34. Sabuk pengaman

1324 Kata
S e l a m a t M e m b a c a! ~A b i m a n y u~ Selepas mengikuti kelas dadakan yang me-wajibkan mahasiswa kupu-kupu sepertiku untuk menghadiri kelas. Aku bergegas keluar dari pintu kelas, melewati jubelan para mahasiswa yang juga berebut hendak keluar. Tanpa memedulikan panggilan dari Gibran yang sejak tadi ribut mengajakku untuk ngopi bersama. "Ayok, ke mana?" ia mendesak lagi. Bahkan saat aku baru saja menjatuhkan bokooong di atas kursi. Lelaki yang semulanya mengambil kursi paling depan itu malah berpindah ke belakang menyusulku di sana. "Kapan-kapan aja lah, Gib." "Ya, Kapan?" sambarnya cepat. Lelaki yang sudah hampir dua minggu ini jarang sekali kutemui, padahal biasanya kami kerap bertemu, nyaris setiap hari. Hanya untuk saling membicarakan hal-hal non-sense. "Nggak tau, capek aku." Saat aku menyadarkan tubuh ke pada sandaran kursi, kemudian aku menghela napas pendek. Kulirik Gibran yang semula antusias menatap ke arahku. Cowok itu kini memutar tubuh dan justru mengikuti gerakanku. Bersandar pada punggung kursi dengan malas. "Jelas capek lah, lagian udah aku bilang juga 'kan, jangan berurusan sama itu cewek." Aku diam tak menanggapi, memang ia tak pernah suka pada Tari,'kan? Maka seberapa banyak pula aku coba menjelaskan, hal itu tak akan berguna lagi. Sejenak setelah itu, kami sama-sama diam. Menatap lurus ke depan yang masih kosong. Hanya beberapa mahasiswa yang terlihat lelah seperti aku juga Gibran. Kami geleyoran di atas meja menunggu dosen yang meminta kami datang lebih cepat, padahal mereka selalu lebih lambat dari waktu yang telah ditentukan. "Aki nggak tau udah seberapa jauh kamj berhubungan sama dia. Tapi, kalo kamu masih anggep aku sebagai temen, tolong jauhi dia," ucapnya lagi. Kali ini, Gibran bahkan tak menatap sepasang mataku sama sekali. ~ A b i m a n y u ~ Setelah berjalan menyusui koridor yang tak begitu sepi, kakiku terus melangkah melewati kelokan menuju ke arah perpustakaan sambil menggendong tas di sebelah pundak. Sebab di sana pagi tadi, setelah menikmati secangkir kopi. Aku meminta Tari berdiam diri dan menunggu aku sampai selesai duduk di sana saja. Aku jelas menolak dengan keras saat gadis itu bersikeras untuk kembali bekerja di kafe tersebut dan ia bilang akan mencari tempat tinggal sendiri. Di mana tak ada aku di dekatnya. Gila memang. Aku tak mengerti seluk beluk pikiran Utari, sampai gadis itu hendak melarikan diri sejauh ini. Aku tak sepenuhnya tau, apa yang sedang mengganggu Tari. Dan ternyata, ia sedang ragu dan masih meragukan eksistensinya di bumi ini. Tari tak pernah percaya diri untuk merasa bahwa ia juga pantas dicintai. Gadis itu selalu berpikir bahwa cinta kepadanya hanyalah sebuah ilusi yang jika ia berani memercayai hal itu, maka ia juga harus mempersiapkan diri untuk kembali menelan kekecewaan paling melukai hatinya kelak. Aku tau, semua sikap labil-nya ini adalah bentuk sebagaimana gadis itu memberontak ke padaku dan mencoba untuk melindungi satu-satunya hati yang tersisa. Tepat memasuki ruang perpustakaan yang cukup luas ini. Di sana seorang wanita paruh baya dengan kaca mata setengah melorot sampai ke pangkal hidung, yang menjadi pengawas perpustakaan itu langsung menghujaniku dengan tatapan tajam. Aku menunduk sekilas sebelum kemudian berjalan dengan tenang melewatinya. Sepertinya wanita itu sudah tau bahwa aku adalah biang onar yang biasanya membawa keributan di tempat ini. Tapi, kali ini sungguh aku tak berminat membuat keributan. Selain berjalan dengan pelan dan melewati para mahasiswa yang kelewat rajin sedang belajar atau menelaah sebuah buku tebal. Aku bergegas mencari kursi yang menjadi tempat biasa di mana aku dan Utari kerap bercengkerama berdua. "Namaku Gada." Tepat di depan meja yang berada di dekat jendela kaca. Di mana Utari duduk dengan beberapa buku di depannya, sedangkan aku berjarak sekitar lima meter dari meja yang di tempati Tari. Kulihat, seorang lelaki tengah duduk di seberang Tari menyunggingkan senyum seraya mengulurkan tangan. Berengsek memang! Tanpa pikir panjang aku berjalan cepat dan menarik tangan Tari yang sepertinya juga tak berniat untuk menjabatnya. Keduanya sama-sama tersentak karena kehadiranku, sebelum sesaat kemudian wanita itu beranjak dan mau tak mau mengikuti langkahku untuk meninggalkan ruangan ini. Bahkan sesampainya di dalam mobil, saat aku sudah duduk di belakang kemudi dan Tari berada di sebelahku. Gadis itu tak bersuara sedikit pun dan justru menoleh ke arah jendela kaca. Mengamati mendung yang mendadak menggulung langit semakin gelap dengan kabut pekat. "Aku harap kamu tau, seberapa keras aku memperjuangkan kamu sampai detik ini. Aku harap kamu juga ngerti, kenapa waktu awal ospek dulu aku peduli, padahal waktu itu bisa aja aku abai sama kamu yang lagi di keroyok senior lain, Tar." Mobil masih berada di parkiran kampus. Aku diam, pun dengannya. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, bahkan aku tak bergegas menyalakan mesin mobil karena belum sepenuhnya merasa tenang. "Kenapa emangnya?" suara Tari mengalihkan fokus pandangan ku dari depan menjadi memaku ia yang kini juga tengah menoleh ke arahku. Sedetik itu berlalu dengan cepat, seperti detak jantungku yang mirip gendang tengah di tabuh. Dua, tiga, empat, bahkan sepersekian detik aku menatap matanya itu, tak akan pernah lama bertahan amarah ini. Semuanya meluruh dalam hitungan detik, saat matanya berkedip menampakkan manik cokelat gelap yang selalu sukses menghipnotisku untuk kembali diam. Tatapan mata Tari seperti sebuah sihir yang membuat singa kelaparan tenang dalam sekejap. Dan itulah, aku saat berada di dekatnya. Aku yang belum mengenakan sabuk pengaman bergerak mendekat, mempersempit jarak di antara kami berdua. Sehingga gadis yang semula menegakkan tubuh itu kini langsung mundur hingga punggungnya membentur sandaran kursi begitu melihat gestur dariku. Tari waspada di kursinya. "Mau mati, ya?" sentak Tari setengah berbisik tajam. Bukannya menjauh dari jangkauan Utari, aku justru merapatkan diri. Teringat sebait puisi karya Usman yang kurasa cocok dalam situasi kami berdua saat ini. "Kwatrin Tsuroysme." "Selain puisi, adakah jalan untuk menujumu? Aku mengandaikan kau sebagai kertas putih, yang berkenan menampung kata-kata sedih sebab aku percaya betapa kaulah kekasih di hadapanmu yang sentosa, seluruh kataku moksa, sefana dunia seisinya bagaimana kutulis kau, Cinta sedang tatapanmu lebih puisi, ketimbang berlaksa sang pencipta aksara Puisi adalah satu-satunya kendaraan, yang mau mengantarkan kesedihan mencapai kenangan menuju jauh ke dalam dirimu, berpaling dari masa depan di banding Pujangga terkenal tatap matamu lebih kekal nyatanya detakku fasih menyebutmu tanpa sesal sembari mengembarai semesta, aku mencari kata paling luka untuk kusampaikan kepadamu wahai sengsara Selain puisi, adakah yang lebih kenangan? aku menghayalkan jadi kata yang terselip di sela kalimatmu di antara larik lirik di balik bilik yang kaulafalkan dengan rindu aku akan tumbuh sepenuh yang tak bisa direngkuh aku akan mengembara sejauh yang tak bisa ditempuh." Selepas membaca puisi itu dengan gamblang, hanya dengan jarak satu senti ini. Wajahku dan Tari saling bertemu, tak hanya degub jantungnya yang terdengar berirama, tetapi deru napas wanita ini seolah tengah menarik perhatian dan membangunkan sisi laki-laki yang sesungguhnya dalam diriku. Lama, kutatap sepasang matanya yang sendu begitu dalam. Ada begitu banyak sayatan yang tercipta di antara sorot lelah Tari. Dan tanpa gadis itu sadari, tanganku bergerak menarik sabuk pengaman di sisi kursinya. "Kalau kamu beneran nggak tau kenapa aku bertindak sampai sejauh ini?" bisikku masih belum merubah posisi di antara kami berdua. Persetan dengan para mahasiswa yang mungkin melintas dan mengira aku tengah melakukan hal yang iya-iya. "Bahkan atas semua puisi yang pernah aku tulis cuma untuk kamu Tar," ucap ku lirih, "Kamu benar-benar bukan manusia." Dan, well, ya! Tari memang bukan manusia, ia adalah klan terakhir dari bangsa bidadari yang selamat dari serangan besar para penyihir. Yang sampai saat ini darahnya masih diincar oleh keturunan penyihir terakhir untuk menguasai dunia dalam kegelapan. Begitu sabuk pengaman milik Tari terpasang dengan benar. Aku bergegas mundur dan kembali ke posisiku seperti semula. Duduk di belakang kemudi sambil memutar kunci dan menyalakan mesin. Tanpa ketara, sembari melirik ke kaca belakang untuk mundur dari parkiran, aku sempat melirik Utari yang sibuk memalingkan muka dariku. Gadis itu mendadak diam dan tak banyak bicara. Pun ia tak menatapku sedikit pun dan memilih untuk menelisik pemandangan ramainya jalanan lewat jendela kaca mobil. ~A b i m a n y u~ -b e r s a m b u n g! Terima kasih sudah baca. Btw, ini bab Abimanyu, ya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN