*15. Bergerak Mencari Informasi.

1200 Kata
Part 15. === Fajar menyingsing, cahaya matahari terbit dari timur memasuki kamar melewati celah-celah tirai jendela. Yoga baru saja selesai mandi. Dia mengeringkan rambut yang basah dengan handuk seraya duduk di depan cermin. Semalam ia sudah menelepon sang papa dan mengetahui bahwa perusahaan tempat Satya bekerja belum memberikan informasi tambahan mengenai kematian saudara kembarnya. Sangat aneh, bukan mengharapkan sesuatu dari perusahaan. Biasanya, karyawan yang meninggal dalam pekerjaan akan ada kompensasi. Dalam kasus ini tidak ada informasi sama sekali. Tidak ada pilihan lain. Yoga harus segera terbang ke Surabaya untuk menanyakan langsung pada pihak perusahaan. Untuk mendengar informasi lebih jelas dari mereka. Sebelum Calista datang, Yoga berganti baju dan memikirkan alasan yang tepat agar Calista mengizinkannya pergi ke Surabaya. Ia bisa saja berbohong karena setiap hari memang selalu ia lakukan dengan berbohong dan terus berbohong. Namun, untuk kali ini Yoga memilih aman dia harus jujur kalau sebenarnya ia pergi ke Surabaya. Tentu saja ia tidak menanyakan alasan yang sebenarnya, itu rahasia. Bisa bahaya jika Calista mengetahui kebenarannya. Kriieet. Pintu kamar terbuka. Calista berjalan menghampiri sang suami yang tengah mematut di depan cermin ia mengamati wajah pria itu dengan saksama. Menikmati pagi hari yang bisa mereka lalui bersama. Sadar betul jika perkerjaan Satya membuat momen pagi hari yang spesial ini, akan dirindukannya ketika pria itu sudah kembali berangkat bekerja. “Pagi ini mas rapi sekali, mau ke mana?” tanya Calista menaruh piring berisi roti bakar di atas meja rias. Kemudian dengan kedua tangannya ia merapikan kerah baju yang dikenakan sang suami. “Maaf, semalam aku lupa bilang sesuatu, tapi aku harus segera ke Surabaya dan mungkin besok pagi baru bisa kembali pulang,” ujar Yoga. Sekalian ingin menemui Devina. Ada rasa bersalah jika pura-pura tidak tahu, sementara sang kekasih selalu mengucap rindu setiap malamnya. “Ke Surabaya—, untuk apa Mas Satya ke Surabaya?” tanya Calista tampak keheranan. “Iya aku harus mengurus surat resign, agar aku bisa mendaftar kembali saat nanti kamu sudah melahirkan,” jawab Yoga beralasan. “Apa benar Mas harus datang ke Surabaya, apa tidak bisa datang ke kantor cabang yang ada di Jakarta saja?” desak Calista. Bagaimana pun ia tidak ingin berpisah dengan sang suami. “Tidak bisa sayang. Aku harus pergi ke kantor pusat, kamu mengerti ya cuma sehari semalam, besok pagi aku akan tiba lagi di Jakarta, dengan penerbangan pertama,” jelasnya. Calista bungkam terlihat memikirkan sesuatu, tetapi akhirnya ia mengangguk pelan. Meski hatinya tidak ikhlas jika Satya pergi ke Surabaya “Ya sudah ayo kita makan dulu!” ajak Yoga membawa piring itu keluar dari kamarnya, menuju meja makan. Seperti biasa di ruang makan, Yoga duduk di kursi utama, sementara Calista duduk di sampingnya. Yoga mengambil pisau roti. Lantas mulai membuang bagian tepi dari roti bakar yang ingin ia makan. Memang tidak menyukai bagian keras dan sedikit pahit itu. Calista tampak tertegun. Tidak biasanya Satya makan roti tawar dengan cara seperti itu. Ia tidak keberatan dengan bagian tepi dari roti bakar. Wanita yang tengah hamil itu, merasa ada yang janggal. Kemudian ingatanya kembali ke beberapa tahun silam. Seingatnya Yoga lah yang tidak menyukai bagian tepi dari roti bakar. Sangat aneh, tetapi Calista tidak berani bersuara Iya hanya nya diam saja memilih sibuk mengoleskan selai di roti bakar miliknya. Yoga mulai mengunyah makanannya. Tidak menyadari jika Calista menyadari keanehan yang ia tunjukkan. Yang jelas Calista merasakan janggal. Selesai makan Yoga segera bersiap untuk berangkat ke Surabaya. Ingin menemui sang Mama sebelum pergi ke bandara Soekarno-Hatta. ==❤== Di kediaman Pak Seno. Yoga membawa sebuah map berisi berkas data diri dan berkas lain mengenai saudara kembarnya. Ia keluar dari kamar Satya, lantas turun ke lantai bawah menemui kedua orang tuanya. Sampai Di Ujung tangga Yoga bergerak ke ruang tengah sekilas ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. “Selamat pagi mama papa. sepertinya aku harus berangkat sekarang,” aku sudah menemukan apa yang ingin aku bawa,” ucapnya berpamitan kepada kedua Pak Seno dan Bu Marisa ydang sedang duduk di ruang tengah. “Iya Yoga hati-hati ya,” jawab sang mama. Meski wajah wanita itu belum sepenuhnya ceria. Namun kali ini tidak terlihat pucat lagi. “Hati-hati ya,” ucap Pak Seno seraya menepuk punggung putranya. “Benar kita harus mencari tahu lebih detail mengenai kepergian Satya,” imbuhnya. Yoga mengangguk dalam. Akhirnya dirinya dan sang papa bisa sangat dekat dan tanpa sekat. “Terima kasih ya,” ucapnya. Pak Seno mengesampingkan semua rasa kecewa pada Yoga yang selama ini dinilai tidak berbakti padanya. Lantas memilih berdamai dan kembali menaruh kepercayaan terhadap putranya itu. “Iya Pa—, Ma—, aku berangkat sekarang.” Yoga lantas mencium tangan wanita itu dan tak lupa Ia juga berpamitan kepada sang papa. Kemudian ia keluar dari kediaman orang tuanya, masuk ke dalam mobil yang sudah berada di teras. Pak Hadi yang merupakan sopir di kediaman rumah Bu Marisa dan Pak Seno, sudah duduk di belakang kemudi menunggu majikannya. Yoga masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang. Tidak ingin terlambat sampai di bandara. Yang ia tahu, harus bergerak cepat agar segera mendapat informasi. Mobil mulai berjalan keluar dari kediaman rumah Pak Seno. Yoga yang sejak tadi diam saja mencoba membuka percakapan dengan Pak Hadi. “Pak Hadi,” panggil Yoga lirih. “Iya ada apa, Mas Yoga,” sahut Pak Hadi seraya melihat ke kaca spion depan. “Apa saat petugas dari PT Samudra datang, Pak Hadi sedang berada di rumah?” selidik Yoga. “Iya Mas, sore itu saya sedang berada di rumah, mencuci mobil di depan garasi,” jawab Pak Hadi. “Apa ada yang mencurigakan, dari dua pria yang datang itu?” tanya Yoga. Ia sempat memeriksa CCTV rumahnya tetapi, tidak tertsngkap kamera CCTV secara jelas. “Maaf maaf saya tidak terlalu memperhatikan yang saya ingat mereka terdiri dari 2 orang pria dan memakai baju bebas itu saja,” jawab Pak Hadi tetap fokus mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota. Yoga tampak diam, melihat keluar kaca mengacuhkan sejenak ponselnya yang terus bergetar. Pasti ada pesan dan juga panggilan dari Devina. “Kenapa Mas Yoga, bertanya seperti itu?” Pak Hadi balik bertanya Hening. “Tidak ada Pak!” jawab Yoga Karena merasa ada yang janggal, pria itu merogoh saku kemejanya untuk memeriksa berapa pesan dari Devina, lalu membalas pesan dari sang kekasih. Yoga kembali mencari informasi dari sosial media mengenai kapal tenggelam PT Samudra. Namun tidak ada informasi satupun mengenai kapal tenggelam. Apalagi yang terjadi di satu bulan terakhir. Yoga memijit keningnya yang terasa pening. Ia terus merasa ada yang janggal. Berharap kepergiannya ke Surabaya kali ini bisa menjawab semua pertanyaan pertanyaan yang selalu timbul di kepalanya. Apapun yang terjadi Yoga tetap ingin melakukan yang terbaik dan segera mencari tahu keberadaan Satya secepatnya. Kalau benar saudara kembarnya sudah tiada, Yoga ingin menemukan jasadnya. Seandainya Satya masih hidup, ia ingin tahu di mana Satya berada. Bukan hanya untuk Calista dan juga kedua orang tuanya, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Bagaimana pun caranya harus menemukan dan tahi di mana keberadaan Satya. Mimpi-mimpi dari Calista, menjadi petunjuk bahwa saudara kembarmya itu. belum meninggal. . . . . . . . . . . . To be Continue.. Jangan lupa follow dan tap love ya. Ada ONLY YOU SANDERA SANG MAFIA.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN