Part 9. Alasan.
===
Langit terlihat gelap. Bintang-bintang bertaburan, dengan sang raja malam yang tanpa lelah menerangi malam dengan cahayanya.
Semilir angin pelan berhembus. Menyapa dedaunan, menimbulkan suara.
Tidak ada yang bisa di lakukan Abiyoga kecuali terus berpura-pura menjadi Satya. Kepercayaan dari sang papa yang telah kembali, membuatnya tidak ingin mengecewakannya lagi. Bukan hanya itu, imbalan yang akan ia dapatkan, juga tidak main-main. Apa salahnya kali ini ia lebih sabar dan bertahan untuk mendapatkan balasan yang berharga.
Pak Seno, yang selama ini menentang hubungannya dengan Devina, tidak memberi restu dengan berbagai alasan dan segudang pembenaran. Akan memberikan restu, mengizinkan Yoga menjalin hubungan yang serius dengan Devina.
Jika anak Satya lahir dengan selamat, itu artinya ia sudah selesai melakukan misinya. Kemudian, sang papa akan mengizinkannya menikahi Devina.
Sudah tidak ada waktu lagi. Jumat malam, Yoga ingin meminta izin pada Calista.
Namun, ia ragu karena keadaan Calista kembali lemah. Tidak ada pilihan lain, ia harus meminta izin pada wanita itu sekarang atau tidak bisa menepati janjinya pada Devina.
Sepulang dari kediaman Pak Seno, keadaan Calista kembali memburuk. Ia kembali merasa mual dan berusaha keras hanya sekedar untuk makan buah apel.
Hoek.
Hoek.
Hoek.
Calista membungkuk di depan wastafel kamar mandi. Mengeluarkan semua yang mengganjal di tenggorokannya.
Kemudian, ia kembali duduk di tepi ranjang. Dengan wajah yang basah.
“Apa sangat mual?” tanya Yoga. Mengamati wanita itu dengan saksama. Ada rasa kasihan yang teramat dalam.
“Mungkin aku hanya butuh istirahat, Mas!” jawab Calista. Ia berusaha, membaringkan tubuhnya dengan nyaman.
“Ada yang ingin aku bicarakan sebentar,” izin Yoga.
“Nanti saja Mas, aku mau tidur!” ucap Calista. Sangat lemas dan ingin segera terlelap. Terlihat dari matanya yang enggan membuka.
“Oh, iya-iya!” sahut Yoga. Ia merapikan selimut, lantas membiarkan Calista untuk tidur. Beranjak dari duduk, dan berlalu keluar kamar meninggalkan wanita itu.
Pria itu memilih untuk duduk di teras, membawa dua ponselnya. Satu ponsel ketika ia menjadi Satya, yang baru saja dibelinya sore tadi, dan satu ponsel miliknya sendir.
Yoga meraih benda pipih itu, untuk menghubungi Devina. Merasa tidak pergi bisa pergi ke pameran. Tidak mungkin meninggalkan Calista yang tengah sakit dan tidak mau makan.
Baru saja, Yoga membuka layar ponsel, ada satu pesan dari kekasihnya itu.
Devina [ Mas Yoga, besok pagi kita makan bersama ya, sebelum acara pemeran dimulai, aku pesan menu spesial untuk kamu dan tim ].
Yoga [ Iya ]
Devina [ Gimana keadaan Mama? ]
Yoga [ Lumayan baik! ]
Devina [ Sampai ketemu besok ya Mas! l Miss U ]
Yoga [ I Miss U Too ]
Yoga kembali menaruh telepon pintarnya di atas meja. Ia memejamkan mata dan berharap setelah istirahat sejenak keadaan Calista akan membaik.
“Pak Satya,” panggil Mbok Iyem seraya berdiri di ambang pintu.
“Iya, ada apa Mbok?” sahut Yoga. Menoleh ke sumber suara.
“Ibu sudah menunggu di ruang makan!” ujar Mbok Iyem sesuai perintah Calista.
“Oh, Iya,” jawab Yoga. Ia segera berdiri dan mengantongi kedua ponselnya.
Sebelum menemui Calista. Yoga menyembunyikan benda pipih nan canggih miliknya di suatu tempat persembunyian yang tidak diketahui Calista. Tentu saja tidak ada orang lain yang mengetahui tempat itu selain dirinya sendiri. Setelah di rasa aman, baru kemudian ia berjalan ke ruang makan menghampiri Calista yang tengah duduk di sana.
“Kamu sudah bangun? Sudah baikan? Kamu lapar? Ingin Aku suapi?” cerca Yoga yang mendapati Calista dalam keadaan diam tak bersuara, dengan pandangan mata kosong. Kedua tangannya terlipat di depan d**a.
“Iya Mas, suapi aku!” jawabnya seraya menganguk pelan. Bukan tanpa alasan Calista telihat diam dan memikirkan sesuatu. Itu semua karena mimpi-mimpi buruk yang terus saja hadir dalam mimpi, meski meski sang suami sudah pulang.
“Baiklah kamu mau makan sama apa? Ini ada ikan, sama ada ayam, juga ada sayuran Kamu makan sama apa?” tawar Yoga dengan antusias.
“Aku makan buah saja Mas, bawa ke kamar ya. Aku ingin makan di kamar,” sahut wanita yang tengah hamil itu beranjak dari duduknya.
“Iya sebentar ya,” ujar Yoga.
Pria itu, pergi ke dapur menyuruh Bi Iyem untuk mengupas dan memotong berapa buah kesukaan Calista.
Kemudian, ia menunggu beberapa saat hingga Mbok Iyem selesai mengupas dan memotong buah. Selanjutnya, Yoga menyusul Calista menuju ke kamarnya.
Calista tengah duduk di sofa bed. Yoga menghampiri wanita itu seraya membawa sepiring buah di tangan kirinya.
“Sayang kamu makan sekarang ya?” ucap Yoga duduk di samping Calista dan bersiap menyuapkan potongan apel.
Calista membuka mulut dan menerima potong demi potong buah yang disuapkan padanya. Terus memikirkan mengenai mimpi buruknya, dan satu lagi pria yang di depannya itu, tak seperhatian dulu.
“Sepertinya keadaanmu sudah membaik Sayang, aku mau minta izin besok mau datang ke pamerannya Yoga, Bolehkan?” izin pria itu mencoba berdalih.
“Jadi Mas, ingin pergi ke pamerannya Yoga, dan meninggalkan aku sendirian?” tanya Calista memastikan. Seingatnya, Satya tidak pernah berlaku setega itu. Suaminya, dulu tidak pernah meninggalkannya di rumah sendirian kecuali bekerja! Namun, kini bahkan saat sedang hamil, Satya lebih memilih menyaksikan pemeran yang diadakan kembarannya, dan meninggalkan sang istri yang tengah hamil.
“Iya aku juga ingin menemuinya, sudah lama aku tidak berjumpa dengan Yoga!” jelasnya berharap Calista memberikan izin.
“Memangnya Mas gak bisa ya, menyuruh Yoga saja biar pulang sekalian aku juga ingin bertemu dengan Yoga dan Devina. Aku juga ingin mengobrol dengan mereka,” ucap Calista beralasan ia hanya tidak ingin ditinggal sendiri.
Yoga diam sesaat, ia menunduk cara mencari alasan yang tepat.
“Bukan begitu! Aku hanya ingin melihat hasil kerja Yoga. Selama ini Papa dan Mama kan tidak pernah memperhatikannya jadi sebagai kakak aku hanya ingin mengapresiasi hasil kerja adikku, itu saja tidak lebih!” jelas Yoga. Ia harus menemui Devina. Harus! Rindu! Memang apalagi alasan yang lain.
“Jadi, Mas ingin meninggalkan aku sendirian di sini?” tanya Calista sekali lagi masih belum yakin.
“Aku hanya pergi satu hari, Sabtu saja. Pagi aku berangkat dan sore aku pulang bagaimana?” jelasnya. Ia harus pergi sendiri. Bisa berantakan kalau Calista ikut
“Mas, bener-bener tega meninggalkan aku di rumah sendirian!” ungkapnya seraya membuang muka.
“Nanti aku akan meminta Mama, untuk menemanimu, aku janji tidak menginap pergi dari pagi dan sorenya aku pulang. Kamu mengizinkanku kan untuk bertemu dengan Yoga kan?” Ada nada paksaan di suara pria itu.
“Yah seandainya aku bisa ikut aku mau ikut,” sahut Calista. Masih berat hati mengizinkan sang suami pergi sendiri untuk menemui saudara kembarnya.
“Kamu, tidak lupakan pesan dr. Adam, kamu tidak boleh pergi jauh-jauh. Please, aku mohon izinkan aku menemui Yoga ya?” Ia memohon, karena sangat merindukan Devina dan ingin menemuinya. Harus! Harus bertemu untuk mengobati rasa rindunya.
“Baik Mas, kalau memang masih ingin menemui Yoga, aku izinkan Mas untuk pergi ke pameran, tapi janji kan Mas tidak menginap, sore harinya Mas pulang!” tegas Calista.
“Iya aku pulang, Sayang!” jawabnya.
“Baiklah Mas sekarang aku mau tidur. Bolehkah aku meminta pijat rasanya kakiku pegal-pegal,” pinta Calista manja.
“Baik Sayang!” jawab Yoga terpaksa. “Aku akan mengembalikan piring sebentar ya,” imbuhnya. Ya dia akan menelepon sang Mama untuk melakukan protes. Seumur hidup Yoga belum pernah memijat siapapun dan— kali ini Calista memintanya untuk memijat kaki. Sungguh terlalu! Bukan hanya menyuapi, mengusap-usap, menggaruk-garuk, menyabun punggung, membantu membuka pakaian dan kini Calista memintanya untuk memijat kaki. Entah nanti akan ada kejutan apa lagi dari Calista.
Yoga merasa bahwa dirinya benar-benar menjadi suami yang teramat sangat teladan.
Pria itu beranjak dari duduknya. Dengan d**a yang menyimpan segumpal rasa kesal ia keluar dari kamar.
“Sialan, apa lagi ini!” umpatnya. Calista, tidak seanggun yang ada dipikiran dan bayangannya.
Ya, mungkin selama ini, Yoga hanya mengenal luarnya saja.
To be Continue.
Beli merica, cuma sebentar.
Ada yang baca, enggak ada yang komentar.