S e l a m a t M e m b a c a!
~ U t a r i ~
"Dasar pengecut."
Aku tersenyum tipis mengingat bagaimana ekspresi Abi ketika aku membisikkan kalimat itu tepat di telinganya. Tepat sebelum aku melenggang dengan sopan dan memasuki dapur untuk membantu Jenar mempersiapkan menu makan siang.
Sesekali sebelum masuk sepenuhnya ke dapur, aku melirik Abi yang masih berdiri di tempatnya sekilas. Wajahnya merah padam, entah menahan malu atau marah, yang jelas kilas ingatan itu membuat aku terkikik geli untuk beberapa saat.
Sebelum aku kembali fokus pada halaman note book yang membuka lembaran kosong. Tanganku memainkan pulpen di antara jemari ini. Isi kepalaku terlempar pada kejadian di kampus tadi, bahkan suasana yang entah sejak beberapa minggu lalu tak pernah aku rasakan lagi. Aku sungguh rindu kembali ke sana. Hiruk pikuk yang membosankan dan penuh dengan topeng kepalsuan, tetapi semua itu adalah kehidupan normal anak muda di era ini bukan.
Kita hanya perlu untuk berpura-pura dan dengan demikian teman pun akan datang. Dan dengan begitu pula, kesepian yang tak kita inginkan akan lenyap untuk sesaat saja. Mungkin memang seperti itu pola-nya.
"Don't dreame to high, Tar." Aku terdiam sesaat setelah sempat tersesat dalam pikiranku sendiri.
Kembali menatap kertas kosong yang mirip denganku. Sepanjang jalan yang aku lalui adalah tentang luka dan cara bertahan hidup di dalam rajaman yang menyiksa ini. Yang aku inginkan hanyalah secepat mungkin dipertemukan dengan kematian, tetapi Tuhan selalu mempunyai rencana yang tak terbaca oleh umatnya. Bahkan oleh manusia malang seperti aku sekalipun, setidaknya aku berharap dapat mengetahui, di masa depan kelak, aku akan menjadi seperti apa?
Apakah aku akan di takdirkan memiliki kehidupan yang layak dan lebih baik. Menemui kata normal setelah segala rentet kejadian abnormal yang tak bisa kubendung dalam angan. Atau sebaliknya. Di masa depan, aku hanya tinggal sebuah nama yang terukir manis di batu nisan mirip sebuah judul buku yang begitu indah.
Utari yang sudah wafat. Yang sudah melalui banyak pelik dalam kehidupannya. Dan ia tak akan pernah jadi apa-apa atau siapa-siapa untuk siapa pun.
Utari, hanyalah aku.
Sosok yang mati-matian bertahan hidup bahkan setelah kehilangan mama dan seluruh alasan untuk tetap tinggal di dunia. Aku tersenyum, kali ini jujur terasa menggelikan sampai kedua sudut bibirku tertarik sepenuhnya ke atas. Membentuk kurva simetris yang begitu jarang terukir di wajahku yang ayu. Kata Abi.
"What happened with your life, Tari? Apa mau kamu di masa depan? Kenapa kamu jadi serakah setelah sebelumnya cuma berpikir tentang kematian?" ucap ku bermonolog malam itu.
Jemariku masih asik memainkan pena, entah mendadak aku hanya ingin mencoba menulis apa pun yang sedang melintas dalam kepala. Tentang apa yang kurasakan, juga apa yang sedang aku resahkan. Perihal lelaki bernama Abimanyu dengan tekad-nya yang begitu kuat. Lelaki itu sangat gigih dengan percaya diri menarikku yang terlanjur tersesat dalam hutan belantara tanpa setitik cahaya.
Ia bahkan tak pernah takut untuk masuk ke hutan yang begitu gelap ini bersamaku. Ia bahkan tak pernah berpikir untuk meninggalkan aku, atau bahkan keluar di sini tanpaku.
Dan semua gigih usahanya itu perlahan membuat hati kecilku yang begitu keras mulai terkikis perlahan. Ketulusan Abi telah sampai ke padaku. Dan lelaki itu sungguh-sungguh menunjukkan betapa ia tak pernah bermain-main dengan ucapannya. Namun, faktanya semua itu membuatku semakin merasa takut untuk mempercayakan hati ini kepadanya. Sebab aku, hanya tak sanggup untuk kehilangan lagi setelah bersusah payah bangkit.
Hanya itu.
"Sesuatu yang datang dari hati, pasti sampai ke hati pula," gumamku sambil mencoret-coret kertas kosong itu dengan sepenggal kalimat yang begitu menarik.
Aku masih ingat, saat Abi dengan penuh semangat menceritakan kisah cinta Rahwana dan Sinta yang populer di tanah Jawa dan di kenal sebagai kisah Ramayana. Karena Rahwana hanyalah tokoh antagonis yang akan selalu diingat sebagai raja Alengka yang bengis setelah menculik Sinta. Padahal nyatanya, Rahwana sedang memperjuangkan cintanya sampai mati hanya untuk seorang wanita yang berhasil melunakkan hatinya. Satu-satunya wanita yang sukses membuat Rahwana mempercayai bahwa ketulusan itu sungguh ada.
"Tapi, apa aku pantas buat bahagia?"
"Of course it was. Because you're human to, Dear."
Sahutan itu sontak membuat aku tersentak sambil menoleh ke belakang. Kursi yang aku duduki sampai setengah tersentak ke belakang saking terkejutnya aku dengan suara Anjani yang mendadak terdengar. Aku menghela napas pendek sambil memejamkan mata sebelum kemudian menatap wanita itu. Sosok yang sesungguhnya tak sepenuhnya kuyakini eksistensinya di kehidupan ku yang bahkan terlalu fana.
Anjani hanya sebuah ilusi yang kuciptakan sendiri? Atau dia sungguh makhluk yang nyatanya sungguh diutus untuk menjadi pendamping ku di dunia ini.
"Sejak kapan kamu di sana?" tanyaku padanya.
Kulihat ia berjalan mendekat. Yah, untuk seukuran makhluk ghoib, Anjani terlalu modis. Sepatu boot hitam di atas mata kaki, celana jins hitam dan jaket hitam kulit melekat. Sedangkan rambut hitam panjangnya itu juga tergerai indah. Dia seperti pemeran utama dalam sebuah cerita, yang akan mendapat sorotan karena visualnya yang keren dan cantik.
"Sejak kamu mulai mikirin Abi?" matanya mengerling ke arahku dengan segaris senyum yang sengaja ia tunjukkan sebagai bahan ejekan.
"Stop, it! Aku nggak sepenuhnya lagi mikirin dia," balasku.
"Terus?"
Kedua bahuku terangkat ke atas, lalu tanganku menopang dagu yang bertumpu di atas meja. Aku menatap Anjani yang duduk di atas kasur, tak jauh posisinya dari tempatku duduk menghadap buku.
Untuk sesaat kami hanya diam, tapi dari cara Anjani menatapku. Sepertinya ada sesuatu yang sedang ingin ia sampaikan.
"You can ask me anything, Jan."
Ia tersenyum samar, tatap matanya beralih pada sekeliling ruangan yang bahkan terlihat sangat hangat.
"Apa?"
"Apa pun, kenapa jadi awkward gini, sih?"
"Nothing, Tar." Anjani tersenyum tulus dan hangat, meski begitu sepasang mata tajamnya selalu sukses membuatku kagum. "Karena emang nggak ada yang mau diobrolin."
"Terus kenapa kamu di sini? Lawak," balasku masih tak percaya.
Karena biasanya memang seperti ini. Anjani datang membawa kabar penting yang begitu genting, atau sesuatu yang ingin ia sampaikan agar aku menjadi lebih waspada.
"Cuma seneng lihat kamu yang sekarang."
Kedua alis ku menyatu mendengar penuturannya.
"Aku ngeliat kamu saat ini, sebagai manusia yang seutuhnya, Tari. Dan aku harap, apa pun yang terjadi di depan sana, kamu akan tetap seperti ini. Punya mimpi dan keinginan selain tentang kematian."
Mataku memaku sosok Anjani yang berada tak jauh dariku. Ia pun tengah membalas tatapanku dengan serius. Meskipun aku melihat ketulusan yang begitu mendalam di dari semua ucapan yang dilontarkan oleh Anjani. Tetapi, sebuah kalimat panjang itu, juga terdengar seperti sebuah peringatan bagiku.
"Memangnya apa yang kamu lihat?" tanyaku, "semua ini, eum ...maksudku, apa di depan sana hidupku akan jadi lebih berantakan lagi? Itu 'kan, yang coba buat kamu sampaikan ke aku, Jan?"
Ia menarik lengan dan turut menuntunku untuk duduk saling berhadapan dengannya. Dan sejauh ini, aku hanya mengikuti instruksi wanita ini. Anjani menggenggam tanganku begitu erat. Dingin, hanya itu yang aku rasakan.
"Life is never easy, just let it flow." Dia masih menggenggam tanganku dengan begitu erat, "Nggak ada dunia yang sepenuhnya diisi tentang tawa atau sebaliknya. Selalu ada siang dan malam, panas dan hujan, terang dan gelap. Sama halnya tentang perasaan kita, selalu ada tawa dan duka, karena hidup kita selalu punya dua warna, hitam atau putih, yah ... kadang kelabu, but it's okey. Karena semua itu wajar."
Entah mengapa, aku begitu pengecut. Entah sejak kapan pula aku lahir sebagai pengecut. Yang sebelumnya aku tak pernah takut dengan rasa sakit atau pun kekecewaan, hal itu menjadi momok yang begitu ingin aku hindari saat ini. Mungkin inilah yang dinamakan dengan sifat tampak manusia. Tak pernah merasa puas dengan porsi yang di dapatnya. Seperti aku.
"Jangan takut, kamu nggak sendiri. Nggak akan pernah sendirian. Jatuh, sakit, tumbang lagi, semua itu wajar sebagai manusia. Dan, takdir kamu memang sangat istimewa. Karena Abimanyu nggak akan pernah ninggalin bidadarinya jatuh dan terluka sendirian begitu aja," ucap Anjani.
Tangannya bergerak menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. Mendadak aku bungkam, atau lebih tepatnya kehilangan kata-kata untuk menanggapi semua ucapan Anjani.
"Tuhan selalu punya cara terbaik buat menjadikan kamu manusia yang lebih hebat, Tari. Kamu berharga sebagai bidadari terakhir di dunia ini, ingat itu."
Ia mengangguk untuk meyakinkan aku. Sedetik kemudian tatap matanya seolah menghipnotisku untuk ikut mengangguk dan meyakini apa yang ingin kuyakini.
"Great! You can do it, Tari."
Tepat saat itu juga, kudengar suara pintu utama ruang perpustakaan yang memang tak pernah terkunci terbuka. Aku dan Anjani sama-sama menoleh ke arah pintu kamar yang masih tertutup. Sedangkan wanita yang semulanya tersenyum kepadaku itu, perlahan menghilang bersamaan dengan datangnya kabut asap malam itu.
Sesaat aku terpukau dengan asap yang melayang membawa kepergian Anjani, sebelum kemudian fokusku kembali tertuju pada pintu kamar yang dibuka dengan tiba-tiba.
"Ngapain kamu ke sini?" tanyaku melihat Abi yang datang tanpa permisi.
Ia tak menjawab, tetapi langkah lelaki itu pasti menghabisi jarak di antara kami berdua. Sebelum kemudian ia menarik lengan sampai aku berdiri dan berhadapan dengannya, pada jarak yang tinggal sehelai kain. Jantungku kembali memberontak menyaksikan pahatan wajah tampan yang terpampang di depanku. Hidung bangir, matanya yang gelap dan begitu teduh, serta bibir Abi yang entah mengapa, malam itu terlihat begitu menggairahkannnn.
'Oh, my god! Sumpah, aku pasti udah gila.'
Bisa-bisanya aku menelisik satu persatu yang ada dalam diri Abi. Tetapi, saat aku mencoba berhenti untuk memikirkan apapun yang ada di depanku, lelaki itu justru menarik pinggangku hingga kini jarak di antara kami berdua sungguh tak tersisa. Hanya kepalaku yang semakin condong ke belakang menghindari hal-hal yang tak diinginkan terjadi.
Kedua tanganku bergerak ke atas menahan dadaaa Abi agar tak semakin menarikku lebih dekat lagi.
"Udah gila, ya kamu?" biskku tajam.
Tapi, sial. Sesuatu dalam diriku bilang bahwa aroma lelaki ini begitu memabukkan. Sungguh, aku tak akan menipu kalian jika Abi sangat maskulin, entah mengapa yang kulihat malam ini pandangan lelaki itu semakin menggelap. Napasnya menderu dengan jelas di balik telingaku.
"Kenapa, Tar? Kamu takut?" balasnya berbisik pula. "Kamu takut sama pengecut kayak aku? Don't joke, Tari."
Aku terdiam mendengarnya. Rupanya lelaki itu sedang setengah sadar, aroma alkohol menyerukan indera penciuman membuat kedua mataku menyipit heran.
"I need u now," gumam Abi tepat di balik telingaku.
Memberikan sensasi geli yang membuat seluruh tubuhku bergetar merinding hanya karena sentuhan itu.
Berengsek!
~U t a r i~
-b e r s a m b u n g!
Hayolooh nanggung, wk-wk
Terima kasih sudah baca.