Rasanya sesak sekali, tubuhnya dihimpit dari segala arah, membuat Mawar menggeliat berusaha mendapatkan sedikit ruang atau ia akan mati karena remuk.
“Engghh,” rengeknya karena semakin ia berusaha melepaskan diri, kungkungan itu semakin kuat. Merasa itu hanya mimpi, Mawar merengek lagi, karena sepertinya itu usaha terakhir agar ia terbebas. Saat kecil, rengekan membuat kedua orang tua Mawar segera turun tangan membantunya, dan saat ia dewasa, rengekannya juga selalu berhasil membuat Kris memberikan apa yang ia mau.
“Sssttt ...”
Desisan yang sering terdengar saat seseorang berusaha menenangkan seorang bayi terdengar, membuat kelopak mata Mawar perlahan terbuka. Didapatinya tubuh seseorang di depannya. Sangat dekat. Hanya berjarak beberapa senti dari matanya, membuat pandangannya tertutup dari hal lainnya.
Itu Kris. Satu-satunya tubuh telanjang yang pernah menaiki ranjangnya, berbaring bersamanya.
Kesadaran Mawar pun segera tiba. Semalam, setelah bertengkar sedikit, mereka akhirnya melakukan itu. Sepertinya semua masalah yang berhubungan dengan Kris bisa diselesaikan dengan kepuasan pria itu. Semakin dia marah, semakin dia banyak menuntut. Semalam saja, mereka tidur entah jam berapa. Kris melakukannya dengan wajah merengut, seolah dia sedang merajuk.
“U ... udah pagi. Kamu nggak ada meeting hari ini?” tanya Mawar pelan, masih merasa canggung karena sudah lama sekali mereka tidak seintim ini. Maksudnya, berada di tempat asing hanya berdua saja. Sudah terasa seperti bulan madu.
Bukannya menjawab, Kris malah mendecak kesal, kembali mengeratkan pelukannya.
“Duh, jangan kuat-kuat dong, meluknya. Aku nggak bisa napas.”
Sebenarnya bukan itu. Bukan karena dipeluk terlalu erat sehingga membuat d**a Mawar terasa sesak. Yang ada, dia merasa salah tingkah. Meski AC dihidupkan, tetap saja mereka tadi malam berkeringat. Tubuh mereka mengeluarkan aroma, baik dari kulit, maupun dari bawah sana. Belum lagi hasil jilatan-jilatan Kris di tubuhnya.
Kalau di rumah, Mawar bisa beralasan ingin masak, ingin menyiram bunga, atau apa saja. Sekarang ini, dia mana memiliki alasan apa pun. Dan di saat ini, entah mengapa keposesifan dari dalam diri Mawar menguar, ingin memiliki Kris hanya untuk dirinya sendiri, dan karena sadar itu tidak akan pernah terjadi, Mawar segera berusaha menghilangkan pikiran tidak masuk akalnya. Dia ingin segera melepaskan diri dari lilitan Kris.
“Kris, aku lapar.”
Kekehan terdengar. Kekehan khas Kris yang memang sering menertawai Mawar.
Sedetik, dua detik, tiga detik, Mawar menghitung sampai seratus dan tidak ada reaksi lanjutan dari Kris. Pria itu pasti tertidur lagi.
Tubuh Mawar menegang kaget saat ponsel Kris berdering. Kris menggumam tidak jelas yang artinya sudah pasti mengumpat kesal.. Dering itu masih terdengar lagi dan lagi, sampai akhirnya Kris menggerakkan tangannya menggapai nakas. Gerakan yang membuat tubuh Mawar semakin terhimpit, lebih tepatnya tertindih.
“Ck, di mana hp-ku?” tanya Kris.
“Nggak tau. Semalam ... kayaknya kamu nggak ada ngeluarin hp. Kamu kan nyamperin aku di kamar mandi terus ...”
Tubuh Kris beranjak, turun dari ranjang dan merogoh saku celananya yang berserakan di lantai. Merasa beban telah terangkat, tetapi juga kosong, itulah yang dirasakan Mawar. Apalagi saat Kris menyebut nama 'Nita', lalu melangkah ke arah sofa dan berbincang dengan wanita itu.
Memilih mengalihkan perhatian, Mawar turun dari ranjang. Ia segera ke kamar mandi, tempat kabur paling aman. Dia mengisi bak dengan air hangat, lalu berendam. Ketukan pintu terdengar. Bukannya membuka pintu, Mawar malah memejamkan matanya.
“Errrggghh!” geramnya kesal saat Kris mulai berteriak memanggil-manggil namanya.
“Cok, orang lagi mandi, juga!” sungutnya saat pintu telah terbuka, menampilkan Kris yang sama sekali tanpa busana.
“Kan bisa berdua, Sayang.”
“Aku mau berendam.”
“Bisa sama-sama.”
“Ck, udah jelas bhat tub-nya kecil juga!”
Mawar kembali memasuki bath tub, membaringkan tubuhnya. Terpaksa bergeser sedikit karena Kris sudah membaringkan tubuh juga di sebelahnya.
“Eh?” Mawar terkesiap kaget saat Kris menariknya, membuatnya berbaring di atas pria itu.
“Kamu cemburu sama Nita, ya?”
Merasa diejek dengan pertanyaan itu, Mawar memajukan bibirnya kesal. Dalam hati dia memberontak, bahwa tidak akan pernah dia mau berkomentar tentang wanita kedua itu. Toh, sampai saat ini, pesona Nita tidak pernah membuat Kris mau melepaskan Mawar. Apa gunanya cemburu? Lagi pula, posisi Nita memang lebih kuat. Sedikit.
“Kamu nggak ada kerjaan hari ini?”
“Udah aku batalin.”
“Kenapa?”
“Udah terlanjur kesiangan, lagi pengen romantis-romantisan sama kamu juga.”
Alarm di kepala Mawar langsung berbunyi, bahwa tema harus diganti lagi, karena Kris sedang berusaha menerbangkannya ke awan. Bukan haram, hanya saja itu berbahaya. Bisa membuat terlena padahal akhirnya tetap sama, ia akan terhempas dengan realita yang ada.
“Kamu nggak tidur, kan?”
Pertanyaan Kris membuat Mawar bergerak sedikit, lalu kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi nyaman. “Ya enggaklah, memangnya aku kayak kamu.”
“Kayak aku kenapa?”
“Tukang tidur di pagi hari, karena terlalu sibuk di tengah malam.”
Kris terkekeh lagi, dan Mawar menghela napas. Dia berpikir, momen seperti ini terus terulang. Kris bertingkah sedikit manis, ketus, menyebalkan, mereka bertengkar, lalu Kris kembali manis lagi. Terus berulang, sampai terkadang Mawar berpikir apa gunanya mereka melakukan itu? Bukankah itu tanda kalau mereka tidak cocok? Belum lagi masalah gairah Kris yang suka tidak bisa dibatasi. Mungkin karena agama mereka tidak membenarkan memiliki istri lebih dari satu. Kalau tidak, pasti Kris sudah banyak memiliki istri simpanan.
Meski kalau itu terjadi, sesuai perjanjian, Mawar akan meminta cerai scara pasti. Nita saja, meski sudah tinggal serumah begitu, belim Kris nikahi. Hanya menjabat sebagai wanita simpanan tetap yang diperkenalkan sebagai ibu dari penerus tahta. Seperti selir yang tidak akan menempati posisi sakral.
“Kamu melamun lagi.”
“Sok tau!”
“Kamu nggak cocok jadi pemikir, Sayang. Cocoknya jadi Mawarku yang apa adanya, dan banyak bicara.”
“Kalau aku cerewet, kamu yang sakit kepala. Mending diam, kan.”
“Kata siapa? Aku suka, kok, sama kamu yang cerewet. Apalagi kalau udah ngomel sambil merengek, aku gemas.”
Gombal, dia nih! batin Mawar. Mulai receh karena puber keseratus!
“Kita mau berendam sampai jam berapa?” tanya Mawar yang mulai merasa mengantuk.
“Terserah kamu. Aku ke sini kan karena mau sama kamu. Kamu berendam, aku ikut, kamu ke ranjang, aku ikut.”
Mawar bergerak cepat, menumpukan kedua tangannya di d**a Kris, mengangkat tubuh bagian atasnya, menatap Kris bersemangat. “Katanya di sini banyak pantainya. Aku mau dong, ke pantai.”
“Ck, kamu nggak lihat apa berita kalau sekarang cuaca suka nggak bagus? Pantai itu bahaya.”
“Tapi kan, hari ini cerah.”
“Dari mana kamu tau? Kamu baru bangun aja langsung ke kamar mandi.”
“Ya ... tau aja. Kan kalau hujan kita bisa pergi. Enak nih, ke pantai. Udah lama aku nggak ke pantai. Ya Kris ya?”
“Bahaya itu nggak harus karena hujan.”
“Ya kalau gitu ke mana?”
“Ke mall?”
Beliin belanjaan Nita? Cih!
“Aku di kamar aja, deh, kalau gitu. Aku nggak suka ke mall.”
“Loh, bukannya kamu suka belanja? Mumpung di sini?”
“Kalau belanja bisa di mana aja.”
“Orang dari Singapur sama Malaysia aja belanja ke sini, loh. Di sini bagus-bagus, katanya.”
“Kata siapa?” Kata Nita?
“Yang penting ini fakta. Kamu yakin, nggak mau belanja? Nanti rugi.”
Mawar mengerucutkan bibirnya, kembali merebahkan tubuhnya. Hatinya dongkol, merasa kalau Kris memilih tempat tujuan bepergian mereka hari ini dari sisi Nita, bukan dirinya. Cemburu, meski menyebalkan, masih saja tidak bisa dia hindari. Merasa dibandingkan, lalu kalah, membuat egonya hancur berkeping-keping. Terkoyak, membuatnya merasa perih.
“Ya udah deh, kalau kamu maksa. Awas aja ngeluh uang kamu aku habisin!” sungutnya.
Seperti biasa, yang Kris lakukan hanya terkekeh.
***
Kebiasaan lama tidak akan bisa dirubah dengan cepat apalagi situasi yang dihadapi menggoda untuk kembali ke kebiasaan itu. Itulah yang Mawar rasakan. Sudah terbiasa dalam kehidupan sederhana, tidak lagi belanja barang-barang mewah, memilih menabung dalam bentuk uang dan emas, kini rasanya ia seperti berada di dalam surga karena diberi lampu hijau untuk kembali ke hobi lamanya.
“Ini bagus, nggak? Warna ini aku belum punya. Ada ininya lagi. Duh, aku beli yang mana ya? yang Hitam bagus juga.”
“Tapi kamu udah punya hitam.”
“Tapi hitamnya itu bagus, ada blink-blinknya di atasnya nih. Duh, yang mana ya?”
Saat seperti ini, Mawar seperti dihadapkan pada hal penting dalam hidupnya dan harus memilih. Rasanya ingin menangis, kalau tidak ingat mereka sedang di tempat umum. Dia sudah membeli lima tas dan masih jatuh cinta pada dua tas lainnya lagi.
“Beli keduanya aja, Mbak. Dua-duanya bagus, kok.”
“Tapi saya udah beli tas juga, tadi. Terlambat saja lihat yang dua ini.”
“Nggak papa, Mbak, biar banyak tasnya.”
“Tas saya di rumah juga udah banyak. Ya udah, deh, nggak usah keduanya. Daripada bingung.”
Mawar memberikan kedua tas yang dipegangnya kepada wanita penjual tas itu. Saat dia membalikkan tubuh, wajah semringah Kris sudah menyambutnya. Membujuk dengan raut yang artinya 'beli saja karena aku masih mampu membayarnya'. Tidak terima dibuat bimbang lagi, Mawar menutup wajahnya, seolah dia baru saja melihat hal tidak pantas.
Kris tertawa lepas. Kedua tangannya melingkar memeluk, lalu mengecup kepala Mawar. “Kenapa nggak jadi, heum?” tanyanya berbisik dengan nada membujuk.
“Nggak mau ngasih kamu alasan buat minta sesuatu,” jawab Mawar dengan suara teredam telapaknya sendiri.
“Memangnya aku bakalan minta apa?”
“Nggak tau!”
Pelukan Kris terlepas. Dia berbicara sesuatu pada si penjual lalu kembali menghampiri Mawar.
“Habis ini ke mana? Cari pakaian?”
Mawar mengangguk pelan, lalu secara cepat dia menoleh dan menggelengkan kepalanya. “Nggak. Pakaian nggak usah. Udah banyak. Lemariku nggak muat lagi.”
Terlambat. Kris sudah tersenyum lebar penuh makna. Sambil menarik tangan Mawar menuju ke toko pakaian, Kris berkata, “Buang saja yang lama. Kamu perlu baju baru.”
Menoleh ke belakang,Mawar tersipu karena ternyata pria yang bertugas sebagai supir mereka selama diBatam masih ada di belakang mereka. Meski pria itu belum tentu tau maksudnya,bahwa Kris bersemangat ke toko pakaian karena dia akan membeli banyak pakaianminim terlebih yang pakaian dalam, tetap saja Mawar merasa malu.