#4-KECELAKAAN

2439 Kata
Disebuah persimpangan tempat biasanya Nicky menjemput Andre tiba-tiba kepala Nicky merasa berputar sangat keras. Nicky segera menepi dan memberhentikan motornya. Nicky turun dari motornya dan duduk ditrotoar jalan yang kebetulan bersih.             Salah seorangtua yang kebetulan melihat motor Nicky oleng sebelum berhenti mendatanginya.             “Kenapa mas? Kamu baik-baik saja kan?”             “Oh Bapak. Kepala saya sedikit pusing dan berputar Pak. Mungkin kurang minum.” Sahut Nicky.             “Siapa nama kamu mas? Dimana tinggalnya?”             “Saya Nicky Pak. Saya tinggal di wilayah Simpruk.             “Masih agak jauh ya. Sebentar kalau begitu saya bawain minum dulu ya.” Kata bapak itu . Nicky melihat bapak itu menuju kios kecil dan kembali membawa sebotol minuman.             “Coba minum dulu mas. Siapa tau cepet pulih yah.”             “Iya Pak. Terimakasih.” Nicky mengangguk sambil menerima minuman itu kemudian diminumnya.             Selang 5 menit muka Nicky yang tadi agak pucat sekarang mulai segar dan memerah kembali.             “Jangan terlalu banyak pikiran mas. Atau mungkin telat makan kali ya?” Bapak itu kembali bicara kepada Nicky.             “Mungkin Pak. Tadi saya ada masalah dikampus. Terus kebawa-bawa sampai pulang.” Jawab Nicky.             “Makanya jangan terlalu keras berpikir mas. Jadi gimana bisa pulang sendiri?”             “Bisa Pak. Saya sudah baikan sekarang.” Balas Nicky berdiri dan berjalan kearah kios untuk membayar minuman.             “Sudah saya bayar mas.” Kata si bapak.             “Yah Bapak. Ngerepotin saja. Kalau begitu saya ganti ya Pak?”             “Tidak usah mas. Saya ikhlas membantu mas. Dan kelihatannya mas anak yang baik dimata saya.” Ucap si bapak memegang pundak Nicky. “Kalau begitu saya permisi ya. Hati-hati dijalan nanti.”             “Sekali lagi terimakasih Pak. Lain kali siapa tau saya bisa membalas kebaikan Bapak.” Jawab Nicky sambil menarik tangan Bapak itu dan menciumnya.             Bapak itu tampak puas dengan sikap Nicky dan manggut-manggut.             Nicky karena sudah merasa lebih enak badannya segera menstarter lagi motornya dan mulai melaju kembali menuju rumahnya.             Memang segalanya telah diatur oleh Sang Penguasa Alam Semesta, Tuhan Yang Maa Esa. Takdir tak bisa ditolak. Begitu juga Nicky.             Tinggal sebuah belokan lagi Nicky sampai di kawasan Simpruk.  Tiba-tiba sebuah mobil sedan menabrak motor Nicky yang berjalan pelan. Motor Nicky terseret sampai sejauh 10 meter saking kencangnya mobil sedan tadi.             Orang-orang yang ada disekitar jalan itu tanpa dikomando langsung berlarian menghampiri kecelakaan itu.             “Hei. Turun kamu dari mobil.” Teriak orang-orang kepada pengemudi mobil sedan yang belum turun karena masih shock mungkin.             Setelah semenit barulah pintu mobil sedan itu terbuka. Keluarlah seorang gadis yang terlihat ketakutan dan gemetaran badannya. Gadis itu menghampiri tubuh Nicky yang tidak bergerak ada dibawah mobil. Untungnya tidak terlindas karena terhalang oleh si Jagur motor kesayangan Nicky.             “Tolong pak! Bawa ke mobil saya. Saya akan bawa ke Rumah Sakit yang dekat sini.” Pinta si gadis kepada orang-orang yang melihat kecelakaan ini.             “Baik neng. Tapi langsung ke rumah sakit yah.” Kata seorang bapak sambil minta orang-orang membantunya mengangkat tubuh Nicky kedalam mobil si gadis.             Setelah Nicky didalam mobil si gadis langsung membawanya diantar oleh si bapak yang tadi mengangkat badannya Nicky.             Sampai di ruang UGD rumah sakit di sekitar Simpruk, Nicky langsung dibawa ke ruang tindakan medis untuk mendapatkan pertolongan pertama.             Seorang perawat menghampiri si gadis.             “Pasien ini siapa ya?” Tanya perawat kepada si gadis yang masih shock.             “Saya tidak tau. Orang ini motornya tertabrak oleh saya.”             “Oh. Kalau begitu siapa nama mbak?”             “Saya Santi. Saya yang bertanggungjawab untuk pasien ini.” Ujar Santi kepada perawat.             “Baik kalau begitu. Mari ikut saya ke bagian administrasi. Pasien sudah di ruang tindakan medis.” Jawab perawat dan berjalan kearah ruang administrasi diikuti oleh Santi.             Sebelum pergi Santi ingat kepada bapak yang membantunya membawa Nicky ke rumah sakit.             “Sebentar sus. Saya harus menemui bapak yang membantu saya tadi.” Pinta Santi kepada perawat tadi.             “Oh iya. Baik saya tunggu disini.”             “Oke. Terimakasih. Sebentar ya sus.” Santi kearah si bapak yang sedang duduk dikursi tunggu UGD.             “Pak. Saya Santi. Maaf bapak siapa?”             “Saya Rakim mbak Santi. Kenapa mbak?”             “Bapak kenal dengan orang tadi nggak Pak?”             “Kenal sih tidak mbak. Tapi saya tau kalau anak tadi itu sering keluar dari arah perumahan Simpruk. Saya kan jualan di pinggir jalan belokan arah Simpruk.”             “Begitu ya.” Santi agak terkejut mendengar kata Simpruk. Santi terkejut karena dia juga orang Simpruk. “Saya juga tinggal di Simpruk pa Rakim. Di perumahan Simpruk Raya. Tadi orang itu ketabrak karena bersamaan beloknya dan saya agak lengah.” Tutur Santi. “Saya mau minta tolong lagi ke Bapak. Boleh?”             “Boleh mbak. Asal jangan terlalu lama saja. Saya kan jualan disana.” Balas Rakim.             “Iya pak Rakim. Nanti saya ganti kerugian waktu Bapak. Sekarang saya minta pak Rakim mengantar saya ke bagian administrasi.”             “Baik mbak.” Pak Rakim berdiri dari kursi tunggu UGD dan berjalan disebelah Santi.             Setelah selesai menyelesaikan segalanya di bagian administrasi Santi kembali ke ruang UGD. Seorang dokter UGD menghampiri Santi.             “Maaf. Ibu kan yang mengantar pasien tertabrak tadi?”             “Iya dok. Saya Santi. Kenapa dok dengan pasien itu? Tidak apa-apa kan dok?” Tanya Santi. Raut wajahnya terlihat khawatir.             “Iya Bu. Tapi sayangnya dia dalam kondisi koma. Ada benturan di kepalanya menurut hasil CT Scan.”             “ Ahh.”  Santi menutup mukanya. Santi semakin shock mendengar penjelasan dokter.             “Sekarang bu Santi mendingan duduk dulu. Tenangkan kondisi ibu.” Kata dokter sambil membimbing Santi untuk duduk.             “Oke dok. Saya akan mengabari dulu orang-orang rumah saya.” Santi mengeluarkan handphonenya dan mulai menelpon rumahnya.             “Hallo Ma.”             “Ya Santi. Kenapa San?” Suara ibunya Santi.             “Saya di rumah sakit Simpruk Ma.” Pecah tangis Santi saking kalutnya.             “Loh. Kok di rumah sakit. Ada apa Santi?” Tanya Ibunya yang terkejut mendengar Santi ada di rumah sakit.             “Iya Ma. Santi nabrak motor orang dibelokan arah ke rumah.”             “Terus orangnya gimana sekarang?”             “Orangnya koma Ma. Bisa nemenin Santi disini Ma? Atau siapa saja yang penting Santi ada temen orang rumah.” Isak Santi.             “Iya Santi. Sebentar mama saja yang kesana yah. Diruang mana?”             “Santi di ruang tunggu UGD Ma.” Jawab Santi.             “Oke. Mama kesana ya sayang.” Mamanya Santi mematikan teleponnya.             Santi mulai agak tenang. Lalu dia menghampiri pak Rakim yang juga sedang duduk dikursi tunggu UGD.             “Pak Rakim. Sebentar lagi ibu saya datang kesini. Bapak boleh pulang nanti ya pak.” Kata Santi duduk disebelah pak Rakim. “Saya ganti biaya cape pak Rakim.”             “Iya mbak.” Jawab pak Rakim.             Dokter jaga keluar dari ruang UGD mendekati Santi sambil membawa selembar kertas.             “Bu Santi. Kebetulan orang itu membawa dompet. Saya sudah mencatat nama dan alamatnya. Namanya Nicky, 21 tahun, alamatnya di jalan Minangkabau No 74-77 Perumahan Simpruk Raya.” Kata dokter menyerahkan selembar kertas.             “Jalan Minangkabau Simpruk Raya. Itukan alamat saya juga. Saya di no 48.” Jawab Santi menerima selembar kertas itu. “Ya ampun ini anaknya oom Abiyasa.” Santi terlihat kaget.             “Baik bu Santi. Ibu bisa segera menghubungi orangtuanya pasien biar segera dipindahkan ke kamar.” Kata dokter. “Saya masuk dulu ya bu.”             “Iya dok. Terimakasih.”             Sepuluh menit kemudian ibunya Santi muncul di ruang tunggu UGD dan langsung menghampiri Santi.             “Gimana San?” Tanya ibunya.             “Ma. Tambah gawat nih. Ternyata orang ini anaknya oom Abiyasa yang di no 74. Yang konglomerat itu Ma.” Santi mulai nangis lagi.             “Ya ampun. Anaknya tante Vina? Yang mana? Amelia atau Nicky yang bungsu?”             “Nicky Ma.” Isak Santi.             “Santi! Santi. Ah kamu ini ada saja masalah. Ya sudah mama telpon dulu tante Vinanya.”             Ibunya Santi mulai menekan tombol handphonenya.             “Hallo. Selamat malam jeng Vina. Saya Nila yang di no 48.”             “Oh iya. Sus Nila. Tumben telpon saya. Ada apa ya sus?”             “Ini jeng saya dan Santi ada di rumah sakit Simpruk di UGD. Ada masalah besar jeng.”             “Ya ampun siapa yang di rumah sakit sus?” Suara mamanya Nicky kelihatan kaget.             “Kami baik-baik saja Jeng. Tapi anak jeng Vina sibungsu Nicky yang tidak baik.”             “Maksudnya sus?” Tanya mamanya Nicky mulai cemas.             “Motornya Nicky ketabrak anak saya si Santi di belokan. Sekarang Nickynya belum sadar. Kalau kata dokter sih koma jeng. Maafin kami jeng.” Pinta mamanya Santi.             “Ya ampun. Gimana ini. Saya jalan sekarang kesana.” Mamanya Nicky langsung mematikan handphonenya tanpa basa-basi.             Mamanya Nicky kemudian memanggil pelayannya untuk menyiapkan mobilnya.             Tidak sampai 7 menit ibunya Nicky tiba di rumah sakit Simpruk dan langsung menuju ke ruang UGD.             Mamanya Santi melihat ibunya Nicky dan menghampirinya. Tapi ibunya Nicky tidak menghiraukan ibunya Santi. Dia langsung menuju ruang UGD.             Kebetulan ada dokter yang menangani Nicky keluar dari UGD.             “Dokter. Saya Vina. Ibunya pasien atas nama Nicky. Bagaimana keadaan anak saya dok?” Tangis ibunya Nicky.             “Oh bu Vina. Tenang bu. Nicky sudah kami tangani dengan baik. Namun hasilnya Nicky masih koma. Keadaan kondisi Nicky stabil dan sekarang kami perlu persetujuan untuk mengeluarkan gumpalan darah yang ada di otak kirinya.” Jawab dokter sambil menerangkan kondisi Nicky.             “Ya ampun. Saya harus menelpon suami saya dulu dok.”             “Silakan bu. Tapi jangan terlalu lama kami menunggu takut terlambat. Semua dokter sudah kami hubungi sesuai dengan bidangnya.”             “Iya dok.”             Kemudian ibunya Nicky menelpon ayahnya Nicky di Jepang.             “Hallo Pa. Ini Mama di rumah sakit Pa.” Tangis ibunya Nicky tak tertahankan lagi. “Nicky Pa kecelakaan tadi. Sekarang dia koma dan harus dioperasi segera. Papa pulang sekarang yah.” Tanpa memberikan kesempatan bicara suaminya.             “Iya Ma. Papa segera pulang sekarang juga pake pesawat pribadi charteran.” Jawab pak Abiyasa ayahnya Nicky. “Jagain Nicky ya Ma. Soal operasi lakukan saja. Papa percaya dokter disitu bisa menanganinya.”             “Baik Pa. Hati-hati penerbangannya ya Pa.” Kata ibunya Nicky menutup sambungan teleponnya.             Bu Vina menghampiri dokter.             “Dok. Silakan lakukan yang terbaik. Operasi anak saya dan selamatkan dia dok.”             “Iya bu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Berdoalah untuk keselamatan anak ibu. Dan tolong tandatangani surat pernyataan ini.” Jawab dokter menyerahkan lembaran surat pernyataan operasi.             Ibunya Nicky menandatangani semua lembaran yang ditunjuki oleh dokter. Setelah selesai dokter langsung masuk ke ruang UGD.             Ibunya Nicky kemudian mendatangi Santi dan ibunya.             “Dan untuk kalian. Hati-hatilah apabila terjadi sesuatu pada anak saya. Jangan harap bisa lepas dari tangan saya.” Mata ibunya Nicky terlihat merah dan geram pada mereka. “Terutama kamu.” Ibunya Nicky menunjuk Santi.             “Maafin Santi bu.” Kata Santi memegang tangan ibunya Nicky. “Santi tidak sengaja.”             Ibunya Nicky diam tidak menjawab malah pergi mencari tempat duduk di ruang UGD.             Seorang petugas rumah sakit menghampiri ibunya Nicky.             “Maaf bu. Saya diperintahkan mempersiapkan kamar untuk atas nama saudara Nicky. Mau dikamar apa ya bu? Maaf.” Kata petugas.             “Iya pak. Siapkan kamar super VIP kalau ada.” Jawab ibunya Nicky.             “Ada bu. Kebetulan kamar itu hanya ada satu. Jadi putranya dikamar itu?”             “Iya pak. Saya nanti ke bagian administrasi.” Balas ibunya Nicky tersenyum pahit.             Bu Vina termangu dan membayangkan bagaimana sakit anaknya saat di tabrak oleh mobil Santi. Bu Vina tidak kuat lagi menahan tangisnya dan keluarlah airmata yang selama ini ditahannya.             Bu Nila melihat semua kejadian yang dialami mamanya Nicky segera menghampirinya dan duduk disebelahnya.             “Jeng Vina. Maafkan anak saya Santi sehingga karena keteledorannya mengendarai mobil bisa menabrak Nicky.” Bu Nila memulai percakapannya dan meraih tangan bu Vina. “Saya sebagai ibunya Santi bertanggungjawab atas kejadian inni jeng Vin.”             “Jeng Nila. Kalau saya menangis sekarang ini bukan karena biaya dan tanggungjawab jeng. Tapi saya menangis untuk anak saya Nicky. Dia orangnya baik dan perhatian sama semua orang. Tapi kenapa harus mengalami kejadian seperti ini.” Jawab bu Vina. Matanya masih meneteskan airmata memandang tajam bu Nila. “Jeng Nila sebagai seorang ibu bisa kan merasakan kepedihan saat ini?”             “Iya jeng Vin. Saya mengerti situasi sedih ini. Tapi apalagi yang harus kami lakukan? Semua sudah dan sedang terjadi. Paling kami hanya bisa berdoa dan berharap Nicky tidak mengalami hal yang lebih parah lagi.” Isak tangis bu Nila akhirnya terdengar juga oleh bu Vina. Hati keibuan bu Vina tersentuh juga melihat bu Nila yang menangis.             Akhirnya bu Vinapun membalas pegangan tangan tangan bu Nila sekedar untuk menguatkan batinnya bahwa diapun menerima keadaan yang dialami Nicky.             “Iya jeng Nila. Saya percaya ketulusan permintan jeng. Namun tetap kami akan melakukan apapun untuk anak kami Nicky.” Ujar bu Vina melepaskan tangan bu Nila dan berdiri. “Saya harus ke bagian administrasi dulu. Jadi saya permisi ya jeng.”             “Apa saya perlu mengantar jeng Vina?” Tanya bu Nila.             “Oh, nggak perlu jeng. Gampang kok.” Balas bu Vina dan berjalan menuju ke bagian administrasi.             Di bagian administrasi rumah sakit bu Vina membereskan semua biaya perawatan baik operasi maupun kamar perawatan Nicky nantinya.             “Tagihan sementara semuanya 40 juta dan ditambah deposit untuk 3 hari kedepan 50 juta untuk perincian kamar super vvip dan peralatan pendukung lainnya. Itu belum termasuk biaya operasi dan kunjungan atau penangan dokter bu Vina. Bagaimana bisa disetujui besaran pembayaran awalnya?” Tanya staf bagian administrasi rumah sakit itu sambil menyerahkan selembar kertas untuk rincian biayanya.             Bu Vina menerima kertas itu dan membacanya sebentar. “Ih. Mahal ya sus. Apa sudah betul dihitungnya?” Tanya bu Vina.             “Jadi itu perhitungan kami sementara ibu. Perhitungan lainnya dan yang sebenarnya menyusul. Bisa jadi berkurang atau mungkin jadi lebih besar lagi. Atau mungkin ibu mau minta pengurangan uang mukanya?” Kata staf administrasi itu.             Bu Vina hanya tersenyum.             “Tidak sus. Saya bayar biaya uang muka ini. Menerima kartu debit kan?”             “Bisa ibu. Jadi ibu akan membayar uang mukanya sebesar 90 juta?”             “Iya. Saya akan membayar semuanya.” Kata bu Vina sambil menyerahkan kartu debit banknya.             Petugas administrasi keuangan itu hanya melongo saja melihat kartu debit emas yang diberikan oleh bu Vina. Tidak panjang lebar petugas itu menggoreskan kartu debit itu kesalah satu card reader bank. Tidak lebih dari 10 detik sudah keluar lembar pembayaran sebesar 90 juta.             “Baik ibu. Kami sudah menerima pembayaran uang muka atas nama pasien Nicky sebesar 90 juta. Ini kartu debitnya dan terimakasih.” Staf itu memberikan kembali kartu debitnya kepada bu Vina.             Bu Vina menerima kembali kartu dan bukti pembayaran uang muka rumah sakitnya. “Terimakasih sus.” Jawab bu Vina dan berjalan kembali ke ruang tunggu semula.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN