Part 14. Pencuri First Kiss.
===
Suara hujan deras terdengar di dalam kamar. Ada satu jendela yang masih terbuka, dan tirai transparan yang terus bergerak karena tertiup angin dari luar.
Hujan deras, disertai angin, juga petir yang terdengar keras. Suara gemuruh di atas langit, terus terdengar keras.
Setelah memastikan Calista merebah, Yoga beranjak lalu menutup jendela beserta tirainya.
Kemudian, pria itu berbalik lantas mendapati sprei alas tidur yang berwarna putih bersih, ternoda oleh darah dari kaki Calista yang terluka. Darah segar mengucur dari telapak kakinya.
Yoga bergerak keluar kamar. Segera mengambil kotak P3K yang berada di lemari ruang tengah, lalu kembali lagi ke kamar menghampiri Calista.
Calista tak bereaksi, ketika Yoga dengan pelan membersihkan luka di kaki. Jemari pria itu dengan lincah membalutnya kain kasa dan plester.
“Pasti sakit,” ujar Yoga. Melihat Calista yang diam saja benar-benar membuatnya takut.
Calista, tidak merespon memilih diam dan menahan air mata. Luka di kaki itu tak seberapa di banding rasa penasaran di dalam hatinya. Yang jelas, ia butuh penjelasan dari foto dan rekaman yang diberikan Panji padanya.
“Apa yang mengganggu hatimu, istriku sayang?” tanya Yoga ia merapikan gunting, kain kasa, obat merah, dan juga plester kembali ke kotak P3K. Selanjutnya, menggeser duduk mendekati Calista.
Calista bergerak meraih ponselnya di saku depan piyama tidur yang ia kenakan. Lantas, membuka album galeri di telepin pintarnya. Kemudian, memberikan ponsel itu pada pria di hadapannya. “Jelaskan tentang ini!” tuturnya. Pandangan matanya penuh selidik dengan harapan agar segera mendapat penjelasan.
Yoga melihat toto yang terpapar di layar ponsel. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah foto dirinya dan Devina siang tadi. Jemari Yoga bergerak lincah terus men—scroll hingga sampai ke sebuah video, dimana dia sedang menyuapi Devina. Ia hanya menelan ludah. Tak sampai di situ saja. Ada pula rekaman di galeri di bagian dalam, dirinya tengah mengobrol dengan beberapa orang pengunjung dan tim.
‘Ada apa dengan foto dan video Ini istriku sayang? Bukankah Ini Yoga dan Devina wajar kan mereka berada di galeri, karena memang pameran?” tutur Yoga senatural mungkin.
“Iya wajar mereka berada di Galeri karena sedang pameran. Yang tidak wajar itu kamu Mas! Mas Satya dimana? Bukankah Mas, izin mau datang ke ke pameran itu, tapi yang Panji lihat hanya ada Yoga. Lantas kamu pergi ke mana Mas? Apa Mas Satya pergi menemui wanita lain? Kenapa bohong padaku Mas?” cerca Calista. Matanya berkaca-kaca karena air mata yang merebak. Nafasnya pun sudah tidak beraturan.
Yoga menghirup nafas lega. Kembali rileks, ia mengira kalau Calista sudah mengetahui sandiwaranya yang berpura-pura menjadi Satya, ternyata Calista marah karena mengira bahwa dirinya berbohong mengenai ketidak hadirannya di pameran.
Pria itu menyunggingkan bibirnya, tersenyum ke arah Calista. Ia mengusap rambut istrinya gemas.
“Kenapa Mas Satya tersenyum! Jelaskan padaku Mas!” desak Calista. Masih dengan suasana hati yang membara.
Hening. Yoga masih menatap Calista dengan senyuman.
“Apanya yang lucu?” tanya wanita itu melirih. Ekspresi konsisten lawan bicaranya membuat Calista beringsut. Sadar, jika dirinya telah berprasangka buruk.
“Kamu lucu Sayang, aku datang ke pameran Yoga, tapi aku berada di lantai atas sesekali Yoga datang ke atas dan mengobrol denganku. Tapi aku memang sengaja tidak turun ke bawah. Lihatlah, penampilan Yoga sekarang, dia sudah mirip seperti aku kan rambutnya sudah dipotong dan tidak diwarnai lagi. Kalau aku ikut turun ke bawah Devina bisa saja mengira aku adalah Yoga,” kilah pria itu. Menjaga ekspresinya tetap natural. Berharap Calista percaya dengan penjelasannya.
Bibir Calista tertutup rapat, ia mencoba mencerna apa yang diucapkan pria itu. Ucapan dari lawan bicaranya, memang sangat meyakinkan.
Penjelasan dari pria itu terasa masuk akal, karena Panji memang tidak mencari Satya hingga ke lantai 2 galeri. Calista, merasa itu hanyalah kecurigaannya saja yang terlalu negatif thinking terhadap sang suami.
“Ma— af, Mas!” ujar Calista menundukkan kepala.
“Tidurlah!” pinta Yoga menyuruh Calista untuk merebahkan tubuhnya. Kemudian, ia membentangkan selimut untuk menyelimutinya. “Di luar hujan, sebaiknya kita tidur sekarang!” Yoga beranjak. Ia memadamkan lampu utama.
Di tengah remang-remang cahaya kamar. Calista mengamati sang suami yang bergerak menuju kamar mandi. Ada sesuatu. Yang mengganjal di hati, tetapi Calista berusaha menepisnya. Tidak ingin dipermalukan lagi karena sikap konyolnya. Tidak realistis! Menuduh tanpa bukti lengkap.
Sementara itu, Yoga berada di dalam kamar mandi. Ia mencuci muka dan mengganti bajunya dengan baju rumahan. Lantas keluar dari kamar mandi, dan segera menemani Calista. Berbaring di sebelahnya.
“Kamu belum mau tidur?” tanya Yoga.
“Belum Mas!” jawab Calista.
“Bagaimana kabar Yoga, sudah lama aku tidak berjumpa dengan saudara kembar kamu itu Mas?” Sejenak Calista mengingat Yoga, ingin tahu mengenai kabarnya.
“Baik,” jawab Yoga. Hanya itu yang bisa ia katakan agar Calista tidak bertanya lagi.
“Aku dengar papa sudah merestui hubungannya dengan Devina, apa itu benar?” Ia menatap Yoga meski cahaya lampu tidak terang, tidak menampakkan wajah sang suami dengan jelas. Siang tadi Calista sempat menelefon Bu Marisa, ia mendapat informasi tersebut.
“Yang aku dengar sih gitu!” sahut Yoga. Jika hari itu datang, ia bisa menabak. Pasti Calista sedang terluka karena mengetahui kebenarannya mengenai sandiwaranya ini.
Mengingat tentang kebohongan yang sedang ia jalani, Yoga menggaruk belakang kepalanya. Tidak bisa membayangkan saat-saat memberitahukan kebenaran pada Calista.
“Mas ada yang ingin aku tanyakan!” ucap Calista. Membahas mengenai Yoga, ia mengingat suatu kejadian di masa lalunya.
“Tanyakan saja!” ujar Yoga. Lama-lama ia bisa berakting layaknya aktor sinetron. Lihai, bisa menjawab dialog tanpa menghafal –script.
“Apa Mas Satya pernah meminta Yoga untuk berpura-pura menjadi Mas Satya?” tanya Calista. Ia merebahkan kepala mendekat, hingga berada di satu bantal yang sama dengan pria itu.
“Ada apa kamu bertanya seperti itu?” selidik Yoga. Kembali dag-dig-dug mendapat pertanyaan dari cinta pertamanya.
“Mas Satya ingat ciuman pertama kita?” Calista semakin mendekat, merebahkan kepalanya di d**a sang suami.
“Iya ingat!” jawab Yoga.
“Aku sempat mengira kalau Yoga yang menciumku Mas!” ungkap Calista. Pasalnya, ia ingat betul pernyataan Satya yang tidak akan pernah mencium bibirnya, sebelum sah menjadi istri. “Itu kamu kan Mas bukan Yoga?!” imbuhnya memastikan.
“Iya,” jawab Yoga. Pria itu menelan ludah. Ternyata Satya, saudara kembarnya amat sangat kaku. Bahkan tidak pernah mencium Calista sepanjang waktu mereka berpacaran. Ia juga tidak menyangka, jika dirinyalah yang mendapatkan first kiss— dari Calista. Kalau Satya yang mendengar cerita ini pasti, dia akan marah. “Aku ingat, sore itu saat aku menjemputmu pulang sekolah bukan?” Yoga menimpali.
“Emm—.” Calista mendongak membuat wajah mereka sangat dekat.
Yoga bergejolak. Bukan hanya wajah. Tubuh Calista pun, sangat dekat dengannya. Kaki kanan sang istri terangkat berada di zona sensitif dari bagian tubuhnya.
“Oh iya,” sambung Calista mengingat sesuatu.
“Apa?” timpal Yoga. Penasaran dengan isi kepala Calista. Pikirannya bercabang. Tidak pernah menyangka ia mendahului Satya. Mengecup bibir lembut Calista.
***Aku sangat berdosa!
“Aku sempat mengira kalau Yoga menyukaiku,” ungkap wanita itu. Bayangan Yoga, ekspresi wajahnya terlintas di benak Calista.
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” selidik Yoga yang selama ini sangat yakin, bahwa dirinya telah sukses menyembunyikan perasaan cintanya pada Calista.
“Dulu Yoga sering membuatku menangis, Mas Satya ingat? Bahkan saat aku sudah SMA Yoga masih suka iseng dan membuat aku kesal, Mas Satya tahu kenapa?” pancing Calista. Membahas Yoga, rasanya tidak cukup hanya satu atau dua menit.
“Memangnya kenapa?” bisik Yoga. Ia tidak mampu bersuara. Calista ternyata menyadari perasaan rahasianya dulu.
“Karena Yoga cari perhatian dariku Mas, dia menyukaiku!” klaim Calista sangat percaya diri.
“Kamu terlalu percaya diri, Calista Rosaline!” sahut Yoga. Refleks ia mengucapkan kata yang selalu ia katakan pada Calista dulu.
“Tunggu!” cegah Calista. Merasa ada yang aneh.
“Apa?” tanya Yoga.
“Aku seperti mendengar Yoga berbicara!” ungkapnya menyadari artikulasi yang diucapkan sang suami, sama persis dengan apa yang diucapkan Yoga.
“Tidur, atau aku—, aku akan menyuruh Yoga dan Devina ke sini agar kamu tidak terlalu percaya diri lagi, menganggap Yoga mencintaimu,” tuturnya.
Yoga yang teramat lelah dan diselimuti kantuk refleks memeluk Calista. Mendekap wanita itu, mengikuti rasa kantuknya menuju alam mimpi.
Calista tersenyum, kalau diingat-ingat setelah pulang berlayar. Baru kali ini sang suami memeluknya tanpa disuruh, rasanya hangat dan nyaman. Ingin sekali mendapat pelukan senyaman ini sepanjang hidupnya. Pelukan dari pria yang ia cintai dan mencintainya.
To be Continue.
Beli permen, di Parangtritis.
Kasih komen, itu gratis.