiskan secangkir kopi dengan argumen ringan antara kami berdua, suasana cukup dingin antara aku dan lelaki tersebut. Meski sepenuhnya dapat aku lihat bahwa ia tak berniat bermain-main denganku, tetapi entah mengapa aku belum sepenuhnya dapat menerima Abi. Perasaanku masih menentang diriku sendiri, bahwa aku tak pantas untuk siapa pun di dunia ini. Bahkan mungkin, kedatangan ku di Bentala ini hanyalah sebuah kesalahan yang tak termaafkan. Sebab itu Tuhan menghukumku dengan cara seperti ini. Terasingkan oleh orang-orang di sekitar. Ada tapi tak di anggap. Awalnya tentu saja aku terluka, bahkan di saat-saat tertentu aku juga masih merasa iri pada mereka yang begitu mudah akrab dengan sesama. Sedangkan aku? "Jika Tuhan saja mencintai keindahan? Apakah salah kalau aku mencintaimu?" Sobekan kertas yang entah ia dapat dari mana itu masih tergenggam di tanganku. Melihatnya aku biasa saja, sebab kalimat manis dari Abi tak bisa kukatakan sedikit. Jika lembar kertas itu tak kubuang begitu saja, mungkin sudah tercipta sebuah buku yang penuh dengan coretan bacot lelaki itu. Namun, sayang pula. Meski aku mencoba untuk bersikap biasa, nyatanya jantung ini kerap kali berdetak abnormal. Seolah ia ingin melompat jauh dari tempatnya semula. Dan sayang pula, kepalaku terlanjur mahir mengingat semua kalimat manis serta puisi yang di jabarkan kepadaku. Dari ranun bibirnya, tatap mata yang tak pernah kujumpa di mana pun. Abi memang satu-satunya manusia pertama yang mau meneriaku tanpa tapi, setelah Mama pergi. Aku menggeleng pelan. Berusaha mengusir bayangan Abi yang entah sejak kapan bersemedi di dalam ingatan. "Boleh aku duduk di sini?" Sampai kemudian sebuah suara itu menyadarkan lamunanku. Setengah mendongak karena tudung hoodie yang kukenakan menutupi pandangan, aku melirik lelaki tinggi yang mengenakan jaket hitam berdiri di seberang meja, tepat di kursi yang berada di depanku. Suaranya asing, yah, tentu saja karena aku nyaris tak pernah bersosialisasi dengan para mahasiswa lain. "Nggak," balasku pendek. Sebelum kemudian kembali meletakkan kepala di atas meja dengan kedua tangan sebagai bantal. Sudah kuputuskan untuk menunggu Abi di sini, karena bagaimana pun juga, aku sudah berjanji untuk tak pergi dan kabur darinya lagi. Terdengar bodoh bukan? Tapi, entahlah. Rasanya selama ini, lelaki itu sudah terlalu banyak mengorbankan hal-hal berharga hanya demi aku yang tak pasti. Dan mungkin hanya ini yang dapat kuberikan sebagai balasan atas kebaikan Abi. Meski mataku terpejam, aku tak sepenuhnya terlelap. Masih dapat kudengar bahkan merasakan bahwa mejaku bergerak, suara kursi di tarik pelan dan seseorang duduk di sana. Sontak aku membuka mata sebentar dan kembali memejam. Aku tak peduli siapa dia, tetapi jujur tingkahnya sudah sukses membuatku muak. Kenapa juga ia harus minta izin padaku, saat ia bahkan tak peduli dengan jawabanku? Sialan! "Kamu suka baca puisi?" tanya lelaki itu, dan aku sama sekali tak berniat menjawabnya. "Aku sedang mencari buku puisi yang menarik untuk di telaah, bisa kamu kasih rekomendasi buatku? Kayaknya, selera kamu lumayan juga." Aku masih terdiam, sungguh tak berniat merespon lelaki asing yang mendadak sok kenal dan dekat denganku. Pasalnya, mau bagaimana pun juga, tak pernah ada orang lain yang mengajakku bicara kecuali terpaksa. Dan setelah sekian lama? "Hey? Aku tau kamu nggak tidur, Utari." Tepat satu detik setelah ia menyebutkan namaku dengan gamblang, kedua kelopak mataku terbuka sempurna. Untuk beberapa detik yang berlalu, aku mematung sejenak dengan posisi masih merebah di atas meja. Sebelum sepersekian detik lainnya aku mengangkat kepala dan menatapnya dengan penuh tanya. Meski demikian, aku ini terlalu pandai memainkan ekspresi. Bukannya terlihat penasaran karena ia menyebutkan namaku dengan benar, tetapi kini tatapanku lebih mengintimidasinya. Cukup lama, detik-detik dari detak jarum jam itu membebat kami dalam tatap mata yang semakin intens. Sungguh, aku belum pernah bertemu dengan lelaki ini di mana pun? Bahkan di kampus ini sekali pun. Hanya saja, aroma ini ... mint yang sangat kuat. Aku seperti pernah menemukan aroma seperti di apartemen busuk itu. Akan tetapi, apakah mungkin lelaki ini? Seketika aku kembali menatap matanya dengan serius dan, demi apa pun aku tak menyukai lelaki dengan cacat permanen di pipinya yang membuat senyumnya terlihat semakin menjengkelkan. "Akhirnya kamu mau lihat aku," ucapnya kemudian, "Gada. Namaku, Sagada." Tanganya terulur ke depan cukup lama menunggu untuk kusambut. Dan, meskipun aku tak berniat menyambutnya, mendadak dari arah belakang dengan sangat tak terduga Abi datang menarik tanganku sehingga mau tak mau aku bergegas berdiri dan meninggalkan pria itu tanpa sepatah kata pun. "Nggak usah diladeni," bisik Abi merangkul pundakku sambil terus berjalan menjauh. Namun, di tengah perjalanan menuju keluar pintu perpustakaan kampus itu. Aku melepaskan rangkulan tangan Abi, dan menginjak kakinya keras-keras. "Bikin kaget aja, tau!" sentakku tak suka. Saat Abi merintih di sela langkahnya, aku sempat menoleh ke belakang. Tepat di mana lelaki yang memperkenalkan namanya sebagai Gada itu duduk dan masih menatapku pula. Ia tersenyum, bahkan melambaikan tangannya kepadaku. -U t a r i- Sabda Cinta Kelak, Tuhan akan menyentuh keseluruhanmu melalui tanganku memasrahkan penglihatanmu di sepasang mataku jika kau mendengarkan lewat gendang telingaku indra perasamu bergantung dengan lidahku bibirku sebagai pengendali senyummu hidungku mengemban endus aromamu dadaku menjadi ruang menampung rahasiamu dan hatiku adalah tempat terbaik untuk menuju Kau air dari hujanku aku cahaya dari purnamamu kau ombak dalam lautku aku bara dalam apimu kau dan aku adalah esa; Cinta yang bergema Kelak, Tuhan akan membayang di setiap bagian dari dirimu membiarkanku berlutut menghayati liuk lekuk lakumu pengembaraanku mengandung jejakmu dan diammu menyimpan gerakku airmataku sumber dari mataairmu getaranmu pangkal dari kegetiranku rohmu bermukim dalam tubuhku jiwaku semayam dalam badanmu kau bunyi dari suaraku aku arti dalam maknamu kau berdetak di jantungku aku berdenyut di nadimu kau dan aku adalah tunggal: Cinta yang kekal Dan kelak, ketika cinta bersabda kau dan aku tak ada bedanya sebab kita terlahir dari takdir yang sama kau isi dari kosongku aku penuh oleh adamu kau esa dalam diriku aku tunggal dalam dirimu Seruling Dari rumpun bambu tempatku bermukim dulu kusampaikan dendamku melalui ratapan pilu setelah tubuhku ditebas, kulitku dikerati jiwaku dibakar api, dan tubuhku dilubangi Sesungguhnya aku telah lama menanggung rindu setelah sekian waktu pisah dengan kampung halamanku betapa maklum jika kepadamu aku mendamba, sudi memanggil udara untuk menuturkan kidung duka sebab cuma dengan itu kau bisa tahu alangkah sedih sukma yang tersisih, begitu pedih jauh dari Kekasih Sekali kau tiup aku meliuk tumbuh jadi irama menghimpun diri sebagai nada renjana-dukana bunyiku lebih luwes ketimbang pinggul pesinden lebih lentur dibanding kengiluan petani gagal panen Kini, dihadapanmu, kupasrahkan keseluruhanku agar bibirmu bebas memagutku, jemarimu leluasa menjamahku biar ia yang mendengar nuraninya tergetar, jantungnya berdebar Aku muncul sebagai musik, mungkin lirih berbisik semata agar kau tak terusik, agar kau tak lagi merasa bergidik Dengan jiwa yang kepayang aku mencari sumber angin sembari menghalau rasa ingin, aku menggeliat dalam refrein Dari rumpun bambu tempatku berasal akan kukisahkan cinta yang tak terlafal bersenandung kepada kau yang berkabung melengkung jauh ke dalam jiwa-jiwa suwung Meski tak kau hirau, aku tabah menyimpan risau setelah aku merantau jauh ke ribuan pulau sebab desir angin yang menjadi nafasmu mungkin juga sempat menjadi bagian dari diriku O, Kekasih, jumpai aku di tanah kelahiranku di sana akan kautemu nutfah yang kuwariskan kepadamu sebab aku sudah tak bisa kembali, aku mesti mengembara menyapa para pecinta dengan tembang nestapa Jika suatu waktu, aku mengalun masuk ke gendang telingamu kuharap kau tak lupa bahwa gema-gendingnya bermuara darimu Demi kau yang dadanya tersungkur karena ricau sangkur aku rela cerai dari indukku untuk menjelma sebagai pelipur Aku akan melayang, memanggul kenanganku wajahmu membayang, di tengah lagu-senduku Diam dan dengarkan, Kekasih, aku akan bersiul demi menyampaikan suara batinku yang masygul -usman arumy Aku menghela napas jengah, baru kali ini memutuskan masuk ke ruang teater untuk menonton acara pertunjukan pembacaan musikalisasi puisi Usman Arumy. Yang tadinya aku begitu antusias, tetapi kali ini aku nyaris saja keluar jika Abi tak benar-benar menahanku. Bukan karena aku tak menikmati dua puisi indah yang sudah dilantunkan di depan sana. Hanya saja, Abi terus saja mendesakku soal laki-laki asing yang kami temui di perpustakaan tadi. "Kamu bener nggak kenal sama dia, 'kan?" Aku menoleh tajam ke arahnya, "Diem atau aku keluar sekarang?" Mau tak mau aku melemparkan ancaman itu. Sekali saja, sekaliii saja aku ingin menikmati musikalisasi puisi yang indah ini dengan khidmat. Beruntung tepat setelah aku mengucapkan kalimat itu, Abi terdiam. Laki-laki itu duduk menyilangkan kedua tangan di depan d**a seperti anak kecil yang merajuk. Baiklah, kuberi tahu satu hal tentang Abi. Bahwa selain tampan dan pandai membuat puisi, terkadang ia lebih menyebalkan ketimbang anak kecil. -B e r s a m b u n g!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN