Part 6

2520 Kata
Setelah sebelumnya menolak ajakan Mawar, Kris hari ini malah menyeret paksa Mawar ke pantai. Bukannya tanpa alasan Mawar menolak. Dia sedang malu memamerkan hasil kerja Kris di tubuhnya. Meski kata Kris pantai sedang sepi, tetap saja Mawar merasa malu. Awalnya Mawar mengenakan kaos kebesaran milik Kris. Lalu, setelah sampai di pinggiran pantai, dia melepasnya dan meletakkan kaos itu di tempat Kris meletakkan sendalnya. Sekalian meletakkan sandal, tentu saja. Ponselnya ia masukkan ke sarung hp anti air yang ditempelkan di lengan. Dengan kaki telanjang, Mawar mengejar Kris yang sudah mulai menceburkan diri ke air laut. Dia memang butuh Kris agar jika sewaktu-waktu ia hanyut, ada yang akan menolongnya. Lepas, bebas, dan bahagia, Mawar merasakan itu. Menyenangkan sekali berenang di air yang mengayun-ayunkan tubuhnya. Di air yang dikelilingi oleh pepohonan, sarat akan keindahan alam. Dipikir lagi, Mawar memang jarang sekali liburan alam. Mungkin, memang tidak pernah. Ia sendiri tidak begitu mengingatnya. Beberapa kali saat ia masih kecil, orang tua Mawar mengajaknya ke suatu tempat yang asri. Tapi itu sudah lama sekali, sebelum Mawar akhirnya punya hobi yang lain: berkumpul dengan teman, berbelanja, dan berdiam diri di kamar untuk malas-malasan. Apalagi sejak dia mengenal Kris, pria itu selalu menahannya di ruangan yang memberikan mereka privasi untuk berbuat yang tidak-tidak. Dulu, Mawar pernah sadar kalau Kris bukan jenis pacar royal yang bisa dia olah. Pria itu tidak bisa diakali, justru Mawarlah yang akhirnya terkekang dengan batasan yang Kris ciptakan. Kata teman Mawar, pacar royal yang awalnya ingin ia kenalkan itu orangnya baik, enak diajak bicara, dan tentu saja pandai memanjakan wanita baik dengan perlakuan atau dengan kemewahan. Naas, Mawar malah jatuh ke pelukan Kris. Hendak berpaling, dia butuh aliran dana dari pria itu. Berat. Dia harus memiliki batu loncatan dulu baru akhirnya mengakhiri hubungan. Suatu malam, Mawar mendapat ajakan untuk kencan buta. Teman Mawar itu berkata ada beberapa pria lajang yang sengaja mencari kucuran dana. Istilah Sugar Honey mereka gunakan, karena hubungan itu seperti Sugar Daddy dan Sugar Baby di mana si pria memberikan uang dan si wanita memberikan kepuasan, hanya saja status mereka berpacaran secara resmi dan usia mereka tidak terpaut jauh. Lebih menyenangkan, lebih membanggakan. Mawar sempat ragu karena lagi dan lagi tempat pertemuannya itu di restoran sekaligus bar. Bukan karena ia tidak pandai minum. Dia sudah belajar minum sejak memutuskan memilih jalan sesat untuk tetap hidup nyaman, dan untungnya tubuhnya memiliki ambang batas yang cukup tinggi. Orang tuanya juga tidak melarang asal tidak sampai mabuk. Ada semacam kebiasaan dalam keluarga untuk menjadikan minuman keras kategori ringan sebagai minuman jamuan saat kumpul keluarga, dan itu berlaku untuk semua jenis kelamin asal sudah mengantongi KTP. Lebih jelasnya, Mawar diperbolehkan minum, tetapi tidak minum-minum. Tidak sampai mabuk dan ketagihan. Yang Mawar ragukan adalah kemampuan pria-pria itu nanti untuk tetap bersikap normal sebelum akhirnya proses PDKT berakhir. Mawar tidak mau memberikan tubuhnya pada pria mana pun mala mini selama belum pasti kalau pria itu akan menggantikan posisi Kris. Rasanya menjijikkan membiarkan tubuhnya dicicipi pria yang tidak jadi terlibat secara serius dengannya. Meski dia telah menjadi wanita yang bisa dibeli, masih ada aturan mainnya. Tujuh orang wanita dan tujuh orang pria. Tempat duduk sudah terisi dan perbincangan hangat sudah terjadi. Mawar berusaha mengakrabkan diri dengan calon paling potensial, menurutnya. Pria itu pamit ke kamar kecil. Sambil menunggu pria itu, Mawar memainkan ponselnya, dan saat melihat bayangan seorang pria duduk di depannya dari sudut matanya serta air mengalir ke gelasnya, Mawar mengangkat pandangan. Mulutnya sudah terbuka hendak memulai kembali percakapan, tetapi batal karena wajah santai penuh ancaman di depannya. Dia Kris. Pria yang harusnya sibuk, tetapi bisa-bisanya ada di tempat Mawar sedang mencari mangsa. “Eh, kamu,” ucap Mawar lalu tersenyum terpaksa. Dia menjulurkan lidah hendak membasahi bibirnya lalu menoleh ke sekitar. Tidak ada yang memperhatikannya. Semua sudah sibuk dengan pasangan masing-masing. Dalam hati dia berdoa, semoga pria tadi tidak kembali karena itu hanya akan membuatnya terlibat dalam kesulitan. Entah bagaimana, Mawar merasa kalau Kris tidak akan diam saja atas apa yang terjadi. Mungkin, ego yang tersentil, batin Mawar. “Cheers,” ucap Kris pelan, mengangkat gelas dan menyodorkannya ke Mawar. Setelah Mawar menerima gelas itu, Kris mengangkat gelasnya, dan menggantungnya di udara. “Cheers,” ucap Mawar sambil menengguk ludah. Suhu udara yang tadinya dingin kategori normal, sekarang sudah menjadi amat sangat dingin baginya. Dengan napas yang terasa berat untuk ditarik dan keluarkan, Mawar menengguk minuman itu sampai habis. Matanya tidak berani beralih dari Kris seolah sedetik saja luput dari pandangan, pria itu akan melakukan sesuatu yang akan membuat Mawar menyesal seumur hidup. Itulah resiko berhubungan dengan pria yang bermartabat, tetapi gaya hidupnya seperti preman. Melihat tato yang mengintip dari batas lengan baju kaos Kris saja, Mawar merasa terancam. Prinsip kuno kalau yang bertato adalah seorang kriminal masih menempel kuat di kepalanya. Apalagi selain tato, Kris juga memiliki anting di telinganya. Lengkaplah sudah. Jangan lupakan tatapan sinis pria itu saat sedang marah. Ralat, selain saat sedang bahagia. “U... udah, Kris, udah empat gelas,” ucap Mawar sambil mengekeh paksa. Wajahnya jelas menunjukkan ketertekanannya. Dia bisa merasakannya. Apalagi saat melihat senyum puas bertengger secara arogan di wajah Kris. “Gimana cowoknya? Dapat?” tanya Kris yang kembali mengisi gelas Mawar. Mawar mengalihkan pandangannya dari Kris ke gelas yang kembali terisi penuh. Merasa mual karena berfirasat Kris tidak akan berhenti sebelum Mawar diopname karena terlalu banyak minum. Pria itu tidak sedang menyajikan minuman untuk Mawar dalam rangka ramah tamah, tetapi sedang memberi pelajaran dengan cara halus. Cara orang yang berjiwa keji. “Cowok apa? Kan ... cowok aku itu ... kamu.” Suara Mawar memelan di kata terakhir. “Ah, udah jam Sembilan malam. Aku harus pulang. Nanti dicariin Mama. Kamu .... Eum, kamu masih mau nongkrom sama teman kamu, 'kan? Aku pesan taksi aja kalau gitu.” Mawar memasukkan ponsel ke tasnya. Karena teman-temannya yang lain sedang asik, Mawar membatalkan niatnya untuk pamitan. Dia segera beranjak dari kursinya, menghampiri Kris untuk mencium pipi pria itu, lalu berjalan dengan cepat menuju luar restoran. Tadinya dia mau bertanya pria itu mau mengantarnya atau tidak, tetapi karena otaknya masih bisa berpikir normal, dia sadar kalau itu hanya akan memberi kesempatan pada Kris untuk membawanya ke tempat lain. Dia memang sudah berbohong pada mamanya untuk mendapatkan izin tidak pulang. Bersekongkol dengan temannya, berkata kalau ia akan menginap selama dua hari karena mama sang teman sedang keluar kota. Sebuah mobil berwarna kuning keemasan berhenti di depan Mawar. Merasa mobil itu bukan ingin menghampirinya, bukan mobil kenalannya, Mawar menggerakkan matanya ke arah lain untuk mencari taksi. “Naik.” Ucapan itu pelan, tetapi berhasil membuat Mawar mematung sejenak, menurunkan pandangan dengan amat sangat perlahan karena takut dengan kenyataan yang akan menyambutnya, lalu menengguk ludah sekali lagi saat ketakutannya benar. Pria bersuara pelan tadi adalah Kris. Terbiasa memaksa orang, mungkin, membuat lirikan Kris terasa seperti ancaman. Mawar yang masih ingin hidup tenang, segera mengitari mobil dan masuk ke dalamnya. Duduk di sebelah Kris tanpa suara. Udara di dalam mobil terasa pengap, dan aroma parfum Kris membuatnya mual. Dia seperti sedang berada di antara hidup dan mati. Bahkan, saat Kris telah memarkirkan mobil di parkiran apartemennya, Mawar masih diam saja. Seribu satu kata yang menggema di kepalanya, tidak berani ia suarakan. Cara Kris menunjukkan seberapa mampunya dia mengetahui semua kecurangan Mawar yang sudah berkali-kali, membuat Mawar akhirnya pasrah. Dia berhenti mencari ganti, mencari cara untuk putus, dan belajar menikmati apa yang dia bisa dapatkan. Tidak terlalu sulit, karena meski kejam pada orang lain, Kris begitu lembut para Mawar. Terlambat memang Mawar sadari kalau Kris tidak hanya lembut pada dirinya, tetapi pada semua wanita. Pria itu seperti penganut paham, 'selama aku puas, aku akan memberikan kenyamanan sebagai balasan'. Terkadang Mawar sendiri heran, bagaimana mungkin nasib setega itu padanya. Membiarkan wanita sepenakut dirinya, memiliki suami se'tahu-diri' Kris. “Aku nepi dulu,” ucap Kris. Mawar yang masih asik dengan menenggelamkan diri di air laut pun mengangguk, kembali berenang meski itu hanya membuatnya berulang kali tidak sengaja menjilat asinnya air laut di bibirnya. Mulai bosan berenang sendirian, Mawar melirik Kris. Ternyata pria itu sibuk dengan ponselnya. Menelepon Nita, pasti! Tuduh Mawar dalam hati. Mendadak jantungnya berdetak cepat. Seperti ingin meledak. Dia kembali berenang dan membiarkan dirinya kekurangan oksigen beberapa kali. Cara itu cukup berhasil mengalihkan rasa sakit di hatinya pada sakit di tubuhnya. Lelah menyiksa diri sendiri, Mawar kembali ke daratan. Dia melangkah dengan wajah masam ke konter makanan satu-satunya di tepi pantai itu. Marah membuatnya haus dan lapar, jadi dia memesan makanan juga. Menyantapnya tanpa mempedulikan Kris lagi. Sebuah ciuman mendarat di pipinya, lalu pria paling menyebalkan di muka bumi versi Mawar sudah duduk di sebelahnya. “Malah makan,” kekeh Kris. Pria itu mengganggu makan Mawar dengan mencuil makanan Mawar. “Ish!” Mawar memukul tangan Kris. “Tangan kamu itu jorok, tau! Nanti aku sakit perut karena kamu! Pesan aja punya kamu sendiri, sana!” Mawar menunjuk konter dengan dagunya. “Ya udah, kalau gitu.” Sehabis berkata begitu, Kris menarik Mawar dan langsung menempelkan bibir mereka. Dengan ahli, menuntun Mawar untuk membuka mulut, lalu lidah pria itu bergerilya ke dalam mulut Mawar. Lama. Sedikit membuat Mawar lupa diri. Saat pagutan itu terlepas, segera wajah masam kembali terpasang dan Mawar bersungut-sungut. Kris tertawa. Tangannya mengacak rambut Mawar. “Kan nggak boleh pakai tangan, kamu transfer makanan ke aku pakai mulut aja. Mudah, 'kan?” Kris menaik turunkan alisnya menggoda. Mawar mengerutkan wajahnya pada Kris untuk menunjukkan ejekan, lalu kembali makan dengan lahap. “Berenang lagi, yuk?” ajak Kris. Mawar menggelengkan kepalanya. “Aku baru siap makan. Sana, kamu berenang sendiri aja. Aku udah malas.” “Ck, justru karena habis makan, kamu perlu berenang. Biar langsung luntur lemaknya.” Melihat Kris tersenyum, hati Mawar malah terasa semakin perih. Dia mendecak kesal lalu mengibaskan tangannya, mengusir. “Sana aja kamu berenang. Aku udah capek. Tadi kamu kan udah istirahat. Aku belum. Jadi, sekarang kamu berenang aku istirahat. Gantian.” “Ya udah, cium dulu.” Kris sudah memajukan bibirnya, tetapi Mawar memalingkan wajahnya hingga yang terkena cium hanya pipi Mawar. Merasa Kris menatapnya lekat, Mawar menahan posisi kepalanya terus. Dia malah ingin menangis jika diperlakukan seperti itu. Akhirnya sudut mata Mawar menangkap gerakan pria itu beranjak pergi. Dia akhirnya meluruskan pandangannya ke depan. Kris sudah kembali memasuki laut. Berusaha menghilangkan gemuruh di dalam dadanya, Mawar membaringkan tubuhnya di atas pasir dengan tubuh berselimut baju kaosnya tadi. Kalaupun dia ketiduran, Kris pasti akan membangunkannya. Kalau ada yang mengganggunya, Kris pasti akan segera mengusirnya. Kalau dia kenapa-napa, Kris pasti akan mencari solusinya. Meski pria itu asik dengan aktivitasnya, Mawar percaya dirinya tetap akan aman. Merasa terlalu aman, sampai dia akhirnya ketiduran. Saat dia membuka mata, matanya bahkan terasa lengket. Mungkin pikiran kalut dan suasana pinggir laut adalah perpaduan yang sempurna sehingga memberikan rasa nyaman berlebihan, hingga Mawar bisa senyenyak itu. Dia mendudukkan dirinya paksa, membuka matanya lebar mencari sosok Kris. Tidak ada. Mawar sudah mencari ke sepanjang pinggiran laut dengan pandangannya, tetapi Kris tidak terlihat juga. Mungkin dia sedang makan, batin Mawar. Ia berdiri dan berjalan menuju konter penjual makanan. Tidak ada juga. “Tadi ... kamu lihat suami saya, nggak?” tanya Mawar dengan suara tercekat. Firasat buruk segera menguasainya. Kris tidak pernah meninggalkannya apalagi di tempat asing seperti ini. “Wah, bukannya berenang, ya, Mbak?” Mawar menggelengkan kepalanya, dan penjaga konter itu kembali berkata ia tidak tau. Mawar berjalan cepat ke bibir pantai. Dia membentuk corong dengan tangannya, lalu meneriakkan nama Kris. Beberapa orang di sana memperhatikannya, tetapi tidak ada yang berniat bertanya. Perasaan Mawar semakin tidak karuan. Kris memang jago berenang, bahkan mampu untuk tetap di dalam air dalam waktu yang lama, tapi ini sudah terlalu lama. Bisa saja dia terseret ombak. Bisa saja tadi saat Mawar tidur, ombaknya lebih besar dari yang tadi-tadi. Bisa saja .... Kris pingsan dan tubuhnya terbawa arus sampai ke laut dalam. Jika harus terjadi perpisahan, bukan seperti ini caranya. Mawar tidak bisa. Meski ngotot ingin bercerai, dia tidak pernah menyumpahi Kris mati. Meski b******n, pria itu tetap masih berstatus suaminya. Selama ini Kris selalu memastikan Mawar tidak pernah terluka secara fisik, memenuhi semua kebutuhan Mawar, dan mau bersabar terhadap sikap kekanakan Mawar. Semua yang baik-baik tentang Kris terkilas, membuat Mawar semakin merasa ingin berteriak. Tapi teriakan tidak akan menyelamatkan Kris. Dia bertanya pada orang-orang, tetapi mereka malah balik bertanya. Mawar merasa panik. Dia memasuki air laut, sambil berteriak memanggil nama Kris, dia terus dan terus melangkah lebih jauh. Saat sudah lebih dalam, dia menjatuhkan tubuhnya, mengayuhkan tangannya, matanya memandang ke dalam air, mencari sosok yang dicarinya. Tidak ada. Kris tidak ada. Lalu bagaimana dunianya jika pria itu sudah tidak ada? *** “Bodoh!” geram pria yang sedari tadi menonton aksi panik istrinya. Tadi dia kembali menelepon si supir, menanyakan perihal pesanannya akan tas titipan Nita, sekaligus tas untuk Mawar. Tas yang sempat ingin istrinya beli, tetapi tidak jadi. Kedua tas itu, ditambah dengan kalung dan cincin, plus boneka beruang seukuran bayi, adalah perpaduan hadiah yang pantas Mawar terima di ulang tahun pernikahan mereka yang keenam. Semua bisa dibeli di tempat asal mereka, tetapi Kris ingin memberikannya sekarang. Harus tepat momen, harus tepat hari. Dia ingin berdamai dengan istrinya, mengembalikan Mawar ke sosok yang dikenalnya. Kehilangan terasa lebih sakit saat sosok masih di depan mata, tetapi terasa tidak ada. Dulu, diabaikan terasa biasa saja. Asal Mawar ada, sikapnya tidak ada pengaruhnya. Yang penting kapan pun Kris mau 'itu', Mawar bersedia. Atau setidaknya, pasrah. Tetapi semakin hari, semakin banyak Kris mendapatkan sesuatu, semakin dia merasa ada yang kurang. Mungkin terlalu cepat, tetapi ia sudah sampai di titik jenuhnya. Dia ingin kembali ke kehidupan lamanya. Saat di mana Mawar banyak menghiasi harinya, meski dengan hiasan yang tidak sesuai dengan pasangan normal lainnya. Harta, ada. Wanita, banyak. Anak, sudah punya. Tapi .... Pelukan hangat Mawar yang menyambutnya dan kecerewetan wanita itu, sudah banyak berkurang. Terkadang memang Mawar kembali ke sikap aslinya, tetapi seolah ada pengingat otomatis, dengan segera wanita itu menghentikan aksinya padahal Kris belum puas dengan gerutuan wanita itu. Dulu bersama wanita lain rasanya tidak jauh berbeda dengan rasa yang ia dapatkan bersama Mawar. Sekarang, rasa itu sudah jauh menurun drastis. o*****e yang ia rasakan, seperti hanya memberikan kenikmatan pelepasan standar, yang akan segera sirna hanya dalam hitungan detik. Lalu, gairahnya akan padam sampai keesokan harinya, atau keesokan harinya lagi, atau bahkan keesokan harinya lagi. Dia yang biasanya melakukan lebih dari sekali dalam satu persenggamaan, kini malah lebih suka memuaskan diri di kamar mandi dengan mata terpejam. Dengan membayangkan tangan Mawar sedang bergerak lincah di kejantanannya, dan terus bergerak sampai ia mendapatkan kepuasannya. Setelah selesai menelepon, Kris memandangi Mawar yang sedang tidur dari jarak jauh. Dia ingin merekam tindak tanduk Mawar. Terlalu asik, dia tidak tau menghabiskan waktu berapa lama, yang jelas saat Mawar terbangun, dia malah bahagia melihat Mawar mencarinya. Dia sengaja sembunyi di balik salah satu pohon saat melihat Mawar berjalan menuju konter penjual makanan. Mawar terlihat gila karena mencarinya. Rasa hangat menjalar ke dalam diri Kris, membuatnya menahan diri dengan sekuat tenaga untuk menarik Mawar ke dalam pelukannya. Sebentar lagi, batinnya, biarkan Mawar mencari lebih lama. Tidak mungkin, berontak batin Kris saat melihat Mawar melangkah menuju laut. Tidak mungkin, ucap batinnya lagi saat Mawar mulai melangkah di dalam air laut yang sudah sepinggang. Tidak mungkin, sekali lagi, batin Kris menolak percaya Mawarnya yang manja akan melakukan itu untuknya. “Bodoh!” geram Kris lalu berlari sekencang mungkin, berenang dengan cepat, lalu menarik Mawar ke dalam pelukannya. Memeluk erat wanita yang membuatnya tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Kris membawa Mawar sampai ke kedalaman yang memungkinkan mereka menapak. “Kamu ke mana tadi?” isak Mawar memukuli Kris. “Aku panggil, kamu nggak nyahut! Kamu nggak datang!” Ucapan Mawar terpotong-potong oleh isakannya. “Aku pikir kamu hanyut! Aku pikir kamu pergi ninggalin aku! Aku pikir ....” Tidak sanggupmendengarkan ucapan Mawar lebih banyak lagi, Kris membungkamnya. Menempelkan bibirmereka dengan tekanan keras, menunjukkan seberapa besar kemarahan, ketakutan,dan rasa ....cintanya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN