CHAPTER #20
RINTANGAN CINTA
Pagi itu suasana kampus sudah banyak para mahasiswa yang hadir di area lapangan basket. Ada semacam bazar kampus tahunan yang rutin diselenggarakan.
Fitria yang sudah datang dari pagi tampak sedang membereskan stand boots nya untuk menjual hasil karya para mahasiswa.
“Fit! Fit!” Nicky berteriak dan melambaikan tangannya.
“Hai Nick.”
“Sini bentar!” Nicky nge-gas suaranya karena Fitria tidak kunjung menghampirinya.
“Iiih apaan sih Nick.” Fitria berjalan dan menghampiri Nicky dipinggiran lapang basket yang tampak sudah mulai banyak pengunjung bazar mendatanginya.
“I love you Fit.” ucap Nicky memegang tangan Fitria saat sampai dihadapannya.
Fitria bengong mendengar dan melihat kelakuan Nicky.
“What? Jauh-jauh aku jalan cuma mo bilang gitu Nick? Iiihhh!” Fitria terlihat kesal dan menghentakan kakinya ketanah.
Nicky tertawa senang. Lalu mendekati Fitria dan mencubit pipi merah Fitria.
“Aww! Sakit Nick!” Teriak Fitria sampai-sampai semua orang melihat kepada mereka. Untungnya mereka tau kalau Fitria adalah pacarnya Nicky.
“Emm… Fit. Gimana kalau nanti kita jalan ke pecel lelenya bang Nasir di belokan arah rumah kamu itu. Mau?”
Fitria tidak menjawab malah menutup mulutnya seperti menahan tawanya.
“Fit!” Nicky nanya lagi. Kali ini berkerut keningnya.
Meledaklah tawa Fitria.
“Nick! Nick! Kamu itu lucu banget deh.” Fitria menarik hidungnya Nicky. “Ada dua kelucuan hari ini di kamu Nick. Pertama, masa orang terkaya di Indonesia ngajak makan di pecel lele.” Fitria memegang perutnya mengelilingi Nicky. “Kedua, nggak lucu jauh-jauh nyamperin kamu cuma mau bilang I love you dan ngajak makan lele doang.” Kata Fitria berhenti tertawanya dan membalikan badannya berjalan kembali ke stand nya.
Nicky melongo melihat Fitria pergi begitu saja dari hadapannya tanpa basa-basi.
“Fit! Hey Fit! Tunggu.” Teriak Nicky mengejar Fitria.
Fitria berhenti dan menengok kebelakang.
“Maau ngapain lagi sekarang Nick?” Tanya Fitria.
“Kok kamu pergi begitu saja ninggalin aku Fit? Kenapa marah ya? Atau aku salah kalau ngajakin kamu makan di pecel lele?”
“Ah nggak, kamu nggak salah Nick. Dimana saja boleh kok ngajak orang makan. Tadi kan aku hanya bilang kamu lucu hari ini dan bikin aku kesal Nick.” Fitria ketus. “Nah sekarang apa lagi?” Tantang Fitria badannya menghadap Nicky.
“Nggak ada apa-apa lagi Sayang. Aku hanya mau dengar saja kamu mau nggak makan pecel lele? Itu saja.” Kata Nicky memegang tangannya Fitria.
“Iya aku mau. Sekarang biarin aku kembali ke stand ya Nick.”
“Ok, ok. Aku tunggu nanti di parkiran mobil ya Fit.” Nicky tersenyum.
Fitria mengangguk sambil geleng-geleng kepalanya.
Fitria membalikan badannya dan berjalan menuju stand nya. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan Fitria membalikan badannya lagi dan memanggil Nicky.
“Nick! Nick! Sini bentar.” Teriaknya.
Nicky yang sudah berjalan menuju ruang kuliahnya berhenti dan menoleh kebelakang.
“Kenapa Fit?”
“Sini bentaaar saja.”
Nicky tidak menjawab tapi langsung menuju Fitria yang berdiri menunggu.
“Ada apa Fit?”
Fitria tidak menjawab tapi malah mukanya maju mendekati Nicky dan mencium pipinya Nicky. “I love you too Nick.”
Giliran Nicky yang tertawa keras sekarang.
“Gotcha” Kata Fitria berlari meninggalkan Nicky yang sedang tertawa.
Nicky memukul keningnya sendiri sambil bergumam “Kena dikerjain gua.”
Dikejauhan lapang basket Jeane yang melihat semua kejadian antara Fitria dan Nicky hatinya terasa perih kembali melihat kemesraan mereka berdua.
Jeane mempercepat jalannya untuk mengejar jalannya Nicky yang menuju ruang kuliah dan berhasil menyusulnya saat mau masuk ruangan.
“Hai Nick.” Sapa Jeane.
“Ehh Jeane. Apa kabar?”
“Baik Nick. Kamu gimana? Sudah 5 hari ya kita nggak ketemu dikampus, kemana aja Nick?” Tanya Jeane.
“Masa sih? Perasaan aku masuk kuliah terus Jean. Jadi harusnya aku yang nanya kemana saja.” Balas Nicky yang sudah mendapat kursi kuliah.
Jeane belum menjawabnya tapi sudah duduk disebelah kursi kuliah Nicky.
“Mana Fitria Nick?” Jeane pura-pura tidak tau.
“Oh, dia lagi di stand bazar lagi kena giliran jaga sampai jam 15.00 nanti. Kamu nggak lihat bazar Jean?”
“Nggak Nick.”
“Hai bro.” Andre yang baru datang langsung menepuk pundak Nicky dan duduk dibelakang kursinya Nicky. “Kok tidak nemenin calon istri sih bro? Kasian loh Nick masa dia harus disana bareng Risma.”
Nicky mengerti maksud arah pembicaraan Andre.
“Aku sudah ketemu dia tadi Dre. Malah pipiku dapat hadiah kecupan.” Balas Nicky tertawa dan menunjukan pipinya kepada Andre.
Jeane merasa wajahnya agak panas mendengar ucapan Nicky dan Andre.
“Malah ntar sore aku mo ke pecel lele bareng Fit.”
“Aseek. Gua ikut Nick.” Kata Andre.
“Ya nggak boleh dong Dre. Ntar nggak asik dong kitanya.” Kata Nicky tertawa.
Nicky dan Andre berhenti ngobrolnya karena dosennya sudah datang dan perkuliahannyapun sudah dimulai.
Bel akhir kuliah sudah berbunyi tanda usai sesi kuliah.
Nicky dan Andre berdiri dan berjalan menuju ke luar ruangan kuliah.
“Nick!” Jeane memanggil Nicky. “Mau kemana kalian? Aku ikut dong!”
“Aku dan Andre mau ke cafetaria. Mau makan ketoprak dan nganterin mie ayam buat Fitria.” Kata Nicky tidak berhenti berjalan.
Jeane ikut berjalan mengikuti mereka ke cafetaria kampus. Dalam hatinya bertambah perih karena merasa Nicky menjadi jauh darinya sejak kejadian dengan Desmond sebelumnya.
Setibanya di cafeteria Nicky dan Andre pesan ketoprak dan mie ayam untuk Fitria.
Jeane yang dari tadi mengikuti Nicky dan Andre menjadi agak rikuh karena mereka berdua tidak mengajaknya. Lalu Jeane tanpa menghiraukan mereka menuju meja makan sendiri agak jauh. Hatinya teriris.
Setelah selesai makan ketoprak di cafeteria Nicky dan Andre lalu keluar dan menuju stand nya Fitria membawa mie ayam kesukaannya.
“Fit, nih aku bawa mie ayam.” Kata Nicky sambil meletakan bungkusan mie didepan Fitria.
“Hey, makasih Sayang.” Balas Fitria memegang tangannya Nicky. “Kamu baik deh. Oh iya nanti sore jadi kan Nick makan pecel lelenya?”
“Jadilah Fit. Itukan sudah aku rencanain dari semalam.”
“Tapi ember nggak ikut kan?” Mata Fitria melirik kearah Andre yang senyum-senyum asam.
“Nggak lah Sayang. Ntar ganggu nge-date kita dong.” Nicky tertawa.
“Iya, iya aku nggak ikut. Lagian ngapaim jadi kambing congek ngeliatin kalian bermesraan. Ihh..sorry ya.” Tukas Andre yang sudah duduk disebelah Fitria.
“Duh segitu marahnya sahabat kita ini Nick.” Kata Fitria. “Besok aku bawain lelenya yah.”
“Ogahhh. Hiyy, maaf kagak level.” Andre menggerakan bahunya.
Fitria dan Nicky tertawa melihat kelakuan sahabatnya. Lalu Nicky memegang Andre dan menepuk-nepuk pundaknya.
“Sabar ya Dre. Makanya carilah pacar biar nggak kesepian.”
Andre melotot matanya. Tapi kemudian dia ikut tertawa juga.
Akhirnya ketiga sahabat itu tertawa bersama-sama sampai-sampai orang melihat kearah mereka saking kerasnya suara tertawa.
Jam 15.10 Fitria dan Nicky sudah ada didalam mobilnya Nicky. Mereka segera melaju menuju penjual pecel lele yang ada di dekat persimpangan arah ke Simpruk juga kearah rumahnya Fitria.
Setelah memarkirkan mobilnya Nicky dan Fitria masuk ke tenda jualan pecel lele dan memesannya.
“Fit, minumnya apa?” Tanya Nicky.
“Teh manis saja Sayang.” Sahut Fitria yang sedang mengambil krupuk.
“Oke. Samain saja ya.” Balas Nicky.
“Oh iya Fit. Nanti pas pulang nganterin kamu, aku anterin sampai depan rumah ya. Sekalian sudah lama nggak ketemu papa dan mama kamu.” Pinta Nicky.
“Nggak usah lah Nick. Biar aku turun di belokan saja. Jadi biar kamu enak muterin mobilnya. Lagian kan sudah dekat kalau dari belokan ke rumahku.” Balas Fitria yang sudah duduk kembali disebelah Nicky.
“Kenapa sih Sayang kamu selalu saja menolak aku anterin sampai depan rumah kamu? Ada pacar lain ya?” Selidik Nicky.
“Nah mulai lagi deh. Nggak apa-apa Nick. Aku hanya ingin kamu mudah saja memutarkan mobil saja. Nggak ada alasan lainnya. Kenapa sih Nick? Curiga kalau saya selingkuhin kamu ya” Balas Fitria memandang wajah Nicky.
“Ohh bukan Fit. Bukan karena curiga atau cemburu. Hanya heran saja. Sudah hampir setahun kita pacaran, baru 2 kali saja saya nganterin kamu sampai depan rumah. Itu saja.”
“Ya sudah Nick that’s not big deal right.” Balas Fitria. Agak kesal terdengar suaranya.
“Iya, iya. Oke Fit. Nggak masalah kok. Eh, makanannya sudah datang nih. Kita makan ya Sayang.” Nicky membelokan pembicaraannya.
“Hmmm, enak nih kelihatannya. Makan yuk!” Ajak Fitria tersenyum manis.
Tidak lebih dari 30 menit mereka makan di tenda pecel lele itu. Mereka keluar dan menuju mobilnya Nicky kembali.
Setelah melaju 10 menit Nicky meminggirkan kendaraannya tepat sebelum belokan yang menuju rumah Fitria.
“Oke Sayang sudah sampai. Hati-hati dijalan yah, jangan ngebut-ngebut.” Ujar Fitria memegang tangannya Nicky. “Maafin aku tadi ya Nick. Jangan salah paham. Percayalah aku sangat sayang kamu dan aku akan setia sama kamu Nick.”
“Iya Fit. Aku percaya kamu. Nanti jangan malam-malam tidurnya yah. Jangan lupa mandi dulu. Bau soalnya.” Kata Nicky tersenyum mesra. Lalu dia menarik tangannya Fitria dan mencium pipinya. “Selamat istirahat Fitria Sayang.”
“Kamu juga istirahat ya Nick.” Fitria membalas membalas mencium pipinya Nicky.
Fitria kemudian keluar dari mobilnya Nicky dan melambaikan tangannya sebelum dia berjalan menuju rumahnya. Nickypun membalas lambaian tangan Fitria..
Nicky segera memutar balikan mobilnya dan melaju menuju kawasan Simpruk.
Nicky memacu mobilnya agar cepat sampai kerumah dan istirahat di kamarnya.
Dibelokan jalan menuju rumah sebuah mobil sport tiba-tiba memotong jalan Nicky dengan cepat dan hampir saja menyenggol mobilnya. Nicky kaget dan mengerem mobilnya.
Mobil yang memotong jalan itu berhenti dipinggir jalan dan membuka pintu mobilnya. Nicky acuh saja jalan lagi melewati mobil itu dan tidak memperhatikannya sedikitpun.
“Nick! Nicky! Tunggu!” Seorang gadis melambaikan tangannya meminta Nicky berhenti.
Nicky sempat melihatnya dan memberhentikan mobilnya dipinggiran jalan. Mobil itu kembali bergerak mendekati Nicky berhenti.
“Hai Nick! Sorry hampir saja saya menabrak yang kedua kalinya. Kamu tidak apa-apa kan?” Rupanya Santi tetangga Nicky yang dulu menabraknya hingga dia memperoleh kemampuannya seperti sekarang ini.
“Hai San. Nggak, nggak apa-apa kok. Hanya kaget saja. Lagian ngapain sih pake motong-motong jalan orang.” Ujar Nicky sambil tersenyum.
“Iya Nick. Aku lupa lagi nginjak rem. Malah aku nginjak gas. Ya gitu deh jadinya. Maafin aku ya Nick.” Pinta Santi sambil mengangkat tangannya dan merapatkan didadanya.
“It’s OK San.” Balas Nicky. “Habis darimana memangnya San?” Tanya Nicky sopan dan mencoba duduk diatas mobilnya.
Santi yang sudah berdiri disebelah Nicky, tidak banyak basa-basi lagi langsung ikut duduk diatas mobilnya Nicky juga.
Semerbak bau harum Santi membuat Nicky baru sadar kalau Santi sudah duduk disampingnya.
Nicky gelagapan dan hampir jatuh dari mobilnya. Untungnya kakinya sampai ke jalan jadi tidak terjadi hal itu.
“Aku baru balik dari kampus tadi. Tapi sebelum pulang aku dibawa mampir dulu ke blok S dan makan sate ama baso bang Dul. Enak loh Nick. Sekali-kali kita kesana yah nanti.” Balas Santi yang tiba-tiba menjadi akrab banget dengan Nicky.
“Iiii..yaa San.” Nicky gelagapan. Tanpa disengaja tangannya menyentuh jemari tangannya Santi yang ada disebelahnya. Sekilas munculah bayangan Santi saat dia memegang perutnya dan muntah di mobil. Rupanya dalam bayangan benak Nicky Santi tidak ke blok S tapi ke salah satu cafe di blok M.
Nicky melihat Santi sedang meminum champagne dengan seorang laki-laki yang Nicky dengar namanya Boy.
Nicky tersenyum dan baru tau kalau Santi berbohong kepadanya.
“Kok dari blok S tapi mulutnya bau champagne ya? Memangnya di blok S ada baso rasa itu San? Ini mah bau cafe kayaknya. ” Ujar Nicky tertawa.
Santi kaget bukan kepalang. Heran darimana Nicky tau kalau dia di cafe minum champagne. Padahal Santipun sudah mengunyah permen karet biar tidak tersebar bau minumannya.
“Ihh, sok tau kamu Nick. Bau apaan mulut aku memangnya.” Santi mendekatkan mulutnya ke Nicky.
“Itu bau minuman San. Aku tau bau itu. Temanku pernah ada yang meminumnya, jadi ya aku tau lah.” Balas Nicky. “Dan biasanya kalau perempuan minum-minum biasanya ditemenin sama laki-laki.”
“Laki-laki? Siapa yang nemenin aku Nick?” Santi pura-pura heran padahal dia kaget banget karena Nicky tau pasti kalau dia bersama laki-laki.
“Maksud saya biasanya San.” Potong Nicky mencairkan suasana.”Setau saya begitu. Biasanya orangnya sudah dekat. Boleh nggak aku nebak siapa orangnya?” Lanjut Nicky.
“Boleh, boleh coba siapa dia Nick?”
“Tapi kamu harus jujur jawabnya ya San.”
“Ok, saya akan jawab jujur Nick.” Balas Santi penasaran.
“Ok San. Yang biasanya laki-laki mengantar pacarnya ke cafe dan mengajak minum-minum namanya tidak jauh dari Riko, John, atau Boy. Coba yang mana yang benar?” Kata Nicky tertawa.
Santi bengong karena Nicky menyebut sebuah nama yaitu Boy pacarnya.
“Ih kok tau sih Nick! Nama temen deket aku memang Boy.” Balas Santi.
“Temen deket apa pacar sih San? Kayaknya pacar deh.”
“Iya, iya sekarang masih pacaran.” Balas Santi memerah mukanya ketauan.
“Tenang saja San. Itu semua bukan urusanku. Jadi rahasia ini aman denganku.” Kata Nicky sambil berdiri dari mobilnya. “Kelihatannya sudah lama kita disini. Saya mau pulang sekarang San, boleh kan?”
“Oh. Ya boleh dong. Nggak ada yang larang kamu pulang.” Kata Santi tertawa. “Tapi inget jangan bilang-bilang kalau aku sudah dari cafe dan minum ya Nick.”
“Iya San. Tapi bagusnya jangan diulang lagi deh. Nggak ada manfaatnya kalau menurut saya mah.” Ujar Nicky dan menyalakan mobilnya. “Bye San.”
“Bye Nick. Thanks for your advices ok!” Balas Santi dan melambaikan tangannya kepada Nicky.
Tanpa menoleh Nickypun mengangkat tangannya.
Santi berjalan menuju mobil sportnya dengan sejuta tanya. Darimana Nicky bisa tau tentang kegiatannya hari ini.
Santipun segera menyalakan mobilnya dan jalan menuju rumahnya.
Nicky langsung menghempaskan badannya di tempat tidur begitu sampai dirumahnya. Bayangan Fitria masih melekat dimatanya seolah tak mau lepas. Meskipun sudah tau tapi tetap saja Nicky masih heran dengan sikap Fitria. Untuk menghilangkan kepenasarannya Nicky meraih teleponnya dan menghubungi Fitria. Telepon tak pernah kunjung tersambung dengannya.
Ada sedikit penasaran yang muncul dari benaknya Nicky.
Nicky tersentak kaget saat teleponnya berdering.
“Hallo!”
“Hai bro, belum tidur?” Suara Andre.
“Belum Dre, pusing gua mikirin Fit.” Balas Nicky lemas.
“Nah, kan apa ku bilang. Makanya jangan main api Nick. Tapi sudahlah jangan terlalu dibuat terlalu resah.” Ujar Andre. “Nick! Boleh nggak gua bicara sedikit?”
“Kenapa memangnya Dre?” Tanya Nicky.
“Nggak, tadi sekilas aku melihat Jeane begitu muram waktu tidak kita ajak ke cafetaria. Jadi nggak enak yah. Gimana kalau besok kita candain dia biar nggak ada perasaan tersinggung. Biar aku saja deh yang mulai godainnya. Kalau lu ntar rame lagi deh ama Fit.”
“Iya sih Dre. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kalau terlalu dekat juga ntar dia salah sangka lagi sama gua. Makanya aku agak menjaga jarak saja Dre. Bukan menjauhi dia.” Balas Nicky.
“Iya gua juga ngerti kok bro. Kasian juga dia Nick. Setelah kejadian Desmond tahun lalu dia jadi agak gimana gitu ama kita.”
“Ya sudah. Kalau gitu lakuin aja rencana lu ya Dre. Aku dukung.”
“Siplah bro. Oke deh kayaknya lu harus istirahat. Gara-gara lele tuh bro.” Tawa Andre
“Sialan lu Dre. Oke deh. Sampai besok Dre. Bye.” Nicky menutup teleponnya.
Malam semakin larut tapi Nicky belum tidur juga. Tingkah polah Fitria membuatnya semakin dalam cintanya.
“I love you Fit.” Kata Nicky mencium foto Fitria