Bel pergantian mata kuliah ujian sudah berbunyi. Jam kampus menunjukan jam 09.30 pagi. Anwar dan beberapa teman polisinya sudah ada di kampus. Mereka akan menjemput Santi yang sedang ujian. Polisi member waktu kepada Santi untuk menyelesaikan ujiannya dulu.
Tepat jam 11 bel akhir ujian berbunyi lagi. Nicky, Andre dan Fitriapun keluar dari ruang kuliah. Mereka berjalan bertiga menuju cafeteria karena Andre merasa lapar katanya.
“Bro gimana kabarnya Erick ya?” Andre membuka percakapan. “Apa jadi ditangkap?”
”Gua nggak tau Dre. Kan yang nangkap Erick polisi bukan gua.” Balas Nicky tersenyum.
Fitria tertawa geli. “Lagian nanya nangkap orang ama Nicky. Ya nggak nyambung dong bro.” Ujar Fitria menirukan gaya Andre.
Sebelum Andre membalas omongan Fitria mereka keburu sampai di cafeteria. Mereka mencari tempat duduk yang strategis yang bisa memperhatikan seluruh ruangan.
“Pesen apa Fit?” Tanya Andre. “Aku pesen mie ayam baso aja deh biar agak nendang.”
“Aku lontong sayur saja sama es teh manis ya sayang.” Kata Nicky tanpa melihat karena mencari sesuatu di ranselnya.
“Execuse me. What didi you say sir?” Fitria matanya melotot. “Manggil sayang, memangnya saya pacar kamu Nick?”
“Ehh, belum ya? Maaf Fit saya pikir kamu sudah jadi pacarku.” Nicky pura-pura kaget melihat Fitria yang melotot. “Tapi kalau kamu jadi pacarku mau kan Fit?”
“Hahaha. Ini yang gua suka dari Nicky.” Ujar Andre bertepuk tangan.
Fitria melengoskan mukanya. Tapi ada rasa suka mendengar Nicky bilang seperti tadi. “Apa bener ya Nicky mau aku jadi pacarnya?” Bisik hatinya Fitria.
“Ya mau dong. Orang serius malah ditanyakan kebenarannya.” Ujar Nicky.
“Ya sudah. Kalau begitu aku mau jadi pacarmu Nick. Jadi kita pacaran mulai hari ini ya?” Kata Fitria menyodorkan tangannya mengajak Nicky salaman.
“Setuju!” Balas Nicky menjabat tangannya Fitria dan menciumnya.
“Hah?” Andre kaget. “Jadi kalian ini pacaran dianggap apa hah? Nanya langsung jadi gitu. Memangnya pacaran kayak makan siomay apa!” Malah Andre yang marah. “Aneh!.”
“Loh memangnya harus gimana Dre?” Tanya Nicky.
“Ya gimana kek. Bawa bunga kek! Di restoran mahal kek! Ini di cafeteria. Beli lontong sayur lagi.” Andre memukul kepalanya sendiri. “Sudah dekat kiamat kali ya.”
Nicky dan Fitria tertawa melihat kelakuan Andre.
“Sudah Dre. Terima kenyataan saja kalau kita memang beda dari kebanyakan orang. Yang penting buat aku adalah nilai dan artinya bagi pasangannya.” Fitria mengusap tangan Andre. “Sabar ya Dre. Kamu mau makan apa Dre? Aku yang traktir hari bahagia ini.”
“Emhh. Sudah deh aku ketoprak saja. Tambah lapar lihat kelakuan kalian habisnya.” Andre tersenyum.
Mereka makan dengan lahapnya setelah semua makanan ada di atas meja.
Ketika mereka sedang makan masuklah Anwar dan langsung menghampiri mereka.
“Selamat siang mas Nicky, mas Andre, mbak!” Kata Anwar. “Boleh saya duduk?”
“Oh boleh pak. Boleh.” Jawab Nicky sambil menggeser kursi buat Anwar.
“Bener perkiraan mas Nicky tentang Erick. Semalam dia mengakui kalau dia sudah selingkuh dengan Santi. Erick selingkuh karena merasa sudah tidak diperhatikan Ardila. Menurutnya Ardila terlalu ambisi dengan pekerjaan melukisnya.” Anwar menjelaskan. “Baru saja kami membawa Santi setelah ujian untuk diminta keterangannya.”
“Iya pak Anwar”
“Jadi kami masih melakukan penyidikan kasus ini.” Ujar Anwar. “Menurut hasil laboratorium forensik memang terdapat racun yang sejenis ditangan Ardila. Masih tanda tanya saja kenapa bisa sampai termakan korban.”
“Kalau boleh saya ingin menyampaikan sesuatu kepada bapak saat kami disana. Boleh pak?” Tanya Nicky.
“Boleh mas. Silakan.”
“Waktu itu saya dan Andre juga korban sedang mengobrol tentang lukisannya. Tiba-tiba korban membuka ransel dan mengambil rotinya. Dia menyobek plastik pembungkus roti dan langsung memakan roti yang dipegang tangan bekas dipergunakan memegang kuas.” Kata Nicky. “Memang kalau saya perhatikan korban selalu begitu. Maksud saya korban tidak pernah mencuci atau mengelap tangannya. Sekalipun itu untuk makan.”
“Oh pantes itu yang menyebabkan racunnya termakan korban.” Ujar Anwar. “Hanya siapa ya, yang melakukannya?”
“Bisa jadi ada orang lain yang melakukannya pak.”
“Iya mas bisa jadi. Tapi kalaupun ada, untuk apa dia ikut campur?”
“Pernah disakiti korban mungkin. Atau memang disuruh sama orang yang tidak suka Ardila?” Lanjut Nicky. “Saya punya rencana untuk mengundang orang itu muncul pak. Tapi harus mendapatkan ijin dari kepolisian.”
“Ijin apa itu mas?”
“Begini pak.” Nicky menceritakan rencananya kepada pak Anwar. Andre dan Fitria hanya menjadi pendengar dan akan membantu rencana Nicky.
“Ya! Ya! Bagus itu mas. Kita lakukan mulai hari ini. Gimana?” Tanya Anwar bersemangat.
Anwar kemudian berdiri dan berjalan menuju kesebuah tempat dilingkungan kampus. Tidak begitu lama kemudian mereka melihat mang Ara salah satu unit kebersihan kampus sudah digelandang oleh 2 orang polisi dengan Anwar.
Nicky dan Andre merasa lega melihat kejadian kecuali Fitria yang heran orang sebaik mang Ara bisa melakukan pembunuhan.
“Aneh ya sayang.” Kata Fitria. “Masa sih orang sebaik mang Ara melakukan pembunuhan? Apalagi orang itu sering menolongnya.”
Nicky tersenyum mendengar Fitria memanggilnya “sayang”.
Andre yang juga mendengar Fitria memanggil Nicky sayang menjadi tertunduk lesu dan duduk dikursi.
“Eh, kenapa kamu Dre?” Tanya Nicky memegang Andre. “Nggak apa-apa kan kamu Dre?”.
Fitria kaget melihat Andre yang tiba-tiba berubah.
“Kenapa Dre? Pusing?” Fitria memegang keningnya Andre.
“Sudah! Sudah!” Andre tiba-tiba mengibaskan tangannya. “Aku nggak apa-apa.”
“Terus kenapa kamu tadi Dre?” Tanya Nicky.
“Gimana nggak pusing Nicky. Kalian baru saja jadian. Nicky dan Fitria pacaran. Lalu aku gimana Nick? Temanmu yang suka berjalan bareng? Temanmu yang selalu boncengan si jagur kalau kuliah? Ahh sedih aku.” Kata Andre seperti membaca puisi. “Sekarang pastinya aku ditinggal. Yang boncengan di motor pastilah Fitria bukan Andre.” Andre berpura-pura terlihat sedih karena tidak bisa bersama lagi dengan Nicky naik si jagur. Padahal tadi jam 9 pagi datang pak Amir dengan dealer motor membawa motor baru kekampus. Motor itu sengaja dibeli oleh Nicky dengan setengah tabungannya dan setengah lagi uangnya Andre.
Nicky dan Fitria tertawa keras dan merasa geli melihat sikap Andre.
Lalu mereka berangkulan bertiga.
“Sudah ah. Kita pulang yuk?” Ajak Nicky.
“Aku naik dimana Nick?” Tanya Fitria. “Masa naik bertiga sama Andre.”
“Iya Fit. Kamu didepan menghadap ke aku dan Andre dibelakang seperti biasa.” Balas Nicky sambil tertawa. Andre juga ikut tertawa.
Setelah bertiga sampai di parkiran motor Andre menghampiri sebuah motor matic baru yang ada disebelah si jagur.
“Nah ini motorku Fit.” Kata Andre. “Aku memanggilnya si Nikan.” Andre tertawa.
“Iya Fit. Kamu sekarang naik si jagur.” Nicky membersihkan tempat duduk motor jadulnya. “Bagaimana Fit? Jadi bareng?”
“Andre teriak-teriak dan kelihatan sedih itu bohongan? Hanya buat gua ngelus dia doang?” Mata Fitria melotot kearah Andre. “Jahat kamu Dre!” Fitria mencubit tangan Andre.
“Sudah ah. Jadi bareng nggak Fit?” Nicky mengulang pertanyaannya.
“Iya dong.” Ujar Fitria menaiki motornya Nicky.
Merekapun keluar dari parkiran menuju jalan raya.
Sepanjang jalan mereka merasa bahagia tidak pernah berpisah satu sama lainnya.
Jam 7 malam Nicky sudah ada dikamarnya setelah mengantar Fitria ke rumahnya. Hati Nicky sedang berbunga-bunga karena Fitria sekarang menjadi pacarnya. Bayangan masa indahnya berpacaran lebih dulu terbayang dibenak Nicky. Sampai akhirnya terlelap pulas dengan senyum bahagia.
Pagi hari Nicky sudah berpakaian rapih. Seisi rumah menjadi gempar karena tidak pernah memakai baju sebelumnya pergi ke kampus. Biasanya hanya kaos berleher dan jaket. Sekarang memakai kaos oblong bentuk leher “V” ditutup dengan baju kotak-kotak biru menambah bias ketampanan Nicky bertambah.
“Wow! Keren! Mau kemana adik Amel ini?” Amel menggoda Nicky sesudah duduk dikursi makan.
“Apaan sih Mel. Kayak belum pernah lihat aku pake baju aja.” Ujar Nicky sambil mengunyah potongan roti isi telur.
“Nggak apa-apa sih Nicky. Tapi aku yakin kamu sedang jatuh cinta deh.” Amel tertawa cekikikan.
“Ada apa sih?” Pak Abiyasa langsung duduk disebelah Nicky. Pak Abiyasa menoleh dan mencium bau parfum dibaju Nicky. “Hmm harum banget parfumnya Nick.”
“Iya Pah. Mamah juga menciumnya dari dari sini.” Bu Vina memotong percakapan mereka. Bu Vina berjalan menuju meja makan untuk ikut sarapan pagi.
“Biasa Mah. Anak laki-laki Mamah lagi jatuh cinta kayaknya.” Sela Amel.
“Yah, jadi rame deh.” Nicky merengut. “Pacar yang mana sih? Kalian ini sudah rebut aja. Bagaimana kalau beneran ya?”
“Ya, nggak apa-apa Nick.” Ujar pak Abiyasa tersenyum penuh arti pada Nicky.
“Siapa sih pacarnya Nick? Kenalin ke Mamah dong.” Tanya Bu Vina. “Fitria yah?”
Muka Nicky mendadak menjadi merah jambu karena ketauan oleh ibunya.
“Ah, Mamah ini sotoy” Balas Nicky. “Tapi kalau Fitria jadi pacar Nicky Mamah dan Papah setuju memangnya?”
“Kalau Papah lihat Fitria anaknya manis, cantik smart dan sopan sama orang tua. Papah suka.” Kata pak Abiyasa semangat.
“Mamah juga setuju kok Nick. Bawa kesini sesekali ya.” Bu Vina ikut setuju.
“Amel juga Nick. Kayaknya perempuan yang setia pasangannya.”
“Sudah ah. Nicky jalan ke kampus dulu ya. Masih ada ujian 4 lagi sampai besok.” Kata Nicky berdiri dari kursi makan. Nicky menghampiri pak Abiyasa dan Bu Vina dan mencium tangan mereka.
“Dah Mel.” Nicky melambaikan tangannya.
“Dah Nick. Hati-hati dijalan ya.”
Hari itu Nicky tidak memakai motor si jagur tapi memakai mobil BMW sport merah yang sering Amelia pakai.
Nicky mulai melaju di jalan menuju persimpangan tempat biasanya Andre menunggu. Dari kejauhan Nicky sudah melihat Andre dan Fitri berdiri menunggu.
Nicky meminggirkan mobilnya dan mengajak mereka masuk.
Setelah semuanya masuk Nicky kembali memacu mobilnya menuju kampus.
“Fit. Ada salam dari Mamah.” Kata Nicky kepada Fitria yang duduk dibelakang. “Katanya ditunggu dirumah. Mamah ingin ketemu.”
“Waduh. Undangan calon mertua nih Fit. Ambil!” Teriak Andre sambil tertawa disebelah Nicky yang sedang menyetir mobil.
“Wah ember mulai ngajak rebut nih sayang. Gimana menurut kamu? Kita lempar saja keluar?” Fitria mencubit semua tangan Andre.
“Aduh! Sakit Fit. Untung lu sekarang pacarnya Nicky. Kalau bukan, emhhh.” Andre menirukan mematahkan sesuatu.
Nicky tertawa bahagia melihat mereka bercanda tanpa perasaan tersinggung sesamanya.
Tanpa memakan waktu lama mereka sudah sampai di kampus. Nicky memarkirkan mobilnya. Semua orang melirik melihat mobil mewahnya. Apalagi saat mereka tau yang memakai mobil ini adalah Nicky. Nicky yang selalu naik motor butut dan suka diledek si jago mogok.
Nicky, Andre dan Fitria turun dari mobil menuju ruang kuliahnya.
Jeane yang kebetulan baru sampai di kampus melihat mereka yang baru turun dari mobil mewahnya. Jeane terpana sekaligus merasa bersalah karena pernah dia merendahkan Nicky. Sekarang dia baru tau siapa Nicky sebenarnya.
Anwar yang sudah menunggu Nicky terlihat berjalan menghampiri mereka bertiga.
“Mas Nick. Ada waktu sebentar?”
“Paling 15 menit pak Anwar. Kan Nicky harus ujian.”
“Nggak apa-apa kok mas. Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih untuk kasus terbunuhnya Ardila. Otak pembunuhnya sudah mengakui melakukannya karena cemburu dengan keberhasilan dan ketenaran Ardila.” Kata Anwar.
“Siapa yang melakukannya pak Anwar?” Nicky bertanya tanpa terlihat pura-pura bertanya.
“Yang membalur kuas Ardila itu Erick. Racunnya dari Santi. Jadi pada dasarnya Santi menggunakan kesempatan Erick yang sedang marahan dengan Ardila. Pengakuannya Erick dia kesal karena pinjam uang ke Ardila ditolak.”
“Terus mang Ara gimana pak?” Fitria ikut bertanya.
“Ya nggak di apa-apain. Mang Ara hanya umpan saja seolah-olah dia melihat kejadian waktu Erick membalur kuas Ardila jam 10 sebelum Ardila masuk ke ruang lukis. Itu idenya mas Nicky waktu bicara dengan saya.” Kata Anwar tertawa. “Ya sekarang dia sedang bekerja membersihkan lingkungan kampus.”
“Syukurlah. Saya juga tidak yakin mang Ara yang baik melakukan pekerjaan kotor seperti itu.” Fitria mengelus-elus dadanya sendiri.
“Sebenarnya hanya itu saja mas Nick. Dan kami akan menganugerahkan penghargaan dari kepolisian kepada warganegara yang ikut berpartisipasi membantu kepolisian.” Kata Anwar sambil menyerahkan secarik kertas undangan untuk Nicky, Andre dan Fitria.
Nicky membuka dan menyerahkan undangan kepada Andre dan Fitria sesuai nama yang diundangnya.
“Terimakasih pak Anwar. Kami sangat senang menerimanya.” Ujar Nicky menjabat tangan Anwar. Begitu juga Andre dan Fitria bergantian menyalami Anwar.
“Baik kalau begitu. Selamat ujian ya. Semoga berhasil.” Anwar mengangkat tangan seperti menghormat.
Nicky, Andre dan Fitria menirukan seperti Anwar.
Sesudah Anwar pergi mereka bertatapan, tersenyum, tertawa, meloncat bersama dan berteriak “ Yeaahh!”.
Anwar yang belum jauh berjalan dia menoleh kebelakang. Anwar tersenyum puas.
Salah seorang dosen kampusnya yang tau kejadian pagi ini datang menghampiri mereka dan menyalaminya. “Selamat ya. Bapak bangga dengan kalian. Saya diberitau oleh pak Anwar tadi waktu menunggu kalian datang.”
“Terimakasih pak.” Nicky dan sahabatnya membalas menjabat tangan dosen itu.
Bel ujian sudah berbunyi. Mereka berjalan menuju ruang kuliah. Mereka sekarang akan berfikir lain yaitu soal ujian. Bukannya ujian kehidupan yang sebenarnya.