*13. Dusta?!

2079 Kata
Part 13. Dusta. === Siang itu sang surya membelah bumi, sinarnya menerangi, dan terlihat sangat terik. Kendaraan-kendaraan berlalu-lalang membelah jalanan kota. Para pengunjung di pameran seni yang diadakan oleh Yoga masih saja bergantian keluar masuk ke dalam galeri. Tanpa diketahui siapapun. Pameran ini adalah tujuan akhir Yoga. Setelah ini, pria itu akan mewujudkan impiannya yang lain. Yaitu, mendirikan sebuah kafe kopi yang tak jauh dari rumahnya. Dan sepertinya hal itu akan terjadi, karena tidak ada pilihan lain. Sekarang Satya, saudara kembarnya sudah pergi untuk selamanya. Siapa lagi yang akan menjaga kedua orang tua, jika bukan dirinya. Di samping galeri ada beberapa meja berbentuk lingkaran yang dilengkapi dengan kursi-kursi. Siang ini, Devina dan Yoga tengah menikmati makan siang di sana na sangat spesial karena Devina sendiri yang memesannya. Bento yang dilengkapi dengan sushi dan sayuran, juga telur mata sapi. Berjumlah dua porsi dan kini ada di hadapan mereka masing-masing. “Rasanya sudah lama tidak makan bersama seperti ini,” ungkap Devina seraya menyiapkan dua botol air mineral. “Emm— iya,” sahut Yoga menyuapkan suapan pertama. Ia mengunyah dan menikmatinya. Menghabiskan waktu, menyempatkan makan bersama orang terkasih, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Yoga. Sementara, Devina mengamati pria di hadapannya dengan saksama. Yoga dengan rambut hitam dan dipotong pendeknya terlihat berbeda. Sangat rapi dan kaku. Tidak seperti biasanya. Gaya rambutnya dicat pirang dan membiarkan rambut itu panjang, kadang juga sangat berantakan. Apalagi jika pria itu tengah fokus melukis dan berhari-hari tidak keluar dari ruang kerjanya. Rambutnya akan dibiarkan mengembang, tergerai berantakan. Namun, apa yang dilihatnya kali ini benar-benar wujud kekasihnya yang tidak biasa. Yoga terlihat sangat tampan. Kumis dan jambang tidak dibiarkan tumbuh. Putih bersih tanpa rambut-rambut yang mengurangi ketampanannya. Jika tadi Devina tak sempat memperhatikan Yoga. Kini ia memiliki waktu dan kesempatan. Bisa leluasa mengagumi dan menanyai. “Kenapa rambutnya di potong?!” tanya Devina. Suranya terdengar tegas, dengan ekspresi serius. Gadis itu yakin ada alasan khusus. Mengapa Yoga memotong rambut serapi itu. Pasalnya selama 7 tahun menjalin hubungan, Yoga sama sekali tidak peduli ribuan kali, Devina mengomel dan bawel mengenai rambutnya yang harus dipotong rapi. “Mama yang suruh!” jawab Yoga. Jika membawa mamanya, Devina akan diam dan tidak bertanya lagi. Hening. “Oh iya—, jujur saja aku senang sekali Mas Yoga sudah kembali ke sini dan aku berharap semoga besok pengunjung lebih ramai,” ucap Devina memecah keheningan. “Selanjutnya hari Senin, kita mengakhiri pameran ini dengan bahagia,” imbuh gadis itu dengan mata berbinar. Dari sorot matanya, gadis itu merasa sangat bahagia. Satu, karena Yoga berada disampingnya dan kedua, karena mereka sudah mendapat Restu. Yoga bungkam. Bimbang memenuhi hati dan benaknya. Devina pasti mengharap kehadirannya untuk mengakhiri acara pameran bersama-sama. Bagaimana dengan janjinya pada Calista? Degh! “Ma—af, sepertinya aku tidak bisa menemanimu besok, karena sore ini juga— aku harus pulang. Mama sedang sakit dan Satya juga tidak ada di rumah. Kamu paham kan? Sayang!” pinta Yoga, seraya menggenggam jemari tangan Devina. Berharap kekasihnya itu akan memahami dan memberi sedikit pengertian. “Jadi, kamu akan pulang sore nanti? Kamu juga tidak akan di sini besok? Di acara puncak pameran?” protes Devina. Dia menelan ludah kemudian menggigit bibir bawahnya. Bukankah pameran ini idenya Yoga. Bukankah pameran ini salah satu impian pria itu. Kenapa ia lebih mementingkan hal lain. Kecurigaan Devina bertambah. Apa yang lebih penting dari impian-impian yang selama ini? Dadanya kembali dihantam curiga, membuatnya merasa sesak. “Iya aku sudah janji sama mama untuk pulang malam nanti,” tegas Yoga. Bisa gawat kan kalau dia menginap. Calista bisa berpikir macam-macam. Dan semuanya akan menjadi berantakan. Apapun yang terjadi Yoga harus pulang sore ini juga. Jika berharap semua akan baik-baik saja. “Oh.” Hanya itu yang keluar dari bibir Devina. Sebutan Mama, selalu berhasil membuatnya bungkam seribu bahasa. Yoga yang mendengar suara sumbang Devina, disertai nada kecewa dengan ekspresi tidak suka! Segera menghangatkan suasana. Wajar jika Devina merasa demikian, semua itu Karena rasa cinta yang ada di dalam hatinya. Yoga mengambil kuning telurnya. Lantas meminta Devina untuk membuka mulut. Mencoba membujuk gadisnya, lewat kuning telur. Yang merupakan makanan favoritnya. Namun, bukannya membuat Devina merasa bahagia. Melainkan, sesuatu yang buruk terjadi. Seseorang pria, yang sejak tadi mencari keberadaan Satya. Berhasil mengabadikan momen ketika Satya menyuapi Devina. Ponsel Yoga berdering. Ada panggilan masuk, dari Calista. Wajah istri dari Satya itu, terpapar di layar telepon pintarnya. Tangannya bergeraj cepat menutup layar. Agar Devina tidak curiga. Yang terjadi, kedua manik mata Devina melihat sosok wanita yang terlihat di layar ponsel. Kali ketiga, ia merasakan tanda tanya besar pada diri Abiyoga William. Dadanya terasa berat. Ada getir di ujung tenggorokkannya. Ia pun menjadi tidak bersemangat. Uakin sekali Yoga tengah menyembunyikan sesuatu. Seusai makan, mereka berdua beristirahat sejenak di lantai dua gedung pameran. Menyapa beberapa anggota tim lain, sepasang kekasih itu bergerak ke ruang kerja Yoga. Yoga berjalan memimpin. Ia menutup pintu ketika dirinya dan Devina sudah berada di dalam ruang kerjanya. Banyak kanvas dalam keadaan berantakan. Ada debu dan sedikit pengap. “Apa yang menggangumu?” tanya Yoga. Bisa merasakan sikap dan ekspresi wajah Devina yang berbeda. “Tidak ada,” kilah gadis itu. Membuang pandangan. Bergerak menuju tirai, lalu membukanya. Membiarkan cahaya masuk. “Jangan berbohong,” desak pria itu. Melangkah dan berhenti tepat di samping Devina. “Lihat, kamu tidak menatapku! Kamu marah? Katakan apa yang mengganggu hatimu?” cercanya. Devina hanya diam. Bukan dia tidak ingin menyuarakan hatinya, tapi pameran lebih penting daripada apa yang dia rasakan bukan? “Kamu ragu padaku?” tantang Yoga. Jelas sekali pandangan mata kekasihnya dipenuhi kebimbangan. Kemudian, pria itu menuntun Devina ke tengah ruangan. Setelah itu, ia bergerak membuka penutup lukisan yang berada di depan Devina. Ia membuka setiap penutupnya, lebih dari 10 lukisan. Sementara Devina hanya ternganga melihat lukisan-lukisan hasil karya Yoga. Semua lukisan itu adalah wajahnya, dalam berbagai pose. Mungkin Yoga mengambil fotonya diam-diam. Sah-sah saja karena Yoga adalah kekasihnya. “Apa kamu masih marah? Lihat Devina! Aku sangat mencintaimu hingga saat aku aku— memainkan jariku di atas kanvas, hanya wajahmu lah yang selalu aku pikirkan. Kamu tahu saat berdoa kaulah satu-satunya nama yang aku sebut, agar orang tuaku segera memberi restu pada hubungan kita. Lantas kenapa kamu marah hanya berdasar pada kecurigaanmu yang tak ada bukti?” ucap Yoga. Pandangan matanya menatap hangat ke arah gadis itu, gadis yang teramat ia cintai. Devina tak mampu bersuara, yang ada Ia berlari ke arah Yoga dan memeluknya dengan sangat erat. “Aku juga sangat mencintaimu,” bisiknya. Yoga pun membalas pelukan gadis itu . ==❤== Satu hari penuh Calista tidak melakukan apapun. Yang ada Ia hanya menunggu Panji, sopir yang bekerja di rumah orang tuanya itu, pulang dengan membawa informasi. Kini bukti foto dan rekaman video sudah berada di tangannya. Ia duduk diam menunggu pria itu tiba. Dari luar tampak tenang, tetapi hatinya sangat bergemuruh. Ingin segera melampiaskan kemarahannya pada sang suami. Kedua manik mata Calista, terus melihat kearah jam dinding, yang berada tepat di hadapannya. Detik berganti detik, hingga menjadi menit. Menit berganti menit, hingga menjadi satu jam, dan kini sudah hampir jam sembilam malam. Tepatnya pukul 20.49 WIB. Namun, seseorang yang sejak tadi menguasai pikirannya belum juga tiba di rumah. Bukan hanya itu, dia juga tidak menerima telepon! Apa yang sebenarnya dia lakukan? Berbagai macam pikiran buruk berpadu dalam benak. Merasa sangat kesal didustai—, dibohongi oleh pria itu! Hening. Calista, tak bisa berhenti memikirkannya Suara mobil yang berhenti di garasi rumah membuat Calista, menggerakkan tangan kanan. Memijat keningnya terasa pening. Sebentar lagi ia akan berhadapan dengan pria itu. Tentu saja tidak seperti kemarin, karena saat ini Calista sudah mengetahui kebenarannya. Terdengar suara pintu depan terbuka, selanjutnya terdengar suara langkah kaki yang bergerak menghampiri. Suaranya semakin mendekati Calista, yang saat ini duduk membelakangi ruang tamu. Kemudian pria yang sedari tadi ditunggunya duduk disamping Calista. Karena, terlampau bahagia, Yoga sampai tidak mengetahui kalau istri dari saudara kembarnya, sedang marah besar. Bibir Calista terkatup rapat dan tidak menganggap kehadirannya. “Sayang kamu belum tidur ini hampir jam sembilan, biasanya kamu sudah tidur,” Ucap Yoga tanpa merasa bersalah sama sekali. Hatinya tengah berbunga. Ia baru saja bertemu dengan Devina yang ia rindukan. Dan beberapa adegan romantis dengan wanita itu masih berkelebat dalam benaknya. Sebelum pamit pulang, Yoga sempat meninggalkan ciuman di bibir Devina. Ada bekas merah yang ia tinggalkan di leher jenjang gadis itu. Jujur saja, itu sangat berkesan bagi Yoga. Karena sebelumnya Devina tidak pernah mau dicium, kecuali di bagian kening. Dan tadi ia sempat mendaratkan beberapa kali ciuman rasa durian di bibir si gadis. ( Canda durian, stroberi ya ) Calista tidak menjawab. ia melirik sekilas dan bungkam. Hatinya terasa sakit bagaimana pria itu tidak merasa bersalah sama sekali, setelah apa yang ia lakukan. Setega itukah? Tidak memiliki perasaan setelah berdusta?! “Maaf sekali istriku sayang, pagi tadi aku tetap pergi ke pameran Yoga, karena aku sudah berjanji pada saudara kembarku itu. Tak apa kan? Aku benar-benar tidak enak jika tidak datang!” ucap Yoga memberi alasan. Menyadari Calista mogok bicara, wujud dari rasa marahnya. Calista masih diam saja. Itu bukan alasan yang ingin didengarnya. Yoga berjalan ke meja makan memeriksa menu makan malam yang ada di sana. Masih utuh, Calista belum makan malam. “Sayang apa kamu belum makan?” tanya Yoga seraya mengambil sedikit nasi. Ditambah tumis ikan salmon yang masih utuh. Kemudian ia kembali berjalan menghampiri Calista, duduk di sampingnya. “Ayo kita makan dulu!” ajak Yoga. Menaruh nasi dan 1 potong ikan salmon. Mengulurkan tangannya bersiap untuk menyuapi Calista. Jangankan membuka mulutnya. Calista bahkan tidak menoleh sama sekali, hatinya masih terasa sakit karena kebohongan yang dilakukan pria itu. “Buka mulutnya istriku sayang,” pinta Yoga mengisyaratkan untuk membuka mulut. Mengulurkan tangan kanannya cukup lama, menunggu Calista untuk merespon. Namun, wanita itu masih diam saja. “Kamu marah? Katakan sesuatu sayang! Jangan diam seperti ini, aku benar-benar takut saat melihatmu diam dan tidak menganggapku berada di sini!” protes Yoga. Pikirannya melayang ke beberapa tahun silam, saat ia merusak boneka yang diberikan Satya pada Calista. Ekspresinya sama. Diam, datar tanpa ekspresi. Calista melirik sekilas, kemudian kembali membuang muka. Tidak merespon pria yang sedari tadi mengajaknya berbicara. Rasa kecewa dan kesal masih memenuhi hatinya. “Jangan diam saja! Katakan apa salah ku!” desak Yoga. Hening. Hening sekali. Yoga bungkam, takut bersuara. Yang harus ia lakukan hanya satu. Menunggu sampai Calista membuka mulut dan menjawabnya. Yoga meletakkan sendok, lalu menaruh piring di atas meja. Tangannya menggenggam jemari Calista, sangat dingin. Sedingin sikapnya. “Jujur, katakan apa yang kamu sembunyikan!” tegas Calista. Tidak sudi menyebut nama pria itu. Degh! Apa yang Calista ketahui? Apa yang membuatnya semarah ini. “Apa?” Yoga sangat tegang, ia tidak tahu harus mengakui salah satu dustanya. Karena selama ini, apa yang ia lakukan semuanya adalah dusta. Satu kebohongan yang ditutupi ratusan kebohongan lain. Akan terus seperti itu sampai anak dalam kandungan Calista lahir, baru ia berani mengakui segalanya. Semua sandiwara selama ini. “Jelaskan semuanya!” teriak Calista. Sudah tidak bisa menahan emosi. “Aku tidak tahu apa maksudmu!” balas Yoga. Ia menatap lurus ke manik mata Calista, tidak ingin menambah rasa curiga dengan menghindari tatapan matanya. “Aku menyuruh panji mengikutimu!” jelas Calista. Nada suaranya meninggi. Pandangan matanya menyimpan kemarahan yang teramat dalam. Degh! Ya Alloh, Ya Alloh! Apa ini? Apa yang Calista ketahui. Tolong, tolong aku. Bukannya menjawab, Yoga sibuk merangkai kata untuk menjelaskan. Di depan Calista otaknya buntu, tatapan tajam wanita itu semakin membuatnya beringsut. “Jelaskan!” geram Calista. Selama hamil baru kali ini ia marah dan sampai seperti itu. Bibirnya terkatup rapat. Yoga beringsut. Jangankan menjawab, mengambil nafas pun diam-diam. Ia semakin bungkam dan tidak tahu haru menjelaskan mulai dari mana. Dari awal bahwa sang mama yang menyuruhnya berbohong. Oh— tidak! Yoga tidak menyangka secepat ini Calista mengetahui sandiwaranya. Pyarrr! Suara piring dan sendok jatuh, beradu dengan lantai karena Calista yang mendorongnya kuat. Calista berniat melangkah, melewati pecahan piring yang tersebar di lantai. Tidak merasa takut sama sekali. Yoga sigap, meraih tubuh Calista. Menggendongnya. “Mas Satya!” pekik Calista. Yoga, bernafas lega. Panggilan itu, bukti bahwa Calista belum mengetahui sandiwaranya. “Iya, istriku sayang!” jawab Yoga. Seraya berjalan dan menggendong Calista menuju ke kamar. Air mata terus menetes dari sudut mata, dan membasahi pipinya. “Aku akan menjelaskan semuanya!” tutur Yoga. Merebahkan Calista di atas ranjang dengan sangat pelan. Jika wanita itu sampai terluka, bukan hanya sang mama, tapi papa dan kedua orang tua Calista bisa memberikan perhitungan padanya. . . . To be Continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN