Part 12. Devina Larasati ❤ Abiyoga William.
===
Devina Larasati, gadis berusia 23 tahun berambut panjang, wajah manis, kulit putih, dan memiliki senyum yang mempesona. Ia lahir dari keluarga sederhana, kedua orang tua tidak pernah menuntut apa-apa dari gadis itu. Menjadi anak tunggal Devina, adalah pusat utama dan sumber kebajagiaan bagi kedua orang tuanya. Ia adalah alasan bagi kedua orang tuanya tersenyum dan menangis.
Sejak lulus SMA Devina menjalin hubungan dengan Abiyoga William, yang merupakan saudara kembar Abisatya William. Abisatya William sendiri adalah kekasih dari Calista yang merupakan kakak kelasnya.
Kini hubungannya dengan Yoga berjalan hampir tujuh tahun lamanya. Beberapa kali Yoga mengajaknya menikah, Devina selalu bersedia. Namun, selalu saja masalah yang sama. Yaitu mereka tidak mendapat restu dari keluarga Yoga. Pak Seno melarang keras Yoga menikahi Devina, bahkan ia tidak pernah mengizinkan Yoga mengajak sang kekasih datang ke rumahnya.
Sampai saat ini Devina sendiri tidak tahu apa yang menjadi alasan mengapa kedua Abiyoga, tidak menyetujui hubungan dirinya dengan sang putra. Gadis itu, mencoba bersabar. Berharap di kemudian hari, kedua orang tua sang kekasih, bisa membuka pintu restu untuk hubungan mereka.
Selama ini Devina tinggal bersama kedua orang tuanya. Sesekali ia membantu di toko kue, usaha ayah dan ibunya yang berada di lantai dasar rumah. Kadang-kadang ia juga pergi ke galeri milik Yoga. Dimana kekasihnya itu melukis dan menggeluti hobinya.
Galeri tempat Yoga mengadakan pameran adalah sebuah gedung 2 lantai yang sangat luas. Di lantai dasar hanya satu ruang aula dan di lengkapi toilet di bagian belakang, sementara di lantai dua terdiri dari beberapa ruangan yang saat ini digunakan untuk menginap tim yang bekerja untuk pameran yang diadakan Yoga.
Devina sendiri, menempati sebuah ruang yang berada di sebelah kamar Yoga.
Pagi hari, Devina terjaga dari tidurn, karena suara alarm telepon pintarnya yang menggema di ruang kamar. Melihat foto Yoga yang terpapar di layar ponsel. Gadis itu, menjadi begitu bersemangat. Lantas, ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon kamarnya.
Udara pagi ini segar sesekali. Di ujung timur, matahari belum terlihat sama sekali. Hanya langit jingga tanda fajar yang akan segera berakhir. Terdengar kicauan burung di atas atap.
Devina, tersenyum karena sebentar lagi akan bertemu Yoga. Pemberitahuan di ponsel berupa pesan w******p dari Yoga, bahwa pria itu sedang on the way menuju Galeri, sengaja tidak dibaca. Namun, mampu membuatnya terus tersenyum hingga berulang kali.
Sebelum matahari terbit, dan langit berwarna cerah Devina bergerak menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Tak lupa ia menyambar handuk dan ingin segera mandi. Sebelum Abiyoga tiba, Ia harus sudah selesai mandi dan tampak cantik.
Tak sampai 20 menit Devina sudah menyelesaikan ritual mandinya. Celana jeans warna hitam, dipadu dengan kemeja lengan pendek, berwarna ungu muda, dengan motif bunga-bunga, menjadi pilihannya. Kini ia tengah mematut di depan cermin memperhatikan wajahnya.
Tangan gadis itu bergerak mengoleskan bedak tipis dan mengoleskan lipstik warna pink tipis di bibirnya. Rambut panjangnya diikat ke belakang, sehingga memperlihatkan leher jenjang yang putih. Tak lupa ia memilih parfum aroma Jasmine, yang menguar ke seluruh ruang, dan pasti akan menggelitik indra penciuman Yoga.
Kalung dengan liontin berbentuk hati, di dalamnya ada huruf A dan D, yang merupakan inisial nama Abiyoga dan Devina, tersemat di leher gadis itu. Tampak serasi dan merupakan tanda cinta, yang menjadi harapan keduanya yang ingin menyatukan cinta ke jenjang yang lebih serius.
Devina tersenyum ke arah cermin. Tak berselang lama, sayup-sayup ia mendengar suara mobil masuk ke area parkir. Gadis itu mengintip dari celah jendela. Menunggu sejenak, kemudian hatinya bersorak ria karena mendapati Yoga keluar dari kendaraan roda empat itu.
Kedua mata Devina, melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 05.40 pagi. Dengan santai, keluar dari kamarnya karena tidak sabar ingin bertemu Yoga. Terus berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar untuk menjemput kedatangan kekasihnya.
Setelah melihat pria itu memasuki gedung galeri dan berjalan ke arahnya. Devina menahan diri, ia berjalan dengan pelan. Tidak seantusias tadi. Pun begitu ketika mereka sudah saling berhadapan. Devina, menyembunyikan rasa rindunya di balik wajahnya yang menunduk.
“Mas Yoga sudah sampai?” tanya wanita itu, seraya menyunggingkan senyum di bibir. Ia menahan diri untuk tidak langsung menghambur ke dalam pelukannya.
“Iya, apa ini sangat pagi?” Yoga balik bertanya. Jemari tangan kanannya menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. Rasa rindu pada Devina membuatnya terlalu bersemangat sampai lupa belum mandi dan masih memakai baju tidur yang semalam.
“Tidak juga, bagaimana kabarnya Mas Yoga?” tanya Devina. Padahal pertanyaan itu selalu ia tanyakan saat berkirim pesan. “Mas Yoga memang harus datang ke sini lebih awal ada beberapa hal yang harus harus disiapkan sebelum pameran dibuka nanti jam sembilan nanti!” imbuhnya.
Hening. Mereka saling berpandangan lama.
“Apa kamu tidak ingin memelukku?” tanya Yoga ia merentangkan kedua tangannya membuka pelukan untuk Devina.
Gadis itu, melangkahkan kakinya satu langkah ke depan. Kemudian, mengulurkan tangan dan memeluk sang kekasih.
Yoga membalas pelukannya, mereka berdua saling mendekat cukup lama. Aroma Jasmine menggelitik indra penciuman Yoga.
Namun tidak dengan Devina aroma tubuh Yoga sangat berbeda. Bahkan sangat asing, sampai ia tidak mengenali parfum apa yang dipakai kekasihnya. Seperti parfum wanita, yang sedikit manis dan segar. Diciumnya beberapa kali pun Devina tidak pernah menghirup aroma seperti itu dari tubuh Yoga! Baru kali ini.
Kedua tangan Devina mengurai pelukan. Ia memandang Yoga dengan penuh selidik. Kelopak matanya menyipit, seperti seorang detektif yang menemukan sesuatu yang mencurigakan.
“Mas Yoga, semalam tidur di mana? Parfum Mas benar-benar tidak enak? Mas tidak tidur dengan wanita lain kan?” selidik Devina. Ia yang semula berbunga-bunga menjadi bungkam, ada curiga yang membuat dadanya terasa sesak.
“Aku hanya menemani mama yang sedang sakit,” sahut Yoga senatural mungkin, tidak ingin terlihat berbohong. Bagaimanapun, Devina pasti marah besar jika tahu dirinya sedang bersandiwara menggantikan Abisatya menjadi suami Calista. Wanita mana yang bersedia kekasihnya berperan menjadi suami dari kembarannya.
Bisa dilihat dari karakter Devina, pasti Gadis itu tidak akan tinggal diam dan mungkin akan marah besar. Namun, bukan itu yang Yoga khawatirkan. Ia takut Devina akan sedih dan sakit hati karena perbuatannya. Wajar bukan, jika seorang pria ingin menjaga hati gadis yang ia cintai. Devina sangat baik dan sabar. Selalu mengerti, mencintai, dan memahaminya.
Sebelum Devina bertanya lagi, untuk menjawab kecurigaannya. Yoga lantas meraih jemari tangan Devina, menuntun ke arah taman belakang.
“Ada apa?” tanya Devina ada yang masih mengganjal di dalam hatinya, tetapi ia memilih percaya saja daripada mendapati kenyataan yang akan membuatnya semakin curiga.
“Aku punya kabar gembira buat mu?” tutur Yoga. Kedua tangannya menggenggam jemari Devina dengan hangat.
“Kabar apa?” Devina menelan ludah, kedua manik mata yoga yang berbinar membuatnya penasaran. Apa lagi saat Yoga mengerlingkan kan satu matanya untuk menggoda. Gadis itu yakin ada kabar gembira yang akan disampaikan oleh Yoga, kekasihnya itu tidak berbohong.
Yoga berhenti sejenak. Sebelum menyampaikan kabar gembira.
“Papa dan Mama, akan merestui hubungan kita Devina, tidak sampai setengah tahun mereka akan mengizinkan kita untuk menikah. Mungkin 3 bulan atau 4 bulan lagi keluargaku akan datang ke rumahmu dan melamarmu,” ucap Yoga. Saat menyampaikan, pria itu terus menatap lurus ke dua manik mata Devina. Dapat melihat binar cahaya kebahagiaan dari sana.
Devina terpaku melihat ke arah Yoga. Gadis itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Benar kah Yoga akan melamarnya?? Itu seperti sebuah mimpi bukan? Selama 7 tahun hubungan mereka tidak direstui dan 3 bulan lagi sang kekasih akan melamarnya. Ingin sekali Devina meloncat dan bersorak, tetapi yang ia lakukan adalah menghambur ke pelukan Yoga. Bersandar di d**a bidang pria itu dan tak terasa tetes-tetes bening mulai berjatuhan dari ujung matanya.
==❤==
Jam menunjukkan pukul 07.13 WIB, saat Calista memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur. Hatinya benar-benar sakit melihat Satya yang diam-diam pergi ke acara pameran Yoga. Seperti pencuri saja.
Ia merasa curiga, karena baru kali ini Satya melakukan sesuatu tanpa izinnya. Dulu waktu pacaran Satya tidak pernah seperti itu. Pun begitu dengan 2 bulan di awal pernikahan mereka.
Calista melangkah keluar dari kamar. Tak lupa ia meraih telepon pintarnya untuk menghubungi sang mama. Kediaman rumah mereka hanya berjarak sekitar satu kilometer. Tak sampai lima menit menggunakan kendaraan. Hanya saja ia tidak mungkin mengendarai sepeda motor ataupun mobil sendirian.
Jemari Calista menekan ikon warna hijau, menunggu panggilan telepon tersambung. Tak berapa lama terdengar suara sang mama dari seberang telepon.
“Halo?” sapa wanita itu.
“Halo Ma, apa Panji di rumah?” tanya Calista menanyakan salah satu seorang sopir di rumah mamanya.
“Iya, Panji di rumah ada apa?” tanya Bu Sofi keheranan tidak biasanya Calista menelefon sepagi ini.
“Tolong suruh Panji ke sini, sekarang Ma, aku ingin dia mengantarku ke suatu tempat!” pinta Calista.
“Memangnya di mana Satya? Kenapa bukan dia saja yang mengantar mu?” tanya Bu Sofi curiga.
“Mas Satya sedang pergi ke pameran Yoga. Tidak papa Ma dia pasti sangat merindukan saudara kembarnya,” jawab Calista berbohong tisak ingin sang mama mengkhawatirkannya.
“Oh iya Mama paham. Baiklah Mama kan menyuruh Panji segera datang ke rumahmu!” sahut wanita itu.
“Baik Ma,” jawab Calista.
Panggilan telepon berakhir. Calista menaruh ponsel itu di atas meja. Menundukkan kepala dan mulai merencanakan sesuatu. Mungkin dia tidak bisa ke pameran dan datang ke pameran. Namun, Panji bisa datang ke sana dan melihat apa yang terjadi sebenarnya.
Ia penasaran asalan Satya sampai berani pergi diam-diam. Ia curiga suaminya itu memiliki wanita lain. Pikiran Calista berimajinasi liar, berbagai prasangka melintas di benaknya.
Perlu memastikan, benarkah menemui Yoga. Atau ada orang lain yang ia temui.
Hati Calista perlu mendapat kepastian jawaban.
To be Continue.