#5-KOMA

2303 Kata
            Hampir 3 jam operasi pengeluaran darah yang menggumpal di kepala Nicky akhirnya selesai. Tim dokter rumah sakit sudah beristirahat di ruangan para dokter.             Nicky dipindahkan ke kamar super VVIP nya. Dia harus istirahat total tidak ada yang boleh mengganggunya meskipun saudara atau orang tuanya sendiri. Pengunjung baru diperbolehkan berkunjung besok hari jam 9 pagi. Keadaan Nicky masih dalam keadaan koma.             Dokter jaga yang menangani kecelakaan Nicky datang menghampiri ibunya Nicky.             “Bagaimana dokter operasi anak saya?”             “Semuanya berjalan lancar bu. Darah yang mengental di sekitar kepalanya sudah berhasil dikeluarkan. Hanya Nicky masih koma. Kesehatan fisiknya bagus dan stabil. Mudah-mudahan segera sadar kembali.” Kata dokter. “Kemudian bisa saya sampaikan juga Nicky sudah dikamar super VVIP. Nicky memakai seluruh peralatan medis untuk mengontrol kemajuan kesehatannya. Ruangannya ada dilantai 4 Ruang Rajawali.             “Terimakasih dokter.” Ibunya Nicky mengangguk dan menyalami dokter.             “Oh iya bu Vina. Kalau ibu merasa cape ada kamar untuk istirahat disebelah kamar perawatan Nicky.”             “Iya dok. Saya akan kesana.”             “Kalau begitu mari saya antar bu.”             “Mari dok.” Jawab bu Vina berjalan disebelah dokter jaga.             Menjelang jam 4 pagi pesawat charteran mendarat di bandara Halim. Pak Abiyasa turun dari dalam pesawat dengan terburu-buru. Seorang stafnya menghampiri pak Abiyasa.             “Pak. Mobil sudah siap di front. Bapak akan langsung ke rumah sakit.”             “Oke. Terimakasih.”             Pa Abiyasa berjalan menuju mobil yang sudah siap di front. Sopirnya membuka pintu mobil dan pak Abiyasa langsung masuk kedalam mobil.             Mobilpun segera melaju ke rumah sakit dengan cepatnya.             Jam 7 pagi kurang sedikit mobil pak Abiyasa sampai di rumah sakit Simpruk. Pak Abiyasa berjalan menuju resepsionis bertanya tentang pasien yang bernama Nicky.             “Ma.”             “Papa! Syukurlah sudah sampai.” Bu Vina menjadi tenang dengan adanya kehadiran suaminya.             “Dimana Nicky Ma?”             “Disini Pa.” Kata bu Vina berjalan menuju kamar sebelahnya. “Tapi kita belum boleh masuk. Melihatnya hanya dari balik kaca luar.”             “Ya ampun Nick.” Pak Abiyasa terhenyak melihat keadaan Nicky yang dipenuhi dengan banyak selang dan peralatan penopang hidup. “Kenapa sih Nick?” Airmata pak Abiyasa mulai meleleh mengalir dipipinya.             “Sudahlah pak. Sabar ya pak. Berdoalah untuk kesembuhan Nicky,”             “Iya Ma. Mana Amelia Ma?”             “Mama suruh tinggal di rumah.”             “Anak itu ya!” Tampak ada kekecewaan diraut muka pak Abiyasa. “ Bagaimana dengan yang menabraknya Ma? Siapa dia?”             “Sudah diurus kepolisian sejam setelah terjadi kecelakaan. Itu Pa, tetangga kita di no 48. Yang nabrak itu Santi anaknya.”             “Kok bisa sih? Bagaimana kejadiannya Ma.”             “Mama belum tau pasti Pa. Mereka belum cerita banyak.”             Pak Abiyasa tertunduk sedih. Pak Abiyasa tau pasti kalau Nicky anaknya baik dan tak pernah kencang mengemudikan motornya. Malahan belum pernah Nicky memakai kendaraan yang serba wah di rumah.               “Nicky, cepat sembuh ya nak.” Doa pak Abiyasa.             Jam 9 pagi orangtua Nicky dan kerabat sudah diperbolehkan mengunjungi Nicky.             Tangis bu Vina sudah tidak bisa ditahan lagi. Sambil mengusap-usap kaki Nicky bu Vina memanggil-manggil Nicky. Sedangkan pak Abiyasa hanya menunduk  setelah menatap kondisi anaknya Nicky.             Tiba-tiba bu Vina berteriak kepada suaminya.             “Pa! Pa, lihat kaki Nicky bergerak.”             “Mana Ma.” Pak Abiyasa melihat kakinya Nicky.             Ibu jari Nicky tampak bergerak-gerak.             Pak Abiyasa memanggil perawat khusus Nicky.             “Sus. Bisa panggil dokter kesini sekarang?”             “Baik pak. Sebentar saya panggil.” Jawab perawat. Perawat itu kemudian mengangkat telepon intern rumah sakit dan meminta dokter datang ke ruang perawatan Nicky.             Tidak memakan waktu lama dokter datang.             “Kenapa pak Abiyasa?”             “Ini dok. Tadi saya lihat ibu jari kaki Nicky bergerak-gerak. Kenapa ya dok?”             “Baik. Sebentar saya cek log booknya dulu.” Jawab dokter. Kemudian dokter itu memeriksa catatan medis Nicky yang ada di perawat. Kemudian membandingkannya dengan peralatan pendukung yang ada.             “Tidak ada yang aneh pak. Semuanya berjalan sesuai prosedur perawatan pasien koma. Kemudian soal ibu jari bergerak itu adalah salah satu respon dari pasien. Karena menurut ilmu kedokteran otak orang koma masih aktif. Orang koma masih bisa mendengar bahkan merasa sentuhan dari orang-orang sekitarnya.” Kata dokter. “Mudah-mudahan dengan terlihatnya ibu jari bergerak merupakan tanda kembalinya kesadaran Nicky pak.” Sambung dokter.             “Iya dok. Mudah-mudahan. Terimakasih dokter.”             “Sama-sama pak Abi.”             Pak Abiyasa mendengar keterangan dan mencoba untuk mengikutinya.             Lalu pak Abiyasa mendekati tubuh Nicky yang tergolek lemah di ranjang perawatan. Kemudia dia mulai berbicara sambil mengusap-usap tangannya Nicky.             “Hai Nick. Gimana kabarnya? Nih Papa baru sampai dari Jepang. Kata Nicky mau ada pameran lukisan.” Pak Abiyasa seperti bicara sendiri. Tangannya tak henti-hentinya mengusap tangan Nicky. Airmatanya pun sudah mulai berjatuhan.             Seolah menjawab pertanyaan ayahnya ibu jari kaki Nicky bergerak lagi.             Pak Abiyasa tersenyum bahagia.             Hari bergulir dengan cepatnya.             Itu yang dirasakan oleh Nicky. Dia melihat dirinya sedang tertidur pulas ditunggu oleh ayah dan ibunya. Seluruh badan dan mulutnya penuh dengan selang infus dan udara murni.  Nickymencoba berteriak dan menyapa ayah dan ibunya tapi tidak ada yang menyahut satupun.             “Pa! Ma! Ini Nicky.” Teriak Nicky sambil berusaha memegang tangan ayah dan ibunya. Tapi selalu saja lolos seolah menyentuh angin layaknya.             “Apakah aku mati?” Nicky meraba-raba seluruh anggota tubuhnya.             “Belum cucuku.” Ada suara yang menjawabnya tanpa kelihatan orangnya.             Nicky bingung sendiri. Hatinya mulai cemas dan rasa takut meliputi dirinya.             “Siapa itu. Dimana saya ini?”             “Saya turunan ke 17 diatas ayahmu cucuku. Saya Sasranegara. Kamu boleh memanggilku Eyang Sasranegara. Jamanku sudah lewat 200 tahun sebelum ayahmu lahir.” Nicky melihat sebuah bayangan yang mulai tampak wujudnya. “Cucuku. Kamu sekarang wujud kamu dalam keadaan wujud halus. Makanya orangtuamu tidak mampu melihat bahkan menyentuh kamu. Inilah alam halus. Sekarang ikutlah bersama eyang. Akan eyang perlihatkan kepadamu contoh kehidupan.”             Nicky merasa tubuhnya kembali melayang seringan kapas ditiup angin.             “Mau kemana eyang?” Tanya Nicky. Benaknya kembali ingat. Banyak orang bercerita untuk tidak menerima ajakan orang yang sudah meninggal. Tapi anehnya Eyang Sasranegara mengetahui apa yang dipikirkan dalam benak Nicky.             “Jangan takut cucuku. Kamu belum saatnya meninggalkan dunia ini sekarang.”             “Eh. Kok eyang tau yang saya pikirkan?” Nicky heran. “Baik eyang. Saya percaya pada eyang.”             Selesai bicara Nicky merasakan badannya melayang lagi dan tiba disebuah tempat yang berbentuk bayangan masa lalu.             “Lihatlah cucuku. Siapa disana?” Tanya Eyang Sasranegara.             “Saya tidak tau eyang.”             “Itu ayahmu. Masa itu masa kecilnya. Lihat betapa baik hatinya dia menolong orang tanpa pamrih. Memberi orang tanpa pamrih. Beribadahnya rajin dan semuanya persis seperti kamu sekarang ini.” Tutur eyang Sasranegara.             Banyak hal yang dilihat Nicky pada masa komanya termasuk wejangan eyang Sasranegara kepadanya. Bahkan dirinya dititipkan sebuah kekuatan bathin dan akal pikiran diatas orang kebanyakan yang masih hidup. Minimal itu yang dapat diingat oleh Nicky saat komanya.             Kembali Nicky merasakan dirinya sudah berada kembali di tempat dia melihat tubuhnya sendiri beserta kedua orangtuanya.             “Sekarang kembalilah kamu cucuku kedalam raga kasarmu.” Kata eyang Sasranegara.             “Bagaimana caranya eyang?”             “Pejamkan saja matamu cucuku. Mintalah kepada yang Maha Kuasa agar kamu kembali ke ragamu.” Sambung eyang Sasranegara.             Nicky mengikuti ucapan yang dikataka eyang Sasranegara.             Dengan hati yang waswas Nicky mencoba berusaha membuka matanya yang dirasakan sangat berat.             Mata Nicky terbuka.             Yang pertama Nicky lihat adalah raut muka ayahnya kemudian ibunya.             “Pa! Ma! Suara pelan Nicky memanggil ayah dan ibunya.             Pak Abiyasa terkejut dan bangun dari ketidurannya karena kecapean.             “Nick! Nicky! Kamu sadar Nick.” Teriak pak Abiyasa memegang muka Nicky.             Ibunya Nicky yang ketiduran juga ikut terbangun dari kursi.             “Kenapa Pa? Nicky sudah sadar?”             “Iya Ma. Nicky sudah sadar.” Kata pak Abiyasa tertawa lebar. “Sini Ma.”             Bu Vina berlari menghampiri ranjang perawatan Nicky dan menciumi pipi anaknya dengan sejuta kebahagiaan seorang ibu.             “Oh Nick. Syukurlah kamu sadar lagi nak. Mama khawatir Nick.”             Perawat khusus mendengar suara ribut didalam. Segera dia berlari kedalam.             “Ada apa pak? Bu?” Tanya perawat.             “Panggil dokter. Bilang Nicky sudah sadar dari komanya.”             “Baik pak.”             Perawat khusus itu menelpon dokter jaga untuk naik dan memeriksa kondisi Nicky.             Hampir 10 menit kondisi Nicky diperiksa.             “Pak Abiyasa. Ibu Vina. Kondisi fisik dan mental Nicky sangat baik sekarang. Jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi.” Kata dokter. “Semuanya berjalan normal.”             “Baik dokter. Terimakasih.”             Tiba-tiba Nicky memberi isyarat agar selang yang ada dimulutnya dibuka.             “Besok mas Nicky.” Jawab dokter yang mengerti isyarat Nicky. Nicky mengangguk. Banyak sekali selang yang ada di badan Nicky. Ada yang dimulut, ditangan juga didada. Ada yang sebagai penopang hidup yang masih menempel, selang infus juga selang lainnya. Pak Abiyasa dan bu Vina melihat keadaan Nicky dengan hati yang sedih. Apalagi kondisi Nicky masih baru dioperasi. Pa Abiyasa kembali menghampiri Nicky dan mengusap-usap kaki anak bungsunya sambil berkata, “Yang kuat ya Nick. Sabar dan tawakal.” Kata pak Abiyasa. Sementara bu Vina malah menangis karena rasa gembira karena anaknya sudah sadar kembali. Nicky terbangun kembali. Dia melihat ayah dan ibunya yang sedang memperhatikannya. Kemudian Nicky membuat isyarat melalui tangan kananya yang tidak dipasang selang. Tangannya memberi isyarat ingin menulis. Pak Abiyasa mengerti dan menganggukan kepalanya. Lalu pak Abiyasa mangambil kertas dan pulpen yang ada di meja tunggu suster. Pak Abiyasa menyimpan kertas dan papan alasnya tepat dibawah jari tangan kanan Nicky. Nicky yang tangan kanannya sudah memegang pulpen segera menuliskan sesuatu dikertasnya. Pak Abiyasa dan bu Vina melihatnya terharu. Pak Abiyasa melihat tulisan Nicky dikertas. Pak Abiyasa terlihat tersenyum. “Iya Nick. Papa pulang dari Jepang setelah ditelpon oleh Mama. Papa pulang ke Indonesia dengan pesawat pribadi charteran. Pagi-pagi sekali Papa sudah sampai di Jakarta dan langsung kesini.” Kata pa Abiyasa terdengar terbata-bata karena sedih. Lalu Nicky menulis lagi. Pak Abiyasa melihat dan membacanya lagi. “Tidak apa-apa Nick. Rapat adalah nomor ke sepuluh dibandingkan dengan keadaan anak dan istri Papa. Pernah mendengar kata-kata kalau seorang bapak bekerja untuk anak dan istri?” Tanya pak Abiyasa. Nicky menganggukan kepalanya tanda mengetahui. “Jadi untuk apa Papa bekerja kalau anak dan istrinya malah sedang dilanda kesulitan yang sangat membahayakan? Betul nggak? Jadi semuanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan anak dan istri Papa.” Jawab pak Abiyasa. Bu Vina yang dari tadi mendengar pak Abiyasa berbicara hatinya terenyuh dan mendekat kesebelah pak Abiyasa kemudian memeluknya dari samping. Nicky yang melihat kedua orang tuanya saling mengasihi dan sayang kepadanya tersenyum lebar dan mengangguk. Ada setetes airmata yang keluar dari samping matanya. Bu Vina segera menghapus airmata Nicky. “Tidak perlu menangis Nicky sayang. Semua orang tua pasti akan mengorbankan segalanya untuk anaknya.” Ujar bu Vina tersenyum. Tanpa bicara Nicky mengangguk dan tangan kanannya memegang tangan ibunya. “Sudahlah Nick. Kamu istirahat saja. Sekarang kan Papa sudah ada disini. Sabar dan berdoalah agar cepat sembuh kembali yah.” Kata pak Abiyasa memegang kakinya Nicky. “Papa akan ada disini selama kamu dirawat.” Nicky menganggukan kepalanya. Bu Vina tidak bicara apa-apa hanya pandangan matanya saja yang menunjukan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. “Mama disini saja ya Nick?” Kata bu Vina. Nicky menggelengkan kepalanya. Kemudian tangannya kembali menulis. Bu Vina tersenyum. “Nick. Meskipun kamu sudah besar dan dewasa. Kamu itu masih tetap anak Mama kan?” Kata bu Vina. “Jadi sekarang Mama akan tetap disini. Di ruangan ini.” Nicky hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Kamu ingat Nick waktu kamu masih kecil dulu pernah panas dan meracau? Mama yang mengawasi kamu. Papa menunggu di ruang tengah dan Mama di kamar kamu. Kami bergiliran dengan rasa khawatir yang besar. Sama seperti sekarang ini Nick.” Tambah bu Vina sambil mengelus-elus tangannya Nicky. “Padahal itu hanya panas biasa. Orang menyebutnya indah atau masa pertumbuhan badan seorang anak. Apalagi sekarang. Kamu adalah laki-laki yang diharapkan dapat menggantikan Papa kelak disuatu hari. Kamu adalah penerus generasi Abiyasa dan Vina pada suatu hari nanti.” Sambung bu Vina. Nicky terlihat matanya menjadi sayu karena terharu bagaimana besarnya kasih sayang orangtuanya pada dirinya. Kemudian Nicky kembali menulis. “Yah Mama mengerti maksud kamu. Kami pasti menjaga kesehatan meskipun mengurusi kamu.” Jawab bu Vina. “Sekarang kamu tidur saja yang nyenyak. Mama akan tiduran disamping kamu di kursi malas itu.” Kata bu Vina menunjuk sebuah kursi istirahat disebelah tempat tidur Nicky. Nicky mengangguk dan memegang tangan ibunya. Nicky mengangguk. Bu Vina tersenyum sambil turun dari tempat tidur Nicky dan berjalan menuju kursi yang ada di sebelahnya. Bu Vina meluruskan badannya di kursi istirahat itu. Bayangannya menerawang kembali ke masa dia sedang susah dan membangun perusahaan bersama suaminya. Bu Vina kembali ingat akan masa-masa Nicky kecil dan kakaknya Amelia saat itu. Bu Vina bangkit dari tidurannya saat dia ingat akan putri satu-satunya Amelia. Dia mengambil handphonenya dan menekan-nekan tombol untuk menelpon Amelia. Sudah beberapa kali dia mencoba. Namun hasilnya selalu tidak diangkat. Kembali benaknya berkecamuk membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh putrinya ini. “Sedang dimana kamu Mel?” Bisik hati bu Vina. “Taukah kamu kalau adikmu harus kamu lihat dan diberi semangat?” Pak Abiyasa seperti punya rasa yang sama. Diapun turun dari tempat tidur dikamar sebelah ruang perawatan Nicky. “Ada apa Mah?” Pak Abiyasa setengah berbisik kepada istrinya. “Aku coba hubungi Amel, tapi tidak pernah tersambung Pah.” Bisik bu Vina. “Bingung saya Pah. Saya sudah wanti-wanti jangan kemana-mana selama kita di rumah sakit. Malah sekarang entah dimana tuh anak.” Bu Vina terdengar kecewa. “Amel! Amel. Aneh anak satu ini.” Kata pak Abiyasa. “Sudah Mah. Biar Papah saja yang telpon nanti. Sekarang Mamah tidur saja yah. Papah teleponnya diluar saja.” Ujar pak Abiyasa sambil berjalan menuju pintu keluar. Diluarpun pak Abiyasa sama hasilnya seperti istrinya. Handphone Amelia tidak pernah tersambung. Kembali pak Abiyasa dan bu Vina kecewa dengan anak sulungnya.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN