Sudah 3 hari ujian tengah semester selesai. Nicky akan melaksanakan niatnya untuk mengunjungi keluarga yang seorang bapak. Menurut Nicky sudah menolongnya saat akan terjadi kecelakaan. Meskipun keterangan pemilik kios penjual minuman orangnya sudah meninggal.
Nicky keluar dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan. Tidak ada orang disana. Semuanya sudah keluar rumah melakukan kegiatannya masing-masing.
Bi Irah yang melayani Nicky.
“Mau makan apa den? Biar bibi yang buat.” Kata bi Irah sambil menyerahkan secangkir teh hangat kedekat Nicky.
“Sudah bi nggak usah biar saya saja.” Ujar Nicky. “Tapi sebenarnya saya ingin makan bubur ayam sih.”
“Kalau begitu bibi beli dulu ya.
“Nggak usah bi. Kapan-kapan saja. Sudah makan nasi goring itu saja dan telur ceploknya.” Nicky menunjuk nasi goreng.
“Baik den.” Bi Irah mengambil piring dan memberikannya kepada Nicky. Kemudian Nicky mengambil nasi goreng sedikit.
Setelah selesai Nicky berdiri dan buru-buru menuju halaman rumahnya.
Pak Amir sudah berdiri disebelah mobil yang akan dipakai mengantarkan Nicky.
“Sudah siap mas Nicky?” Tanya pak Amir.
“Sudah pak Amir. Yuk kita jalan sekarang. Nanti saya tunjukan harus kemana dulu ya pak.” Kata Nicky.
“Baik mas.”
Mobil van mewah itu mulai melaju menuju jalan raya.
Tujuan Nicky hari ini adalah menjemput Fitria yang sudah janjian semalam dan Fitria bisa mengantar Nicky ketempat yang akan Nicky datangi.
Nicky menelpon Fitria ketika vannya Nicky hampir sampai di rumah Fitria.
“Hallo!.” Sapa Nicky. “Sudah siap kamu Fit?”
“Sudah Nick. Sekarang aku keluar ya. Aku tunggu di jalan raya saja.” Balas Fitria.
“Oke. Paling 5 menit lagi sampai.”
Semenit sebelum sampai di jalan raya Nicky sudah melihat Fitria berdiri dipinggir jalan.
Setelah van menepi Nicky membukakan pintu otomatis vannya.
“Hai Fit. Masuk!” Ajak Nicky setelah pintunya terbuka.
“Hai Nick. Makasih.” Fitriapun masuk kedalam van dan duduk disebelah Nicky.
“Hmmm. Harum baunya. Cocok pakaiannya. Mau kemana sih?” Tanya Nicky menggoda Fitria.
“Iya dong. Kan aku mau mengantar abang.” Fitria membalas candaan Nicky.
Dua-dua tertawa renyah. Pak Amir yang melihat dan mendengar mereka ikut tertawa juga.
“Sekarang kita kemana mas?”
Sebelum Nicky menjawab pertanyaan pak Amir, handphonenya berbunyi.
“Sebentar pak Amir ya. Jalan saja dulu. Masih agak jauh kok. Pak Amir kembali kearah perempatan tempat saya menjemput Andre ya pak.”
“Baik mas.” Sahut pak Amir yang sudah membawa vannya kearah yang disebutkan Nicky.
“Hallo Pah!.” Nicky menjawab handphonenya. Nicky tersenyum kepada Fitria dan memegang jemari tangannya.
“Hallo Nick. Kamu ada waktu siang ini?” Tanya pak Abiyasa.
“Kenapa memangnya Pah? Jam berapa kira-kira?” Jawab Nicky.
“Yaa kurang lebih jam 12 an gitu. Gimana bisa?”
“Jam 12 ya. Sekarang jam 10.50. Gimana ya sempit banget Pah. Nicky rencananya mau menengok keluarga bapak-bapak yang menolong Nicky waktu kecelakaan.” Nicky menjelaskan. “Nicky dengan Fitria sekarang. Tapi masih diatur besok-besok lagi sih.”
“Jangan deh kalau kamu repot Nick. Lagian hanya ngajak makan siang dengan kolega Papah saja di Thamrin.” Potong pak Abiyasa.
“Nggak itu juga Pah. Kan anak harus berbakti dan menuruti orangtua kalau jalannya baik.” Ujar Nicky sambil tertawa. “Oke deh. Nicky kesana saja biar rencana ketemunya di cancel dulu. Lagian Nicky belum janjian ama keluarganya kok. Tolong saja alamat dan nama restorannya ya Pah.”
“Oke Nick. Nanti Papah kirim lokasinya ya. Kamu sama pak Amir?” Tanya pak Abiyasa.
“Wah hebat Papah ini. Kok tau ya kalau Nicky bareng pak Amir.” Nicky tertawa.
“Hahaha. Bisa saja kamu Nick. Nggak soalnya pak Amir tau lokasi restoran itu.” Balas Pak Abiyasa. “Oke kalau begitu Papah tunggu ya Nick. Salam buat Fitria.”
“Oke Pah. Fitria terlihat cantik hari ini loh. Beda dengan hari-hari kuliah.”
“Masa sih. Jadi penasaran Papah. Oh iya Mamah dan Amelia juga akan hadir kok Nick. Sudah dulu ya Nick.”
“Iya Pah.” Balas Nicky dan mematikan sambungan handphone dengan pak Abiyasa.
Nicky tersenyum dan menoleh melihat Fitria. Nicky melihat Fitria merengut.
“Loh kenapa Fit cemberut?”
“Gitu ya! Jadi kalau aku kuliah tidak cantik dan bau. Gitu!?”
Nicky tertawa terbahak-bahak sampai pak Amir kaget dibuatnya.
“Ihhh.” Fitria mencubit tangannya Nicky.
Tiba-tiba ada bunyi pesan di handphone Nicky.
Nicky membacanya dan menyerahkan handphonenya ke pak Amir.
“Pak Amir. Bapak sekarang pergi ke alamat restoran itu ya. Kata Papah, pak Amir sudah tau lokasinya.”
“Iya mas.”
Didalam van Nicky dan Fitria tampak bahagia.
Jam 12 tepat Nicky dan Fitria sampai di restoran yang dimaksud pak Abiyasa. Pintu van Nicky dibuka dari luar oleh juru parkir restoran. “Selamat siang pak.”
“Terimakasih pak.” Ujar Nicky setelah keluar dari van bersama Fitria.
Nicky dan Fitria masuk restoran. Fitria menggamit tangan Nicky. Keduanya tampak serasi di mata orang-orang yang melihatnya.
“Pah!” Nicky menyapa pak Abiyasa setelah sampai di meja makan di ruangan yang khusus. Ruangan itu sengaja disewa pak Abiyasa.
“Hai Nick. Baru sampai ya. Hallo Fitria, apa kabar?” Pak Abiyasa mengulurkan tangannya kepada Fitria.
Fitria mengulurkan tangannya juga menjabat tangan pak Abiyasanya dan mencium tangannya. Kemudian Fitria berjalan menuju bu Vina yang sudah tersenyum dan kagum melihat Fitria yang tampak cantik hari ini.
“Tante.” Kata Fitria. Sama dia juga mencium tangannya bu Vina. “Kak Amel.” Fitria mengangguk kepada Amelia.
“Hai Fit. Cantik kamu. Pantesan Nicky sekarang menjauhi si Tessy.” Ujar Amelia.
“Siapa Tessy kak?” Tanya Fitria sambil duduk disebelah Amelia.
“Jangan cemburu dulu Fit.” Kata Amelia tertawa. “Tessy itu nama kucing angoranya Nicky. Sudah beranak 4.”
“Ohh, kirain cemceman Nicky.” Fitria ikut tertawa tapi hatinya senang. Ternyata Tessy hanya seekor kucing angora.
“Kamu duduk disini Nick.” Ajak pak Abiyasa. “Kenalin ini oom Tirta kolega Papah dan temannya. Yang itu pak Kris, dan yang itu pak Betro.”
“Apa kabar oom?” Nicky menjabat tangan semua kolega Papahnya.
Setelah menjabat tangan semua kolega ayahnya tampak muka Nicky agak berubah. Perubahan itu hanya pak Abiyasa yang mengerti kenapa Nicky terlihat seperti itu.
Pak Abiyasa kemudian menepuk pundak Nicky untuk mencairkan suasana dan gundahnya Nicky. “Nick! Jangan bengong dong. Fitria kan ada disebelah Mamah. Tuh!” pak Abiyasa tertawa. Semua orang yang mendengarnya ikut tertawa juga.
Nickypun akhirnya ikut tertawa.
Pintu ruang khusus di restoran itu tiba-tiba terbuka. Seorang petugas restoran masuk dan berkata “Maaf, ada tamu ingin bertemu bu Amelia. Apa bisa saya suruh masuk atau menunggu?”
“Suruh masuk saja mbak.” Sahut Amelia.
“Oh baik bu.” Petugas itu mengangguk kearah luar pintu.
Masuklah seorang pemuda cukup tampan dan terkesan rapih.
“Masuk mas Suta.” Kata Amelia menyuruh pemuda itu masuk ruangan. “Pah. Kenalin ini mas Suta.”
Suta menghampiri pak Abiyasa yang sudah berdiri. Suta menjabat tangan pak Abiyasa. “Dan yang ganteng ini adik saya Nicky.”
Nicky tersenyum dan menjabat tangan Suta. Tiba-tiba Nicky terlihat terkejut. Tersirat dalam benaknya ada kejahatan yang akan menimpa melalui pemuda ini.
Suta melepaskan tangannya kemudian menuju ke ibunya Amelia dan kesemua tamu yang ada disitu.
Suta kemudian duduk sebelah kiri Amelia diapit oleh Fitria dan ibunya.
Tidak lama kemudian tidak terdengar orang bicara lagi tapi hanya denting sendok dan garpu saja. Semuanya sedang menikmati kebersamaannya dengan cara makan.
Sore hari Nicky masih ada di rumah Fitria dikelilingi oleh sanak saudara Fitria yang terlihat saat Nicky berkunjung ke rumahnya.
Menjelang magrib Nicky pamitan kepada keluarga Fitria untuk pulang.
Fitria mengantar Nicky ke jalan raya. Tampak vannya sudah menunggu.
“Fit. Aku pulang dulu ya. Terimakasih sudah menemani aku dan mengajak ke rumah kamu. Saya suka Fit.” Kata Nicky memegang tangannya Fitria.
“Iya Nick. Makasih juga untuk acara hari ini. Saya senang.” Fitria menatap dalam-dalam mata Nicky yang juga sedang memandangnya.
“Oke kalau begitu. I love you Fit.” Kata Nicky membelai kepala Fitria.
“I love you too Nick.” Balas Fitria memegang tangan Nicky.
Nicky naik ke vannya. Setelah melambaikan tangannya mobil melaju menuju rumah.
Malam harinya setelah makan malam Nicky menemuai pak Abiyasa diruang kerjanya. Nicky duduk di sofa ruang kerja.
“Pah.” Kata Nicky. “Hati-hati dengan mereka Pah.”
“Dengan oom Tirta dan kawannya Nick?”
“Iya Pah. Mereka berniat menggeser dan menjatuhkan Papah nanti di rapat pemegang saham. Mereka sudah menyusun rencananya.” Lanjut Nicky. “Oh iya Papah tau siapa Suta?”
“Nggak Nick.” Jawab pak Abiyasa berdiri dari kursi kerjanya dan menghampiri sofa. Kemudian pak Abiyasa duduk disebelah Nicky. Mereka duduk berhadapan.
“Suta itu menurut pengllihatan Nicky adalah keponakannya oom Betro. Dia sengaja mendekati Amel hanya untuk dekat dan bisa mengorek keterangan perusahaan-perusahaan Papah.” Nicky berhenti sebentar. “Semua keterangan yang didapat akan di sampaikan oleh Suta ke oom Tirta. Nanti yang mengeksekusinya adalah oom Kris biar terlihat sebagai ekspansi orang luar.”
“Tega banget Tirta ini.”
“Sekarang mereka sedang menyusun semua kesalahan prosedur keuangan di seluruh perusahaan Papah. Setelah semuanya dapat mereka akan menjatuhkan Papah di rapat pemegang saham tadi Pah.” Ujar Nicky menarik nafas.
“Bener-bener Tirta ini! Awas saja kalau terbukti curang akan Papah habisin karirnya dia.” Pak Abiyasa tampak marah. “Sekarang menurut kamu gimana Nick?”
“Papah cari konsultan keuangan public yang terkenal, solid dan bekerjanya jujur. Papah suruh periksa seluruh keuangan perusahaan Papah. Jangan ada yang tau kecuali kepala bagian keuangan kantor pusat Papah.” Tutur Nicky. “Nicky lebih percaya kepada bu Lidya sebenarnya meskipun terlihat sombong tapi dia itu jujur dan loyal sama Papah.”
“Baik Nick. Besok Papah suruh bu Lidya mencari akuntan public yang terkenal, baik dan jujur.” Kata pak Abiyasa.
“Papah jangan bercerita kepada siapapun apalagi ke Amel. Kalau Amel bertanya tentang sesuatu terkait dengan perusahaan, Papah jangan kasih tau. Gimana Pah” Tanya Nicky.
“Iya Nick. Papah percaya sama kamu.” Pak Abiyasa menepuk pundak Nicky. “Terimakasih ya Nick.”
Nicky tersenyum dan mengangguk kepada ayahnya. Kemudian Nicky keluar dari ruang kerja ayahnya menuju kamar tidurnya.
Sebelum tidur Nicky mengambil handphonenya. Kemudian Nicky menelpon sahabatnya Andre.
“Hallo Dre!” Kata Nicky.
“Eh bro! Tumben malam-malam telpon aku. Pasti mau cerita soal Fitria ya?” Sambar Andre.
“Bukan Dre. Aku sengaja telpon kamu. Kita membutuhkan kembali tenaga dan pikirannya oom Kamil.” Balas Nicky. “Ada masalah dikantor Papah gua.”
“Nah lo! Masalah apa lagi sih Nick.” Tanya Andre terdengar cemas.
“Ada yang mau menjatuhkan Papah gua dari kepemilikan perusahaannya. Anehnya justru dari para koleganya Dre. Mereka bukannya membantu malah mau menghancurkan karir Papahku.” Nicky bicara dengan amarahnya yang menggebu-gebu.
“Oke Nick. Gini saja. Malam ini gua telepon oom gua. Lalu gua buat janji biar kita ketemu ditempat yang biasa. Gimana kalau begitu Nick?” Ujar Andre.
“Oke Dre. Gua setuju. Dimana nanti kalian gua jemput?”
“Di perempatan biasa saja ya Nick.”
“Iya Dre. Kita ketemu di perempatan jam 9 pagi. Oke!” Sahut Nicky.
“Oke Nick.” Andre menutup handphone. Kemudian Andre menelpon oomnya untuk menyampaikan permohonan Nicky.
Malampun semakin larut. Nicky masih membuka matanya. Hatinya meracau.
“Kenapa jadi banyak sekali persoalan yang datang kepadaku? Apa karena aku mempunyai anugrah ini? Atau ini hanya ujian dan cobaan saja agar aku lebih mawas dan banyak membantu orang?” Bisik hatinya Nicky.
Pelan-pelan matanya Nicky tertutup namun hatinya meronta meminta pertolongan Yang Maha Kuasa. Sekilas bayangan eyang Sasranegara tampak dipelupuk matanya.