#12-SERBUAN LEBAH

2031 Kata
              Sesampainya di parkiran motornya Nicky, Fitria dituntun oleh Nicky ke pinggir jalan depan kampus.             “Kamu pulang aja ya Fit. Aku dan Andre sebentar mau berunding dulu. Bikin rencana tentang omongan Desmond tadi. Nggak usah khawatir ya Fit.” Kata Nicky. “Sekarang kamu pulang naik taksi saja ya.”             “Oke Nick. Hati-hati ya.” Ujar Fitria. “Jangan berlebihan.”             Fitria mengangkat tangannya waktu ada taksi lewat. Taksi itu berhenti dan Fitria masuk kedalamnya.             Sesudah taksi tidak kelihatan lagi baru Nicky melangkah menuju ke parkiran lagi.             “Dre. Gua minta bantuan oom lu lagi. Boleh nggak ya?” Kata Nicky sambil duduk diatas motornya.             “Kenapa memangnya Nick? Soal Desmond tadi?”             “Iya Dre. Dia akan membawa teman-temannya dari luaran sana. Jadi gua butuh oom Kamil hanya untuk menangkap dan memproses mereka saja.” Kata Nicky. “Itu bukan berarti gua takut. Tapi menjaga supaya tidak ada korban sia-sia saja. Gimana bisa dicoba hubungi oom lu nggak?”             “Iya ntar malam gua hubungi dari rumah saja. Jam segini dia masih keliling soalnya.” Jawab Andre. “Rencana lu apa Nick?”             “Gini Dre. Hari rabu mereka merencanakan penyerbuan buat menghajar gua. Mereka datang cukup banyak. Tempatnya nanti dia rencanakan di lapangan basket sebelah kampus. Disitukan sepi tuh.” Nicky menjelaskan rencananya. “Gua akan minta bantuan anak-anak Taekwondo. Jaga-jaga kalau ada kejadian yang mendesak. Kalau kamu minta bantuan oom lu buat bawa teman-teman polisi yang suka menangkap orang tawuran dan lain.”             “Kemungkinannya jam berapa mereka mau beraksi Nick?” Tanya Andre yang heran darimana Nicky sampai detil tau semuanya             “Sekitar jam 4 sore kalau perhitungan gua sih. Pasukan oom lu agak jauhan aja atau sembunyi disalah satu gedung sekitar kampus kita. Anak-anak Taekwondo akan berada dibelakang lapang basket yang ada pohon bambu. Sedangkan gua akan menghadapi mereka seolah-olah seorang diri. Gitu rencana gua Dre.” Nicky menjelaskan.             “Oke kalau begitu. Ntar malam gua hubungi oom gua.”             “Ya sudah kalau begitu. Sekarang kita pulang saja ya.” Ajak Nicky.             “Iyalah. Rada ngantuk juga lagian mata gua.”             “Ah elu Dre. Tidur melulu. Yuk naik.”             Nicky dan Andre keluar dari parkiran kampus sambil tertawa-tawa diatas motor jadul milik Nicky.             Malam harinya Nicky menelpon teman-teman Taekwondonya. Nicky meminta bantuan mereka untuk menghadang Desmond dan kawan-kawannya besok hari rabu dilapangan basket. Nicky mengingatkan hanya boleh membawa double stick saja yang bisa diselipkan di belakang punggung.             Setelah selesai menghubungi teman-teman Taekwondonya Nicky berbaring ditempat tidurnya. Pikirannya kembali melayang-layang kepada wajah Fitria.             “Ahh. Apaan sih inget Fitria melulu.” Nicky ngomong sendiri.             Pintu kamar diketuk dari luar.             “Nick! Nick. Kamu baik-baik saja kan?” Suara ibunya Nicky dari luar.             “Iya Ma. Ada apa Ma?”             “Barusan teriak kenapa Nick.” Sahut ibunya.             “Nggak ada apa-apa Ma. Lagi latihan nahan nafas barusan.” Balas Nicky.             “Ohh. Kirain ada apaan. Ya sudah tidur yah Nick. Jangan malam-malam terus.”             “Oke Ma. Good night Ma.” Kata Nicky.             “Good night Nick. Sleep well.”             Pagi harinya Nicky sudah beraktivitas seperti biasa yang dia lakukan setiap hari. Nicky dengan motornya melaju menuju kampus. Andre yang sudah menunggu di persimpangan. Tapi kali ini dia tidak sendiri. Kamil dan anak buahnya ikut menunggu juga.             “Hai Nick.” Sapa Andre waktu Nicky menstandarkan motornya dipinggir jalan.             “Hai Dre. Oom Kamil!” Balas Nicky mengangguk kepada Kamil.             “Pagi mas Nicky.” Kamil menyalami Nicky. “Kata Andre ada sedikit masalah lagi mas Nick.”             “Iya oom. Biasa anak-anak bandel mau ngerjain saya. Tapi kali ini dia datang dengan teman-teman dari luar. Maksud saya hanya ingin menghindari korban saja oom.” Ucap Nicky berdiri disebelah Kamil.             “Betul itu mas. Memang adanya korban harus dihindari sebisa mungkin. Sekarang maunya mas Nicky gimana?” Tanya Kamil.             “Begini oom rencana saya.” Kata Nicky. Lalu dia menceritakan semacam skenario untuk menjebak mereka dan kalau perlu membawanya ke kantor polisi.             “Oh begitu. Oke mas. Saya setuju dengan rencana itu. Tapi tetap harus hati-hati. Dan tolong ingatkan teman mas Nicky dari Taekwondo. Jangan sampai terpancing menggunakan kekerasan fisik yah mas.” Pesan Kamil.             “Baik oom.”             Setelah semuanya bicara Kamil dan temannya pergi meninggalkan Nicky dan Andre. Nicky dan Andre menunggu Fitria dipersimpangan jalan.             “Hai Nick, Hai Dre.” Sapa Fitria yang baru tiba dengan ojek.             “Hai Fit.” Sambut Nicky. Tangannya Fitria langsung di tuntun ke pinggir jalan. Andre terbelalak matanya melihat sikap Nicky. Sikap yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.             “Kalian?!” Andre menunjuk tangan Nicky dan Fitria yang saling berpegangan.             Nicky dan Fitria terlihat kaget dan melepaskan tangannya masing-masing.             “Apaan ember.” Nicky melotot.             “Kalian sudah jadian yah. Selamat!” Andre mengulurkan tangannya kepada Nicky.             “Sialan lu Dre.” Nicky menepis tangan Andre.             “Ihhh!” Fitria mencubit tangan Andre. “Songong!”             Andre tertawa lepas tapi hatinya bahagia melihat kelakuan sahabat keduanya.             “Sudah ah. Dasar Andre mah rada gila.” Sungut Fitria. “Jadi sekarang aku ngapain nih?”             “Gini Fit. Kamu nanti diam saja di kampus ya. Sementara saya sama Andre menyelesaikan segalanya. Terus kita bersikap seperti biasa saja seolah nggak ada apa-apa.” Kata Nicky yang tanpa sadar kembali tangannya memegang pundak Fitria.             “Dih. Sok mesra.” Andre nyeletuk.             “Diam lu ah. Berisik!” Fitria menikmati suasana.             “Emh. Lupa deh. Memang gua patung.” Balas Andre.             Setelah selesai berpesan. Fitria lalu berangkat lagi ke kampus dengan angkutan umum seperti biasanya.             Nicky dan Andre kembali menaiki motor menuju kampus. Sepanjang jalan Andre tak hentinya bicara dan meledek Nicky.             Begitu sampai di kampus Nicky dan Andre langsung masuk ruang kuliah.             Didalam rupanya Nicky sudah ditunggu kedatangannya oleh Jeane.             “Nick. Nggak ada apa-apa kan?” Jeane bertanya. “Soalnya aku khawatir.”             “Biasa aja Jean.” Balas Nicky. “Memangnya kenapa Jean?”             “Semalam soalnya Desmond menghubungi beberapa temannya yang sama pembuat onar. Kebetulan salah satunya kenal aku bahkan tetangga. Dia bilang rencananya hari ini mau nyerang dan menghajar kamu.” Ujar Jeane.             “Oh kirain apa Jean. Iya Jean aku juga sudah tau kok. Biarin saja deh.” Kata Nicky sambil mengeluarkan buku dan catatan lainnya dari dalam ransel.             “Iya Nick. Tapi itu kan akibat dari masalah gua sama Desmond kan.”             “Jean. Aku itu tidak melihat siapa saja. Andai kemarin tuh bukan kamu pun pasti aku bantuin.” Nicky menjelaskan. “Soalnya gua nggak suka ama laki-laki yang suka main pukul sembarangan apalagi sama wanita. Jadi sudahlah. Biarin saja apa maunya dia.”             Jeane diam tidak bisa bicara lagi. Hatinya memang senang dibela oleh Nicky yang dia sukai.             Desmond yang baru sampai di ruangan langsung duduk dikursi kuliahnya dibarisan agak kedepan. Dia menoleh kepada Jeane yang duduk juga agak jauh darinya. Dia tau tadi Jeane dari kursi belakang menemui Nicky.             Nicky acuh saja tidak memperhatikan apa-apa.             Setelah bel akhir mata kuliah berbunyi.             Desmond menghampiri Nicky dan berdiri disebelahnya.             “Lu bener kan mau hadapin gua? Gua tunggu nanti sore di lapangan basket. Ajak siapa aja yang lu mau.” Ancam Desmond.             “Ya kalau itu mau lu gua siap. Tapi kalau gua sebenarnya tidak perlu diteruskan lagi. Jangan menambah masalah. Apalagi ada yang terluka nantinya.” Nicky berdiri dari kursi.             Semua orang dikelas sudah pada tegang menyaksikan Nicky dan Desmond berhadapan. Tapi semua juga tau tidak mudah untuk menyentuh Nicky apalagi memukulnya.             “Gua tunggu kalau lu merasa laki-laki.” Kata Desmond dan berjalan keluar ruangan.             Nicky hanya geleng-geleng kepala saja.             Seperti yang sudah direncanakan semula. Jam 15.40 Nicky mendapat telepon dari Kamil kalau semua teman kepolisiannya sudah siap tinggal menunggu instruksi saja.             Nicky juga mendapat telepon dari teman Taekwondonya yang sudah siap disamping belakang lapangan basket.             Nicky mengangguk kepada Andre.             Fitria dan Andre pergi dari kampus dan menyeberang jalan seperti menunggu angkutan umum.             Nicky yang berjalan belakangan mulai keluar dari cafetaria kampus menuju lapangan basket yang ada di samping kampus.             Nicky harus meloncati selokan kecil untuk sampai dilapangan basket itu agar tidak melalui jalan masuk lapangan.             Nicky sudah melihat orang-orangnya Desmond sudah berdiri disalah satu sisi lapangan basket. Mereka ada yang membawa senjata tajam, golok, pemukul bisbol dan lainnya.             Dengan tenang Nicky menghampiri Desmond yang sudah berdiri didepan diantara mereka.             “Berani juga kamu Nick. Gua salut ama lu.” Kata Desmond sambil mempermainkan pisaunya. “Ayo kita mulai saja sekarang!”             “Tunggu sebentar. Teman-teman lu gimana? Mau ikut dan ngeroyok gua?” Tanya Nicky. “Gua harap jangan salahkan gua bila terjadi apa-apa.”             Nicky kemudian meraba kebelakang punggungnya dan mencabut double stick senjata andalan tim Taekwondonya Nicky.             Melihat Nicky sudah memegang double stick Desmond mulai ketar-ketir karena dia tau Nicky mahir menggunakan alat itu. Lalu Desmond memberi komando sama teman-temannya untuk menyerbu Nicky yang terlihat sendirian.             Andre dan Fitria yang melihat situasi segera memberi tanda oomnya untuk menggerebek lapangan basket.             Sebelum teman-temannya Desmond bergerak, tim Taekwondo Nicky sudah merangsek ke lapangan basket dengan double stick ditangannya masing-masing. Nicky sendiri heran melihat banyaknya teman Taekwondonya malahan ada dari perguruan lain.             Teman-temannya Desmond terkesima melihat mereka dan berusaha untuk mundur. Tapi dibelakang mereka sudah ada kerumunan warga disitu komplit dengan segala macam senjata tajam.             Teman-teman Desmond berusaha untuk kabur dari lapangan. Mereka semua kembali naik kendaraan masing-masing untuk kabur. Tiba-tiba dari pintu lapangan basket masuk pasukan Sabhara dari kepolisian memakai motor trail menghadang mereka. Dibelakangnya ada dua mobil yang berisi dari Polsek sekitar kampus Nicky.             “Diam ditempat.” Teriak seorang Sabhara.             Teman-temannya Desmond semuanya diam karena sudah terpojok dari segala arah.             Desmond yang sudah kepalang tanggung langsung menyerang Nicky.             Nicky tidak bergeming namun hanya menarik kaki kananya kebelakang. Kemudian menyabetkan double sticknya kearah tangan Desmond yang memegang pisau.             “Trakkk.” Terdengar bunyi yang cukup keras akibat hantaman double stick dengan pisau Desmond. Pisau Desmond terlempat dan Desmond meringis kesakitan memegang tangannya.             Nicky tidak hanya sampai disitu tiba-tiba dia maju dan mengangkat kakinya tinggi seperti mau menghantam Desmond. Itulah tendangan andalan jurus Taekwondo Deol Chagi jurus tendangan ke depan dengan memanfaatkan bagian tumit kaki mengincar kepala dan dagu Desmond.             Desmond merunduk ketakutan dan berteriak. “Sudah Nick. Gua menyerah.”             Nicky menarik kembali kakinya dan berdiri didepan Desmond.             Kemudian Nicky berbalik untuk mengambil double sticknya yang dia lempar.             Rupanya kesempatan itu dipergunakan Desmond untuk melukai Nicky. Dia mengambil pisau lain yang disembunyikan di betis kakinya. Lalu berlari cepat untuk menikam Nicky. Sebelum sampai ke badan Nicky beberapa double stick sudah melayang dan menghantam badan Desmond.  Nicky kaget. Reflek kakinya berputar dan menghantam bagian perut Desmond.             Desmond terlempar kebelakang dan tidak bergerak lagi.             Nicky menengok kearah teman Taekwondonya. Kemudian Nicky membungkuk sambil menyatukan kedua tangannya di d**a. Semuanya membalas seperti tindakan Nicky.             Kamil yang melihat perilaku Nicky dan temannya tampak kagum akan kesetiakawanan timnya Nicky.             Kamil mendatangi Nicky.             “Tidak apa-apa mas Nicky?” Tanya Kamil.             “Nggak apa-apa oom Kamil.” Jawab Nicky. “Oom sama teman-teman tepat waktu. Terimakasih oom.” Lanjut Nicky sambil menjabat tangan Kamil dan menciumnya.             Kamil memerintahkan polisi yang ada disitu untuk membawa teman-teman Desmond ke kantor polisi terdekat. Sedangkan Desmond dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa dokter.             Andre dan Fitria datang dari jalan dan menghampiri Nicky.             “Oom.” Andre mengangguk kepada Kamil. “Kamu nggak apa-apa Nick?”             “Baik Dre. Nggak apa-apa. Untung oom Kamil cepat datang soalnya.” Jawab Nicky.             Fitria tersenyum dan memegang tangan Nicky. “Syukurlah Nick.” Ujarnya.             Seluruh kejadian di tempat itu tidak lepas dari perhatian sepasang mata yang memperhatikannya dari balik tembok kampus. Jeane merasa bersyukur semuanya bisa selesai tanpa kekerasan kecuali Desmond. Hati Jeane juga teriris pedih melihat Fitria yang terlihat mesra dan tidak sungkan kepada Nicky.             “Contact! Serbuan lebah sudah tertanggulangi. Delta kembali kepusat. Over!” Kamil berbicara kepada seluruh rekan polisinya melalui handytalkie khususnya.             Nicky mengangguk kepada Kamil saat mereka pamitan kepada Nicky.             “Oom Kamil. Nanti Nicky telepon oom.” Kata Nicky.             Kamil hanya mengangkat jempolnya dan mengangguk.             Nicky, Andre dan Fitria berjalan bertiga kearah timnya Nicky dan menyalami mereka satu persatu serta mengucapkan terimakasih.             Kemudian mereka juga menuju kepada warga yang ikut membantu atas inisiatif salah seorang tim Taekwondo yang kebetulan tinggal dilingkungan dekat kampus.             Setelah itu mereka sama-sama membubarkan diri dari lapang basket.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN