#16-MISTERI LUKISAN BUNGA LILI

2119 Kata
            Lukisan “Gadis Bali” yang tadinya mau dipasang dikamar pak Abiyasa ternyata malah dipasang dikamarnya Amelia. Itupun hasil merengeknya Amelia kepada ayahnya. Satu lukisan yang berjudul “Pasrah” terpampang di ruang tamu menghadap kearah kursi panjang.             Bu Vina yang suka dengan lukisan itu sering duduk menyendiri sambil memandangnya setiap sore.             Seminggu berlalu begitu saja. Masa ujian tengah semesater sudah mulai hari senin ini. Nicky dan Andre tampak sudah menduduki kursi sesuai nomor ujiannya masing-masing. Fitria yang baru datang kebagian nomornya berada dibelakang Jeane.             Jam 11 siang ujian pertama tengah semester berakhir dengan 2 mata kuliah sekaligus.             “Ih susah banget essay sekarang ini. Padahal aku sudah belajar lama.” Fitria mengeluh. Rupanya ada yang menurut anggapannya susah.             “Pasti nomor 6 deh. Aku juga sampai pusing.” Andre langsung membenarkan Fitria. “Tapi yang lainnya aku isi untungnya. Kamu gimana Nick?” Tanya Andre.             Nicky tidak ngomong hanya tersenyum saja. Pikiran Nicky sedang tidak ada disana. Dia melihat Ardila di ruang lukis saat dia keluar menuju parker motornya.             “Nick. Kamu nggak apa-apa?” Andre mengguncangkan pundak Nicky cukup keras.             “Ehh apaan sih Dre? Gila kamu ya.” Nicky yang hampir terdorong berteriak kaget.             “Tadi gua nanya bro. Kamu malah senyam-senyum segala. Fitria jadi mencium kamu ya?” Andre nyerocos tidak ada komanya.             “Plakkk.” Suara buku Fitria di pukulkan ke badan Andre. “Sudah pada gila ya. Ihh.” Kata Fitria mempercepat jalannya.             Nicky hanya bengong dan ujungnya tersenyum lagi.             “Sudah ah Dre. Biarin aja. Pulang yuk?” Ajak Nicky.             “Iyalah. Tapi kita muter dulu jalannya. Ada yang mau aku beli. Mau nggak?” Ajak Andre.             “Boleh saja tapi sebelum jalan antar dulu gua nemuin Ardila.” Nicky tersenyum.             “Emhh. Pantesan ngomongnya ngaco. Senyam-senyum sendiri lagi. Rupanya penyakit selingkuh muncul lagi.” Balas Andre sambil memutarkan badannya mengikuti arah jalannya Nicky.             Mereka berdua berbalik arah menuju ruang lukis.             “Siang kak Ardila.” Nicky memberi salam.             “Hai Nick. Selamat siang.”Ardila bangkit dari duduknya. Berdiri dan menyalami Nicky juga Andre. “Silakan duduk duduk Nick, Dre.” Ajak Ardila.             “Lukisan apaan ini kak?” Tanya Nicky membuka percakapannya. “Terlihat sangat menyolok warnanya. Sedang tidak enak hati ya kak. Biarin saja deh laki-laki memang sifat alaminya begitu.” Kata Nicky setelah melihat selintas bayangan diri Ardila sekarang.             Ardila agak terkejut mendengar ucapan Nicky. “Ternyata Nicky pandai baca pikiran dan sikap orang yah.” Ardila tidak melepaskan konsentrasi melukisnya. “Ini bunga Lili Nick. Bunga yang cepat layu sebelum berkembang. Tapi meskipun sebentar dia akan memberikan keindahan kepada yang menyukainya.” Tutur Ardila.             Andre hanya tersenyum dan hatinya berbisik. “Pinter anak ini kalau merayu. Pantesan Fitria ama Jeane tergila-gila. Dasar playboy dua anting.”             Nicky menoleh kearah Andre. Tangan diangkat dan digoyang-goyangkan. Lalu menempelkan jarinya kemulutnya sendiri.             “Kok tau yah.” Andre mengangguk.             Ardila bangkit dari kursinya dan menghampiri ransel kuliahnya. Lalu Ardila mengeluarkan sebuah roti isi telur kesukaannya. Tanpa menawari keduanya Ardila langsung melahap roti yang dipegangnya. Padahal tangannya kotor penuh dengan cat lukis yang meleleh dari kanvasnya.             Ardila tambah menyelami lukisannya. Nicky dan Andre memandang kagum melihat tangan Ardila lincah diatas kanvasnya. Tanpa disadari oleh semua datanglah Santi menghampiri mereka.             “Dila! Kamu makan sendiri yah?” Ujarnya. “Bagi dong. Gua juga lapar. Malas keluar nih. Cafetaria tutup lagi.”             “Ada tuh satu lagi di ransel. Ambil saja San.” Jawab Ardila tidak menengok Santi.             “Oke. Makasih ya Dil.” Balas Santi sambil membuka ransel Ardila dan mengambil roti yang memang tinggal satu. “Aku duluan ya Dil, Nick, Dre dah.”             Santi berjalan meninggalkan mereka.             Tiba-tiba Nicky merasa pusing kepalanya. Jantungnya pun ikut berdebar keras. Nicky membuka ranselnya dan mengambil air minum yang selalu dia bawa dari rumah. Setelah selesai minum Nicky merasa heran kenapa tiba-tiba kepalanya pusing.             Karena penasaran Nicky lalu memegang kursi Ardila. Seperti petir disiang bolong Nicky melihat Ardila terkapar dilantai sebuah rumah. Secepat itu pula bayangan itu menghilang.             Nicky bingung kenapa Ardila bisa terkapar dilantai.             “Kak Ardila. Kakak sehat-sehat saja kan?” Nicky penasaran.             “Kenapa Nick? Kamu melihat saya sedang tidak sehat?” Ardila berhenti melukis dan menoleh kepada Nicky. “Aku sehat Nick. Don’t worry.” Balas Ardila.             “Tapi kalau tadi pas ada Santi, aku memang tidak sehat.” Ardila berdiri dari duduknya. “Kamu merasa ada aura jahat ya tadi. Aku juga.” Ardila berdiri disamping Nicky. “Kalau kamu dan Andre mau tau, Santi itu mempunyai sifat itu sama saya.” Kata Ardila menunduk dan airmatanya terlihat menetes. “Upss, maafin saya jadi cengeng.” Ardila menghapus airmatanya.             Nicky dan Andre menatap Ardila dengan hati tak menentu.             “Ah sudahlah Nick. Barangkali itu hanya perasaanku saja. Lupakan saja.” Kata Ardila. “Kalian belum pada pulang?” Ardila membelokan pembicaraannya.             Nicky terkejut dengan pertanyaan Ardila. “Iya kak, kami baru mau bilang. Kami mau pulang. Tapi kak Dila tidak apa-apa sendirian disini?”             “Aku sudah biasa Nick. Tidak usah cemas.” Jawabnya             “Ya sudah kalau begitu kami pulang ya kak.” Nicky pamit kepada Ardila. Dia mengangguk namun matanya menatap kosong.             Andre dan Nicky pergi dari ruang lukis menuju parkiran. Sepanjang jalan mereka diam dengan pikirannya masing-masing.             Hari kedua ujian tengah semester menjadi tidak tenang. 2 buah mobil dari kepolisian sudah berjejer di halaman kampus.             Nicky dan Andre turun dari motornya begitu sampai diparkiran.             “Nick. Bukannya soal brankas sudah selesai?”             “Sudah. Kenapa Dre?”             “Kok masih ada polisi ya? Banyak lagi.” Lanjut Andre.             “Nggak tau gua. Kita kan baru datang.” Jawab Nicky. “Kita masuk saja yuk.”             Nicky dan Andre berjalan melalui jalan tengah karena sudah banyak orang yang berkerumun di disekitar ruang lukis.             “Hai Nick!” Ada teriakan yang memanggil Nicky.             Fitria yang sudah datang terlebih dulu menghampiri mereka berdua.             “Ehh, tau nggak Ardila meninggal.” Kata Fitria terlihat cemas dan takut diwajahnya.             “Hah!” Nicky terkejut. “Masa?”             “Iya Nick. Menurut orang-orang katanya kemungkinan Ardila meninggal sejak dari hari kemarin. Dan baru ketauan tadi pagi pas unit pembersihan kampus membersihkan ruang kelas.” Fitria menceritakan apa yang dia dengar.             “Kok baru ditemukannya pagi ini ya? Kenapa nggak semalam padahal kan ada kemungkinan meninggalnya kemarin.” Nicky merasa heran. “Kita berdua sampai sore hari ngobrol disitu dengan Ardila. Biasa saja dia.” Lanjut Nicky.             “Jadi kalian diruang lukis dengan Andre sampai sore?” Tanya Fitria.             “Iya Fit.” Jawab Andre. “Malahan sempat melihat dia melukis Bunga Lili.”             “Aneh ya? Jadi siapa yang menutup pintu ruangan semalam?” Ujar Nicky.             “Itu yang jadi pikiran gua bro. Kalau ketauannya pagi hari ini, maka semalam berarti ruangan sudah terkunci dan mati lampunya. Makanya keamanan kampus tidak mengecek sampai kedalam.” Sambung Andre sambil menepuk pundak Nicky. “Kesana bentaran yuk?”             “Ayo, Fit kamu masih mau kesana?” Tanya Niicky.             “Nggak ah. Aku ke ruangan saja.” Balas Fitria.             “Oke, kalau begitu kami kesana dulu ya.” Nicky memegang tangan Fitria.             “Jangan lama-lama ya Nick.” Fitria berharap. “Ntar ketinggalan ujian lagi.”             “Iya Fit.” Nicky langsung melepaskan tangannya dan berjalan berdua dengan Andre keruang lukis.             Di ruang lukis sudah dibatasi dengan garis polisi. Jenasah Ardila masih tampak terbujur di lantai ruangan.             Nicky kaget karena itulah keadaan yang terlintas dalam benaknya kemarin sore.             “Pantesan kemarin aku pusing. Inilah maksudnya.” Bisik hati Nicky.             “Selamat pagi mas Nicky.” Sapa seorang petugas dari kepolisian.             “Selamat pagi.” Nicky menoleh kebelakang. “ Ehh pak Anwar.” Nicky menjabat tangan Anwar yang menjadi penyidik waktu isi brankas kampus raib. “Apa kabar pak.”             “Baik mas. Sudah disini rupanya. Kasian ya mas.” Kata Anwar. “Padahal kelihatannya baik orang itu. Terbukti banyak yang mengutuk kejadian ini.”             “Sangat baik pak. Almarhumah orangnya perhatian terhadap semua orang, berkelakuan baik dan mau mengalah. Kemarin sore masih sempat saya dan Andre ngobrol diruangan ini pak.” Tutur Nicky yang menyesalkan kejadian ini.             “Jadi mas Nicky dan mas Andre sempat ngobrol dengan Ardila?” Tanya Anwar.             “Iya pak. Cukup lama hampir satu jam. Waktu itu dia melukis gambar bunga lili itu.” Kata Nicky menunjuk lukisan bunga lili yang masih ditempat papan lukis. “Hari kemarin dia tampak sedih.”             “Terus apa saja yang dikeluhkan Ardila mas?”             “Tidak ada keluhan apa-apa pak.” Jawab Nicky.             “Ada orang lain yang datang setelah mas Nicky?” Tanya Anwar.             “Saya tidak tau. Tapi waktu kami disini ada teman beliau yang bernama Santi. Dia minta rotinya Ardila karena lapar.” Nicky bicaranya menjadi lancar. Tanpa disadari Nicky dia sudah bersender pada salah satu tiang penyangga tepat di ruangan lukis. Tangannya menyentuh dinding ruangan. Sekilas dia melihat kejadian yang sudah terjadi diruangan termasuk para pelaku pembunuhan.             “Terus setelah minta roti kemana Santi?” Anwar semakin penasaran.             Nicky terkejut. Tapi karena sudah melihat visual kejadian maka Nickypun bermaksud akan membeberkannya kepada Anwar sesudah ujian.             “Pak Anwar. Saya dan Andre akan ujian. Belnya sudah berbunyi. Saya akan bercerita nanti sesudah ujian saja. Apa boleh pak?” Ujar Nicky.             “Iya mas Nick. Saya tunggu nanti disini ya mas?”             “Baik pak. Tapi saya hanya ingin minta memeriksa kuas yang berwarna merah itu.” Nicky menunjuk kepada kuas yang ada ditempat papan cat lukis. “Tapi kepada unit forensic yang ahli kimia ya pak?” kata Nicky.             Anwar heran. “Kuas ya mas. Kenapa mas Nicky minta saya mengecek kuasnya lebih dulu?” Tanya Anwar.             “Agak curiga pak. Karena kemarin saya perhatikan tidak ada bekas jari tangan Ardila.” Balas Nicky.             “Oh begitu ya. Baik mas saya coba.” Jawab Anwar. Lalu tangan melambai pada salah seorang anggota kepolisian unit forensic untuk membawa kuas lukis ke Labfor kepolisian.             “Permisi pak. Kami masuk dulu ya.” Kata Nicky.             “Iya mas Nick. Nanti saya tunggu disini ya.”             “Iya pak.”             Jam 11 siang bel selesai ujian berbunyi kembali. Semua mahasiswa selesai melaksanakan ujian hari kedua.             Nicky, Andre kembali ke lokasi pembunuhan Ardila.             Anwar sudah menunggu di sebuah bangku panjang tempat mahasiswa melepaskan lelah.             “Mas Nicky. Dugaan mas Nicky benar ternyata. Kuas itu mengandung racun yang berasal dari tumbuhan. Meskipun prosesnya lambat namun sangat keras dan susah untuk diselamatkan apabila keracunan ini.” Anwar langsung berbicara padahal Nicky dan Andre baru saja duduk di bangku.             “Nah betul kan pak.” Sahut Nicky. “Soalnya waktu kami disana tidak begitu warnanya.”             “Iya mas Nick. Dugaan kami pembunuh Ardila mengoleskan racun tadi ke kuas miliknya Ardila. Tapi siapa dan kapan melakukannya?” Anwar kembali bingung. “Cukup sulit ada waktu dan peluang pembunuh untuk mengoleskannya di kampus.”             Nicky tersenyum.             “Kenapa Nick? Senyam senyum sendiri. Mulai lagi deh.” Kata Andre menepuk tangan Nicky.             “Pak Anwar.” Kata Nicky. “Apa polisi bisa minta keterangan seseorang yang tidak terkait dengan pembunuhan ini?”             “Yah bisa saja mas Nick. Itu namanya diminta bantuannya atau sebagai saksi. Memangnya kenapa mas Nick?” Tanya Anwar mengahpus kebingungannya.             “Begini pak.” Nicky menceritakan kembali situasi saat bertemu dengan Ardila. Cerita Nicky kadang dibantu Andre untuk menguatkan alibi kalau mereka memang diruang lukis kemarin. “Nah seingat saya Erick itu pacarnya Ardila. Waktu kemarin Ardila menangis menyebut Santi punya aura jahat. Mungkin Erick selingkuh dengan Santi. Tapi saya tidak tau pasti pak.”             “Maksud mas Nicky ada kerjasama jahat untuk membunuh Ardila?” Anwar mendekati duduknya Nicky.             “Saya tidak bicara dan berasumsi seperti itu pak. Makanya tadi saya tanya apa polisi bisa meminta keterangan sama orang yang tidak terkait dengan pembunuhan.” Ujar Nicky.             “Bisa saja mas Nick. Maksudnya saya harus mencoba memanggil Erick, begitu kan mas?” Anwar bertanya.             “Kira-kira begitu pak Anwar. Nah kalau pak Anwar berniat begitu, ruang Erick ada dipojok dekat lapang basket kampus.” Nicky menunjuk kepojokan kampus. “Dan sekarang oangnya ada disana.”             “Baik. Saya akan mencoba mengembangkan kembali perkiraan mas Nicky.” Ujar Anwar. Lalu Anwar berdiri dan berbicara dengan beberapa orang temannya yang berpakaian biasa.             Anwar menghampiri Nicky dan Andre.             “Sudah saya lakukan mas. Saya minta orang saya untuk menanyai Erick tadi.” Kata Anwar.             “Tidak ada salahnya dicoba kan pak. Kalau begitu kami ijin pulang dulu pak Anwar.” Nicky berdiri dan menyalami Anwar. “Kami harus belajar. Besok ada matakuliah yang susah pak.”             “Iya mas. Terimakasih untuk teori kemungkinannya.” Anwar menyalami juga sambil tertawa.             Nicky dan Andre berjalan menuju parkiran motornya. Sekilas mereka melihat Erick sedang ditanyai sambil berdiri oleh 3 orang polisi yang berpakaian biasa.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN