#15-KAMBUHAN

1307 Kata
              Karena saling memberitaukan kejadian kesesama mahasiswa maka hari ini hampir lebih dari setengahnya ikut hadir di kampus. Ada yang sekedar melihat, ada juga yang memang disuruh hadir oleh kepolisian.             Nicky, Andre dan Fitria sudah ada di kampus beserta para panitia lainnya. Mereka sudah berkumpul disalah satu ruang kuliah yang dekat dengan TU. Ketua panitia dan para ketua seksi ada dibarisan kursi paling depan.             “Nick. Teman-teman kamu sudah datang?” Tanya Azis             “Sudah mas. Mereka dikursi tengah.” Ujar Nicky sambil menoleh ke jejeran kursi dibelakangnya. Azis juga ikut menengok.             Sementara itu penyidik dari kepolisian sudah mulai menerangkan temuan dan kemungkinan jejak pelakunya.             “Nah sekarang saya harap saudara Nicky bisa menerangkan yang dimaksud dengan radio jammer yang diprediksinya dapat mengganggu cctv.” Kata penyidik itu mempersilahkan Nicky kedepan.             Nicky melihat Andre dan Fitria. Mereka mengangguk. Kemudiaan Nicky memberi isyarat lain dengan mengangkat tangannya membentuk huruf “K”. Andre mengangguk juga. Barulah Andre maju kedepan untuk menerangkan soal radio jammer yang dia dapat dari penglihatannya.             “Bapak-bapak sekalian juga rekan panitia yang saya hormati. Mohon maaf sebelumnya apabila perkiraan saya ini salah. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang menurut saya anggap paling memungkinkan.” Nicky mulai menyampaikan pemikirannya. “Radio jammer adalah semacam alat untuk mengacak sinyal baik radio, kamera, tv termasuk didalamnya adalah cctv. Perangkat atau alat itu juga mempunyai jarak tertentu untuk bisa menangkap sinyal dari perangkat lain. Yang saya tau jarak itu berada dalam jangkauannya antara 15-20 meter dari lokasi dipasang radio jammer.” Nicky menerangkan. “Menurut saya sebaiknya kita mencari alat itu disekitar ruangan TU  atau cctv yang berjarak 15 sampai 20 meter dari lokasi cctv. Ada kemungkinan lainnya adalah dipasang disekitar ruang pusat cctv kampus dengan jarak yang sama tadi.” Nicky berhenti sebentar. “Sebelum saya teruskan, ada yang akan bertanya?”             Semua terdiam. Mereka masih terpana melihat cara menerangkan Nicky yang tepat dan masuk dalam benak mereka.             “Baik kalau tidak ada, saya teruskan.” Ujar Nicky. “Kembali ke permasalah semula. Yang akan kita lakukan sekarang adalah pertama kita mencari kemungkinan alat itu disimpan tersembunyi disekitar TU. Kemudian kedua alat itu juga disembunyikan disekitar ruang kontrol cctv kampus. Satu hal lagi bentuk alat itu berbentuk kotak kecil seperti korek api dan ada antena kecil yang bisa terlihat.” Nicky menutup pembicaraannya dan menuju tempat duduk kembali.             “Hebat lu Nick.” Azis menepuk pundak Nicky.             “Ah mas Azis ini bisa aja.” Balas Nicky mengangguk.             “Oke. Sekarang kita bagi yang hadir disini menjadi 4 bagian. Panitia dan temannya mungkin ingin membantu kami persilakan. Hanya satu jangan sampai masuk keruangan TU karena bisa mengganggu bukti.” Kata seorang penyidik dari kepolisian.             Azis yang menjadi ketua pelaksana pameran yang membagi panitia menjadi 4 group pencari.  Mahasiswa yang kebetulan ada disitu Azis meminta untuk membantunya.             Pak Masdar, pak Noko yang pertama kali menemui ruang TU dan pengawas cctv tidak ikut mencari. Mereka ada diantara para penyidik yang mengawasi proses pencarian radio jammer.             Memakan waktu hampir satu jam. Salah seorang mahasiswa tiba-tiba berteriak.             “Pak! Pak. Saya melihat sesuatu!” Teriaknya kepada polisi penyidik.             Polisi itu buru-buru menghampirinya. Benar saja ada benda seperti yang diceritakan oleh Nicky terselip diantara lubang angin dipojok sebelah luar ruang TU.             “Oke. Sebentar. Tidak mas pegang kan?” Tanya polisi itu.             “Tidak pak.”             “Yakin?”             ‘Yakin pak.” Jawab mahasiswa itu.             “Oke.” Kemudian polisi itu mengambil benda yang dianggap radio jammer menggunakan sarung tangan plastiknya. Kemudian polisi itu membawanya ke meja yang sudah disiapkan diruangan.             Semua berkumpul kembali ke ruangan.             “Baik saudara-saudara sekalian. Kita sudah menemukan alat yang dimaksud oleh saudara Nicky.” Polisi itu mengangkatnya dan memperlihatkan kepada semuanya. “Sekarang tinggal mendengarkan kembali dari saudara Nicky apa selanjutnya.”             “Maaf pak semua pasti berpikiran yang sama yaitu kita coba alat itu.” Kata Nicky. “Lebih baik menurut saya dicobanya di ruang kontrol cctv saja. Dan yang menjadi saksi cukup pak polisi, pak Masdar, pak Noko dan mas Azis ditemani seksi keamanan.” Kata Nicky.             “Saya sarankan Nicky juga ikut pak.” Pinta Azis.             “Ya! Ya boleh. Karena dia yang mengerti dengan cara kerja alat ini.” Jawab polisi.             Lalu mereka keluar menuju ruang kontrol cctv. Setelah sampai lalu mereka mencoba mengaktifkan alat itu. Cctv di ruangan kontrol yang sedang menyala tiba mati. Tidak merekam hanya warna hitam saja tapi counter waktu di cctv terus berjalan.             Semua membenarkan dan menjadi saksi kebenarannya radio jammer yang menghilangkan rekaman cctv secara otomatis.             “Oke. Alat ini memang dipergunakan oleh pembongkar brankas untuk mengelabui dengan tujuan pelaku tidak diketahui.” Penyidik menyampaikan alasannya. Kemudian dia menghampiri Nicky. “Menurut mas Nicky apa yang selanjutnya harus dilakukan?”             “Ah bapak ini. Saya kan bukan polisi pak.” Kata Nicky tersenyum malu. “Tapi saya punya teori lainnya pak. Begini pak.” Lanjut Nicky. “Sesuai dengan jarak bisa di jam oleh alat ini jauh maksimalnya 20 meter sekarang kita harus mencari cctv yang bisa merekam kegiatan sekitar TU minimal. Cctv itu kalau saya lihat di denah cctv hanya ada 3 cctv. Pertama cctv yang berada di cafetaria tapi tidak menjangkau.” Nicky batuk. “Aduh kering leher saya pak.” Semua tertawa mendengar Nicky. Kemudian Nicky mengambil air minum dari tempat minum petugas kontrol cctv.             “Yang kedua adalah cctv yang tepat di seberang ditemukan alat ini. Maka diharapkan cctv ini dapat merekam siapa yang meletakan alat itu. Termasuk kemana dia selanjutnya pergi.” Nicky berhenti sebentar. “Kemudian yang 3 adalah cctv di depan ruangan rektor. Cctv ini sebenarnya hanya untuk memantau pegawai TU saya kira. Untuk memantau kerja mereka. Dengan cctv ini kita bisa melihat aktivitas pak Masdar dan siapa yang masuk ke TU saat kejadian. Itu saja saya kira pak.” Nicky menutup pembicaraannya.             Penyidik polisi setuju dengan apa yang disampaikan oleh Nicky. Lalu penyidik itu meminta tolong petugas kontrol cctv untuk memutar ulang rekaman cctv di lokasi yang disebutkan oleh Nicky.             Penyidik minta rekaman diulang paling sedikitnya 5 menit sebelum rekaman di TU menjadi kosong.             Pak Noko menganggukan kepalanya.             Hampir 30 menit kemudian mereka keluar dari ruang kontrol cctv. Tampak pak Masdar dan Pak Noko di borgol tangannya oleh pihak kepolisian.             Semua mahasiswa yang ada di sekitar itu berusaha merangsek maju untuk memukul mereka setelah tau kejadian yang sebenarnya. Namun pihak kepolisian sigap mengamankan mereka dan membawanya ke kantor polisi.             Petugas kepolisian mendatangi Nicky sesudah mengamankan tersangka pembobolan brankas uang kampus.             “Mas Nick. Terimakasih atas prediksinya yang ternyata sangat tepat.” Katanya. “Dan satu lagi ternyata mereka itu saling berkawan dan pernah masuk penjara 20 tahun lalu dengan perkara yang sama.” Lanjut petugas itu. “Sedangkan temannya yang membawa uang sebesar 300 juta itu sedang diawasi oleh petugas lainnya. Mungkin hari ini kami akan melakukan penggerebekan di rumah tersangka.”             “Iya pak. Tidak masalah. Itu hanya kebetulan saja saya pernah melihat film dan kejadiannya persis seperti begini.” Ujar Nicky menutupi keadaan yang sebenarnya.             “Oh begitu mas Nick. Tapi berhasil kan. Sekali lagi terimakasih.” Petugas kepolisian itu menyalami Nicky.             Andre dan Fitria menghampiri Nicky. Mereka menepuk-nepuk pundak Nicky.             “Ehh. Sakit tau!” Nicky meringis. “Makan yuk?” Ajak Nicky.             “Kita rayakan dimana Nick?” Kata Andre. “Bagaimana kalau dirumah makan Padang yang enak?”             “Oke. Yuk. Andre yang bayar yah.” Kata Nicky berjalan menuju gerbang kampus.             “Ayo lah.” Fitria menggamit tangan Nicky. Nicky tersenyum dan tertawa bahagia.             Lain halnya dengan Andre yang menggaruk-garuk kepalanya.             “Emh Nick. Aku tidak bawa uang nih. Bayarin dulu yah?” Kata Andre memelas.             Nicky tertawa keras sambil menarik badannya Andre. “Tenanglah Dre. Aku bawa uang. Atau aku beli saja restorannya?” Canda Nicky.             “Sombong lu bro.” Andre memukul tangannya Nicky.             Mereka bertiga berjalan seolah sahabat yang tidak mau terpisahkan sesamnya.                                
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN