#14-BRANKAS

2187 Kata
              “Nick! Nick.Tunggu.” Suara perempuan terdengar memanggil Nicky yang sedang berjalan menuju cafetaria kampus. Nicky berhenti berjalan dan menoleh kebelakang. Fitria tampak berlari-lari kecil menghampiri Nicky.             “Kenapa Fit?” Nicky memeganga tangan Fitria.             “Hhh...Hhh.” Fitria terengah karena berlari. Nicky tersenyum melihatnya tapi tangan Fitria masih dipegangnya.             “Nggakhhh...Aku ikut..Akuhh..Lapar Nick.” Suara Fitria tambah tidak jelas.             “Oke! Yuk!.” Sahut Nicky menarik tangan Fitria sampai seperti terseret Nicky. Semua orang tersenyum melihatnya. Nicky yang berperawakan tinggi 175 cm dan tegap. Sedang Fitria hanya 168 cm dan bertubuh sintal. Jadi wajar kalau terlihat seperti diseret.             “Ihh! Pelan Nick.” Fitria mengeluh.             Nicky melepaskan pegangan tangannya. Fitria kelihatannya tidak mau tangannya dilepaskan Nicky. Fitria sekarang yang memegang tangan Nicky.             Mereka berdua masuk kedalam cafetaria dan memesan makanan.             “Kamu mau makan apa Nick?” Tanya Fitria membolak balikan menu yang ada dimeja.             “Makan kamu Fit.” Nicky acuh menjawabnya.             “What!” Fitria tanpa basa basi mencubit tangan Nicky.             “Sudah ah.” Jawab Nicky. Kemudian Nicky memesan bubur ayam. Sedangkan Fitria makan mie ayam.             “Jam berapa mulai dibuka acara pamerannya Nick?”             “Jam 10.30. Menunggu Purek 3 dulu. Beliau sedang di perjalanan ke kampus.” Kata Nicky yang sudah menyuap bubur ayamnya. Ada sedikit bubur yang menempel di ujung mulutnya Nicky. Fitria yang melihatnya refleks mengelapnya dengan tissue.             Nicky kaget setengah bingung. “Sejak kapan Fitria perhatian ama gua ya?” Bisik hati Nicky.             Fitria acuh saja seolah tidak ada apa-apa malahan melahap mie ayam yang sudah ada didepannya.             Keduanya makan pesanannya masing-masing tanpa bicara.             Jam10.30 Acara pameran lukisan dibuka oleh Purek 3.             Banyak pengunjung mahasiswa setempat dan dari luar kampus dari berbagai kalangan mulai berkeliling melihat hasil lukisan para mahasiswa seni rupa. Selain lukisan juga ada pameran patung, pahatan dan kreatif lainnya.             Nicky menghampiri salah satu lukisan yang akan dibelinya. Lukisan itu milik Ardila anak seni rupa yang lukisannya sudah cukup dikenal diluar dan sering mengadakan pameran. Lukisannya kebanyakan beraliran realisme.             “Nick.” Ada suara memanggil Nicky. Nicky menoleh ke asal suara itu. Ayahnya Nicky tampak datang bersama ibunya dan kakaknya. Mereka tampak berpakaian sederhana dan serasi. Tidak tampak mereka adalah keluarga konglomerat.             “Hai Pa, Ma, Mel. Finally datang juga. Terimakasih ya.” Kata Nicky sambil menghampiri mereka.             “Yang mana lukisan idolamu Nick?” Pak Abiyasa langsung kepada tujuannya datang ke acara pameran.             “Blok ini adalah hasil lukisannya Pa! Pilih saja yang Papa dan Mama suka.” Kata Nicky terlihat bahagia kedatangan orangtuanya.             “Oke.” Pak Abiyasa dan bu Vina berjalan berkeliling stand lukisan Ardila.             Ardila yang dari tadi memperhatikan Nicky menghampirinya.             “Hai Nick. How are you?” Sapa Ardila.             “Hai Kak Ardila. Baik kak!.” Nicky memanggil Ardila dengan sebutan kakak. Ardila memang kakak kelasnya Nicky bila dilihat dari tahun masuknya ke kampus. “Oh iya. Kenalkan kakak saya Amelia.”             Amelia mengangguk dan berjabat tangan dengan Ardila.             “Cantik ya kakakmu Nick.” Puji Ardila tersenyum. “Saya Ardila panggil saja Dila.” Kata Ardila. Amelia jadi ikut tersenyum juga.             “Iya Dila. Saya Amelia. Panggilan saya Amel.” Balas Amelia. “Dirumah anak Papa dan Mama yang tidak cantik hanya Nicky kok Dila.”             Ardila tertawa terpingkal-pingkal tapi mulutnya ditutup tangannya.             Nicky bingung melihat mereka berdua pada tertawa.             Pak Abiyasa dan bu Vina mendatangi mereka setelah berkeliling stand nya Ardila.             “Pa, Ma. Ini kak Ardila pelukisnya.” Kata Nicky memperkenalkan Ardila ke ayah dan ibunya.             Ardila mengangguk dan menjabat tangan keduanya.             “Terimakasih oom, tante sudah mampir kesini.” Kata Ardila. “Saya sangat tersanjung.”             “Ahh mbak Ardila ini bisa saja.” Balas Bu Vina. “Kami orang biasa saja. Jangan menggunakan kata tersanjung ah. Seperti pada pejabat saja.”             “Oh iya Nick. Papa sudah dapat lukisannya satu. Dan Mama satu.” Pak Abiyasa menunjukan lukisan yang dibawanya.             “Waduh indah banget ini Pah.” Sambar Amelia yang dari tadi sudah tertarik dengan lukisan gadis balinya. “Simpen di ruang belajar aku ya Pah!”             “Enak saja. Cari sendiri dong Mel.” Pak Abiyasa menyembunyikan lukisannya dibelakang badannya.             Ardila tertawa geli tapi hatinya gembira melihat keakraban keluarga ini.             “Sudah ah. Malu tuh dilihat orang-orang.” Bu Vina melerai Amelia dan pak Abiyasa yang rebutan lukisan Ardila.             “Terus sekarang bagaimana Nick.” Tanya Bu Vina.             “Mama bayarnya di kasir sana. Yang ada tulisan panitia pameran.” Kata Nicky menunjuk ke ruangan yang ada dipojokan ruangan.             “Oke. Mama dan Papa kesana dulu yah Nick. Ayo Pah.” Bu Vina menarik tangannya pak Abiyasa. “Amel mau ikut?” Ajak bu Vina.             “Iya Mah. Aku ikut.” Kata Amelia. “See you around Dila.” Ujar Amelia.             “Sure Mel. Thanks for coming.” Sahut Ardila sambil melambaikan tangannya. “Terimakasih Nick sudah membeli lukisanku.” Ardila memegang tangan Nicky.             Pas waktu itu Fitria dan Andre masuk ruang pameran di standnya Ardila.             Muka Fitria mendadak panas dan agak memerah. Ada perasaan cemburu dalam hatinya.             “Hai Dre, Fit. Sini!” Teriak Nicky melambaikan tangannya.             “Hai bro.” Sahut Andre. Fitria tidak menjawab tapi mukanya terlihat kecut padahal tangan Ardila sudah dari tadi dilepas.             “Gimana Nick ayah dan ibumu jadi datang?” Tanya Andre.             “Sudah tuh. Malahan sudah memilih dan membayar dua lukisan.” Nicky tertawa senang.             “Good lah kalau begitu.” Andre tersenyum dan melirikan matanya ke arah Fitria.             Nicky mengerti kerlingan mata Andre. Nicky menghampiri Fitria yang kelihatannya pura-pura tidak melihat Nicky.             “Kalau marah tuh harus pada tempatnya dong Fit!”             “Ihh apaan sih Nick. Orang lagi liat lukisan juga.” Ujar Fitria masih ketus.             “Oh ya sudah. Aku ke Papah dulu ah.” Kata Nicky membalikan badannya seolah mau berjalan.             “Ehh ikut!” Kata Fitria memegang tangan Nicky.             “Hahahaha.” Tiba-tiba Andre tertawa keras. Hampir semua orang melihatnya.             “Diem ember!” Kata Fitria tapi tangannya tetap menggayut ditangan Nicky.             Acara pameran hari itu sukses dilaksanakan oleh panitia tanpa ada halangan yang berarti. Hampir semua lukisan terjual habis. Lukisan Ardila menjadi primadonanya karena banyak terjual dan menjadi jumlah donasi terbesar.             Pameran lukisan sehari itu akhirnya ditutup oleh Purek 3 pada sore hari jam 17.30.             Nicky, Andre dan Fitria melepaskan kepenatan dan capenya menjadi panitia dibawah sebuah pohon di taman kampus.             “Eh masa tenang ujian semester ini pada mau kemana?” Tanya Nicky. “Karena liburnya dimulai besok mungkin aku akan pergi kesuatu tempat.”             “Kalau gua dirumah saja deh Nick.” Jawab Andre. “Kalau kamu Fit?”             “Aku juga dirumah. Sekalian bantuin ibu katanya mau nyuci gordeng ruangan.” Ujar Fitria.             “Sepertinya acara kita masing-masing kali ini.” Nicky terdengar lemas. “Ya sudah kalau begitu kita pulang saja sekarang yah.” Nicky bangkit dari duduknya.             Andre dan Fitria juga ikutan bangkit.             “Fit. Kamu pulang naik apa?” Tanya Nicky. “Naik angkutan umum lagi?”             “Iya lah. Hanya itulah kendaraanku.” Fitria menunduk mengambil ranselnya yang tergeletak. “Kita pulang yuk.” Ajaknya.             Mereka bertiga berjalan ke masing-masing tujuan. Semuanya membawa kenangan dan harapan yang entah kapan akan tercapai.             Malam itu kampus masih terlihat menyala dan tampak beberapa mahasiswa sedang membereskan peralatan atau perlengkapan pameran.             Menjelang tengah malam barulah mereka membubarkan diri.             Tapi rencana itu menjadi buyar setelah mendengar Pak Masdar penjaga kampus berteriak.                                                                                                            “Tolong! Tolong.” Teriak pak Masdar keluar dari ruang Tata Usaha bagian keuangan kampus.             Orang-orang berlarian menghampiri pak Masdar termasuk para mahasiswa yang tadinya mau pada bubar.             “Kenapa pak?” Tanya seorang mahasiswa.             “Itu! Itu brankas kampus sudah terbuka. Semuanya berantakan tapi sudah kosong isi brankasnya.” Kata pak Masdar terduduk dan kelihatannya lemas. “Haduhhh mana hari ini tanggungjawabku lagi.” Keluhnya.             “Bapak tadi dimana waktu ada pameran dan sesudahnya?” Tanya seorang mahasiswa senior yang jadi panitia pameran tadi.             “Saya seperti biasa saja sesuai dengan tugas. Saya duduk di ruang TU menunggu pegawai keluar dan menguncinya.” Jawab pak Masdar.             “Kalau begitu kita punya cctv jadi bisa membuktikan kebenarannya.” Senior itu meminta keamanan untuk mengecek cctv ruang TU kampus.             Keamanan itu lalu memutar ulang cctv mulai dari sebelum jam 15 sampai dengan pegawai TU pulang. Terlihat semuanya benar seperti yang disampaikan oleh pak Masdar.             “Terus majukan pak! Sampai dengan waktu bubaran tadi.” Pinta senior.             “Oke.” Kembali keamanan itu memutar rekaman cctvnya.             Tapi begitu sampai jam 19.20 cctv menjadi gelap tapi terus merekam. 10 menit kemudian cctvnya kembali menyala. Keadaan ruangan tampak berantakan dan brankas keuangan sudah terbuka.             Dalam rekaman cctv tampak pak Masdar masuk keruangan lagi 35 menit setelahnya. Tampak pak Masdar berlari keluar. Semuanya sesuai dengan yang diceritakan sebelumnya oleh pak Masdar.             “Cukup pak. Saya akan menelpon kepolisian kalau begitu.” Kata si senior.             Lalu si senior menelpon kantor kepolisian setempat yang kebetulan tidak terlalu jauh.             Tidak begitu lama datang beberapa orang dari kepolisian yang kemudian langsung mengadakan oleh tempat kejadian perkara termasuk menanyai pak Masdar sebagai saksi, petugas keamanan dan mahasiswa senior yang melaporkan kejadian.             Sampai menjelang tengah malam pihak kepolisian selesai melakukan investigasi. Tapi semua panitia yang terkait acara pameran diharuskan hadir besok pagi di kantor kepolisian. Termasuk pak Masdar dan petugas keamanan.             Pagi hari Nicky sudah bangun dan meregangkan otot-ototnya di halaman rumah. Bi Irah tergopoh-gopoh mengahmpiri Nicky.             “Den Nicky. Ada telepon dari mas Azis katanya.” Bi Irah menyerahkan teleponnya kepada Nicky.             “Hallo pagi.” Sapa Nicky.             “Pagi Nick. Saya Azis. Sorry ganggu nih soalnya urgent banget.” Kata Azis.             “Iya tidak apa-apa mas Azis. Kenapa ada yang bisa Nicky bantu?”             “Iya Nick. Seluruh panitia hari ini jam 11 siang harus hadir di kantor kepolisian dekat kampus kita.” Azis menerangkan. “Semalam ada kejadian pembobolan brankas keuangan TU kita Nick.”             “Hah!” Nicky terkejut. “Masa sih mas? Siapa pelakunya? Sudah tertangkap?”             “Belum lah Nick. Makanya kita harus datang kepolisian.”             “Oke kalau begitu. Saya akan menghubungi Andre dan Fitria. Mas Azis telepon yang lainnya saja.” Kata Nicky.             “Semuanya sudah Nick. Tinggal kelompok kamu yang belum.”             “Baik mas Azis kami akan hadir.”             “Oke. Terimakasih yah Nick. Aku tunggu.” Azis memutuskan hubungan teleponnya.             Nicky kemudian menelpon Andre dan Fitria untuk datang kerumahnya sebelum jam 9 pagi. Kemudian Nicky juga menceritakan kejadian yang disampaikan oleh Azis.             Jam 9 pagi kedua sahabat Nicky sudah sampai dirumah Nicky. Mereka berangkat menggunakan van mewah yang kebetulan tidak dipakai siapapun.             Sebelum menuju ke kantor polisi Nicky masuk kekampus terlebih dulu. Kemudian ketiganya menuju ruang TU yang dimaksud.             Garis pembatas polisi sudah mengelilingi lokasi TU kampus sebagai tempat kejadian. Mereka bingung untuk masuk kedalamnya apalagi sudah dilarang oleh pihak keamanan kampus.             Nicky mendekati dinding ruang TU kemudian dia memegang dinding dekat jendela luar yang tidak kena garis polisi. Sekejap semua kejadian sudah terlihat jelas dalam benak Nicky. Kemudian dia tersenyum dan mengajak sahabatnya untuk berangkat ke kantor polisi.             Nicky, Andre dan Fitria sampai di kantor kepolisian tepat waktu. Semua orang yang melihat Nicky turun dari mobilnya terbelalak matanya. Mereka baru tau kalau Nicky orang berada.             “Selamat siang.” Sapa Nicky kepada semua panitia yang sudah hadir disitu.             “Eh Nick itu tuh mobil lu?” Tanya salah seorang panitia.                                      “Oh bukan. Itu punya teman serumah. Tadi kebetulan boleh ikut nebeng kesini.” Ujar Nicky tersenyum.             “Oh. Kirain. Kaget gua Nick. Itu kan milyaran harganya.” Orang itu tertawa dan semua tertawa.             Andre sudah mulutnya sudah gatal ingin ngomong. Namun Fitria mencubitnya.             Pertanyaan demi pertanyaan sudah ditanyakan oleh pihak kepolisian. Semuanya termasuk polisi bingung sesaat tentang hilangnya rekaman 10 menit. Anehnya rekaman berjalan sesuai dengan waktu putar rekaman cctv.             “Mungkin tidak pak kalau hal itu karena radio jammer yang mengacaukan sinyal cctv di ruangan?” Kata Nicky mengatakan kemungkinannya.             “Ya! Ya! Bisa saja mas. Eh siapa namanya tadi?” kata petugas kepolisian.             “Saya Nicky pak.”             “Iya mas Nicky. Itu sangat memungkinkan.” Sambungnya.             Pintu ruangan tiba-tiba diketuk dari luar.             Kamil dan temannya dari interpol masuk ruangan. Semua petugas kepolisian diruangan itu semua berdiri dan mengangguk.             “Silakan lanjutkan.” Kata Kamil. “Saya hanya ingin melihat keponakan-keponakan saya saja.”.             “Keponakan komandan siapa?” Tanya petugas kepada Kamil.             “Itu tuh. Andre, Nicky dan Fitria.” Jawab Kamil.             “Oh itu pak. Tapi semuanya sudah selesai dan tadi kami dapat masukan dari keponakan bapak yang bernama Nicky.” Ujar petugas itu. “Masukan tentang radio jammer pak.”             “Oke kalau sudah selesai urusannya. Saya akan membawa keponakan saya pulang kalau begitu.” Kata Kamil kepada petugas.             “Baik pak. Silakan.”             Kamil menganggukan kepalanya kepada Andre, Nicky dan Fitria.             Semua orang yang ada disitupun akhirnya diperbolehkan pulang.             Kamil menghampiri Nicky kemudian berbicara serius keduanya termasuk Andre dan Fitria. Setelah selesai Kamil berangkat dengan temannya menuju kantornya kembali.             Mobil yang tadi dipergunakan oleh Nicky, Andre dan Fitria sudah ada disitu. Kemudian mereka masuk dan melaju keluar dari kantor kepolisian.             Semua panitia diharapkan hadir oleh kepolisin besok pagi dikampus untuk investigasi sekalian membuktikan teorinya tentang radio jammer yang disampaikan oleh Nicky.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN