S e l a m a t M e m b a c a~
~U t a r i~
Gada tersenyum padaku.
Lelaki yang baru saja memperkenalkan diri dan sok dekat denganku barusan itu, sepintas kulihat dengan jelas ia tengah tersenyum padaku sambil mengangkat jemarinya ke atas dan melambai pelan.
Lelaki yang mengenakan celana levis dan jaket hitam yang tiba-tiba datang dan mengganggu kesendirianku. Ia bahkan tau siapa nama lengkap ku, saat orang lain sibuk lupa dengan siapa aku bahkan hanya mengenal sepotong namaku. Tari.
Bukan, bukan aku sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan lelaki itu. Bagiku, cinta pandangan pertama itu bullshit! Rasa suka sepintas itu tak pernah ada, melainkan hawa nafsu yang di bawa oleh setann sialan untuk menyesatkan manusia. Yah, pada akhirnya, setann-setann itu harus rela untuk dijadikan kambing hitam dan bahan salahan manusia yang sudah melakukan ke-bejatannya.
Oke, baiklah satu hal saja yang saat ini memenuhi kepalaku dengan ramai tanya kenapa? Kenapa lelaki yang tingginya nyaris menyamai Abi itu tiba-tiba datang dan bahkan menyapaku dengan tanya panjang lebar. Kau tau? Sekalipun, di tempat ini, yang katanya penuh dengan orang-orang berpendidikan dan attitude tinggi. Perguruan tinggi hanyalah sebuah tempat di mana manusia berlomba untuk memiliki gelar. Pada dasarnya, kami sama-sama egois, tak peduli dengan yang namanya kesakitan atau problematikan orang lain.
"Udahlah nggak usah di pikirin," ucap Abi tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Sontak aku yang berjalan di belakang Abi, dan notabene-nya belum sepenuhnya fokus dengan langkah kakiku sendiri. Hidungku terbentur dadaaa bidang cowok itu. Yang entah sejak kapan sudah berhenti melangkah dan malah menjadikan dirinya bak tembok yang menghalau langkah ini. Aku kontan mendongak seraya mengusap pangkal hidung, tak melupakan tatapan kejam yang kusorot kepada Abi.
Cowok itu diam, ia juga menatapku dengan mata teduhnya yang tenang.
"Sengaja?" tanyaku malas.
Kuhentakkan tangan sampai terlepas dari genggaman cowok itu. Kemudian melangkah melewatinya tanpa menunggu Abi yang tertinggal beberapa langkah di belakang. Sebelum sedetik kemudian ia kembali menyusulku dan kami kembali berjalan beriringan berdua saja di koridor kampus yang sepi ini.
"Bicara apa aja dia sama kamu?"
"Bukan urusan kamu."
"Oke, terserah. Tapi, aku nggak suka kamu deket sama dia," balasnya lagi. "Deal?"
Tanpa menoleh sekali pun aku tau saat ini Abi sedang berjalan, alih-alih fokus pada langkah kakinya, lelaki itu justru terus memaku wajahku dengan tatapan penuh tanya. Dan seperti biasa, aku tak berniat menanggapi, hanya kulirik sekilas sebelum kemudian mempercepat langkah membuat jarak antara kami berdua kembali terbentang.
"Tar?" panggil Abi, "Tari? Tungguin," teriaknya lagi sambil berjalan cepat untuk mengimbangi langkah ku.
"Aku serius, Tari. Kalau sampai aku lihat kamu deket sama cowok itu lagi. Aku nggak tau apa yang bakal terjadi sama dia." Kedua tangan kejar Abi menangkap kedua pundakku.
Ia berbicara tepat di samping telingaku. Tanpa memutar tubuh atau ia yang berjalan untuk saling berhadapan dan menatap mataku. Abi berbisik dengan nada yang begitu serius. Meski awalnya aku juga tak begitu ingin menanggapi kehadiran cowok bernama Gada itu. Entah mengapa, sifat manusiawiku muncul di permukaan paling atas. Semakin di larang, semakin pula aku ingin melakukannya.
Namun, kedua tangan Abi keburu mencengkeram erat kedua bahuku. Erat, namun penuh dengan kasih sayang. Kalian tau hal semacam ini?
Bagiku, ucapan Abi terkadang terdengar seperti sihir yang tak bisa ku elakkan begitu saja.
"Aku nggak main-main sama ucapanku, Tari."
Sialan! Bulu kudukku meremang mendengar suaranya yang berbisik pelan. Kurasakan dengan nyata sepasang daging kenyal itu sempat menyerempet telingaku dengan sengaja.
Aku berbalik dan menatap Abi dengan mata bergetar menahan degub kencang di d**a. Tanpa mengatakan sepatah kata, hanya menatap sepasang matanya yang lekat dan penuh dengan keindahan swargaloka.
"Jika Tuhan saja mencintai keindahan, apakah salah jika aku menyukainya?"
Mungkin, hal ini lah yang sedang dirasakan oleh penyair ini untk menggambarkan kalimatnya yang begitu sakral.
~U t a r i~
"Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring."
Sebuah kutipan dari novel Best seller berjudul Perahu Kertas karya Dee Lestari ini, rasanya adalah sebuah kalimat yang murni menggambarkan perasaanku kepada Abi.
Tak bisa kupungkiri bahwa sosoknya yang selalu ada, dan sungguh tak pernah meninggalkan aku sepenuhnya kecuali di masa itu. Saat aku dengan sengaja menenggelamkan diri dalam rasa sakit juga berusaha kabur dari jalanan penuh duri ini. Sebelum aku benar-benar mengerti bahwa mengakhiri, berarti benar-benar menyerah telak. Dan aku, tak mau kalah apalagi hanya dengan manusia keparatt itu.
Di dalam kamar yang berada di ruang perpustakaan ini pula. Aku duduk menghabiskan waktu untuk membaca novel karangan penulis Indonesia. Literasi yang dulu begitu kental dengan ilmu juga pesan moral, sepertinya sekarang sudah punah digantikan dengan karya-karya murahan yang terpampang di rak-rak toko buku.
Karya para remaja yang sibuk menjual kisah cinta p********n selangkaaaangan, padahal aku yakin, soal cinta mereka hanya tau apa itu tawa tanpa menyiapkan diri untuk luka yang mesti datang sepaket dengan bahagia itu.
Jam kayu yang berada di atas meja nan penuh dengan tumpukan buku ini, masih menunjukkan pukul dua belas siang. Akan tetapi, rawi sudah tak lagi kelihatan sinarnya. Tertutup dengan tebalnya awan kelabu yang melayang sejak pagi tadi. Setelah gerimis kecil yang mengiringi kepulanganku bersama Abi. Rintik itu mereda sesampainya kami berpisah di depan pintu garasi.
Hal itu membuat aku teringat sebuah percakapan kecil yang sejatinya amat sangatlah biasa. Tetapi, lagi-lagi terasa begitu hangat di hatiku.
Mungkin saja karena aku nyaris tak pernah melakukan pertukaran dialog dengan orang lain seperti hari ini.
"Eh, Tari udah pulang?" sapa lelaki yang sibuk menyemprot anggreknya di teras rumah sambil membawa payung.
Padahal, cuaca sedang dingin, dan dengan curah hujan yang begini, aku yakin tumbuhan di depan rumah ini tak butuh di siram lagi. Tapi, Papa Abi memang sangat unik ternyata.
Cowok yang baru saja turun dari mobil pajero hitam-nya itu, terlihat menghela napas sambil menggelemgkan kepala. Tangan Abi meraih lenganku untuk naik ke teras agar tak kehujanan. Sedangkan aku hanya menurut padanya.
"Tari, kalau dilihat-lihat dari dekat gini, ternyata cantik juga, ya?" ucapnya lagi.
Kali ini lelaki itu gembor—alat yang digunakan untuk menyiram tanaman itu di salah satu pagar beton setinggi pinggang orang dewasa. Tak lupa payung warna merah jambu yang ia gunakan.
Aku hanya tersipu singkat mendengar leluconnya itu, karena sejujurnya. Aku tak pernah berinteraksi dengan orang lain seperti ini. Jadilah aku sosok yang selalu canggung di depan orang lain. Kecuali Abi.
"Papan ngapain coba? Kayak orang kurang kerjaan tau," gumam Abi seraya menarikku ke dalam.
"Daripada kamu kurang perhatian, Bi." Sontak Abi berhenti, menoleh pada papa-nya itu dengan wajah yang, eum ... seperti bayi.
"Tari, kasih Abi perhatian lebih, ya. Biarpun otaknya kecil, tapi dia jago bikin puisi. Tapi, jangan lupa hati-hati juga, namanya juga laki-laki, jangan sampai kamu suguhin ikan asin, ya."
Tepat setelah mengucapkan kalimat panjang yang membuat dahiku mengkerut dan menciptakan lipatan-lipatan heran, lelaki paruh baya yang bahkan wajahnya saja terlihat begitu jenaka. Ia berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Abi yang raut wajahnya sedikit memerah.
Lelaki itu menatapku dengan canggung, bahkan beberapa kali. Aku melihat Abi menggaruk tengkuknya dengan random.
"Nggak usah ditanggepin, Papan emang agak aneh," cicit Abi yang sampai ke telingaku.
Kedua alisku terangkat naik ke atas dan menatapnya dengan intens. Yah, bagaimana pun juga aku terpesona pada sosok ini, aku sadar. Lelaki tak akan pernah meninggalkan kasur sebagai tempat hubungan tertinggi dengan wanita. Itulah pula mengapa aku begitu sulit menerima diriku sendiri untuknya.
Meski sejujurnya aku tak begitu peduli dengan sosoknya yang brengsekkk, toh aku juga adalah seorang anak bajingaaan yang sudah tak lagi memiliki kehormatan. Jadi, untuk apa aku mempermasalahkan hal itu? Hanya saja, satu-satunya yang sedang kujaga saat ini adalah perihal hati. Sebab hanya ini satu-satunya hal yang bisa kupertahankan sebagai manusia.
"Udah sering?" tanyaku.
Dengan tatap mata mengintimidasi, kedua tanganku masuk ke dalam saku jaket, menatap Abi dari ujung kepala sampai kaki. Yang sontak hal itu membuat Abi merasa risih.
"Apaan sih, Tar? Ngapain jadi bahas ini coba?"
"Bahas apa emang?"
Kedua mataku masih menatapnya, kini sebelah alisku terangkat ke atas menatap Abi dengan segaris senyum jajat.
Lagi-lagi ia memalingkan mata enggan membalas tatapanku, dan sedetik kemudian ia bergegas berjalan mendahuluiku masuk ke dalam rumah dengan langkah pendek.
"Kok pergi? Pertanyaanku belum dijawab, Bi." Aku berucap pelan, tetapi dengan sangat yakin bahwa Abi dapat mendengarnya.
"Abimanyu?" panggilku membuat lelaki itu berhenti dan menoleh sejenak.
Saat itu juga aku menyusul langkah Abi dan seketika sesaat ketika aku sudah bersisihan dengan lelaki itu. Ku sentuh pundak Abi dan dengan posisi setengah berjinjit, aku membisik kan sesuatu ke telinga-nya.
"Dasar pengecut," bisikku.
~U t a r i~
-B e r s a m b u n g!
Thanks sudah baca, gais ^^