#21-SANTI YANG MENGGODA

2496 Kata
CHAPTER #21   SANTI YANG MENGGODA                 Andre yang sudah datang pagi hari ini langsung masuk keruangan kuliahnya. Rupanya kali ini dia benar-benar akan menjalankan rencananya untuk menggoda Jeane gara-gara merasa tidak enak hati kemarin.             Setelah memilih kursi kuliah Andre langsung beres-beres buku kuliahnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan. Mahasiswa lain yang sudah hadir lebih dulu diruangan merasa heran dan kaget melihat Andre. Mereka heran sebab tidak pernah sekalipun Andre melakukan hal seperti itu apalagi membawa bungkusan.             “Hey Dre. Tumben rajin beres-beres lagian apaan tuh yang dibungkus?” Tanya seorang perempuan teman kelasnya Andre.             “Ini.” Kata Andre menunjuk bungkusannya. “Rahasia dong ah.”             Temannya itu hanya geleng-geleng kepalanya saja tanpa komentar. Malah langsung keluar ruangan kelas lagi.             “Hallo ember!” Sapa Fitria dan Nicky yang baru datang. Mereka langsung duduk dikursi belakang Andre yang masih kosong.             “Wah, wah. Nyonya dan tuan baru datang rupanya. Hallo juga.” Balas Andre.             “Eh apaan tuh Dre? Buat aku ya.” Tanya Fitria yang langsung mau mengambil bungkusan disebelah Andre.             “Eits…Bukan ini bukan buat nyonya. Ini buat someone dong.” Andre menyembunyikan bungkusannya dibawah kursi diatas tas kuliahnya.             “Ohhh, gitu ya. Aku jadi penasaran. Siapa dia Dre?”             “Ada ajaaa.” Kata Andre tertawa. “Jangan terlalu penasaran deh Fit. Ntar tuan disebelah jadi ikutan ingin tau.”             Lagi mereka ngobrol dan bercanda bertiga, dari arah pintu masuk ruangan Jeane sudah menyapanya.             “Selamat pagi Nick, Dre, Fit!”             “Hey Jean, selamat pagi!” Andre langsung menjawab mendahului yang lain.             Sontak Nicky dan Fitria saling pandang heran. Andre tdak pernah sesemangat seperti pagi ini.             “Pagi Jean!” Balas Nicky.             “Hey Jean, pagi juga.” Fitria membalas sapaan Jeane. “Ehh mari duduk disebelahku Jean?”             “Ehhh nggak usah disitu Jean. Sebelah aku saja ya?” Andre menyambar pembicaraan Fitria dan Jeane. “Soalnya disebelah nyona Fitria sudah ada tuan Nicky. Jadi Jean duduknya sama Andre saja.” Lanjut Andre berdiri dan membersihkan kursi kuliah disebelahnya.             Jeane merasa heran melihat kelakuan Andre. Tapi Jeane tetap saja jalan menuju kursi disebelah Andre dan mendudukinya.             “Apaan sih Dre. Maksa banget. Curiga aku. Hati-hati Jean.” Kata Fitria tertawa. “Pasti ada maunya tuh.”             Jeane hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya kepada Fitria.             “Memangnya ada apa Dre? Lagian tumben nawarin kursi kuliah padahal tidak pernah sekalipun dari dulu. Modus ya?” Kata Jenae memandang Andre yang tampak agak gelapan diberondong pertanyaan oleh 2 orang perempuan sekaligus.             “Ehh, nggak ada apa-apa ko Jean. Hanya nawarin saja. Yang lainnya gua bawa makanan dari rumah buat kamu.” Kata Andre yang sudah mengambil bungkusan dibawah kursinya. “Nih  bakwan goreng sama tempe mendoan. Tadi gua beli di jalan.” Lanjut Andre menyerahkan bungkusannya kepada Jeane.             “Aduhh so sweet Dre. Makasih ya. Baik banget kamu.” Fitria menyodorkan tangannya seperti akan mengambil bungkusannya.             “Ihh. Bukan untuk kamu Fit. Ini buat Jeane.” Andre menarik kembali bungkusannya.             “Makasih Dre.” Balas Jeane menerima bungkusannya. “Kamu mau Fit?” Tanya Jeane menawarkan bungkusannya.             “Nggak ah Jean. Lagi pula Andre bawa hanya untuk kamu. Siapa tau modus biar kamu tertarik.” Balas Fitria tersenyum.             “Kamu mau Nick?” Jeane menawarkannya kepada Nicky.             “Nggak Jean. Makasih. Makan saja Jean kasian Andre jauh-jauh bawa makanan buat kamu.” Nicky menjawab tawaran Jeane.             “Ya sudah kalau begitu biar aku makan sendirian. Kayaknya enak nih.” Jeane membuka bungkusannya dan mulai memakan tempe mendoan. “Hmm. Bener-bener enak nih Dre. Cobain deh.” Kata Jeane mengambil satu mendoan dan memberikannya kepada Andre.             “Iya Jean. Makasih.” Andre menerima mendoannya dan langsung memakannya.             Fitria dan Nicky tersenyum dan saling pandang. Mereka merasa senang melihat Andre sudah berbuat baik kepada Jeane.             Disisi lain Jeane acuh saja makan mendoan yang dibawain oleh Ande tanpa berpikiran macam-macam. Sementara Andre merasa senang sebab rencananya berhasil mencairkan suasana yang sempat memanas kemarin.             Tidak terasa dua sesi mata kuliah sudah terlewati ketika bel tanda berakhir berbunyi. Semua mahasiswa keluar dari ruangan kuliah tidak ketinggalan Nicky dan para sahabatnya juga diikuti Jeane.             Nicky yang merasa penat karena udara siang itu agak panas berjalan kearah taman kampus yang kelihatannya dingin karena terlindungi pohon-pohon yang rindang.             Nicky segera mengambil tempat yang lebih teduh diikuti oleh teman-teman lainnya.             “Sayang kamu haus?” Fitria membuka pembicaraannya. Dengan tangan yang masih memegang jemari tangan Nicky.             “Iya Fit tapi sedikit. Memangnya kamu haus ya? Mau ke cafetaria saja?” Ajak Nicky memandang mukanya Fitria.             “Ohh nggak Nick. Hanya nanya saja.” Balas Fitria yang membenarkan duduknya disebelah Nicky.             “Emhh gimana kalau saya saja yang beliinnya?” Jeane mencoba menawarkan diri.             “Iyaa, gimana? Biar gua juga yang nganterin Jean.” Tambah Andre.             Fitria tersenyum kepada Nicky dan mengangguk. “Boleh deh. Tapi maaf bukan nyuruh ya Jean.”             “Iya nggak apa-apa kok Fit. Lagi pula akunya yang mau beliin kalian.” Tukas Jeane. “Yuk Dre.”             “Oke Jean. Ayo.” Andre semangat dan langsung berdiri.             Belum lima langkah dari situ Andre sudah memberi isyarat tangan dibelakang punggungnya kalau dia itu merasa berhasil. Nicky dan Fitria tertawa kecil dibuatnya.             Selang 2 menit Nicky dan Fitria mendengar suara siulan dan suitan dari mahasiswa laki-laki dari kelas lain yang tidak jauh dari mereka berada. Nicky yang penasaran ada kejadian apa segera menengok kearah ramainya suitan itu.             Dari kejauhan Nicky melihat seorang perempuan yang sedang berjalan berkaca mata hitam dengan pakaian yang sportif dan terlihat menarik. Tampaknya perempuan itu acuh saja meskipun suasana merubah agak menjadi gaduh karenanya.             Kemudian Nicky melihat perempuan itu bertanya kepada salah seorang mahasiswa yang ada disitu. Nicky melihat mahasiswa itu menunjuk kearah taman kampus dimana dia dan Fitria berada.             Perempuan itu kemudian mengangguk dan berjalan kearah taman.             “Hey Nick!” Sapanya ketika sudah ada didepan Nicky.             “Hey!” Sahut Nicky. “Maaf siapa ya?”             “Ya ampun Nick. Kamu nggak ngenalin aku? Aku Santi.” Katanya sambil membuka kacamata hitam yang membuat Nicky tidak mengenalinya.             “Ehh Santi.” Balas Nicky berdiri. “Maaf saya betul-betul tidak mengenali kamu San. Oh iya ayo duduk disini.” Nicky menawarkan tempat duduknya disebelah kiri Fitria.             Santi tanpa ragu langsung duduk setelah mengangguk kepada Fitria.             “Oh iya San. Kenalin ini Fitria, pacar saya.” Kata Nicky menunjuk kepada Fitria.             Fitriapun tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Santi. “Fitria.”             “Santi.” Ucap Santi menjabat tangan Fitria. “Ihh cantik kamu Fit. Cocok deh sama Nicky.” Lanjut Santi.             “Makasih. Ahh biasa saja San.” Balas Fitria tersenyum.             Nicky segera mengambil posisi duduknya dan ada disebelah kanan Fitria.             “Tumben San datang ke kampusku. Ada perlu apa disini?” Tanya Nicky memulai pembicaraannya dengan Santi.             “Nggak ada apa-apa kok Nick. Tadi pas lewat didepan aku jadi inget kalau kamu ada di kampus ini. Ya terus aku belokin deh mobilku buat ngeliat kampusnya sekalian.” Jawab Santi. “Ehh ternyata bagus dan asri ya disini.”             Saat mereka sedang ngobrol Jeane dan Andre datang dengan membawa minuman dingin menghampiri.             “Ini Nicky.” Kata Jeane memberikan minumannya.”Ini buat Fitria.”             Jeane berhenti dan memandang Santi yang ada disebelah Fitria.             Nicky lalu mengenalkan Jeane dan Andre kepada Santi.             “Santi ini tetangga saya di Simpruk hanya beda beberapa rumah saja. Dan Santi juga yang waktu itu saya kecelakaan dengan si Jagur.” Lanjut Nicky.             “Ohh. Jadi ini yang membuatmu masuk rumah sakit Nick?” Andre nyerocos menghampiri Santi yang bengong melihat Andre.             “Iya Dre. Tapi Santi sudah meminta maaf pada gua bersama keluarganya. Jadi masalahnya sudah selesai.”  Ujar Nicky.             Mendengar omongan Nicky begitu Andre kembali ke tempat dekat dengan Nicky dan Fitria disebelah Jeane yang sudah duduk duluan.             “Iya saya dan Nicky urusannya sudah selesai. Jadi maafin saya kalau ada teman-teman Nicky yang masih marah.” Ujar Santi menghela nafas dengan muka tertunduk.             Lama kelamaan mereka itu menjadi akrab dan saling bertukar cerita.             Tidak terasa hari sudah siang Santi pamit untuk pulang. Nicky yang menjadi alasan Santi ke kampus mengantarnya sampai parkiran mobil.             “Makasih Nick.” Kata Santi setelah ada didalam mobilnya. “Sorry ya kalau acara kalian tadi jadi terganggu.”             “Nggak masalah kok San. Kamu boleh datang kapan saja.” Balas Nicky. “Thanks ya San ditengokin.” Nicky melambaikan tangannya.             “Bye Nick.” Jawab Santi.             Mobil Santi mulai berjalan menuju gerbang kampusnya Nicky yang selanjutnya melaju menuju entah kemana.             Hatinya Santi gundah. Perasaannya menjadi hampa lagi seperti sebelumnya. Ternyata Nicky sudah mempunyai pacar. Pupus sudah harapannya untuk memilih Nicky menjadi pacarnya.             Kecepatan mobilnya malah bertambah kencang seiring melelehnya airmatanya.             Terbersit dalam hatinya niat yang tidak baik dan penuh keinginan untuk menguasai Nicky seutuhnya untuk dirinya.             “Kenapa kamu cengeng San? Bukankah Nicky belum memiliki Fitria penuh? Bukankah mereka belum menikah? Kamu masih ada kesempatan untuk mengambil Nicky dari sisi Fitria. Hey! Wake up girl, come on!” Bisikan hatinya semakin keras.             “Yes!” Santi berteriak dalam mobilnya dan tertawa sendiri.             Nicky yang sudah sampai kembali di taman kampus duduk lagi disebelah Fitria dan kembali meneruskan obrolannya.             “Nick.” Kata Jeane. “Kamu sudah tau kalau Desmond sudah keluar dari penjara?”             “Belum Jean, kapan?” Balas Nicky. Fitria dan Andre langsung berhenti ngobrolnya mendengar cerita Jeane tentang Desmond. “Seingatku kalau tidak salah Desmond itu dihukum satu tahun delapan bulan. Kok ini baru setahunan kalau nggak salah, Desmond sudah keluar sih?” Fitria mencoba mencocokan ceritanya Jeane. “Iya aku juga ingatnya begitu Fit.” Jeane menjelaskan. “Tapi hari kamis minggu lalu aku dengar dari temannya yang dekat dengan rumahku, katanya sudah keluar karena berkelakuan baik.” Tuturnya lagi. ‘Ya syukurlah kalau sudah baik sih.” Andre menimpalinya. “Hanya jangan macam-macam lagi saja sama sahabt-sahabat gua, aku habisin dia kalau begitu lagi.” “Hiss! Jangan sembarangan ngomong Dre, pamali dan nggak boleh berpikiran jelek begitu. Siapa tau dia memang benar-benar berubah.” Ujar Fitria. Nicky yang mendengarkannya malah melongo dan pikirannya melayang kembali ke masa waktu Desmond di tangkap kepolisian atas bantuan pamannya Andre. “Nick! Hey! Kok malah melamun Sayang.” Fitria membuyarkan lamunannya Nicky. “Ehh, ehh. Sorry. Aku terbawa arus ceritanya.” Nicky terkejut dan membetulkan duduknya. “Jadi Desmond sudah keluar hari kamis lalu ya Jeane.” Nicky mengulang omongannya Jeane. “Iya Nick.” Kata Jeane lagi. “Terus sekarang dia ada dimana Jean? Maksud aku apa kamu sudah ketemu dengan Desmond?” Tanya Nicky. “Belum tuh Nick. Lagian ngapain aku ketemu dia lagi. Hati aku masih sakit dan dendam banget kalau ingat apa yang dia sudah lakuin ke aku.” Jeane menjawab pertanya Nicky. Ada sedikit nada kesal bicaranya. “Ohh. Nggak aku nanya saja. Siapa tau Desmond menemui kamu setelah bebas dari penjara.” Tukas Nicky. “Ngapain nanyanya gitu sih Nick? Nggak ada kali perempuan yang disakiti laki-laki mau ketemu lagi.” Malah Fitria yang menyahut. Sebenarnya Fitria merasa kesal mendengar Nicky mengungkit kembali cerita tentang Desmond dan Jeane. Sebab dia tau waktu itu Jeane sangat menyukai Nicky. Selain itu Nicky bercerita terlalu dekat dengan Jeane duduknya. Nicky yang merasa ada tekanan nada bicara Fitria mengerti maksudnya. Kemudian Nicky berdiri dari duduknya dan berjalan seolah-olah memikirkan sesuatu untuk menenangkan hati Fitria. Andre yang melihat dan mendengarkan jadi tersenyum. “Aku hanya menyampaikan saja Nick biar kalian aware terhadap Desmond. Sebab saya tau kelakuan dan sikap Desmond diluaran sedikitnya dia agak pendendam.” Lanjut Jeane. “Temannya bilang waktu itu, Desmond mempunyai niat untuk kekampus. Katanya ingin menemui aku dan kamu Nick.” “Gitu ya. Ya nggak apa-apa sih, asal jangan berbuat onar lagi saja.” Ujar Nicky sambil duduk kembali disebelah Fitria yang agak jau dari Jeane. “Iya Nick. Aku juga berharap begitu. Mudah-mudahan saja dia benar-benar berubah sekarang.” Jeane menundukan wajahnya. Fitria yang melihat perubahan Jeane segera memegang pundaknya Jeane. “Tenang Jean. Tidak akan terjadi apa-apa kok. Kalau dia berbuat aneh-aneh lagi tentunya kita akan membela kamu Jean.” Kata Fitria. Fitria merasa kasihan melihat Jeane merasa tertekan kembali setelah Desmond bebas. “Iya Jean. Tenang saja ya.” Andre menepuk pundak Jeaned an berjongkok didepan Jeane. “Aku siap menjadi pembelamu Jean.” Kata Andre meyakinkan Jeane. “Terimakasih Fit, Dre. Aku percaya hati kalian baik dan setia teman.” Lalu Jeane merangkul Fitria dan membenamkan wajahnya dipundak Fitria. Fitria merasa ada airmata hangat Jeane yang menetes dipundaknya. “Iya… Jean. Sudahh, sudahhh ya.. Jangan nangis.” Fitria member semangat kepada Jeane dan memeluknya. Nicky yang melihat keadaan Jeane seperti tertekan kembali dengan kebebasan Desmond hatinya menjadi ikut terharu. Apalagi melihat Fitria yang memperlakukan Jeane dengan tulus. “Emmh Fit! Giman kalau kita ke cafeteria saja yuk.” Ajak Nicky. “Iya Nick. Yuk Jean, Dre kita ke cafeteria saja ya. Lagian perutku sudah lapar nih.” Fitria mengiyakan ajakan Nicky. Jeane mengangkat wajahnya dari pundaknya Fitria. Matanya agak sedikit lebam karena bekas menangis. Jeane berusaha menghapus bekas tangisannya dengan tissue dari tas kuliahnya. Fitria dan Andre yang sudah berdiri duluan lalu berjalan kearah cafeteria mengikuti Nicky dibelakangnya diikuti Jeane. “Aku mau mie ayam ya.” Fitria memesannya kepada pelayan cafetaria setelah mereka sampai dan memilih meja. “Kamu apa Nick?” “Akuu...Sama kayak kamu aja deh Fit.” “Andre apa?” Tanya Fitria kepada Andre. “Gua gado-gado yang pedes Fit. Biar kantukku hilang.” Balas Andre. “Kalau kamu apa Jean?” Fitria menepuk pundak Jeane yang masih terlihat melamun. “Ohh iya, emmh...Aku ketoprak saja pakai telor ceplok.” Sahut Jeane yang gelagapan ditepuk pundaknya oleh Fitria. “Oke. Semua sudah ya? Minumnya apaan?” Kata Fitria lagi. Tidak ada jawaban dari semuanya. “Ya sudah kalau begitu saya pesenin teh manis dingin saja, gimana?” Semua menganggukan kepalanya tanpa bersuara. Hampir satu jam mereka makan. Sesudah selesai membayar semua makanan lalu Nicky menoleh kebelakang. “Kita langsung pada pulang saja ya?” Ajak Nicky. “Aku sama Fitria berdua kebetulan kita ada keperluan lain juga. Terus Andre dan Jeane gimana? Apa mau ikut bareng kita?” “Aku nggak Nick. Aku langsung pulang saja.” Jawab Jeane. “Naik apa Jean?” Tanya Fitria. “Ya angkotlah Fit kalau ada. Kalau nggak ada ya naik taksi deh.” Jeane tertawa. “Aku bawa motor Jean. Gimana mau bareng aku saja?” Andre manawarkan jasa. “Kalau Andre nggak merasa terganggu sih aku mau saja.” Balas Jeane. “Nggaklah Jean. Masa terganggu sih sama cewek cantik.” Jawab Andre. Tiba-tiba Fitria terbatuk tapi kedengarannya batuk disengaja. “Moduss lagi.” Bisik Fitria pelan ditelinga Jeane. Semua tertawa termasuk Andre yang mendengarnya. “Usaha dong Fit. Dukunglah aku bukannya malah di jorokin.” Kata Andre. “Yuk sudah beres semua ya. Dre, Jean hati-hati dijalan. Oh iya hampir saja lupa. Jean kamu harus pegang pinggang Andre kalau naik motor sama dia.” Kata Nicky. “Memangnya kenapa Nick?” Tanya Jeane. “Suka ajrut-ajrutan Jean!” Balas Nicky tertawa.                      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN