Part 11. Pergi diam - diam.
===
Langit masih gelap, tidak tampak sedikit pun cahaya yang keluar dari celah-celah jendela. Calista telah terjaga ia melihat jam yang berada di atas nakas di sisi tempat tidurnya. AC yang menyala membuatnya kedinginan.
Angka di jam kecil berbentuk bulat itu, menunjukkan pukul 01.03 WIB dini hari. Namun, ia sudah terjaga dan tidak merasakan kantuk lagi.
Calista menoleh ke samping di mana sang suami tengah lelap tidur. Hembusan nafasnya teratur.
Dipandanginya wajah Satya dengan saksama, tidak ada yang berbeda saat pergi bekerja tujuh bulan yang lalu, kecuali kulitnya yang tampak lebih cerah.
Namun, perasaan yang dihadirkan itu berbeda. Jika dulu Satya mengayomi, perhatian, dan selalu penuh kasih sayang. Satya yang sekarang itu berbeda. Ia menjaga sikap, menahan diri dan tidak sehangat dulu. Semua perhatian yang diberikannya bukan karena inisiatif sendiri melainkan karena titah dari Calista.
Mas apa yang sebenarnya terjadi? Aku merasakan perubahan sikapmu. Merasa ada yang aneh dan tak biasa denganmu. Apa aku melakukan kesalahan?
Tangan Calista bergerak ke wajah sang suami. Menyibakkan beberapa helai rambut yang berjatuhan di kening pria itu. Masih menatap wajah lelap Satya dengan saksama.
Tak terasa tetes-tetes bening mulai berjatuhan dari sudut matanya. Calista, tidak tahu alasan pasti dia menangis. Hanya ada rasa berat dan sesak di dalam d**a yang tidak bisa ia jabarkan. Seperti rasa ragu dan bimbang yang berkali-kali ia rasakan.
Ada perasaan khawatir yang begitu dalam. Apa yang membuat Satya berubah? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Satya memiliki wanita lain? Apa ada masalah yang sengaja di rahasiakannya?
Sesekali Calista terisak ia mengingat semua yang dilakukan Satya beberapa hari ini. Wajar jika sang suami membantu membuka baju, mengusap-usap perut, dan memijat kaki karena Calista sendiri yang memintanya, tapi untuk seorang ayah yang merindukan putranya?? Bahkan Satya tidak mencium anaknya ketika ia baru saja tiba dan itu aneh bukan?! Berbeda sekali dengan apa yang ia ucapkan di telepon yang selalu bilang rindu dan akan segera mencium bayinya saat berjumpa.
“Apapun yang terjadi, semoga segala keraguan, kebimbangan, dan kegalauan, yang ada di dalam hatiku ini segera berakhir. Mas Satya aku sangat mencintaimu. Aku harap kita akan selalu bersama. Mas aku mencintaimu, Mas,” lirih Calista penuh harap. Jemari tangannya mengusap air mata yang membanjiri pipinya.
Kemudian, ia mendekat ke wajah sang suami. Mencium bibirnya dalam dan lama, hingga pria itu terjaga. Calista, mendaratkan ciuman berkali-kali, seperti rindunya yang masih bertumpuk dan tak terobati meski Satya sudah kembali pulang.
Yoga mengerjap-kerjapkan matanya. Ia melihat ke wajah Calista yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Pandangan mata mereka bertemu dalam remang-remang cahaya kamar. Wajah Calista tampak cantik, dengan pantulan lampu keemasan.
“Kamu sudah bangun?” tanya Yoga dengan suara serak khas bangun tidur. “Tunggu ... apa kamu menangis?” tanya pria itu lagi saat melihat air mata di ujung dagu Calista, lalu dengan jemarinya Yoga mengusap air mata di dagu wanita itu.
Calista Diam tidak merespon. Ia membalas tatapan sang suami sejenak.
“Apa yang kamu pikirkan? Lihat lah kamu menangis?” tanya Yoga. “Jangan diam saja! Kenapa kamu menangis?” Kini kedua tangan Yoga meraih wajah Callista, lantas mengusap air mata yang berada di kedua sisi pipinya.
Nyatanya Calista masih diam, tidak merespon. Bibirnya terkatup rapat dan tak tahu harus bicara apa.
“Sayang katakan, apa kamu sakit? Katakan padaku! Apa perutmu sakit? Atau kakimu? Kita ke dokter sekarang?” tawar Yoga yang kebingungan karena Calista terus saja menangis. Wanita itu menggelengkan kepala, hanya saja tetes-tetes bening itu, terus saja mengalir lewat sudut matanya.
Hening. Malam menunjukkan keheningan ketika hanya nafas keduanya yang terdengar pelan dan samar. Baik Yoga maupun Calista tak bersuara.
“Hatiku yang sakit!” jawab Calista dan membuat Yoga beringsut. Yoga menajamkan pandangannya, mencari jawaban lewat sorot mata wanita itu. Apa yabg sedang dia pikirkan?
Kini giliran Yoga diam seribu bahasa. Bisa ditebak alasan Calista sedih karena dirinya. Hanya saja Yoga tidak tahu kesalahan yang mana yang ia lakukan. Kalau di hitung-hitung, semua yang dia lakukan adalah kesalahan.
Selama ini, dia juga sudah sangat berhati-hati untuk meminimalisir agar Calista tidak merasa curiga.
“Kenapa Mas Satya akhir-akhir ini sangat berbeda, tepatnya berbeda dari 7 bulan yang lalu sebelum Mas berangkat bekerja! Rasanya aku tidak mengenal Mas Satya yang sekarang, rasanya berbeda saja di dalam hatiku, mungkin aku terlalu mencintaimu sehingga aku terlalu peka dan bisa menyadari sedikit saja perbedaan pada sikapmu!” ungkap Calista mendeskripsikan isi hatinya sekarang.
“Ayo kamu harus tidur sekarang, sebelum kamu ngelantur! Aku juga sangat mencintaimu, sini aku peluk!” titah Yoga segera mencairkan suasana, ia tidak ingin pikiran buruk Calista berlanjut.
Kini mereka tidur berbaring. Calista berada di posisi membelakangi sang suami, sementara Yoga yang berada di sampingnya memeluk Calista dengan tangan kanannya dari belakang.
Tubuh mereka saling mendekat tanpa sekat. d**a bidang Yoga menopang punggung Calista yang berada di depannya pun begitu dengan wajah Yoga yang sangat dekat, berada pada satu bantal yang sama dengan wanita itu.
“Mas masih sayang kan sama aku?” tanya Calista ragu. Suaranya lirih tidak ingin sang suami menyadari suaranya yang bergetar.
“Iya aku sayang padamu!” jawab Yoga. Lebih mempererat pelukannya.
“Bolehkah aku meminta sesuatu?” pinta wanita itu. Dalam diam, Calista masih meneteskan air matanya. Namun, berusaha agar tetap tidak bersuara.
“Katakan apa yang kamu inginkan aku akan melakukan semuanya,” sahut Yoga. Mengusap bagian pundak wanita itu, menenangkannya.
“Aku ingin Mas besok tetap di rumah, dan tidak pergi ke pameran! Mas di rumah saja temani aku!” pinta Calista di sela-sela isakannya. Ia merasa mendapat firasat buruk, jika mengizinkan Satya pergi dari rumah.
“Apa itu bisa membuatmu bahagia?” tanya Yoga memastikan. Tidak mungkin ia tidak pergi ke pameran, Devina menunggu dan pameran itu akan menjadi event terakhir, dirinya dalam bidang seni rupa.
“Iya aku akan sangat bahagia jika Mas Satya tidak ke sana dan memilih menghabiskan waktu bersama Aku di rumah,” jelas Calista.
“Baiklah aku pikirkan lagi!” jawab Yoga. Mengusap air mata wanita itu, lalu menghunjamkan wajahnya di sana, di leher yang nyaman milik Calista.
Perlahan Yoga merasakan bahwa Calista telah tertidur pulas. Pria itu masih mengantuk namun tetap menahan diri agar tetap terjaga.
Yoga menunggu hingga pukul 4.30 pagi. Merasa bahwa Calista masih tertidur pulas. Ia berniat segera meninggalkan ranjang diam-diam.
Bagaimanapun, Yoga akan tetap pergi ke pameran. Di sana ada Devina yang menunggunya, ada Devina yang menunggu penjelasannya, dan ada Devina yang selalu dirindukannya.
Dengan pelan Yoga menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian ia mengambil guling untuk menggantikan posisi. Setelah itu, ia merangkak perlahan turun dari ranjang.
Berjalan sangat pelan agar tidak bersuara dan membuka pintu lalu menutupnya kembali dengan sangat berhati-hati.
Setelah keluar kamar, Yoga segera pergi ke garasi dan tidak melupakan kedua ponselnya yang harus ia bawa. Bersiap pergi dari rumah itu. Harus menemui Devina. Sudah tidak bisa menahan rasa rindunya lagi.
Di lain sisi, Calista yang ternyata sudah terjaga, kembali meneteskan air mata. Wanita itu merasa sangat kecewa dengan apa yang dilakukan suaminya.
Satya, sikapnya sekarang sangat berbeda jauh. Berani pergi diam-diam demi berjumpa dengan Yoga. Saudara kembar yang tidak pernah berbakti pada Pak Seno dan Bu Marisa.
Malam nanti, saat sang suami pulang. Calista akan mulai bertindak tegas.
Dia tega pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil demi berjumpa saudara kembarnya.
Sungguh berat untuk Calista, ini pertama kalinya.
To be Continue.