Part 10. Aku Tergoda.
===
Setibanya di dapur Yoga meraih ponselnya dan segera menghubungi sang mama. Selang beberapa detik panggilan telepon tersambung.
“Halo,” sahut sang mama dari seberang telepon. Suaranya pelan tidak bersemangat.
“Halo, Ma! Sekarang aku sudah tidak kuat lagi! Selain menyuapi, mengusap-ngusap, menggaruk- garuk, membantunya membuka baju, menyabuni punggungnya sekarang Calista memintaku untuk memijat kakinya entah apa lagi yang akan dia titahkan padaku!” cercanya. “Aku sudah tidak tahan, Ma!” keluh Yoga dengan kesal ia menahan diri untuk tidak berteriak. Namun, ada penekanan di setiap kalimatnya.
“Yoga, kamu sabar dulu ya! Jangan seperti itu, semua demi anak dari saudaramu. Kamu tidak inginkan Calista bersedih karena mengetahui bahwa Satya sudah meninggal, kamu tidak ingin itu terjadi kan?” bujuk Bu Marisa. Dari kecil Yoga memang lebih ekspresif dibandingkan Satya. Semua terbawa sampai saat ini, hingga dirinya tumbuh dewasa.
“Tapi Ma!” sela Yoga. Mendengus kesal, menundukkan kepala pasrah.
“Tapi apa sayang? Sabar sebentar ya?” pinta wanita paruh baya itu. Hanya bisa membujuk Yoga, ia tahu meski berjiwa pemberontak Yoga itu baik.
“Baiklah Ma, Aku akan sabar tapi aku tidak janji bisa tahan sampai 3 bulan jika terus seperti ini!” ucap Yoga kesal. "Aku bisa menelan tembok kalau Calista terus menerus bawel!" umpatnya.
“Yoga!” panggil Bu Marisa.
“Sekarang kakakmu sudah tidak ada, siapa lagi yang bisa Mama dan Papa minta tolong kalau bukan kamu?” jelas sang mama. "Hanya kamu, bersabarlah Yoga!" bujuknya.
“Baiklah Ma, tapi aku tidak mau disuruh minta tolong seperti ini lagi ya. Ini benar-benar bukan aku. Bukan diriku!” tegas Yoga.
“Tidak Yoga, sekali ini saja tidak Mama janji setelah anak Satya lahir Mama janji tidak akan menyuruh kamu lagi untuk berpura-pura menjadi Satya!” sahut Bu Marisa, terdengar sangat meyakinkan.
“Janji?” desaknya.
“Iya Mama janji sayang.”
“Ya, Ma.” Yoga merasa sedikit lega.
“Ya sudah sekarang kamu temui Calista lagi, dia memang manja karena dia masih sedang hamil, semua wanita hamil seperti itu!” jelas sang mama.
“Ya Ma, selamat malam, selamat istirahat,” kata Yoga.
“Iya, Selamat malam, Kamu juga istirahat ya!” balas Bu Marisa.
Panggilan telepon berakhir.
Yoga mengantongi ponselnya yang mengambil segelas air putih meneguknya hingga tandas, kemudian menaruh kembali gelasnya.
Pria itu membuang nafas kesal meluapkan kekesalannya, baru kemudian bergerak menuju kamar.
Yoga berhenti di depan pintu. Menghirup nafas dalam mengeluarkannya perlahan. Setelah itu, ia mendorong handle pintu, lalu masuk ke ruang kamar.
Pandangan mata Yoga, langsung tertuju pada Calista yang tengah duduk bersandar di atas ranjang dan terlihat sedang menantinya. Terbukti dari kedua manik mata yang berbinar ketika melihat kehadiran sang suami.
“Pijat sebentar ya, Mas!” pinta Calista. Tangan satunya menggenggam botol minyak kayu putih. Ia tersenyum tanpa rasa bersalah. Yakin jika sang suami melakukan semuanya dengan ikhlas.
“Iya, sayang!” jawab Yoga seraya bergerak mendekat. Duduk di tepi ranjang. Menahan marah, dan senyum Calista yang manis selalu berhasil menunda amarahnya. Meneduhkan hatinya yang sudah tersulut emosi.
Kemudian, ia mulai memijat telapak kaki Calista dengan perlahan. Di mulai dari ibu jari, hingga ke tengah. Selesai memijat bagian jari jemari tangannya memijat bagian punggung kaki wanita itu.
“Di tekan lagi Mas!” pinta Calista. Merasa sang suami, memberi pijatan yang terlalu lemah.
“Seperti ini?” tanya Yoga. Memijat dengan lebih keras.
“Iya.” Wanita itu mengangguk senang. Wajah pria itu yang antusias memijat, adalah kebahagiaan sendiri bagi wanita yang tengah hamil itu.
Tangan Yoga, bergerak seolah dirinya pemijat profesional. Tanpa sadar, melihat Calista yang selalu tersenyum, rasa marah dan kesalnya berangsur hilang. Berganti menjadi rasa bahagia. Senyum yang manis! Sejak dulu, senyumnya memang selalu manis.
“Naik lagi, Mas!” pinta Calista.
Yoga menganggukkan kepala. Ia naik ke atas ranjang, lantas mulai memijat betis istrinya. Bergantian, kiri dan kanan. Dengan tekanan yang sama. Melihat wajah Calista yang bahagia, memberikan semangat sendiri untuknya yang baru pertama kali memijat.
Tangan Yoga bergerak dengan lembut sesuai arahan wanita itu. Terus bergerak memijat hingga ke pahanya.
“Naik lagi Mas!” pintanya.
Meski ragu, Yoga tetap memijat hingga ke paha Calista. Mendengar rintihan Calista, dengan ekspresi yang menggoda, membuat darahnya berdesir. Detak jantungnya bertalu-talu dan celananya terasa sesak. Setiah kali Calista mendesah, ia ikut begejolak.
Meski berbalut baju tidur, dengan celana selutut. Yoga tetap saja ragu untuk memijat bagian paha Calista. Ini pertama kali. Sebelumnya, belum pernah.
“Sebentar, aku mau pipis dulu!” izin Yoga. Tanpa menunggu jawaban dari Calista, ia segera merangkak dan meninggalkan tempat tidur berlalu menuju kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka, dan tertutup kembali. Yoga mengunci dari dalam, karena takut Calista akan menyusulnya.
“Yoga, sadarlah kamu tidak boleh tergoda, apalagi suka!” gumam pria itu menasihati dirinya sendiri. “Masih ada Devina, dia menantimu!” tegas Yoga. Ia takut, takut akan debar jantungnya yang tidak karuan. Takut akan darahnya yang mengalir lebih cepat.
Kemudian, ia mencuci muka dan mengatur nafas untuk mengurangi gejolak dan gairah yang menguasainya. Tangan kanan meraup wajah, mengusir sekelebat wajah menggoda Calista ya berkelebat memenuhi otaknya.
Dengan tangan kanan Yoga, meraup wajahnya kasar. Mengutuki dirinya sendiri yang b*******h hanya karena mendengar rintihan Calista.
“Sadarlah!” Yoga menyalakan kran. Membiarkan air mengalir, menyembunyikan degup jantungnya yang semakin keras tatkala mengingat telapak tangannya memijat betis milik Calista.
“Aku tidak kuat lagi!” Yoga menggelengkan kepala kuat, lalu mengacak-acak rambutnya. Wujud dari rasa kesal pada dirinya sendiri.
Kemudian, ia segera sadar. Untuk tidak terlalu lama di kamar mandi. Yoga, merapikan rambut dan mengeringkan wajahnya dengan handuk. Baru kemudian, keluar dari kamar mandi.
Mata Yoga terbelalak, tampak Calista yang tengah berganti pakaian.
“Kenapa ganti baju segala?” tanya Yoga berusaha senatural mungkin. Ia bergerak menuju ranjang.
“Cari baju yang tipis Mas, akhir-akhir ini aku lebih mudah berkeringat,” ucap Calista. Setelah berhasil memakai baju rumahan yang longgar, wanita itu mengikuti sang suami yang sudah berbaring di atas ranjang.
Calista mengamati Satya yang menurutnya tidak biasa. Tidak seperti yang Calista kenal.
Dengan sengaja Calista melingkarkan tangannya, lalu merebahkan wajahnya di d**a bidang sang suami.
Ya, kali ini istri dari Abisatya William itu menemukan banyak keanehan pada diri sang suami. Bukan hanya sekali atau dua kali. Namun, berkali-kali.
“Aku merasa ada yang berubah denganmu!” ungkap Calista. Ia fokus dengan suara degup jantung sang suami. “Sejak kamu pulang, sikap dan perilakumu seperti bukan Mas Satya yang aku kenal,” jelasnya melirih.
Yoga menelan ludah dan terdiam. Ada getir di ujung tenggoroknya. Ia merasa sandiwaranya gagal, karena Calista menaruh curiga.
“Awal kita bertemu di rumah sakit kamu hanya melihatku dan enggan memelukku, kedua aku merasa aneh saja setiap tindakan yang kamu lakukan kan seolah kamu melakukannya dengan terpaksa bukan dengan hati, dan yang ketiga kamu seolah menolak, menahan diri, menjaga sikap padaku,” ungkap Calista menjelaskan setiap detail yang ia rasakan didalam hati.
“Itu hanya pikiranmu saja, Sayang!” balas Yoga. Refleks ia berbaring menghadap ke arah Calista.
Cup.
Yoga mengecup bibir Calista. Hanya ingin membuat wanita itu diam.
“Bahkan ciiumanmu saja rasanya hambar, tidak antusias dan tidak ada perasaan cinta!” Calista menghindar dari sang suami yang berusaha menciumnya.
Raut wajah wanita itu terlihat masam. Ada rasa curiga dan penasaran, apa yang membuat sang suami berubah sikap.
Calista, berniat untuk mencari tahunya. Pasti ada sebuah alasan, jika terjadi perubahan sikap yang signifikan.
To be Continue.