#11-FULL CONTACT

1635 Kata
              Hari ini hari selasa. Tinggal 3 hari lagi Nicky harus mempersiapkan segalanya berdasarkan konsep dari Nicky sendiri. Pagi-pagi Nicky sudah pergi kekampusnya untuk rapat terakhir dan rencana gladi bersih acara.             Seperti biasa Nicky berhenti di perempatan tempatnya menunggu sahabat karibnya Andre. Belum lama Nicky berhenti disitu ada sebuah mobil berhenti dihadapannya.             “Hai Nick.” Serunya dari dalam mobil dan kacanya terbuka lebar. Santi gadis yang pernah menyapanya saat Nicky lari pagi sekaligus yang menabrak motornya.             “Hai San.” Sapa Nicky lagi.             “Mau kemana Nick?”             “Ke kampus San.”             “Kok naik motor itu lagi sih? Bareng aku aja yuk?” Ajak Santi dari dalam mobil.             “Nggak usah San. Thanks. Aku lagi nunggu temanku Andre.”             “Gitu ya. Ya udah. Aku duluan ya Nick. Bye.” Santi melambaikan tangannya.             “Oke. Bye.” Nicky membalas lambaian tangan Santi.             Santi sebenarnya kesel juga dengan Nicky yang terkesan angkuh. Padahal selama ini banyak cowok kaya yang naksir Santi.             Dari kejauhan Andre sudah teriak-teriak memanggil nama Nicky.             “Nick! Nick! Wey tunggu gua!” Andre pikir Nicky sudah mau jalan lagi dengan motornya.             “Apaan lu ember? Iya gua tunggu.” Teriak Nicky.             Nafas Andre tersengal begitu sampai di samping motor Nicky.             “Hhhh.! Ini si jagur dulu Nick? Kok jadi lain warnanya?”             “Iya ember. Memangnya nggak boleh di cat ulang sesuai warna aslinya.” Sahut Nicky dan duduk di motor jadulnya. “Hayo mau kuliah nggak sih?”             “Oke bos Nicky.” Jawab Andre sambil ikut juga naik motornya Nicky.             Mereka berdua melaju melalui jalan biasa kalau menuju ke kampus.             Nicky dan Andre sampai dikampus langsung menuju ruang pamer karena akan rapat dengan panitia pelaksanaan pameran lukisan. Kebetulan karena jam pertama sesi kuliahnya dimulai jam 10 pagi.             Begitu masuk ke ruangan rapat Fitria sudah ada duduk di kursi salah satu meja rapat. Nicky dan Andre langsung menuju ke kursi sebelah Fitria.             “Hai Fit. Sudah lama?”             “Paling 10 menit Nick. Hai Dre!.” Fitria menjawab pertanyaan Nicky.             “Hai Fit. Sudah sarapan belum?” Tanya Andre. “Gua bawa ketan bakar nih.”             “Wih! Enak tuh.” Fitria mengambil ketan bakar dari tangan Andre. “Thanks ya Dre.”             “Oh iya lupa aku. Terimakasih Nick kiriman tasnya. Ibu kamu yang beli itu? Bagus banget hanya emak gua yang make. Iri dia hehehe.” Kata Fitria sambil makan ketan bakarnya.             “Iya. Nanti saya bilangin sama mama.” Balas Nicky dingin.             Nicky membuka ransel kuliahnya dan mengeluarkan catatan rapatnya.             Fitria ngedipin matanya sama Andre tanda isyarat.             “Nggak apa-apa Fit. Saya hanya lagi cape.” Seolah Nicky mengerti maksud Fitria.             “Loh maksud kamu apa Nick?” Tanya Fitria merasa ketauan bisik hatinya.             “Kamu tadi ngedipin mata ke Andre kan? Kamu mau ngomong kenapa Nicky? Itukan yang ada dibenak kamu Fit.” Nicky membalikan badannya menghadap Fitria.             Fitria kaget. Dia berhenti makan ketan bakarnya.             “Iya Nicky. Sorry gua hanya ingin tau saja. Kamu kan nggak pernah kaku seperti tadi.” Balas Fitria megang tangan Nicky.             “Its ok Fit. Nanti saya sampaikan pesannya ke mama yah.” Nicky berdiri dan menghampiri ketua panitia. Nicky menyerahkan beberapa lembar konsep acara yang disusunnya.             “Dre! Kenapa si Nicky? Marah ama gua karena nggak bisa datang kerumahnya?”             “Ih nggak tau gua Fit. Tanya aja sendiri.” Jawab Andre meneruskan makan ketan bakarnya.             Nicky kembali kekursi semula setelah bicara dengan ketua panitia tadi.             “Saya tidak pernah marah kecuali waktu si Desmond ngeledek saya Fit.” Tiba-tiba Nicky nyeletuk.             “Hah?” Fitria kaget. Mulutnya agak terbuka. “Heran gua. Darimana Nicky tau omongan gua. Andre kan disini bareng gua?” Bisik batin Fitria             “Sudah nggak perlu heran. Gua tau dari mata kamu Fit.” Nicky tersenyum.             “Ihhhh. Dasar kamu Nick.” Fitria mencubit tangan Nicky.             “Kenapa lu takut gua marah?” Kata Nicky. “Kalau gua cinta ama lu. Takut nggak?”             “Nggak. Malah akan gua cium lu dimuka Jeane.”             “Kok bawa-bawa Jeane sih? Apa urusan Jean ama gua Fit?”             “Kali aja ada feeling. Hehehe” Fitria tertawa.             Tiba-tiba dari luar masuk Jeane yang baru saja diomongin mereka.             “Nahhh! Itu Jeane. Coba cium Nicky Fit. Katanya lu mau nyium Nicky didepan Jeane. Hayoo!” Teriak Andre kegirangan.             “Diem lu ember!” Fitria melempar bukunya. Tapi muka Fitria menjadi merah jambu. Entah senang, entah malu.             “Nick. Boleh nggak nanti kita bicara sebentar? Ada yang mau aku tanyain.” Kata Jeane berdiri disebelah Nicky.             “Nanya apa ya Jean. Saya mungkin agak siangan setelah mata kuliah baru bisanya.”             “Ya nggak apa-apa sih. Nggak penting-penting amat soalnya.” Balas Jeane.             “Lihat situasi aja ya Jeane. Bukan apa-apa gua malas urusan ama cowok kaya si Desmond soalnya.”             “Terserah kamu sih Nick.” Tukas Jeane. “Mudah-mudahan nanti bisa. Dan satu lagi saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Desmond.”             Jeane melangkah keluar dari ruangan. Nicky tersenyum.             “Good job bro.” Kata Andre menepuk-nepuk pundak Nicky. “Jangan mudah tergoda oleh kecantikan wanita. Kan sudah ada disebelahmu.”             “Apa Dre! Sialan kau Dre.” Fitria sewot digoda begitu.             “Ya mudah-mudahan aja Dre.” Celetuk Nicky.             “Sama gilanya nih laki-laki.” Umpat Fitria tapi hatinya berbunga-bunga. “Aku mau kok Nick.” Bisik hatinya Fitria.             “Syukurlah kalau mau.” Balas Nicky acuh.             Fitria melotot heran.             Hampir 2 jam rapat persiapan pameran lukisan untuk amal baru selesai. Nicky, Andre dan Fitria langsung masuk ruang kuliah.             Begitu masuk mereka tidak kebagian kursi kuliah yang berdekatan sehingga duduknya masing-masing terpisah.             Nicky kebagian 2 bangku dibelakang Jeane.             Desmond yang sekarang kebetulan ada disebelah kursi kuliah Jeane. Desmond melirik kearah Nicky seolah membanggakan dirinya bisa menundukan Jeane.             Nicky hanya tersenyum dan kembali mendengarkan mata kuliah yang diajarkan oleh dosennya.             Bel selesai mata kuliah berbunyi. Nicky membereskan buku mata kuliahnya dan memasukannya kedalam ranselnya.             Nicky menghampiri Andre dan Fitria.             “Ke cafetaria yuk Dre, Fit! Aku kok tiba-tiba lapar.” Ajak Nicky.             “Iya yah.” Andre menirukan Nicky. “Aku juga pengen makan ketoprak mang Diding.”             “Iya kok samaan yah.” Fitria ikut nimbrung. “Pengen ketoprak yang pedes ah.”             “Lagi ngidam ya?” Tanya Andre.             “Gila lu Dre. Gua belum punya laki.”             “Tuh ada.” Andre menunjuk Nicky.             “Maksa!” Ujar Fitria berdiri dan berjalan keluar ruangan.             Di cafetaria mereka bertiga pesan ketopraknya mang Diding yang terkenal enak di kampus.             Tidak lama mereka sudah makan ketoprak dengan lahapnya.             “Eh Nick. Lihat si Jeane berantem sama Desmond.” Kata Andre.             “Iya ya. Tapi biarin aja deh bukan urusan gua.” Balas Nicky meneruskan makan ketopraknya.             “Plakkk.” Tiba-tiba terdengar suara orang menampar.             “Aduh!.” Teriak suara perempuan kesakitan. Semua orang menengok kearah suara itu.             Tampak Jeane memegang pipinya sambil jongkok. Sementara Desmond berdiri didepannya.             Nicky yang tidak suka dengan kekerasan apalagi pada seorang perempuan langsung bangkit dan menghampiri Jeane.             “Kenapa Jeane? Nggak apa-apa?” Tanya Nicky mengangkat tubuh Jeane yang jongkok.             “Nggak apa-apa Nick. Sudah jangan mau dipancing orang.” Kata Jeane mengelus pipinya yang tampak merah bekas tamparan Desmond.             “Ngapain lu jago mogok. Mau belain? Hayo sekarang disini saja.” kata Desmond sambil memberi isyarat temannya untuk mengeroyok Nicky. Tapi semuanya tidak bergeming dari tempatnya. Mereka tau siapa Nicky. Sabuk hitam Dan II Taekwondo. Nicky juara full contact Taekwondo se perguruan tinggi di Indonesia.             Nicky melepaskan ranselnya. Matanya mulai melihat teman-temannya Desmond satu persatu. Dilihat Nicky seperti itu mereka surut kebelakang tinggal Desmond sendiri yang berdiri berhadapan dengan Nicky.             “Sekarang Des?” Kata Nicky.             Desmond yang sudah terlanjur menantang tanpa basa basi lagi langsung bergerak menyerang Nicky dengan sebuah pisau lipat.             Tak seorangpun yang melihat bagaimana Nicky bergerak tau-tau terdengar suara gedebuk orang memukul sesuatu.             “Bukk! Bukk.” 2 kali terdengar suara itu. Desmond sudah terlihat terkapar dan tidak bergerak lagi dibawah kaki Nicky. Sedangkan pisaunya masih Desmond pegang.             Keamanan kampus yang datangnya terlambat melihat kejadian itu malah jadi tertawa.             “Bodoh banget Desmond ini. Banteng dilawan. Ada-ada saja.” Kata keamanan yang mengenal siapa Nicky. “Waduh! Desmond bawa pisau? Melanggar ini. Cepat bawa ke kantor orang ini. Dasar biang ribut.”             Nicky mengangguk pada keamanan dan mengambil ranselnya. Sedangkan Desmond dibopong oleh keamanan dan teman-temannya Desmond.             Jeane yang sudah reda nangisnya pergi bersama mereka untuk menjadi saksi kejadian.             Nicky kembali ke bangku makan kampus buat meneruskan makan ketopraknya. Sepanjang Nicky berjalan semua orang bertepuk tangan.             “Bagus Nick. Biar kapok.” Celetuk salah seorang yang makan disitu. “Kalau ada apa-apa kami jadi saksi Nick.” Teriaknya.             “Terimakasih guys.” Balas Nicky sambil mengangguk kesemua yang ada disitu.             Andre dan Fitria menepuk pundak Nicky tanda setuju dengan sikap Nicky.             1 jam kemudian dan pas Nicky, Andre dan Fitri selesai makan.             Desmond berjalan menghampiri bangku makan mereka. Nicky sudah mulai kesal dengan sikap Desmond melepaskan ranselnya dan bersiap buat menghajarnya lagi.             “Elu sekarang menang Nick. Tapi gua tidak akan tinggal diam. Tunggu aja balasannya jago mogok.” Kata Desmond meludah kelantai kantin.             “Mau lu tuh apa sih Des? Gua ini hanya orang kecil tapi lu ganggu terus. Terus terang Des gua nggak suka ngeliat lu mukul orang apalagi perempuan. Gua nggak bakalan lari dari tantangan lu. Sebutin saja kapan dan dimana.” Ujar Nicky menghampiri Desmond.             “Oke kalau mau lu gitu.”             “Loh bukannya elu Des yang ngancam gua.” Kata Nicky.             Desmond tidak menjawab malah berbalik dan keluar dari cafetaria.             “Hati-hatilah Nick.” Fitria cemas.             “Iya Fit. Saya akan hati-hati.” Jawab Nicky memegang tangan Fitria.             Fitria kaget dengan sikap Nicky. Tapi Fitria membiarkannya.             “Yuk. Kita pulang.” Ajak Nicky kepada Andre dan Fitria yang tangannya masih dituntun oleh Nicky.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN