32. Untuk Mama

1045 Kata
S e l a m a t M e m b a c a! ~U t a r i~ Sepotong Sajak Untuk Mama Kala itu kesunyian mendera setajam katana. Senyummu lenyap bersama senja yang menghilang. Wajah penuh ibamu tenggelam dalam raut pucat menahan kesakitan. Dalam temaram, sebelum sempat malaikat datang menjemputmu. Tangan hangat itu masih menyentuh pipi ini dengan kelu. Aku mendadak bisu, lidah ini terasa kaku. Hanya hati yang terus menjerit penuh doa dan harapan. Agar hal yang kutakutkan tidak terjadi. Tapi, takdir itu terlalu mustahil untuk ditentang. Nyatanya ragamu tidak akan bisa lagi untuk kudekap. Nyatanya suaramu tidak akan bisa lagi untuk kudengar. Nyatanya inilah perpisahan yang amat menyakitkan. Mama ... Tidurlah dengan damai. Istirahatlah dengan tenang. Meski tidak sesempurna engkau, akan kuberusaha membahagiakan aku dan diriku sendiri. Meski tidak setangguh engkau, akan kujaga aku dan diriku sendiri. Agar anakmu yang sejujurnya amat sangat rapuh ini, tetap sanggup berdiri di antara pusaran badai yang tiada henti. Ma ... Maaf, jika sepatah, dua patah kata dari hati tidak mampu kuucapkan semuanya. Maaf untuk waktu yang terbuang sia-sia. Maaf untuk kesalahan yang pernah aku lakukan. Maaf untuk belum membuatmu merasa bahagia. Terlalu banyak kata maaf yang ingin kusampaikan. Andai bisa, aku ingin mengembalikan waktuku bersamamu. Lalu kembali ke masa dulu untuk memperbaiki yang sudah lalu. Namun, semuanya tidak mungkin akan terjadi. Kini hanya do'a yang bisa kupanjatkan untukmu. Untuk jiwamu yang telah tenang di sisi Tuhan. Lihatlah aku dari atas sana sebagai bintang kecil yang bersinar terang. Meski tidak mampu kuraih dengan tangan. Namun, akan kugenggam dari hati yang paling dalam. ~U t a r i~ Kehilangan, mereka adalah hal yang menyesakkan. Ditinggalkan, mereka juga hal yang menciptakan kesakitan. Sesak yang menyakitkan, mereka datang secara bersamaan. Menyerang hati yang lelah untuk merasa baik-baik saja. Menggores permukaan hingga titik di segala rasa sakit secara bersamaan. Aku baik-baik saja! Mantra itu tidak lagi dihiraukan oleh hati juga logika. Kenyataannya, aku adalah manusia biasa yang sama seperti mereka. Aku tertawa juga menangis karena terluka. Terlebih saat ini, saat wanita tangguh dalam duniaku telah pergi diiringi isak tangis sekaligus rasa bangga. Betapa ia sangat hebat telah membesarkan aku dengan kasih yang tak pernah lusuh seperti raut pedih kami. Aku sedang berada dalam titik rasa sakit yang mengiris. Aku tidak baik-baik saja. Bahkan dengan banyaknya mereka yang menyemangatiku untuk tetap kuat bertahan. Aku tetap tidak baik-baik saja! Aku butuh pelepasan untuk mengusir rasa sakit yang bersarang. Aku butuh kesunyian untuk melepaskan sakit akan kehilangan. Aku butuh kesendirian sesaat untuk membiarkan luka akan ditinggalkan hilang secara pelan-pelan. Tidak perlu sempurna sampai mereka benar-benar lenyap. Karena wanita tangguh yang meninggalkanku terlalu berharga untuk dilupakan. Ia adalah bayangan yang akan menjadi nyata. Adalah angan yang selalu tersimpan dalam ingatan. Adalah kerinduan yang selalu berada dalam hati paling dalam. Mama, luka atas kehilangan ini mungkin tidak akan pernah sembuh. Namun, kupastikan duka yang menyelimuti tidak akan berlangsung terlalu lama. Aku akan kembali kuat, untuk aku, diriku, ragaku, juga untukmu. Karena aku adalah anak gadismu yang luar biasa. Akan kuwujudkan mimpiku untukmu. Mimpi-mimpi yang pernah aku ceritakan kepadamu. Aku akan berusaha untuk tak pernah kalah dalam hidup ini demi engkau. Mama, aku akan tumbuh menjadi kuat. Mungkin seseorang yang lebih kuat darimu. Karena luka akan kehilangan ini mengajarkanku untuk tetap tegar menjalani hidup. Tenanglah di sana, Ma. Doaku akan terus bersamamu. ~U t a r i~ Teruntuk dirimu yang terluka karena kehilangan. Beberapa baris tulisan ini mungkin tidak berarti. Tidak membantu menghilangkan pedih atas kehilangan. Tapi, teman ... aku ingin kamu tahu bahwa dalam setiap kata yang tertulis di sini. Aku mencoba memasukkan nyawa di dalamnya. Aku mencoba untuk memahami perasaanmu setelah tak satu pun dari mereka mengerti aku. Aku mencoba untuk merasakan apa yang kamu rasakan. Mungkin ini tidak akan sama, namun yang pasti hanya ingin kuberitahukan kepadamu. Bahwa kamu tidak sendirian. Meski sosok Mama telah pergi bersama Tuhan, tersenyumlah meski sulit. Jika lelah untuk tersenyum maka menangislah. Jika tidak memiliki tempat untuk menangis maka kemarilah. Aku ada dan akan selalu ada di sini. Di tempat yang sama jika kamu ingin datang. Lalu pergilah jika kamu telah lelah menangis, tertawalah bersama teman-temanmu untuk mengusir lara. Cukup ingat satu hal bahwa aku tidak pernah meninggalkanmu. Yang kamu alami ini memang berat, tapi seberat apa pun kamu adalah gadis yang kuat. Bertahanlah bak sebentar dalam luka, lalu semua akan kembali baik-baik saja. ~U t a r i~ Entah mengapa suasana hujan seperti ini membuatku merasa lebih nyaman berada di sini sendirian dengan setumpuk buku. Kini anganku malah terlalu liar memikirkan perihal rindu pada sosok yang tak pernah dapat kujumpai lagi seperti apa rupanya. Seseorang yang hanya dapat kukenang dalam ingatan paling dalam di mana tak satupun hal hal di masa kini sanggup menyentuh untuk mengenyahkan kenangan paling berharga itu. "Makasih, Sur." Aku berdialog. Meski sosoknya tak terlihat, tapi aku dapat merasakan tatap mata dinginnya tengah memaku punggungku sedari tadi. "Kamu nggak mau ngomong sesuatu sama aku?" tanyaku lagi. Belum kudengar suaranya yang biasanya terdengar dingin tetapi selalu menenangkanku. Sunyi, dingin dan sepi ini membebat aku dan Suri dalam kebisuan. Sosok yang melayang dan kerap menghibur juga menemani hariku. Sesungguhnya ia benar-benar merindukan tempat di mana ia bisa pulang. Di mana ia bisa menyeberang ke alam baka dengan tenang. "Aku pengen pulang, Tar." Now Playing - Payung Teduh : Resah Pa-ra-ra-ra-ra Pa-ra-ra-ra-ra Pa-ra-ra-ra-ra Pa-ra-ra-ra-ra Pa-ra-ra-ra-ra Pa-ra-ra-ra-ra O-o-o-o-o-o-oh Aku ingin berjalan bersamamu Dalam hujan dan malam gelap Tapi aku tak bisa melihat matamu Aku ingin berdua denganmu Di antara daun gugur Aku ingin berdua denganmu Tapi aku hanya melihat keresahanmu Pa-ra-ra-ra-ra Pa-ra-ra-ra-ra Pa-ra-ra-ra-ra Pa-ra-ra-ra-ra Pa-ra-ra-ra-ra Pa-ra-ra-ra-ra O-o-o-o-o-o-oh O-o-o-o-o-o-oh Aku menunggu dengan sabar Di atas sini melayang-layang Tergoyang angin menantikan tubuh itu Aku ingin berdua denganmu Di antara daun gugur Aku ingin berdua denganmu Tapi aku hanya melihat keresahanmu Ingin berdua denganmu Di antara daun gugur Aku ingin berdua denganmu Tapi aku hanya melihat keresahanmu ~B e r s a m b u n g~ NB : So gais, untuk tiga bab sampai di sini memang pakai sudut pandang Utari dulu ya. Bisa di lihat di bagian pemisah adegan, itu aku selipin nama Utari. Udah tau aturan mainnya kan? Wk-wk. Dan, ya seperti yang tertulis di awal. Cerita ini banyak mengandung melankolis dan kalimat puitis. Jadi, kalau ndak suka, di skip aja. Makasih banyak sudah berkenan baca ^^ :*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN