#19-MEMBASMI HAMA PERUSAHAAN

1749 Kata
              Pagi hari jam 10 Nicky sudah siap-siap berangkat untuk bertemu dengan Kamil sesuai dengan perjanjian. Nicky memakai mobil sportnya dan menyetir sendiri. Untuk memudahkan mengontrol kondisi kendaraan juga keselamatannya Nicky memasang GPS di mobilnya.             Mobil sport Nicky keluar dari halaman rumah menuju ke tempat biasa dia menjemput Andre dipersimpangan. Andre juga Kamil dan temannya sudah menunggu di persimpangan itu. Mereka tampak bertiga berdiri di trotoar jalan.             Nicky berhenti pas didepan mereka. Merekapun masuk dan mobil nicky kembali melaju menuju tempat biasa mereka berunding.             Setibanya disana mereka langsung masuk ruangan rapat khusus untuk 8 orang yang sudah dipesan Nicky sebelumnya. Didalam ruangan rapat sudah tersedia makanan kecil dan minuman baik dingin maupun tidak.             Nicky dan lainnya segera mengambil tempat duduk masing-masing.             “Terimakasih oom Kamil dan pak Rido untuk kehadirannya. Sekali lagi kami mohon maaf apabila mengganggu terus.” Nikcy membuka percakapannya. “Jadi maksud kami meminta bantuan bapak-bapak karena saya merasa ada yang ingin agar ayah saya terpaksa mundur dan perusahaan diambil alih oleh pihak lain. Padahal menurut ayah saya juga kepala bagian keuangan perusahaan pusat, perusahaan dalam kondisi baik bahkan untung sampai dengan 70% padahal baru bulan ke 6 tahun ini.” Nicky berhenti sebentar kemudian mengambil minum dan meminumnya.             “Jadi intinya oom Kamil diminta untuk menyelidiki siapa yang merencanakan situasi ini. Ayah saya sudah menghubungi akuntan public yang terkenal untuk memeriksa keuangan semua perusahaannya. Itupun dilakukan dengan diam-diam. Orang yang saya curigai itu bernama Tirta, Kris dan Berto. Fotonya sudah saya kirim ke handphone oom Kamil.” Ujar Nicky. “Oh iya. Satu lagi namanya Suta. Menurut saya dia adalah mata-matanya mereka untuk mengawasi keluarga kami. Sekarang Suta menjadi pacarnya kakak saya Amelia.”             “Kok dibiarin saja mas Nick? Suta jadi pacarnya Amel? Tanya Kamil.             “Itu tidak apa-apa oom. Sengaja biar kelompoknya tidak curiga. Amel sendiri tidak tau. Hanya saya dan ayah saja yang tau kalau Suta adalah keponakan Berto.” Jawab Nicky.             “Baik kalau begitu oom segera mencari tau siapa orang-orang itu.” Kata Kamil.             “Oom, rapat pemilik saham akan dilaksanakan pada hari Kamis minggu depan. Jadi oom hanya punya waktu 5 hari saja.”             “Saya coba maksimal untuk mencari informasinya mas.” Kata Kamil. “Kalau tidak ada apa-apa lagi saya permisi berangkat dulu.”             “Baik oom.” Nicky berdiri dan menyalami Kamil dan temannya.             Nicky dan Andre pun ikut keluar dari tempat itu. Kamil dan temannya menggunakan sebuah taksi menuju tempat kerjanya.             Nicky masuk kedalam mobilnya diikuti oleh Andre. Mereka berjalan menuju arah pulang.             Di persimpangan biasa Nicky berhenti karena Andre minta turun disitu. Dia akan pulang memakai angkutan umum yang banyak menuju arah rumahnya.             Setelah Andre turun Nicky kembali memacu mobilnya menuju rumah.             Pak Abiyasa yang pulang lebih awal sudah ada di rumah. Benaknya masih dipenuhi tanda tanya kenapa Tirta mengkhianatinya.             “Sudahlah Pah. Biasa dunia membuatnya silau.” Nicky membuyarkan lamunan ayahnya.             “Ah kamu Nick. Tau aja lagi.” Pak Abiyasa tertawa. “Gimana selesai urusannya?”             “Sudah Pah. Mereka mulai bekerja hari ini. Kalau yang itu bagaimana Pah?”             “Sudah juga Nick. 17 perusahaan Papah sudah mempersiapkan seluruh data. Ya masih ada waktu sekitar 10 hari lagi dari rapat pemegang saham.”             “Kalau begitu kelihatannya masih aman. Tinggal konsentrasi mencari tau siapa dalang sebenarnya.” Ujar Nicky. “Nicky ke kamar dulu ya Pah?”             “Iya Nick. Istirahat ya.”             Tiga hari menjelang rapau umum pemegang saham semua yang direncanakan oleh Nicky dan ayahnya sudah tuntas. Semua data perusahaan hasil pemeriksaan akuntan publik juga data dari Kamil tentang orang yang dicurigai sudah ada di tangan Nicky dan pak Abiyasa.             Ditempat lain Tirta dan kawan-kawan merasa senang kalau rencana jahat mereka akan berhasil menggeser pak Abiyasa dari pucuk pimpinan. Mereka sedang menghitung jumlah saham yang dibeli dari orang lain dengan cara yang tidak jujur. Ada yang melalui paksaan dan ancaman. Ada pula yang dibeli dengan harga yang lebih rendah dari harga jual umum.             Semua kegiatan jahatnya sudah dimonitor oleh Kamil sebagai salah bagian terkecil dari tugas Interpol.             Nicky berangkat lebih dulu karena akan menjemput Andre, Fitria dan Kamil dengan timnya.             Di persimpangan biasa mereka sudah berkumpul. Dengan mobil van yang dibawa Nicky mereka pergi hotel tempat rapat umum akan dilaksanakan.             Sengaja mereka masuk dari pintu belakang hotel untuk menghindari diketahui oleh peserta rapat yang juga menginap di hotel itu.             Salah satu staf perusahaan pusat ayahnya yang mengurus kamar istirahat timnya Nicky mendatangi van.             “Selamat pagi mas Nicky. Ini kunci kamarnya. Ada nama masing-masing di amplopnya.” Kata staf tadi.             “Iya pak. Terimakasih.” Nicky menerima kunci kamar hotel dan membagikan ke masing-masing timnya.             Sesudah mendapat arahan Kamil dan Nicky apa yang harus dilakukan, merekapun turun dari van dan berjalan terpisah menuju kamar masing-masing.             Tepat jam 9 pagi rapat umum pemilik perusahaan dimulai.             Semua urutan acara sudah dilaksanakan. Peserta rapat tinggal melakukan pembahasan masalah dan progress perusahaan kedepan.             Tirta yang sejak awal menyampaikan rasa ragu akan kemajuan perusahaan segera berdiri dan memulai paparannya. Dengan menggunakan slide Tirta menampilkan angka-angka dan tingkat kerugian perusahaan.             Sesudah selesai mendengar dan memperhatikan apa yang disampaikan Tirta, para pemilik saham meminta pak Abiyasa untuk membahasnya.             Pak Abiyasa tersenyum dan berdiri didepan. Fitria dan Andre masuk keruangan rapat membawa sebuah laptop yang berisi data-data hasil akhir pemeriksaan keuangan perusahaan. Nicky dibantu salah satu staf ayahnya masuk membawa tumpukan laporan keuangan perusahaan. Nicky menyimpannya didepan meja ayahnya.             “Baik bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian saya akan menyampaikan laporan kemajuan dan keuangan perusahaan milik kita.” Pak Abiyasa membuka paparannya.             “Saya sudah melihat dan mendengar pembahasan saudara Tirta tadi. Hanya sayangnya adalah bahwa data itu adalah data keuangan kita yang sudah kita bahas 3 tahun yang lalu.” Ujar pak Abiyasa tersenyum. “Saya akan membagikan buku laporan RUPS 3 tahun lalu sebagai bukti bahwa data laporan saudara Tirta adalah tidak benar.” Pak Abiyasa mengangguk kepada Nicky dan stafnya untuk membagikan buku laporan 3 tahun lalu.             Kemudian meminta Tirta untuk memperlihatkan slide yang tadi ditampilkannya.             “Sekarang silakan hadirin sekalian untuk melihat slide dan laporan. Perhatikan dan bandingkan hasilnya.” Pak Abiyasa meminta semuanya mengkoreksi.             Semua yang hadir dalam rapat umum segera membuka dan membandingkan angka-angka dan data buku laporan 3 tahun dengan slidenya Tirta.             Semua ruangan rapat menjadi ribut dan menyalahkan Tirta. Ada yang berteriak, ada yang mengumpat segala.             Pak Abiyasa mengetuk-ngetuk meja rapat. “Saya harap saudara sekalian tenang. Kita kan melihat hasil yang sesungguhnya dari kemajuan perusahaan kita termasuk keuangannya.” Kata pak Abiyasa.             Kembali pak Abiyasa memberikan isyarat kepada Nicky dan stafnya. Andre dan Fitria kembali mempersiapkan slide data perusahaan yang terbaru.             Semua melihat dan mendengar paparan pak Abiyasa. Tampaknya semua puas dengan pak Abiyasa. Ternyata perusahaan dalam kondisi sehat tidak seperti yang dituduhkan oleh Tirta.             “Itu palsu data palsu!” Teriak Tirta sambil berdiri. “Data yang disampaikan oleh Abiyasa adalah palsu.”             “Apa dasar saudara Tirta menuduh bahwa data saya palsu?” Kata pak Abiyasa.             “Semua data yang saya sampaikan adalah data valid . Saya peroleh dari sumber terpercaya.” Jelas Tirta.             “Oh gitu pak Tirta. Jadi selama ini pak Tirta tidak bekerja? Pak Tirta bekerja dari sumbernya pak Tirta? Pantesan semuanya salah.” Jawab pak Abiyasa.             Pintu ruang rapat kembali terbuka. Kamil dan temannya dari kepolisian masuk ruangan. Seorang direktur sebuah bank nasional juga masuk. Bank yang menjadi tempat perputaran keuangan perusahaan.             “Apa-apaan ini!” Tirta bangkit dari kursinya. Kris dan Berto pun ikut berdiri. “Kalau begitu saya akan keluar dari rapat yang tidak jelas ini.” Kata Tirta.             “Saudara Tirta! Saya Kamil dari kepolisian. Silakan saudara duduk ditempat.” Dengan suara lantang Kamil menyuruh Tirta dan kawannya untuk duduk kembali.             Tirta dan temannya kaget. Kamil menghampiri mereka dan berdiri dibelakangnya.             Tirta mengambil handphone. Kelihatannya dia mau menelpon.             “Saudara Tirta, saudara tidak diperkenankan untuk melakukan percakapan sekarang. Handphone kami ambil sekarang.” Ujar Kamil lalu mengambil handphonenya Tirta dan temannya.             “Baik saudara-saudara sekalian saya teruskan.” Ujar pak Abiyasa. “Silakan perhatikan laporan akhir pemeriksaan akuntan publik dihalaman terakhir. Bandingkan dengan laporan keuangan yang ada di bank kita. Silakan pak.” Pak Abiyasa mempersilakan direktur bank itu untuk menampilkan aliran keuangan perusahaan melalui slide.             Setelah selesai melihat dan membandingkan kebenaran fakta yang ada, seluruh anggota rapat terlihat puas.             “Sebentar saudara sekalian. Saya akan menampilkan kejanggalan yang terlihat pada pengeluaran perusahaan. Perusahaan ini ada dibawah pimpinan saudara Tirta, saudara Kris dan saudara Berto. Silakan lihat pada buku laporan bulan Pebruari. Ada sejumlah pembelian barang dan pengeluaran yang nilainya tidak fix sama dengan data laporan gudang dan hasil stock opname.” Kata pak Abiyasa menjelaskan. “Jumlahnya bisa saudara sekalian lihat. Hampir mencapai 4 milyar lebih.”             Kembali ruangan menjadi gaduh kembali.             Setelah suasana menjadi tenang, kembali pak Abiyasa meneruskan paparan dan temuan lainnya didepan para anggota rapat umum pemilik saham. Semua kecurangan dan tindakan tidak jujur Tirta, Kris dan Berto terlihat jelas dan terbukti.             “Sekarang saudara sekalian lihat jumlah saham yang dibeli kembali oleh saudara Tirta dan kawannya. Ada sejumlah saham yang dibeli dengan harga yang berbeda. Sebenarnya harga saham sudah ada patokannya di bursa perusahaan. Tetapi ada perbedaan yang menyolok apabila jumlah uang yang dibayarkan dibagi jumlah harga saham.” Sambung pak Abiyasa. “Hal itu menunjukan adanya kecurangan atau pemaksaan kepada pemilik saham untuk menjualnya agar saham yang dimiliki seseorang menjadi lebih besar lagi.”             Pintu ruang rapat kembali terbuka. Beberapa orang masuk kedalam ruang rapat.             “Saudara sekalian inilah orang yang akan menjadi saksi kalau orang ini harus menjual sahamnya dengan ancaman dan tuduhan yang tidak berdasar kepada mereka.” Ujar pak Abiyasa menunjuk kepada orang yang baru masuk itu.             Kembali rapat menjadi gaduh.             “Tenang saudara sekalian. Semuanya sudah ada dalam pengawasan kepolisian. Termasuk orang-orang yang mengancam dan melakukan tindak tidak terpuji ini.” Pak Abbiyasa berdiri dan kembali duduk di kursi rapatnya.             Hampir jam 5 sore rapat umum selesai dan ditutup oleh pak Abiyasa. Sedangkan Tirta dan kawannya ditangkap oleh kepolisian atas dasar tindakan penyelewengan keuangan perusahaan dan pencemaran nama baik.             Suta ditangkap di rumahnya berikut barang bukti dokumen atas tindakan penyelewengan Tirta dan kawannya.             Pak Abiyasa merasa bersyukur kalau dirinya terlepas dari kejahatan yang akan menimpanya. Di hotel itu juga pak Abiyasa menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Kamil dan kawan-kawannya yang sudah membantunya. Terutama kepada Andre dan Fitria yang sudah banyak membantu Nicky dalam membuka kedok Tirta.             Merekapun meninggalkan hotel disertai ucapan selamat dari para pemilik saham perusahaan dan kembali meminta agar pak Abiyasa untuk tetap memimpin perusahaan multi nasionalnya. Disamping jujur juga pak Abiyasa adalah pemilik saham terbesar dari perusahaan-perusahaan miliknya.                          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN