#10-INSYAF

1359 Kata
              3 hari setelah kejadian penculikan kakaknya Nicky kembali melatih otot-ototnya dengan berlari pagi. Hari itu tidak ada mata kuliah dikampusnya. Sebuah mobil mendekati Nicky yang sedang berlari. Mobil itu membunyikan klakson nya. Nicky menepi dan berhenti untuk menengok mobil yang mendekatinya. Mobil itu berhenti pas disamping Nicky. Kaca jendela mobil terbuka. Tampak didalamnya ada seorang gadis cantik yang tersenyum dan menyapanya. “Hai selamat pagi Nick.” “Selamat pagi.” “Masih ingat saya?” Katanya keluar dari mobilnya menghampiri Nicky. “Saya Santi. Kita berteman dulu waktu SD. Ingat?” “Emh. Maaf saya lupa.” “Cepet lupa ya. Saya tinggal di no 48 loh Nick. Masa lupa?” “No 48. Santi ya. Nggak ingat tuh. Maaf yah.?” Kata Nicky mengangkat kedua tangannya. “Saya betul-betul tidak ingat.” “Oh ya sudah. Gak apa-apa. Kalau begitu maaf ya Nick.” “Iya sama-sama. Hati-hati di jalan.” Sambung Nicky melanjutkann kembali lari paginya. Jam 7 an Nicky berhenti berlari tepat didepan rumahnya. Nicky masuk melalui pintu samping gerbang rumah. Begitu masuk kedalam rumah Nicky melotot keheranan melihat kakaknya berpakaian yang rapih dan pantas dilihat sebagai seorang gadis. Anggun, sederhana tidak terkesan glamour lagi seperti sebelumnya. “Hey Nick. Kenapa bengong? Ngeliat hantu ya?” Amelia tersenyum. “Heh. Nggak biasa saja. Cuma pantas saja pakaian hari ini.” Nicky duduk di kursi meja makan. Tangan mengambil minuman segar yang sudah ada di meja. “Maksud kamu apa Nicky?” Amelia penasaran. “Nggak ada maksud apa-apa kok. Hanya mau bilang hari ini Amel pakaiannya enak dilihat.” “Siapa dulu dong ibunya.” Bu Vina nyeletuk. “Iya deh Ma.” Nicky menggoda. “Anak Mama. Kalau Nicky anak siapa ya?” “Ya anak Mama dong ah.” Bu Vina tertawa. “Sudah! Sudah jadi malu aku.” Amelia merajuk. “Aku ganti lagi nih.” “Ehhh jangan!” Bu Vina dan Nicky berteriak bersamaan. Keduanya saling pandang dan tertawa. Ameliapun akhirnya ikut tertawa. “Ma! Tadi aku waktu lari tadi ada cewek katanya tetangga kita. Namanya Santi kalau nggak salah. Dia bilang temen Nicky waktu SD. Bener itu Ma?” Tanya Nicky kepada ibunya. “Loh. Itukan yang menabrak motor kamu Nick. Bukannya sudah datang kesini untuk meminta maaf sama kamu? Lupa ya?” “Masa sih. Aku nggak inget tuh mukanya kayak apa waktu kesini.” “Terus ngapain dia?” Selidik Amelia. “Godain kamu?” “Dih. Apaan? Orang aku bilang lupa ama dia kok. Pantesan dia langsung ngeloyor.” “Dasar kamu ini Nick.” Amelia tersenyum dan beranjak dari ruang makan. Nicky tersenyum melihat perubahan besar dari diri Amelia kakaknya. “Papa mana Ma?” Tanya Nicky. “Bukannya hari ini ada tamu? Oomnya Andre mau datang?” “Ada diatas Nicky lagi ada kerjaan dikit. Katanya untuk besok ada rapat pemilik saham.” “Tapi nggak lupa kan dengan kedatangan oomnya Andre?” “Nggaklah. Semuanya sudah disiapin Mama. Tenang saja Nick everything is under control.” Bu Vina tersenyum. “Syukurlah. Takutnya saking keasyikan kerja jadi lupa.” “Nyindir ya!” Bu Vina menggoda Nicky. “Kan masih seminggu lagi acara pamerannya Nick.” “Ya itu juga sih Ma. Aku kan sudah janji mau beli satu lukisan Ardila.” “Emh. Sudah mulai menggoda perempuan ya anak Mama satu ini.” Bu Vina tertawa geli. “Ma! Ma. Soal cewek mah Nicky sudah punya segudang.” Nicky membuat bentuk bulat dengan tangannya. “Mereka tergila-gila melihat kegantengan anak Mama ini.” “What! Ganteng kata kamu? Siapa bilang? Salah lihat kali Nick.” “Wo! Wo, Mama nggak tau aja. Nicky ini di gila-gilai perempuan Ma. Mereka lari mengejar Nicky sambil nyambit Nicky. Hahaha.” Berderai tawa Nicky beranjak dari kursi makannya. “Dasar anak nakal. Boro Mama dengerin.” Bu Vina tersenyum melihat kelakuan anak-anaknya. Ada sinar kebahagiaan terlihat diwajahnya bu Vina. Menjelang makan siang Kamil dan ke 2 temannya juga Andre sudah duduk di ruang tamu atas undangan Nicky dan keluarganya. Mereka datang memakai kendaraan sewaan online. Rencananya mereka ingin mengucapkan terimakasih atas bantuannya untuk menangkap Rafli penculik Amelia. “Mari pak Kamil, bapak-bapak, Andre diminum dan dimakan kuenya yah.” Kata bu Vina. “Mana Fitria? Nggak diajak Dre?” Tanyanya lagi. “Tadi sudah ditelepon tante. Tapi katanya ada acara keluarganya. Ada khitanan di Depok.” “Oh. Sayang yah. Padahal tante sudah masak makanan enak.” “Eh. Iya Ma. Sekarang kan sudah waktu makan siang nih.” Pak Abiyasa memotong percakapan bu Vina. “Mari semua kita libas makanannya hahaha.” Pak Abiyasa mengajak mereka untuk makan siang. Semuanya berdiri dan berjalan ke ruang makan. “Mari silakan di makan. Tidak usah malu-malu yah.” Bu Vina mempersilakan tamunya setelah mereka duduk di kursi makan. Hampir satu jam mereka makan. Setelah hidangan penutup mereka habis lalu semuanya berdiri menuju kembali ke meja tamu. “Pak Kamil bapak-bapak sekalian.” Pak Abiyasa membuka percakapannya. “Sengaja kami mengundang datang kesini ingin mengucapkan terimakasih untuk pertolongannya. Sehingga anak kami Amelia dapat terbebas dari penculikan pacarnya sendiri, Rafli.” Pak Abiyasa menarik nafas dalam-dalam. “Untuk itu kami berniat ingin memberikan sesuatu kepada bapak-bapak semuanya atas kebaikannya. Namun saya minta jangan dinilai dari nilai dan besar kecilnya pemberian kami ini. Karena sesungguhnya kami ikhlas melakukannya.” Pak Abiyasa terdiam sebentar. Bu Vina yang baru datang dari dalam duduk disebelah pak Abiyasa. Ditangannya membawa beberapa tas kecil yang tentunya mahal karena terlihat dari bentuk dan kerapihanya dalam pembuatannya. “Ini ada sedikit oleh-oleh buat keluarga mohon diterima dengan baik.” Ujar bu Vina sambil memberikan masing-masing tas kecil itu. “Dan ini untuk Andre. Maaf kalau beda lumayan buat kuliah.” Bu Vina memberikan ransel serba guna kepada Andre. “Waduh pak Abiyasa, Bu Vina. Saya jadi tidak enak nih.” Kamil menyampaikan rasa terimkasihnya. “Sebenarnya tanpa memberi ini juga pasti kami akan melakukan untuk melindungi yang terdzolimi. Apalagi mas Nicky ini teman dekatnya Andre.” Lanjut Kamil. “Kami terima ini semua dengan rasa syukur dan mengucapkan terimakasih untuk perhatiannya kepada kami.” Kata Kamil menutup ucapannya. Jam 14.00 pas mereka pamitan kepada keluarga pak Abiyasa untuk pulang. Mereka akan diantar oleh pak Amir. Sebuah mobil van mewah sudah menunggu dihalaman untuk mengantarnya. “Kami permisi dulu pak Abiyasa, bu Vina. Jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi kami bila ada sesuatu yang perlu bantuan kami.” Kamil menyalami pak Abiyasa, bu Vina dan Nicky. “Oh iya hampir lupa. Dre. Salam buat Fitria. Besok tasnya tante titipin ke Nicky. Gitu ya Dre.” Bu Vina pesan kepada Andre. “Baik tante.” Sahut Andre dari dalam mobil. Mobil van itupun melaju berjalan menuju gerbang. “Ma. Nggak lupakan masukin sesuatu ke tas mereka?” Pak Abiyasa bertanya pada istrinya. “Yah nggaklah Pa. Semuanya diisi 5 gepokan kok. Termasuk Andre dan Fitria.” Jawab bu Vina tersenyum. “Asyik. Aku dapat berapa gepok ya?” Canda Nicky. “Semuanya Nick. Semuanya milik kamu.” Kata bu Vina sambil membelai pipi anak laki-lakinya. Mereka masuk kedalam rumah sambil bercanda. Dari dalam kamar Amelia keluar menuju ruang keluarganya. Kemudian duduk berhadapan dengan ibunya. “Ma. Ada teman Amel yang ngajak ke acara lamaran temannya. Boleh nggak Amel pergi Ma?” Bu Vina tidak langsung membalas ucapan Amelia malah melongo melihat Amelia. “Apaan sih Ma ah! Kok gitu sih ngeliat Amel?” “Ehh. Nggak apa-apa Mel. Tapi baju itu cocok dan cantik dipakai kamu. Apalagi kalau kerudung coklat mudanya dipakai, serasi deh.” Ujar bu Vina. “Ah yang bener Ma. Memang Amel cantik Pa?” “Yah kalau papanya ganteng pastilah anaknya cantik dan tampan dong.” Pak Abiyasa sambil tertawa. Dia bangga melihat anaknya yang dulunya suka berpakaian glamour sekarang tidak lagi. “Emhh. Yang ngelahirin kan aku Pa. Ya mirip akulah.” Bu Vina tidak mau kalah. “Eh sudah! Sudah. Malah jadi rame sih. Memangnya Nicky nggak cakep apa?” Nicky bergaya jadi top model pakaian. “Memangnya Amel aja yang cantik. Gua juga dong ah.” Semua tertawa geli mendengar celotehan Nicky yang asal. Siang itu rumah pak Abiyasa penuh dengan canda tawa keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN