#23 - PERHATIAN NICKY

2591 Kata
CHAPTER #23   PERHATIAN NICKY                 “Sarapan yuk Fit, aku lapar. Tadi tidak sarapan di rumah.” Ajak Nicky. “Kamu lapar Dre?”             “Ya iyalah Nick. Memangnya kalian saja yang lapar.”             “Ya udah. Aku mau pesan bubur ayam. Kalian mau apa?” Fitria bangkit dari duduknya.             “Aku sama calon nyonya ahh.” Balas Nicky memegang tangannya Fitria.             “Apaan sih ikutan melulu.” Fitria menepis tangannya Nicky. “Pedes nggak?”             “Jangan! Manis aja biar semanis kamu.” Canda Nicky berdiri dan mengelus pipi Fitria.             “Ihhh, diam ‘napa!” Fitria cemberut. “Kamu apa Dre?”             “Mie ayam Fit. Pake cekernya ya.”             “Iya tuan Andre.” Balas Fitria dan langsung berjalan menuju ke gerobak makanan yang ada disekitar ruangan disitu.             Saat Fitria sedag pesan makanan buat Nicky dan Andre, Jeane sudah berdiri disamping Fitria.             “Hey Jeane. Bikin kaget aku saja.” Sapa Fitria. “Sarapan ya Jean.”             “Iya Fit aku juga lapar nih. Bubur ayam kayaknya pas dimakan pagi ini. Tapi…Mie ayam aja deh biar agak nendang ke perut.” Balas Fitria tertawa.             “Oke. Bang mie ayamnya satu lagi yaa…Pedes!” Kata Fitria ke tukang jualan mie ayam. “Kamu baru datang Jean?”             “He’eh, baru saja. Pas masuk aku lihat kamu lagi pesen makanan. Ya udah aku juga langsung aja nyamperin. Kamu sudah dari tadi Fit?”             “Dari jam 7 tadi Jean. Sama kayak kamu. Pas masuk sudah ada Nick sama Andre disana.” Balas Fitria. “Ehh Jean kemarin jadi diantar pulang sama si ember?”             “Si ember?”             Fitria tertawa. “Itu Andre maksud saya.”             “Ohh, iya saya diantar sampai rumah.” Jawab Jeane tapi muka agak bersemu merah. “Asik juga ya dibonceng Andre. Ngebut tapi hati-hati banget. Nggak ajrut-ajrutan kayak yang dibilang Nicky ah.”             “Ya nggaklah Jean. Nicky kan sering godain Andre.”             Tidak terlalu lama mereka ngobrol didepan gerobak makanan. Mereka beranjak dari situ dengan membawa masing-masing makanannya.             Fitria dan Jeane berjalan menuju meja makan.             “Ini Nick.” Fitria menyimpan bubur ayamnya didepan Nicky. “Itu mie ayam Andre di bawain Jeane.”             “Ehh ada Jeane. Duduk Jean.” Sapa Nicky. Terlihat wajahnya Nicky cerah seperti gembira kedatangan Jeane.             Fitria yang kebetulan memperhatikan Nicky mencubit tangannya Nicky.             “Jangan meleng ntar kesenggol tuh mangkok buburnya.” Ujar Fitria.             Nicky mengusap-usap tangannya yang dicubit Fitria. “Sakit Fit!”             Andre menerima mie ayam yang dibawa oleh Jeane. “Makasih Jean. Baik banget kamu. Padahal biasanya ada pelayan yang mengantarnya loh.”             “Nggak apa Dre. Kebetulan saja tadi aku ketemu Fitria di sana.” Balas Jeane.             “Kelihatan cantik kamu pagi ini Jean.” Kata Andre mengaduk-aduk mie ayamnya. Tapi matanya malah melihat Jeane.             “Emmh… Modus lagi.” Celetuk Fitria. “Itu mie ayamnya berantakan Dre.”             Andre kaget karena kecipratan air panas mie ayam. Benar saja mie ayamnya berjatuhan dimeja makan.             Semua pada tertawa melihat Andre yang kikuk mungkin karena ada Jeane dihadapannya.             Saat tadi Fitria mencubit tangan Nicky, tanpa disadari Fitria Nicky sekilas melihat bayangan kejadian semalam di rumah Fitria.             “Tidur jam berpa semalam Fit?” Kata Nicky setelah menyuap bubur ayam ke mulutnya.             “Jam berapa ya? Kalau nggak salah jam 9 juga sudah masuk kamar tidur deh.”             “Terus nangis ya?” Sergah Nicky lagi.             Mereka berdua bicaranya tidak terlalu keras sehingga Andre dan Jeane kemungkinan tidak mendengar.             Fitria diam. Tapi hatinya menjadi sedikit terkejut kalau Nicky ternyata tau kalau dirinya menangis semalam.             “Sok tau ahh Nick. Nangis apaan coba. Pacar ada. Sudah ganteng, kaya pula. Baik hati lagi. jadi apaan yang harus ditangisi.” Kata Fitria mengambil gelas teh panas dihadapannya.             Nikcy tersenyum.             “Kenapa Sayang?” Tanya Fitria. “Kok malah senyum sih. Nggak percaya ya?”             “Ya nggak lah. Gimana percaya. Pertama percaya itu sama Tuhan. Kedua kamu sudah bohong sama aku. Tuh lihat ada garis hitam dan lebam di bawah mata kamu.” Bantah Nicky. “Alasan dimata itu hanya bila menangis cukup lama atau kurang tidur dan menangis. Nah kamu yang mana Fit?”             Fitria terdiam tanpa komentar. Tapi hatinya membenarkan kalau dirinya memang menagis semalam karena mendapat teguran keras dari ayahnya yang melihat dia diantar oleh Nicky.             Nicky kembali tersenyum lagi. Tangannya memegang pundak Fitria.             “Sudahlah ya Sayang. Nanti kita ngobrol soal ini yah.” Kata Nicky menepuk pundak Fitria.             Fitria mengangguk tapi matanya nanar dan pikirannya menerawang entah kemana.             “Sudahan yuk.” Ajak Nicky berdiri dari kursinya. “Sudah cukup waktunya. Sekarang kita belajar biar pintar.” Teriak Nicky berteriak dan mengangkat kedua tangannya terbuka keatas. Persis seperti anak kecil kalau gembira mendapat sesuatu.             Andre, Fitria dan Jeane menjadi tertawa sejadi-jadinya. Anehnya malah Nicky menjadi bengong tidak mengerti apa yang mereka tertawakan darinya.             Nicky berjalan menuju kasir mendahului mereka dan membayar semua makanan yang tadi dipesan. Lalu mereka berempat berjalan keluar dari cafeteria menuju ruang kuliah.             Tidak menunggu lama lagi mereka mulai belajar dari dosen sesi waktu itu.             Selama belajar pikiran Fitria terlihat tidak konsentrasi pada pelajaran. Pikiran melayang-layang sejak Nicky tau kalau dia menangis semalam.             “Darimana Nicky tau kalau aku menangis ya. Haduhh jadi ruwet deh.” Bisik hati Fitria.             Dosen yang sedang melakukan sesi tanya jawab melihat Fitria tidak begitu memperhatikan pelajarannya. Padahal dosen itu tau kalau Fitria sangat menyukai sesi ini.             “Fitria! Coba kamu jawab sejak kapan ada revolusi dibidang seni lukis yang terjadi di Italia. Dan apa yang kamu tau salah satu nama lukisan dari van Gogh?” Teriak dosen.             Fitria kaget bukan kepalang karena langsung diberi pertanyaan.             “Emmh…Maaf pak bisa diulang pertanyaannya.” Tanya Fitria gelagapan. Tangannya gerayangan mencari buku diktat kuliahnya.             “Kenapa kamu Fit? Melamun ya?” Tanya dosen. “Ngelamun siapa lagi sih Fit, tuh Nicky ada disebelah kamu.”             Semua mahasiswa yang diruangan jadi tertawa.             “Ingin cepat nikah kali pak?” Celetuk salah seorang mahasiswa.             Semua tertawa lagi.             Fitria tertunduk wajahnya.             “Sudah! Cukup! Kalian ini malah senang melihat teman kesusahan.” Kata dosen menyuruh semua mahasiswa berhenti tertawa.             Nicky terlihat diam.             Waktu sesi pertama dan kedua selesai dan berlalu begitu cepat.              “Keluar yuk Fit.” Andre menghampiri Fitria dan memegang pundaknya.             “Iya Dre.”             Jeane merasa tidak enak untuk menghampiri Fitria tapi Jeane langsung menuju pintu keluar ruangan.             Jeane pergi menuju taman kampus dan duduk sendiri dibawah pohon rindang bekas kemarin dia duduk disitu.             Andre, Fitria dan Nicky menyusul kemudian.             Nicky menghampiri Fitria dan memegang jemarinya. “Fit. Sekarang giliran kamu untuk mengorek Jeane. Gimana sudah siap?” Kata Nicky berusaha mengalihkan perhatian Fitria yang kelihatannya masih merasa malu karena kejadian tadi di ruang kelas.             “Iya Nick.” Fitria memegang keras jemari tangan Nicky seolah bermakna “jangan lepaskan tanganmu Nick.”             Nickypun sama memegang keras tangan Fitria untuk memberikan semangatnya.             Jeane yang duduk lebih dulu di taman terkejut juga melihat Nicky dan teman lainnya ikut datang ke taman dan langsung membuat lingkaran. Mereka mengelililingi Jeane. Lebih dari 50 orang mungkin.             “Ehh ada apaan ini?” Kata Jeane berdiri dan bergerak hendak beranjak dari taman kampus.             “Sebentar Jean. Kamu boleh pergi dari sini tapi nanti setelah selesai kami bicara ya Jean.” Fitria berjalan mendekati Jeane.             “Ada apa ini Fit?” Tanya Jeane.             “Duduklah Jeane.” Kata Fitria.             Jeane kembali duduk.             “Oke Jean. Kami yang ada dan duduk disini semuanya sudah tau tentang apa yang sedang kamu hadapi saat ini. Begitu kejadian apa yang kamu jalani sebelumnya.” Fitria mencoba menerangkan apa yang dia tau kepada Jeane. “Jeane. Kami melakukannya karena kami belakangan ini melihat kamu banyak berubah dan sering dipergoki banyak orang menangis sendirian. Kau tidak pernah cerita apa-apa sama aku, sama Nicky dan sama teman-teman lainnya kecuali pada Desmond. Bener nggak informasi ini Jean?” Lanjut Fitria.             Jeane diam seribu bahasa. Dia hanya menunduk dan menangis tersedu-sedu.             Fitria menghampiri Jeane dan memeluknya bahkan Fitria ikut menangis. Semua orang yang ada disitu diam hanya sebagian dari teman wanita lainnya ikut meneteskan airmata haru.             “Sudah, sudah. Silakan duduk Fit, Jean.” Nicky berdiri dan membimbing mereka untuk duduk kembali.             “Terimakasih Fit. Jeane mohon dengan sangat memaafkan kita yang ikut campur dalam kehidupan kamu. Tapi mau apa lagi karena kami adalah teman-teman kamu yang tidak rela melihat teman lainnya mengalami kesulitan.” Nicky mulai berbicara sementara Jeane menyenderkan kepalanya ke pundak Fitria yang merangkulnya. “Jadi ini adalah inisiatif kami terutama Andre yang sejak lama merasa janggal melihat perubahan kamu Jeane. Lalu semalaman dia mencari informasi tentang kamu dan pagi tadi mendapatkan info yang komplit dan benar menurut kami semua.” Nicky duduk dihadapan Jeane.             “Lalu saya, Nicky dan Fitria menyebarkan informasi ini kepada teman-teman lain seangkatan sebatas yang perlu disampaikan saja kepada mereka saat berlangsung kuliah. Ya inilah hasilnya. Kami semua berkumpul dan bersimpati kepada kamu.” Andre yang dari tadi diam sekarang dia sudah berdiri didepan teman lainnya. “Jean. Mereka melakukan ini dengan sadar dan tanpa paksaan. Sebab mereka juga berpikiran bagaimana kalau situasi ini ada dalam kehidupannya?” Lanjut Andre. “Tidak akan mengulas banyak lagi Jean. Saya persilahkan salah seorang dari wakil teman-teman ini untuk maju.”             Seorang laki-laki perwakilan angkatan dan jurusan maju kedepan membawa sebuah amplop coklat sedang.             “Jeane, saya mohon dengan ikhlas dan bersabar untuk menerima sedikit perhatian kami untuk meringankan sedikit kesulitan kamu. Kami semua ikhlas disini dan rencananya akan melakukannya terus semampu kami dan selama kami menjadi teman kamu.” Katanya. “Sekarang mohon kamu menerima ini.”             Kemudian perwakilan angkatan itu menyerahkan amplop coklat kepada Jeane.             Jeane berdiri dengan airmata yang tidak berhenti mengalir dipipinya. Fitria ikut menahan tubuh Jeane agar tidak oleng karena masih menangis tersedu-sedu.             Jeane menerima amplop coklat itu diiringi tepuk tangan bahagia dari teman-teman lainnya.             “Terimakasih teman semua untuk kasih sayang dan perhatiannya kepada saya.” Kata Jeane memaksakan untuk bicara. “Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan sesuatu yang lebih lagi untuk kebaikan kalian semua.”             “Amiinnn!” Semua yang ada disitu meng-aminkan.             Dari arah cafetaria datang tiga orang pelayan membawa minuman dingin dan makanan kecil ke arah taman kampus dan langsung membagikannya kepada semua mahasiswa yang ada disitu.             Akhirnya semua mahasiswa satu angkatan Nicky bercengkrama di taman. Ada yang bersenda gurau dan ada juga yang ngobrol satu sama lainnya.             Setelah hampir setengah jam mereka disitu membubarkan diri setelah pamitan kepada Jeane yang masih terharu dengan kebersamaan angkatannya.             Jeane memeluk semua teman perempuannya yang bersimpati kepadanya.             Setelah semua lengang Fitria menoleh kepada Nicky dan Andre. Nicky menganggukan kepalanya. Andre juga mengangguk.             Fitria merogoh tas kuliahnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih tebal dan memberikannya kepada Jeane.             “Apa ini Fit?” Jeane mendorong kembali amplop putih yang disodorkan Fitria. “Ini saja sudah cukup buat beli obat. Bahkan bisa 3 atau 4 bulan. Jangan Fit.”             Fitria tetap mendorong dan memaksa amplop itu untuk diterima Jeane.             “Jeane, dengar. Ini dari Nicky, aku dan Andre untuk kamu. Berobat itu tidak hanya 3 atau 4 bulan saja. Tapi sampai benar-benar sembuh. Ini uang hanya rasa sayang kami kepada kamu yang sudah kami anggap sangat dekat. Jadi jangan tolak perhatian ini. Terimalah.” Fitria berubah menjadi tegas.             Nicky dan Andre tersenyum. Mereka bangga melihat Fitria menjadi tegas.             Tidak ada pilihan bagi Jeane kecuali menerimanya.             “Terimakasih Fit. Terimakasih Nick, Dre. Kalian memang orang yang baik hati tanpa pamrih.” Jeane kembali memeluk Fitria dan menangis.             Setelah semuanya reda dan suasana menjadi tenang, Andre berdiri dari duduknya.             “Pulang yuk!” Ajak Andre.             “Emhh modus baru nih!” Ledek Fitria.             “Nggaklah Fit. Ini kan sudah waktunya pulang.” Balas Andre mengerdipkan matanya.             “Kenapa matanya Dre? Kena debu?” Celetuk Nicky tertawa.             Keempat-empatnya tertawa melihat kelakuan Andre.             “Iya Dre. Aku mau pulang dan mempersiapkan sesuatunya untuk pemeriksaan dan membeli obat. Apa kamu mau antar aku pulang Dre?” Kata Jeane.             “Iya Jean. Itu juga kalau kamu mau. Hitung-hitung menjadi satpam karena kamu membawa sesuatu yang penting.” Balas Andre semangat.             “Iya sudah. Silakan Andre duluan dan jaga Jeane baik-baik ya.” Sela Fitria tersenyum.             “Baik nyonya Nicky.” Andre mengangkat tangannya seperti hormat militer kepada Fitria. “Saya siap melaksanakan perintah nyonya.”             Jeane dan Andre berjalan kearah parkiran motor. Kali ini mereka benar-benar akrab.             “Sekarang giliran kita Fit.” Nicky mengulurkan tangannya untuk mengajak pulang Fitria.             “Sebentar Nick.” Kata Fitria yang malah duduk kembali. “Duduk Sayang.” Ajak Fitria.             Nicky heran dan sedikit kaget. Tapi akhirnya dia juga ikut duduk sebelah Fitria.             “Ada apa Fit?”             “Nggak ada apa-apa Nick. Hanya saya mau minta maaf saja. Tadi saya bohong sama kamu soal aku menangis semalam.” Kata Fitria memegang tangannya Nicky.             Karuan saja semua kejadian semalam pada diri Fitria tergambar dalam benak Nicky tanpa diketahui oleh Fitria tentunya.             Nicky menundukan kepalanya.             “Kenapa Nick?”             “Agak pusing dikit Fit.” Nicky pura-pura padahal dia merasa teriris hatinya setelah tau apa yang terjadi dengan Fitria semalam. Bahkan sampai menangis.             “Kalau kamu pusing nggak jadi saja deh. Mending kita pulang saja. Gimana?”             “Nggak, nggak apa-apa Fit. Terusin saja. Ada apa sebenarnya?”             “Ya itu aku hanya ingin bilang maaf kalau tadi aku bohong tidak menangis semalam. Aku menangis semalam Nick karena ingat kamu.” Kata Fitria meneruskan pembicaraannya. “Aku merasa sangat bersalah karena melarang kamu mengantar aku sampai depan rumah. Itu saja.”             “Masa? Kayaknya bukan hanya itu deh alasan kamu menangis Fit. Pasti ada yang lainnya juga. Pertanyaannya adalah kenapa kamu melarang aku mengantar sampai depan rumah kamu.” Desak Nicky. “Sebab kalau hanya ingin memudahkan aku memutarkan mobil setelah mengantarkan kamu, aku bisa memakai motorku kan? Dan tidak susah untuk memutarkannya.” Tutur Nicky.             Fitria diam dan menundukan kepalanya tapi tangannya tetap memegang tangan Nicky.             “Aku yakin. Pasti ada yang lebih dari sekedar ingin memudahkan aku memutar mobil. Apa itu Fit? Ayah kamu melarang kamu pacaran dengan kamu ya?”             Fitria tidak menjawab malah menangis sejadi-jadinya.             Nicky tidak meneruskan pertanyaannya tapi malah merangkul Fitria dan menyandarkannya dibahunya.             “Sudah Fit Sayang. Tidak perlu dipikirkan lagi. Kita coba cari solusinya nanti ya. Sekarang mendingan kita pulang, gimana setuju?”             Fitria yang masih sesenggukan menangis menganggukan kepalanya tanda setuju.             “Oke. Kita pulang sekarang.” Nicky memegang tangan Fitria dan mengangkat badannya untuk berdiri.             Setelah Fitria berdiri sambil merangkulnya dengan menggandeng tangannya Nicky berjalan menuju parkiran mobil.             Sepanjang jalan tidak ada sepatah katapun yang terucap dari Fitria dan Nicky.             Pikiran keduanya melayang dalam angan dan pertanyaan masing-masing.             Seperti biasa setelah sampai dibelokan persimpangan Nicky meminggirkan mobilnya dipinggir. Tapi kali ini menjadi lain. Tiba-tiba Fitria meminta Nicky untuk meneruskan mobilnya sampai depan rumahnya.             “Jangan berhenti disini Nick. Jalan saja dan antar sampai depan rumahku.” Pinta Fitria.             “Oke Fit.” Nicky tersenyum dan melanjutkan mobilnya kearah rumah Fitria.             Setelah sampai didepan rumahnya Nicky memegang tangan Fitria.             “Jangan menangis lagi ya Fit.” Kata Nicky tersenyum.             “Iya Nick. Aku akan mencoba menjelaskan kepada papaku tentang hubungan kita ini.” Jawab Fitria ikut tersenyum.             “Ya aku tau. Kamu menangis karena dilarang papamu yang melihat kita saat diwarung depan persimpangan itu kan Fit?”             Fitria mengangguk lesu.             “Oke aku turun ya Nick. Terimakasih sudah mengantarku. I love you Nick.” Kata Fitria.             “Bye Sayang. Selamat istirahat.” Nicky mencium tangannya Fitria.             Fitria turun dari mobil Nicky dan masuk kehalaman rumahnya. Sementara Nicky memutar mobilnya dan melanjutkan pulang kerumah.             Ada sedikit cahaya membuka cintanya.                              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN