CHAPTER #22
HATI YANG TERLUKA
“Stop! Stop Dre!” Jeane menepuk pundak Andre. Kontan saja Andre segera meminggirkan motornya dipinggiran trotoar jalan disebuah komplek perumahan.
“Kenapa Jean?” Tanya Andre tapi masih diatas motornya.
Kemudian Jeane turun dari motornya Andre dan berdiri disampingnya.
“Disini saja ya Dre. Selebihnya aku jalan kaki saja. Sudah dekat kok. Tuh disitu.” Jeane menunjuk sebuah rumah yang tampak asri.
“Kenapa harus disini Jean? Nggak boleh ya aku berhenti didepan rumah kamu? Atau papa kamu takut marahin aku?” Andre mencecar Jeane dengan pertanyaan.
Jeane tersenyum manis.
“Nggaklah Dre. Bukan seperti itu maksud aku.” Jawab Jeane memandang wajah Andre yang terlihat kecewa. “Jangan salah sangka ya Dre. Dan jangan marah sama aku. Suatu hari nanti saya cerita sama kamu kenapa aku minta berhenti disini. Oke Dre?” Lanjut Jeane sambil memegang pundak Andre.
Andre agak kaget dengan sikap Jeane yang tiba-tiba berubah seperti itu.
“Ehh..Eh. Nggak apa-apa Jean. Aku hanya heran saja kok. Sebab aku nggak pernah nurunin teman perempuan dijalan dan tidak sampai rumahnya.” Balas Andre. “Tapi nggak masalah kok selama kamu tidak cerita juga sama Nicky kalau kamu turun dijalan. Aku takut Nicky marah sama gua sebab dia paling nggak suka nyepelein sesuatu.”
Jeane kaget juga mendengar jawaban Andre. Ternyata Nicky paling tidak suka bila menurunkan teman atau yang dikenalnya dijalan apalagi perempuan. Ada juga perasaan bangga dan kagum Jeane sama Nicky yang benar-benar gentle.
“Oke Dre. Aku akan menutup mulut.” Jeane memperagakan menutup mulutnya seperti menarik restleting.
Andre tertawa.
“Oke selamat istirahat ya Jeane.” Kembali Andre menyalakan motornya dan memutarkan arahnya untuk menuju pulang kerumahnya.
“Bye Dre. Thanks ya!” Jeane melambaikan tangannya. “Hati-hati!”
Andre memacu motornya karena ingin cepat-cepat sampai di rumahnya. Ditambah pikirannya melayang dan dipenuhi pertanyaan kenapa dia dilarang Jeane mengantarnya sampai depan rumah.
Jenae membuka pagar rumahnya dan langsung masuk keterasnya. Kemudian duduk di kursi teras yang ada disitu.
“Baru pulang Jean?” Suara seorang perempuan menyapanya.
“Ehh tante.” Jeane menengok kearah asal suara itu. “Iya Tan. Baru saja sampai.” Balas Jeane.
“Ya sudah. Mandi sana dan istirahat ya. Jaga kesehatanmu. Jangan terlalu malam kalau tidur nanti asmanya kambuh. Ujung-ujungnya kan otak kamu kena lagi.” Ujar tantenya Jeane yang masih memegang sapu lidi ditangannya.
“Iya Tan.”
“Obatnya gimana? Masih ada kan Jean?”
“Tinggal untuk 2 kali minum lagi Tan. Nanti saya beli diapotik. Saya masuk dulu ya Tan.” Sahut Jeane menuju pintu masuk rumah.
“Memangnya sudah dapat uang dari papa kamu Jean?”
“Belum Tan. Aku usahakan pinjam dulu ke teman kampus.” Jeane berhenti dulu jalannya. “Besok mungkin saya menemui teman sayanya.”
“Iya Jean. Yang sabar ya nak.” Kata tantenya yang memandang penuh rasa kasihan terhadap Jeane.
“Amiin Tan. Semoga Jean bisa tabah dan kuat menghadapi semuanya.”
Sesudah mandi Jeane langsung masuk kamar dan membaringkan badannya terlentang. Langit-langit kamar seolah menjadi layar bayangannya akan kesukaran dan kesedihan yang selalu melanda dirinya.
Setiap habis obat tumor otaknya pikirannya kembali melayang kepada Desmond. Dialah orang yang selalu membantunya meskipun dari balik jeruji besi. Yang menjadi selalu sakit hatinya adalah sikap dan kelakuan Desmond yang angkuh dan selalu menyakiti hatinya.
Rasa kantuk dan capelah yang membuat Jeane sekarang terlelap dengan membawa beban sakit hati.
Sementara itu Nicky dan Fitria baru saja keluar dari toko makanan. Nicky mengantar Fitria belanja membeli makanan kesukaan neneknya yang sedang berkunjung dan menginap dirumahnya.
“Fit, kemana lagi kita sekarang. Apa ada lagi yang harus dibeli buat nenekmu?” Tanya Nicky memegang tangannya Fitria sementara sebelah lagi memegang kantong berisi makanan.
“Kayaknya sudah cukup Nick. Memangnya kenapa? Sudah kesorean ya?” Tanya Fitria berhenti berjalannya.
“Nggak. Bukan itu maksudku tapi ini nih nagih terus. Heran aku juga.” Sahut Nicky menunjukan kearah perutnya.
“Hah! Perasaan tadi kamu makan banyak deh Sayang.” Fitria tertawa. “Dih kamu sekarang kok tambah rakus ya.” Lanjut Fitria menepuk perutnya Nicky.
“Ahh udah ah. Yuk cepat keparkiran. Kalau nggak salah disana ada toko roti yang enak Fit. Kita ke sana dulu ya Fit. Mau kan?” Nicky merajuk.
“Iya kita kesana dulu deh soalnya aku juga sama.” Fitria melanjutkam jalannya.
“Ih dasar kamu Fit. Taunya sama juga rakus. Kayak bunyi pepatah empat sehat lima rakus dong.” Nicky mencubit hidungnya Ffitria.
“Sakit Nick!.” Teriak Fitria. Tapi akhirnya malah merangkul Nicky
Di toko roti itu ternyata memang banyak pembelinya. Selain murah rotinya juga enak. Setidaknya menurut kata orang-orang yang yang sudah membeli dan makan roti disana.
“Pilih roti yang mana mas?” Tanya pelayan toko roti kepada Nicky.
“Kalau saya minta croissant dan itu tuh yang segitiga isi keju manis. Kalau kamu apa Fit?” Tanya Nicky sementara pelayan toko mengambil roti pilihan Nicky.
“Aku sama yang segitiga isi keju manis ditambah satu lagi roti isi daging ayam ya.” Sahut Fitria kepada pelayannya.
“Minumnya saya minta Milkshake Strawberry. Kamu apaan Fit?”
“Samain saja deh Nick.” Ujar Fitria. “Aku ke meja kosong samping jendela itu ya Nick.” Kata Fitria menunjuk kearah jendela.
“Oke Fit. Sebentar aku bayar dulu ya.” Kata Nicky langsung menuju ke kasir toko.
Setelah selesai membayar Nicky membawa nampan yang berisi makanan dan minuman yang mereka pesan ke meja.
“Wehh enak nih kayaknya.” Kata Fitria yang membereskan isi nampan dan menyimpannya didepan masing-masing.
Fitria tanpa basa-basi langsung memakannya. Nicky juga tidak mau ketinggalan ikut menyuap roti kesukaannya.
“Fit. Tadi Andre ngantar Jeane sampai mana ya?” Kata Nicky sambil mengunyah makanannya.
“Ya nggak tau lah aku Nick. Tapi saya yakin sampai rumahnya deh. Minimal mendekati rumahnya kali.” Sahut Fitria yang sedang menikmati enaknya roti yang dipilihnya.
“Aku rada aneh deh Fit dengan sikap Jeane akhir-akhir ini. Dia selalu merenung dan melamun loh. Malahan aku pernah memergokinya sedang menangis di pinggiran jalan sambil menunggu lewat angkot jurusannya.”
“Masa sih Nick.” Fitria berhenti makannya. “Sama dong Nick. Aku juga pernah melihat dia duduk dipinggiran lapang basket sambil duduk memeluk lututnya. Airmatanya kelihatan jelas olehku. Ada apa ya Jeane. Kasian dia.”
“Kamu ada cara untuk bisa cari tau nggak Fit? Sebab aku yakin kalau aku atau Andre yang mencari tau kagak bakalan ketemu deh.” Lanjut Nicky menghela nafas.
“Kok jadi perhatian gitu sih Nick?” Kata Fitria. “Jangan, jangan kamu ada maksud deh.”
“Ahh mulai lagi deh. Aku nggak ada maksud apa-apa Fit. Sekedar simpati saja siapa tau kita bisa menolongnya bila ada kesulitan.” Jawab Nicky. “Jangan diterusin deh bahasnya kalau kamu masih ada perasaan jelek sama aku.”
“Tuh kan ngambek. Nggak lah Sayang aku juga setuju kalau kamu bisa bantu orang yang sedang dalam kesulitan. Gimana kalau aku coba korek keadaanya mulai besok ya Nick. Sekarang kita habisin dulu ni makanan.” Kata Fitria.
“Nah gitu dong. Baru itu Fitria.” Kata Nicky tersenyum senang.
Sekitar sejam mereka berada di toko roti itu. Setelah membereskan bawaannya Nicky dan Fitria bangkit dari duduknya dan berjalan menuju parkiran mobil.
Tidak lama kemudian mobil Nicky sudah ada di jalan raya menuju rumahnya Fitria.
Seperti biasa dibelokan perempatan rumah Fitria mobil Nicky berhenti dipinggir.
“Makasih ya Sayang.” Ujar Fitria memegang pipinya Nicky. “I love you Nick.” Katanya lagi.
“Iya Fit. Sama-sama. Aku juga senang hari ini ditemenin atau nemenin kamu. Salam buat orang-orang dirumah ya Fit.” Balas Nicky.
Pintu mobil terbuka dan Fitria keluar dari mobil.
Nickypun memutar balikan mobilnya menuju ke Simpruk.
Saat Fitria turun ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Dari sebuah warung mie yang ada di sekitar situ.
Entah insting atau perasaan diperhatikan orang, Fitria menengok untuk melihatnya. Dari kejauhan Fitria melihat sosok laki-laki yang memperhatikannya.
“Ayah!” Bisik Fitria bergumam.
Fitria tidak melanjutkan melihatnya tapi langsung berjalan menuju rumah buru-buru agar bisa cepat sampai.
Nicky yang sudah sampai dirumahnya langsung menuju kamarnya untuk istirahat setelah seharian belajar dan jalan-jalan dengan Fitria kekasih hatinya.
Sambil tiduran dan mendengar siaran radionya, bayangan Nicky tentang hari ini membuat dia tersenyum bahagia dan sekaligus geli sendiri.
“Telpon Andre ah.” Bisik hati Nicky.
Nicky kemudian meraih teleponnya dan mulai menyambungkannya dengan Andre.
“Hallo bro.” Suara Andre ditelepon.
“Sudah tidur Dre? Gua mau sedikit cerita dan minta pendapat atau rencana lu. Boleh?”
“Ada apaan sih Nick. Serius banget kayaknya.”
“Iya Dre. Cukup serius. Aku mau nanya tentang keanehan dari Jeane belakangan ini. Apa lu juga ikut merhatiinnya bro?” Tanya Nicky.
“Loh kok bisa sama sih Nick. Aku juga justru sedang mikirin itu. Kejadian agak aneh itu pas tadi nganterin Jeane kerumahnya. Dia minta aku nurunin di jalan. Tapi gua yakin nggak jauh dari rumahnya.” Balas Andre. “Tadinya mau besok aku cerita sama kamu Nick. Tapi malahan lu yang duluan curiga ada sesuatu. Tapi menurut kamu Nick kecurigaannya mengarah ke kasian atau kearah situasin lainnya?” Lanjut Andre.
“Kalau aku sih curiga karena perubahan yang drastis dari kelakuan yang menjadi tidak ceria, sering melamun dan terkesan sangat tertekan sesuatu. Jadi curiga karena merasa kasian Dre.” Balas Nicky. “Fitria juga sama dengan gua pernah memergoki dia lagi menangis kok Dre. Entah apa yang ditangisinya. Nah karena itulah aku minta tolong Fitria untuk selidiki situasi dan keadaan Jeane sebenarnya. Gitu Dre rencananya. Kamu ada cara lainnya barangkali.”
“Iya, iya Nick betul itu. Barusan pas naik motor dengan gua. Gua merasa Jeane begitu senangnya jalan. Sungguh Nick, dia betul-betul menikmati jalan dengan motor meskipun panas cuacanya tadi itu. Ada apa ya Jeane? Gua jadi penasaran juga Nick. Mungkin gua harus menyusun cara dulu deh malam ini. Nanti begitu ketemu aku kabarin kamu besok di kampus ya Nick.”
“Oke Dre. Gua harap ide dan caramu lebih baik lagi.”
Setelah bicara dengan Andre selesai, Nicky menutup teleponnya. Kemudian mencoba untuk istirahat tidur.
Andre menjadi gelisah hatinya setelah menerima telepon dari Nicky. Dia berpikir keras untuk membuka teka-teki tentang kesulitan dan masalah Jeane temannya.
“Ah coba telepon oom Kamil saja kali ya.” Andre berbisik sendiri.
Kemudian Andre mengambil telepon dan mulai menghubungi oomnya.
“Hallo.”
“Hallo Dre. Apa kabar?” suara Kamil.
“Belum tidur oom? Boleh nggak Andre ganggu sebentar? Andre perlu nasihat nih oom.”
Kamil tertawa diteleponnya. “Nasihat apaan sih Dre? Aneh-aneh saja kamu ini. Kenapa, kenapa coba cerita ama oom.”
Lalu Andre menceritakan tentang rencananya ingin tau keadaan Jeane sebenarnya kepada oomnya.
“Ohh Jeane yang dipukul temanmu si Desmond itu ya. Oke itu gampang sih Dre. Besok oom cari jalan agar kamu bisa tau pasti alamat dan keadaan Jeane ya. Nah sekarang oom lagi dilapangan. Jadi tidak bisa bicara lama-lama Dre. Udahan dulu ya Dre.” Tukas Kamil.
“Iya oom. Maafin Andre kalau ganggu kerja oom. Makasih ya oom.” Jawab Andre dan menutup teleponnya.
Hati Andre menjadi agak tenang karena akan mendapat masukan rencana dari oomnya.
Besok paginya Andre sudah terbangun karena rencananya akan mendapat informasi tentang Jeane dari oomnya.
Ternyata oomnya memang menelpon Andre pagi-pagi.
“Hallo oom.” Jawab Andre saat telponnya berdering.
“Dre. Rupanya sangkaan Nicky, Fitria dan kamu ternyata benar. Jeane memang harus ditolong kalian. Saya sudah mengirim keterangan semuanya tentang Jeane melalui e-mail ya Dre. Kalian baca dan buktikan kebenarannya. Kalu ada kesulitan lain yang mendesak saat menelusurinya, hubungi lagi aja oom ya Dre.” Kamil menyampaikan hasil temuannya kepada Andre.
“Baik oom Kamil. Makasih banget ya oom.” Balas Andre dan menutup teleponnya setelah telepon oomnya ditutup.
Dengan terburu-buru Andre mengeluarkan motornya ke halaman rumahnya. Setelah pamitan dengan orang tuanya lalu Andre jalan menggunakan motornya.
Perasaannya bercampur aduk dan merasa bahagia karena ada kemungkinan dapat menemukan jawaban tentang keadaan Jeane sebenarnya.
Dijalan raya tiba-tiba teleponnya berbunyi. Andre lalu berhenti dulu ditepi jalan.
“Dre! Dimana kamu bro?” Suara Nicky ditelepon.
“Di jalan Nick. Sudah dekat dengan persimpangan yang biasa gua dijemput lu. Kenapa bro?” Tanya Andre.
“Gimana ada hasil yang baik Dre tentang rencana kita.”
“Justru itu gua ini buru-buru ke kampus biar dapat dibahas pagi-pagi rencananya. Soalnya oom Kamil mengirim data dan informasi tentang Jeane via e-mail. Tapi belum gua buka. Gitu Nick. Nah sekarang lu dimana?”
“Di kampus. Dari jam 7 aku sudah sampai di kampus Dre.”
“Hebat lu Nick. Bareng nyonya di kampusnya?”
“Nggak lah Dre. Dia mau jalan sendiri katanya.”
“Ahh, aneh juga nyonya lu Nick. Ya sudah kita ketemu dikampus aja ya Nick.”
“Oke Dre. Gua tunggu ya. Buruan!” Teriak Nicky di telepon.
Setelah menyimpan kembali teleponnya lalu Andre kembali menjalankan motornya menuju kampus.
Sesampainya diparkiran motor Andre langsung menuju ke cafetaria dimana Nicky sudah menunggunya.
“Hey Nick!” Teriak Andre dan langsung menuju meja dimana Nicky sudah duduk.
“Gimana Dre.”
“Pan gua bilang dikirim via e-mail. Jadi ya belum dibuka dong. Sabarr…” Kata Andre mengeluarkan laptopnya.
Beberapa menit kemudian e-mail yang dimaksud oomnya Andre sudah bisa dibuka dan dibaca oleh mereka berdua.
Keduanya saling pandang dan merasa iba sekaligus kaget dengan informasi yang mereka baca.
Ternyata Jeane selama ini mengidap sakit tumor otak yang sudah dia derita sejak SMP. Artinya sudah hampir 6 tahun dia menutupi sakit tumor otaknya dari teman-temannya.
Yang lebih sedih lagi ternyata selama sakit Desmondlah yang membiayai pengobatan rutinnya juga biaya pembelian obatnya meskipun tidak sepenuhnya.
“Pantesan selama ini Jeane selalu menuruti apa kemauan Desmond.” Bisik hati Nicky. “Apa itu berarti Jeane berontak dari Desmond setelah bertemu aku?”
Orangtua Jeane berada jauh diluar pulau Jawa dan keadaannya tidak begitu bisa mendukung pengobatan Jeane. Ditambah lagi Jeane selalu membohongi kepada orangtuanya ataupun tantenya tempat dimana dia tinggal selama ini.
“Pantesan aku nggak boleh ngantarin sampai rumahnya. Begini rupanya. Kasihan kamu Jean.” Keluh Andre sambil menundukan kepalanya ke meja makan.
“Iya Dre. Aku merasa sangat berdosa. Terkadang aku menghindarinya. Rupanya dia ingin bergaul dengan kita agar bisa menghilangkan gundah hatinya.” Sambung Nicky.
“Ya aku juga.” Sahut Fitria yang sudah berdiri dibelakang mereka.
Nicky dan Andre terkejut.
“Fit! Kamu sudah lama berdiri disitu?” Kata Nicky.
“Sudah Nick. Bahkan aku sudah baca isi e-mail itu.” Jawab Fitria yang terus mengambil kursi dan duduk disamping Nicky. “Aku juga merasa berdosa Nick. Sering salah sangka sama Jeane.”
Ketiganya lalu terdiam.
Tanpa sepengetahuan mereka, Jeane berdiri dibalik jendela cafetaria memperhatikan mereka bertiga dan mendengar apa yang mereka bicarakan. Airmata Jeane sudah turun dipipinya.
“Terimakasih kalian sudah tau maksud dan tujuan aku bergaul dengan kalian.” Bisik hati Jeane.
Jeane beranjak dari balik jendela dengan hati bahagia sekaligus perih hatinya.