CHAPTER #3
HARI PENUH CEMBURU
Nicky dan Andre baru saja sampai di parkiran motor. Mereka berjalan ke ruang kuliah setelah merapikan parkir motornya Nicky.
“Tumben Nick baju kamu rapih banget. Biasanya pake kaos oblong ama jaket. Sekarang coba lihat! Beuh! Pake kaos biru. Berkerah lagi. Ada apaan sih?” Goda Andre sambil berputar mengelilingi badan Nicky yang sedang berjalan. “Pasti Fitria nih.”
“Apaan sih Dre? Perasaan biasa aja. Tiap hari gua rapih deh. Nggak kaya kamu ember!” Nicky mendorong badan Andre. Pagi-pagi sudah ngomongin Fitria. Kasian telinganya pasti panas.” Sambung Nicky.
“Hahaha! Malu tuh ketauan.” Andre malah ketawa.
“Sudahlah. Malu dilihat orang Dre.”
Diseberang lapangan ada seorang perempuan yang buru-buru mengejar mereka berdua sambil berteriak memanggil.
“Nick! Nicky!” Panggilnya.
“Eh tuh Jeane fans lu Nick.” Andre memberitahu Nicky.
“Iya ya. Ngapain dia manggil gua?” Balas Nicky melambaikan tangannya dan berhenti berjalan. “Hai Jean!”
“Haduuh cape deh gua.” Jeane mengeluh setelah sampai didepan Nicky dan Andre.
“Kenapa Jeane?”
“Nick. Boleh aku bicara sebentar sama kamu? Di taman samping?” Pinta Jeane.
“Emhh. Ada apa ya Jeane? Kenapa gak sambil jalan saja?”
“Pribadi Nick. Gak enak ama Andre.” Balas Jeane.
Andre tersenyum sendiri.
“Ya sudah. Aku gak apa-apa. Gua ke ruangan aja ya Nick?”
“Maaf ya Dre.” Malah Jeane yang ngomong.
“Gak apa-apa Jean. Yuk aku duluan ya Nick.” Andre menepuk pundak Nicky yang masih bengong dengan kelakuan sahabatnya. Padahal dia tidak mau bicara dengan Jeane apalagi di taman.
“Yuk Nick.” Ajak Jeane menggamit tangan Nicky.
Dari ruangan kuliah Fitria melihat dengan jelas Jeane menggandeng tangan Nicky. Entah kenapa hatinya tiba-tiba menjadi sakit melihatnya.
“Hai Fit.” Andre membuyarkan pikirannya.
“Ehh.” Fitria pura-pura kaget. “Elu Dre. Bikin kaget aja.”
“Emhh. Ngeliat Nicky digandeng Jeane ya. Cemburu tuh.”
“Apaan sih Dre. Pantesan Nicky manggil lu ember. Habis main nyerocos aja tuh mulut.” Tukas Fitria sambil tertawa padahal mukanya memerah.
“Ah elu Fit. Nggak ada salahnya kok cewek panas hatinya liat idola digandeng cewek lain.”
“Dih ember satu ini.” Fitria nyubit lengan Andre. “Kalau mau mah dari dulu sudah gua culik Nicky.”
“Jadi gak mau nih?”
“Ih..ih..Siapa bilang gak mau. Gua bilang kan kalau mau.”
“Hallaahh. Susah memang ngomong ama orang cemburu dan muna.” Balas Andre ngeloyor menuju kursi kuliah.
“Win. Ini kosong ya.” Tanya Andre ke Tiwi.
“Kosong Dre. Mana Nicky?
“Biasa. Ada fans yang nyulik. Tapi ada juga fans yang cemburu.” Matanya melirik kearah Fitria.
Tiwi hanya tersenyum. “Oh. Kirain lagi marahan.” Sambung Tiwi.
“Bukan gua yang marahan. Ada yang lain tuh yang marah. Hahahaa.” Mata Andre melirik Fitria lagi.
Fitria kesel diledek Andre. Dia berjalan menuju Andre. Tanpa basa-basi dia mencubit tangan Andre berulang-ulang.
“Aduhh! Aduhh sakit tau.” Andre meringis mengusap-usap tangannya.
“Rasain lu. Dasar ember.” Kata Fitria sambil berjalan ke kursi kuliahnya.
“Gila kali lu ya Fit. Sampai biru tangan gua.” Andre melihat tangannya yang dicubit Fitria. “Cemburu sih cemburu. Pelampiasan jangan ama gua dong Fit.”
Yang lain yang mendengar Andre ngomong pada tertawa.
Nicky dan Jeane duduk bersebelahan di taman kampus.
“Giman Jean. Kalau boleh rada cepetan yah. Sebentar lagi kuliah dimulai kan.”
“Iya Nick. Gua cuma sebentar kok. Gua hanya mau ngomong minta maaf soal kemarin.”
“Soal apa Jean?”
“Waktu lu diminta pergi dari kursi karena gara-gara gua duduk ama lu.”
“Oh soal Desmond. Ya sudah gak apa-apa kok gua. Lagian emang sifat Desmond begitu.” Nicky menerangkan.
“Ya tetep aja gua gak enak ama lu Nick.”
“Kalau soal itu gak usah dipikirin Jean. Gua sudah maklum kok.”
“Juga gua gak enak ama Fitria, Nick.” Sambung Jeane. “Kelihatannya dia kesel waktu gua coba manasin Des dengan ikut rapat ama kalian.”
“Kok Fitria dibawa-bawa sih. Dia kan gak apa-apa. Gua liat kemarin biasa saja. Lu kan tau kemarin pulang bareng ama kamu.”
“Ya kali saja. Soalnya dia ada perhatian lebih ama lu Nick.”
“Hahahaha! Tau darimana Jean. Gua aja gak mikir-mikir gitu.”
“Syukur dah kalau begitu Nick.” Jeane keceplosan.
“Kenapa Jean?” Nicky berkerut keningnya.
“Ehh nggak. Maksud gua syukur kalau Fitria gak marah.” Jeane tampak malu.
“Ohh. Ya sudahlah. Semuanya tidak ada apa-apa kok Jean. Yuk kita kekelas. Takutnya sudah mulai Gak enak ama dosen.” Nicky mencoba menutup pembicaraannya dengan Jeane.
“Yuk.” Balas Jeane.
Nicky dan Jeane berjalan bersama menuju ruang kuliahnya.
Betul saja. Dosen sudah mulai mengajar.
Nicky dan Jeane yang baru masuk ruang mengangguk kepada dosen yang sudah berdiri didepan ruangan.
“Darimana Nick? Tumben telat.” Tanya dosen.
Belum Nicky menjawab sudah ada teriakan lain yang menjawabnya.
“Biasa pak. Mogok lagi. Mogok lagi.” Suara Desmond membuat semua tertawa. “Padahal bareng Jeane pak. Kasihan Jeane.” Tambah gaduh ruang kelas oleh gelak tawa mahasiswa lain.
Muka Nicky mulai panas.
“Saya dari taman samping pak. Sama Jeane.” Jawab Nicky. “Maaf pak. Tadi kebetulan ada masalah sedikit.”
“Oh. Oke. Nggak apa-apa. Makanya saya tanya. Soalnya kamu nggak pernah terlambat diruangan meskipun hanya semenit. Silakan duduk Nick.”
“Terimakasih pak.” Nick langsung berjalan menuju kursi kuliah disebelah Andre.
Andre tersenyum. Terlihat dia mau berkata. Namun telunjuk tangan Nick diangkat sambil di goyang-goyangkan. Andre terdiam.
Desmond yang mendengar alasan Nicky terakhir hatinya menjadi panas. Jeane tidak pernah mau bila diajak dia. Tapi Jeane mau bersama Nicky ngobrol ditaman.
Bel akhir sesi kuliah berbunyi.
Mahasiswa bubar dari ruangan untuk pindah keruangan lainnya. Tapi ada juga yang hanya mendapat satu sesi kuliah saja termasuk Nicky, Andre dan Fitria.
Desmond menghampiri Nicky.
“Hey jago mogok. Hebat lu ya bisa ngajak Jeane ke taman heh?”
Nicky diam saja tidak mengacuhkan Desmond malah beres-beres buku kuliah dan diktatnya.
Desmond menjadi tambah kesel lagi diperlakukan Nicky seperti itu.
“Tu diri dong Nick. Lu tuh bukan levelnya Jeane. Level lu tuh harusnya ama yang punya motor butut lagi dong. Hehehe.” Tawa Nicky.
“Apa-apaan sih Des. Lu pikir gua ni apanya lu? Hah.” Jeane nyeletuk dan berjalan menghampiri Nicky juga.
“Gak apa Jean.” Kata Nicky. “Mungkin dia bener.” Nicky berdiri dan berhadapan dengan Desmond. “Des. Gua gak ada apa-apa sama Jean. Jadi kalau lu suka silakan. Asal jangan paksa orang yang tidak mau.”
“Apa lu ngomong?” Desmond membentak Nicky. Tangannya sudah siap memukul muka Nicky.
Entah datangnya darimana. Tiba-tiba tangan Desmond berhenti begitu saja karena ada tangan lain yang menangkapnya. Rupanya Andre yang menahan tangan Desmond.
“Jangan main pukul gitu Des. Nggak bagus. Kalau mau layanin gua dulu aja. Gimana?”
“Sudah Dre. Gua ga apa-apa.” Nicky mencoba menurunkan emosi Andre yang marah dibanding dia.
“Liat. Si jago mogok aja pasrah. Lu mau ngapain Dre?” Desmond mendorong Andre. “Mau ada urusan ama gua? Hayooo!” Sambil menghampiri Andre yang tadi agak mundur karena didorong.
Baru saja Desmond melangkah dan akan menghantam Andre. Tiba-tiba dia sudah tersungkur kedepan dan jatuh terjerebab.
Semua orang yang melihat kejadian pada kaget. Mereka tidak tau apa penyebabnya Desmond jatuh tiba-tiba.
“Sudah Dre. Kita pulang aja.” Ajak Nicky melangkah disebelah badan Desmond. “Hayoo Fit.” Menoleh melihat Fitria mengajak pulang juga.
“Pulang aja lu. Dasar banci. Jagoan mogok.” Desmond ngedumel setelah bangkit dari jatuhnya dengan perasaan malu. “Dasar orang miskin. Mau ama Jeane. Gak ngaca lu.” Teriak Desmond lagi.
Nicky mulai gerah dan kesel mendengar omelan Desmond. Dia berhenti berjalan dan membalikan badannya.
Tiba-tiba Nicky membuka ranselnya dan menghampiri sebuah kursi kayu kuliah. Tangannya berkelebat menghantam kayu kursi itu.
“Brraakkk!.”
Bunyinya cukup kencang dan kursi kuliah yang dipukul Nicky tampak berantakan sudah tidak berbentuk lagi. Patah berkeping.
“Denger Des. Gua cukup sabar ama lu.” Kata Nicky memungut pecahan kayu dilantai. “Gini aja. Kalau muka lu sudah keras seperti kayu ini baru hadapin gua.” Sambung Nicky sambil menyerahkan kayu itu kepada Desmond yang mulutnya masih ternganga.
Semua orang disitu diam semua. Mereka tau kalau Nicky adalah seorang ahli beladiri Taekwondo sabuk hitam strip putih Yi DAN atau DAN II.
Desmond terduduk di kursi. Menarik nafas panjang dan menunduk karena malu. Tapi hatinya tetap panas dan masih jengkel kepada Nicky.
Nicky dan Andre diikuti Fitria dan Jeane keluar dari ruang kuliah. Jeane menyusul Nicky dan berjalan disebelah Nicky.
“Maafin gua Nick. Gara-gara gua lagi lu jadi emosi.”
“Sudahlah Jean. Gua gak apa-apa kok. Hanya lepas kontrol aja. Habis si Des sebut gua gak level. Kok bisa ya ngebeda-bedain orang.” Jawab Nicky. “Sekarang gua mau ke Tata Usaha dulu buat lapor rusaknya kursi kuliah. Lu jalan aja duluan yah ama yang lain.”
“Gak perlu gua anter Nick?”
“Gak usah. Makasih Jean. Ini urusan gua soalnya.”
“ Ya udah. Gua jalan yah.” Jawab Jeane. “Lu hati-hati dijalan nanti pas mau pulang.”
“Iya Jean. Thanks ya.”
“Nick. Perlu gua yang dampingi kesana atau gua nunggu diparkiran?”
“Gak usah juga Dre. Mendingan lu balik duluan deh. Sorry yah.”
“Oke gak apa-apa bro.”
Nicky berjalan menuju Tata Usaha untuk mengurus soal hancurnya kursi kuliah.
Cukup lama membuat laporan kerusakan kursi. Nicky diharuskan mengganti kerusakan. Nicky memberikan sejumlah uang.
Setelah selesai semuanya Nicky menuju ke parkiran motor dan menstarter motornya.
Dengan membawa kekesalan hatinya Nicky mengendarai motornya pulang kerumahnya.
Sepanjang jalan pikirannya melayang kemana-mana.