H a p p y R e a d i n g !
* U t a r i *
Namanya Suri.
Hanya sepotong itu dan kisah kelamnya yang aku tau.
Secarik kertas berisi tulisan dari Anjani ini tertinggal atau sengaja di tinggal di atas meja ku. Membuat aku membuka kertas tersebut sambil terus mendengar lagu band indie yang mengalun dari speaker Bluetooth yang diberikan oleh Abi kemarin sore.
Masih untuk kamu . . .
Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu - Payung Teduh
Semuanya indah untuk dikenang selama aku membuatnya indah. Sebaliknya semua terasa menyakitkan jika aku meratapinya. Kenangan yang kumiliki selama dua tahun nanti, biar aku simpan sampai mati. Tentang kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan. Tentang tawa yang sebelumnya tidak pernah kudengar. Tentang kesedihan yang sebelumnya tidak pernah aku tahu rasanya. Tentang tangismu yang ternyata juga melukaiku. Tentang sendu di hari-hari kita. Tentang setiap waktu saat aku menyukaimu.
Terimakasih banyak untuk semua yang telah terjadi. Termasuk telah memberikan kenangan yang sejujurnya tidak pernah kuinginkan. Tetapi, kenyataannya semua yang pernah kita lalui memang harus berakhir menjadi kenangan semu. Berkatmu, aku menciptakan banyak kata-kata indah. Berkatmu, aku belajar menahan kemarahan demi ketenangan seseorang. Berkatmu, aku memiliki kenangan yang tidak akan pernah kudapatkan dari orang lain.
Terimakasih, telah bersedia mengenalku selama beberapa tahun. Telah bersedia mendengar tangis dan tawaku. Telah bersedia menghibur dan menemaniku. Terimakasih untuk semua yang telah terjadi dengan singkat. Untuk setiap tulisan darimu yang memacu semangatku. Untuk pesan singkat yang membuatku tersenyum sendirian. Terimakasih banyak telah sudi mengenaliku.
Maaf, untuk setiap ucapan kasar. Kemarahan yang tidak bisa kutahan dengan baik. Maaf untuk luka yang sengaja kuberikan. Maaf untuk kesalahan yang kulakukan. Maaf untuk setiap hal yang telah terjadi di antara kita. Maaf telah menyakitimu begitu dalam. Membuatmu terus merasa bersalah, aku minta maaf.
Aku akan menjalani hidupku dengan baik tanpa kamu. Aku akan menikmati hidupku dengan tawa tanpa kamu. Menikmati setiap detik kehilangan yang hampa. Menikmati setiap detik yang penuh sesal. Meski begitu, aku tidak ingin kembali.
Semoga kamu bahagia dengan pasanganmu kelak. Seseorang yang akan selalu ada untukmu. Yang terbaik, yang bisa membuatmu merasa nyaman dan beruntung karena memilikinya.
Selamat Tinggal!
Aku menunggu dengan sabar
Diatas sini melayang-layang
Tergoyang angin menantikan tubuh itu
Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu - Payung Teduh
Bentala, Suri.
Ah, ternyata gadis ini juga pernah kehilangan. Pernah juga sangat mencintai seseorang sampai kemudian dicampakan dan harus berakhir dengan situasinya yang sekarang.
Aku masih menatap kertas buram di depanku sambil terus memikirkan tentang Suri. Terkadang ia menjadi sosok paling bijak yang dapat kuandalkan. Kadang pula sikapnya begitu menggelikan membuatku terhibur dengan keceriaan yang ternyata menyimpan begitu banyak rasa sesal dan luka.
"Ke mana lagi jiwa ini harus pergi nanti, kalau pada akhirnya raga miliknya udah nggak bisa lagi ditemukan."
"Semua punya peran dan tempat masing-masing, Tar."
Aku menoleh, kemudian mendapati Anjani yang duduk menyilangkan kaki di atas ranjang sambil menopang dagu dengan tangannya.
Kedua alisku menyatu keheranan mendengar ucapan Anjani. Tetapi, seperti biasa wanita itu malah tersenyum padaku.
"Seperti kamu yang sudah ditakdirkan untuk terluka, kemudian bertemu Abi dan berakhir di sini. Semuanya pasti akan berjalan sesuai alur yang sudah ditentukan, jadi ... nggak perlu risau," jelasnya panjang.
"Maksudmu, Suri tetap bisa pulang, 'kan?"
Anjani hanya mengangguk, tetapi senyum di bibirnya tak pernah lenyap. Meski tak sepenuhnya aku paham apa yang di maksud olehnya. Tetapi setauku, tempat untuk orang-orang yang memaksakan diri untuk mati tak pernah ada di masa depan selain bumi yang semakin membusuk beserta manusia nya.
Kata orang, mereka yang memiliki kecenderungan bunuh diri sungguh-sungguh ingin mati. Padahal menurutku, juga sebuah fakta yang dikemukakan Baumeister justru berpendapat bahwa bunuh diri adalah cara seseorang yang hendak lari dari rasa sakit yang berlebihan, sehingga kematian dilihat sebagai satu-satunya jalan keluar. Kalian tau, aku nyaris melakukannya berkali-kali tanpa Suri.
Ini artinya, orang yang ingin bunuh diri sesungguhnya masih punya keinginan untuk hidup, apabila ia dapat menemukan cara untuk mengurangi atau menghentikan rasa sakit yang dialaminya. Dukungan emosional (seperti dengan mendengarkan keluh kesahnya dengan empati) sangat penting diberikan bagi mereka yang membutuhkannya.
Dulu di perpustakaan aku sering menghabiskan waktu untuk membaca buku perihal kesehatan mental. Banyak sekali kisah dari para penyintas bunuh diri juga menunjukkan, kebanyakan dari mereka justru bersyukur bahwa mereka bisa memiliki kesempatan untuk hidup lagi dan menemukan orang atau hal yang membuat mereka menemukan alasan untuk hidup.
Sama seperti aku yang selama ini selalu mencari pelarian. Entah kadang pada sebatang rokok, segelas kopi pahit, atau bahkan minuman beralkohol. Rasanya hidupku tak pernah baik-baik saja. Ingin mengakhiri semuanya sampai di titik di mana aku tak sanggup lagi bertahan untuk sekedar bernapas. Berulang kali aku nyaris saja mengakhiri hidup, dan mungkin hal itu sudah terjadi tanpa kehadiran Suri dalam dunia gelap ku.
Sungguh, fakta ini adalah benar. Aku tak sepenuhnya ingin mati, sejujurnya aku hanya ingin lari dari kenyataan yang semakin menikam. Pada realita yang semakin tak waras dan memukul telak pusat luka hingga tak lagi berbentuk.
Aku nyaris kalah tanpa kehadiran Suri.
Dan aku bersyukur, sangat bersyukur atas kehadiran sosoknya yang luar biasa.
"Tari, bangun."
"Masih belum waktunya, Tari."
"Aku di sini, nggak akan pernah ninggalin kamu sendirian lagi."
Kalimat-kalimat dari Suri bagiku seperti sebuah delusi. Delusi yang tak dapat kuabaikan begitu saja. Delusi yang membawaku kembali ke atas petilasan rasa sakit yang semakin nyata keberadaannya. Sampai detik ini, saat aku telah keluar dari tempat itu pun Suri benar-benar selalu ada di sampingku. Seolah menjadi teman pendamping dan bayangan semu yang selalu mengisi kekosongan dalam batinku.
"Udah jangan terlalu dipikirin," kata Anjani membuatku tersadar bahwa ia masih duduk di sebelahku.
"Nggak akan bisa. Soalnya manusia cenderung mikirin apa yang bikin mereka merasa terganggu, Jan."
"Kamu terganggu sama Suri?"
"Lebih tepatnya, ngerasa kehilangan saat dia nggak ada di sini sekarang," balasku menatap kosong ke arah jendela kaca.
Menerka-nerka apa yang sekiranya tengah dilakukan sosok Suri di luar sana.
~ U t a r i ~
- B e r s a m b u n g!