Kris tidak mempercayai cinta, lebih tepatnya, tidak pernah terpikir tentang satu kata penuh makna itu. Terlahir dari orang tua kaya raya yang gaya hidupnya bebas, membuatnya tidak pernah membatasi diri atas kesenangan duniawi. Memang tidak diperlukan karena dia tidak merasa itu adalah suatu kesalahan.
Hubungan antar lawan jenis, sudah sejak lama Kris ketahui. Orang di sekitarnya memang tidak pernah menutupi itu tadinya. Karena penasaran, ia mencobanya. Dan karena itu menyenangkan, ia terus melakukannya. Tidak ada yang salah selama perbuatan nikmat itu tidak merugikan orang lain. Dia mabuk dengan minuman keras yang dibayarnya. Wanita yang ditidurinya, memang bersedia. Perbuatan nakalnya yang lain juga ia lakukan bersama anak nakal lainnya. Termasuk balap liar, dan berkelahi. Dia tidak pernah melakukan kejahatan tidak berkelas seperti mencuri, memperkosa, membunuh, apalagi mengedarkan narkoba.
Uang adalah sumber kemudahan dalam hidupnya, dan dia sangat berterima kasih pada orang tuanya untuk hal itu. Meski untuk wanita, tanpa uang pun dia bisa mendapatkannya. Dia tidak pernah mau membayar, bukan karena tidak mampu. Hanya saja, itu membuat seolah dia tidak laku. Seolah, dia harus memberikan uang agar wanita itu mau menghabiskan waktu dengannya. Tentu saja, jika wanita itu berhasil menyenangkannya, barulah ia menjadi pria yang amat sangat royal.
Semua jenis wanita pernah dicobanya. Yang perawan atau tidak, yang liar maupun lugu, yang berniat bersenang-senang atau sedang berharap banyak, tetapi dengan Mawar dia merasakan sesuatu yang lain. Pernah bertemu beberapa kali di kampus dalam kondisi yang menarik perhatiannya, membuatnya tertarik untuk menjadikan wanita itu salah satu pemuas nafsunya. Mawar itu lugu. Beberapa kali dimanfaatkan oleh temannya, tetapi dia tidak sadar. Namun, saat sudah sadar, dia bersikap tegas dan menutup aksesnya pada teman-teman jahatnya itu.
Kris tau banyak karena dia mencari tau. Dia menyuruh orang yang mencari data tentang Mawar. Saat akhrinya mereka terlibat hubungan saling menguntungkan, Kris tidak menghentikan kebiasaan buruknya yang lain. Dia masih berkencan, istilah sopannya, dengan wanita-wanita lain, meski dengan Mawar sedikit lebih rutin.
Dengan Mawar, dia bersikap sedikit lebih normal. Tidak ada bercinta dengan kekerasan, bercinta di tempat umum, melakukan gaya-gaya unik, apalagi perbincangan m***m. Dia bisa sedikit lebih sopan pada wanita manjanya itu. Bercinta dengan Mawar, tidak hanya memuaskan, tetapi juga menyenangkan. Tidak perlu dirangsan dengan pakaian jarring-jaring, dia sudah terpancing. Bahkan saat wanita itu merengek manja saja, Kris sudah langsung b*******h. Semakin Mawar ingin lepas darinya, semakin Kris ingin Mawar tetap ada untuknya. Dia butuh tempat lain untuk singgah, tetapi dia tetap butuh rumah untuk kembali pulang, dan Mawar-entah bagaimana-telah menjadi rumahnya.
Prinsipnya tidak mau dimanfaatkan secara materi oleh wanita pun luntur. Malahan, dia sengaja menjadikan uang sebagai bahan penahan. Dengan Mawar, semua terasa lebih pantas. Ada kebanggaan dalam dirinya saat memamerkan Mawar sebagai miliknya. Itulah kenapa dia memperkenalkan Mawar pada keluarganya. Dan saat sadar pada akhirnya, dia harus membentuk keluarganya sendiri, hanya wanita itu yang dianggapnya menjadi kandidat terpantas.
Pernikahan mereka berjalan lancar. Mawar adalah wanita yang suka mengeluh, tetapi dia tidak jeli. Dia suka cerewet, tetapi lengah untuk tau bahwa Kris masih tetap sama, masih pria yang bergaya hidup bebas. Untuk pembelaan diri, Kris selalu menekankan bahwa ia tidak pernah serius, hanya bermain-main, dan wanita-wanita itulah yang menyodorkan dirinya.
“Kita cerai aja!” teriak Mawar malam itu, sehabis mengetahui Kris masih melampiaskan gairahnya pada wanita lain. Entah siapa yang mengadu, yang jelas Kris akan memberi pelajaran.
“Mau apa kamu?!” Kris balas berteriak saat Mawar mulai mengeluarkan koper dari dalam lemari. Dia masih berkacak pinggang, menunjukkan kearoganan pada Mawar, merasa tidak terancam karena merasa wanita itu tidak akan mau meninggalkannya. Ia masih kaya, malah bertambah kaya, jadi Mawar akan semakin terikat padanya.
“Ya pulang ke rumah orang tuaku, lah! Ngapain aku di sini? Namanya orang mau cerai, ya pisah rumah. Kamu tenang aja, aku nggak akan kasih tau ke hakim kalau kamu itu suka selingkuh. Kita cerai baik-baik. Kita pisah. Biar kamu bisa puas juga, begituan sama perempuan kamu itu!”
“Apa maksud kamu cerai baik-baik? Namanya cerai mana ada yang baik-baik!”
“Ada, kok! Artis banyak cerai baik-baik! Makanya, nonton tv sesekali, jangan xvideos terus!”
“Dari mana kamu tau situs itu?”
Mawar menghentikan kegiatannya mengepak barang ke dalam koper, menatap Kris dengan mata membesar. “Kamu itu otak memang udah rusak! Aku bahas cerai, kamu fokus ke situs porno! Dasar ....”
Kris tersenyum lucu. Mawar tidak terbiasa mengumpat. Dia sering marah, tetapi untuk berbicara kurang ajar, sepertinya wanita itu memang tidak mampu.
“Udah. Aku bawa baju dikit aja.”
Mawar mengeluarkan ponselnya, mengetikkan sesuatu di layar, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga.
“Kamu ngapain?” tanya Kris berjalan mendekati Mawar.
“Telepon taksilah! Kamu pikir aku mau makai supir kamu? No way!”
Kris merebut ponsel itu lalu menjauhkannya dari jangkauan Mawar saat wanita itu berusaha merebutnya kembali.
“Itu hp dibeliin papa aku, ya! Ngapain kamu ambil? Sini, balikin!” Mawar mengadahkan tangannya dengan dagu terangkat.
Sebelah alis Kris melengkung, bibirnya pun tersenyum miring. “Kamu nggak akan pergi ke mana-mana.”
Mawar hendak mendebat, tetapi bibir itu kembali terkatup rapat. Keningnya yang berkerut sudah pasti berarti wanita itu sedang berpikir keras. Mungkin dia sedang mencari argument untuk menyudutkan Kris, tetapi Kris tidak peduli.
“Ck, sini balikin!” geram Mawar.
“Enggak.”
“Balikin, nggak! Itu sama aja kamu nyuri hp aku, tau nggak! Udah m***m, pencuri lagi! Ish, malu-maluin aja!”
Tuduhan itu tidak akan berakibat sesakit yang Kris rasakan sekarang ini jika diucapkan wanita lain. Tapi ini Mawar. Kris merasa terluka dan untuk itu Mawar harus membayarnya. Bukan dengan mendapatkan pelajaran yang seperti orang lain dapatkan, tetapi jenis pelajaran yang akan membuat Mawar memohon ampun dengan erangan nikmat.
Membayangkannya, Kris malah b*******h. Sial!
“Kok, malah diam? Ngelamun jorok kamu nih!” teriak Mawar yang pandangannya sudah turun ke bawah, sejenak. Ke arah yang menjadi bukti keterangsangan Kris. “Siniin hp-nya!”
“Enggak.”
“Kriiiisssss, kamu jangan macem-macem, ya! Itu tuh pemberian papa aku, bukan dari kamu! Kamu nggak ada hak buat ambil hp-ku! Kayak kamu nggak mampu beli aja! Siniin!”
“Enggak.”
“Kok kamu jahat, sih?” gerutu Mawar dengan wajah sudah seperti akan menangis. Dia mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan beberapa kartu debit dan kredit, menyodorkannya pada Kris. “Ini .... Ini punya kamu. Ambil aja, nggak papa. Tapi itu, hp itu, itu punyaku. Balikin, sini!”
“Enggak.”
“Dasar b******k, kamu tuh!” geram Mawar sambil melemparkan kartu-kartu di tangannya ke tubuh Kris. Dia melangkah maju, berusaha meraih ponselnya dari tangan Kris. Karena gagal, Mawar memukuli lengan Kris bertubi-tubi. Kris diam saja. Mungkin karena bertambah kesal, atau karena lelah, Mawar berhenti. Dia menghentakkan kakinya beberapa kali lalu membanting semua benda pecah belah di dalam kamar. Dia menangis tersedu-sedu. Mengucapkan semua kata-kata terjahat versi wanita sesantun Mawar. Dan akhirnya, wanita itu meluruhkan tubuhnya di lantai, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menangis.
Kris melangkah keluar kamar, menguncinya. Berpikir kalau Mawar masih butuh waktu untuk meredakan emosinya, sedang ia sendiri harus segera mencari tau wanita mana yang membuat semua serunyam ini. Tentu saja, dia harus memberi tau pada wanita itu apa akibatnya jika dia berani main-main dengan rumah tangga Kris.
Keesokan harinya, sampai beberapa hari ke depan, Mawar masih terus mengucapkan keinginannya untuk bercerai. Merasa muak, Kris akhirnya melawan ucapan Mawar dengan penuh emosi. Padahal saat itu sedang ada acara keluarga. Akibatnya, semua orang tau permasalahan mereka. Perang dingin terus berlangsung. Kris mana mungkin mengabulkan permintaan konyol itu.
Akhirnya Mawar perlahan luluh. Meski raut masam selalu tertempel di wajah wanita itu, tidak masalah. Toh, seiring berjalannya waktu, wajah itu akan kembali merona merah, bibir itu akan kembali tersenyum riang, suara lantang dan sinis itu akan kembali merengek meminta sesuatu padanya dengan manja.
Tau Mawar tidak akan diam saja dengan hobinya bermain perempuan, Kris berusaha untuk membatasi diri. Sudah berhasil untuk beberapa saat.
“Selamat siang, Pak. Saya Monik, asisten Pak Rudi dari PT. Karena Jaya. Beliau memerintahkan saya untuk menjemput Bapak.”
Wanita dengan pakaian kerja serba pas-pasan yang melekat ketat di tubuhnya itu, mengirimkan sinyal sensual pada Kris. Tidak butuh kode lebih keras untuk mengerti bahwa dia adalah tumbal pemulus kerja sama Kris dengan Rudi. Kebetulan saat Kris hendak berangkat ke luar kota, Mawar sedang datang bulan, dan mereka sedang bertengkar kecil. Perawakan Monik mirip seperti Mawar, hanya saja, ini versi wanita dewasa.
“Kamu ... naik ke atas?” tanya Kris sambil menatap Monik intens. Mereka telah sampai di lobi hotel tempat Kris akan menginap
Wanita itu tersenyum lalu mengibaskan rambutnya ke belajang, membuat mata Kris tertuju pada d**a Monik yang membusung. “Kalau Bapak butuh teman,” jawabnya, lebih seperti berbisik.
Saat mereka sudah memasuki kamar, Kris langsung memagut bibir Monik kasar, membuka pakaian wanita itu dengan cepat dan menyatukan tubuh mereka tergesa. Mengejar kepuasan yang sudah tubuhnya berontakkan. Dan setelah semua selesai, Kris menyuruh Monik pergi. Dia sudah selesai. Wanita itu memberikan kartu namanya, lalu meninggalkan Kris dengan bujukan untuk bertemu lagi dalam agenda spesial.
Sejak itu, Kris berpikir mungkin dia tidak harus berhenti, hanya perlu berbuat dengan lebih rapi.
Saat mengingat semua perbuatannya pada Mawar, Kris memejamkan matanya. Baru kali ini dia merasa bersalah. Merasa ingin mengulang waktu, dan memperbaiki sikapnya pada wanita yang masih menangis di pelukannya. Semua kenakalannya itu hanya gairah sesaat. Sesuatu yang setelah dipuaskannya, tidak berarti apa-apa lagi. Tetapi wanita yang menyandang status sebagai istrinya ini, dia memberikan sesuatu yang membuat setiap kebersamaan mereka tidak hanya untuk dirasakan saat itu saja, tetapi dikenang di kemudian hari juga.
Mereka masih diam. Kris masih menikmati perasaan tidak menentu yang begitu kuat saat melihat aksi Mawar tadi, sedang Mawar masih asik menangis. Dipikir Kris, apa Mawar tidak bosan menangisi pria b******k sepertinya?
“Kita balik ke hotel?” tanya Kris.
Mawar menganggukkan kepalanya, menggerakkan tubuh yang membuat Kris melepaskan pelukannya. Mereka berdiri, lalu dengan tangan yang bergandengan, kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Jaraknya memang tidak jauh. Dan Kris mendadak menjadi sentimentil. Setiap detik yang mereka lewati, ia nikmati, seolah begitu berharga. Hembusan angin yang tidak seberapa, dirasanya menyejukkan. Dia sedang berbunga-bunga. Bahkan hotel yang tadi bentuk arsitekturnya biasa saja, sekarang terlihat indah di matanya.
“Mau langsung mandi?”
Mawar mengangguk.
“Bareng?”
Mawar menggeleng.
Kris mengalah. Padahal dia sedang ingin berendam sambil berpelukan, kembali merekam detik demi detik kebersamaan mereka tanpa kata. Hanya berpelukan, menyampaikan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dalam diam.
Saat pintu kamar mandi telah tertutup, Kris duduk di sofa dengan perasaan gelisah. Dia tidak tenang untuk sesuatu yang tidak sedang terjadi. Dia membayangkan kehilangan. Kalau ... kalau ia kehilangan Mawar, apakah ia sanggup merasakan semua rasa ini lagi?
Menjadi kaya, dia merasa biasa saja. Dipuaskan birahinya, dia juga merasa biasa. Tapi, bersama Mawar, dia merasa hangat, merasa berarti, merasa diinginkan meski terkadang untuk masalah materi, juga merasakan sesuatu yang langka baginya-bahagia.
Bahkan perasaan bahagianya mendapatkan seorang anak, tidak sebanding dengan melihat senyum Mawar yang sedang tersungging karena sedang mendapat tas baru. Setelah Kris renungkan, setelah mereka menikah, bukan Mawar yang bersikap matre terhadapnya, tetapi ia yang selalu memberikan apa yang Mawar inginkan, butuhkan, bahkan terkadang wanita itu hanya perlu menyebutkan sesuatu dan Kris merasa wajib menyediakannya.
Setelah Mawar selesai mandi, gentian giliran Kris. Dia mandi dengan cepat, dan begitu keluar dari kamar mandi, dia mendapati Mawar sedang bergelung di atas ranjang. Wanita itu masih menangis.
“Hei, udah nangisnya. Nanti mata kamu bengkak. Jadi jelek.” Bahkan, Kris tidak pernah bersuara selembut ini.
“Kamu jahat. Kamu ngerjain aku, tadi. Kamu b******k, b******n, suami kurang ajar. Pokoknya semua yang jahat jahat, itu kamu!” Mawar mengucapkannya pelan, sambil terisak, lalu setelah selesai mengucapkan makian itu, tangisnya kembali menderas.
Kris tidak tahan. Dia menaiki ranjang, masuk ke dalam selimut tempat wanitanya itu meringkuk, memeluk erat serta menciumi apa yang bisa ia cium dari wanita itu.
“Aku tau aku b******k. Maafin aku, Sayang. Udah, jangan nangis.”
“Suka-suka akulah. Mata-mata aku, air mata-air mata aku, kenapa kamu yang atur? Pokoknya, aku benci banget sama kamu!”
Kris ingin tertawa, tapi nyatanya matanya malah memanas. Dia merasa seperti pria tua yang menjadi begitu sentimentil karena hal manis. “Aku juga cinta kamu,” bisiknya dengan jantung berdebar kencang.
Ini seperti candaan, padahal sebenarnya ungkapan. Sudah berusia tiga puluh tahun, baru sekali ini dia mengatakan cinta dengan perasaan cinta. Benar-benar dari hati. Bahkan, tubuhnya berdenyut entah dalam artian apa saat kata sakral itu terucap.
“Aduh!” geramnya saat merasa sakit di dadanya. Mawar mendadak buas. Dia menggigit kulit d**a Kris dengan kekuatan penuh.
“Aku paling benci kalau kamu udah jadi raja gombal begini! Nggak pantas, tau nggak! Muka kayak preman, omongan kayak pria pemuja cinta! Nggak sesuai!”
“Loh, kan aku Cuma bilang begitu aja.”
“Tetap aja nggak pantas! Belajar gombar dari mana kamu? Dari Nita?”
Dan senyuman terbit akibat tuduhan itu. Meski Mawar tidak mengakuinya, Kris sudah menandai itu bentuk dari kecemburuan. Cemburu ada karena cinta, jadi perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Dulu dia tidak memperhatikan, tidak memikirkan, tetapi sekarang iya. Pokoknya Mawar mencintainya. Titik.
“Ngapain kamu senyum-senyum nggak jelas? Udah ba ... b******n, gila, lagi!”
Kris akhirnya tertawa. Bahkan saat mengatakan b******n, Mawar terdengar lebih seperti sedang mengeja. Wanitanya ini, luar biasa.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu serta bunyi bel menginterupsi kemesraan mereka. Kris menggeram marah, memanfaatkan kehilangan fokus Mawar untuk marah karena ketukan itu dengan menciumi leher Mawar.
Ketukan kembali terdengar, juga suara bel, dan diiringi deringan ponsel. Lengkaplah sudah. Kris sudah hendak berteriak marah, lalu ingatannya segera menghentikan niatannya itu.
Dia segera turun dari ranjang, memakai handuk melilit di pinggang, lalu membuka pintu. Dua pria di depannya terlihat salah tingkah. Satu si supir, dan satu lagi sepertinya petugas hotel. Sesuai perintah, kue itu sudah dikeluarkan dari kotak, lilin sudah menancap tegak, dan api sudah membakar angka enam di lilin itu.
Kris memberi kode pada kedua pria itu untuk masuk dengan menggerak-gerakkan tangannya, tentu saja dengan telunjuk menempel di bibir pertanda mereka harus melakukannya tanpa suara.
“Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang,” ucap Kris saat akhirnya dia berhadapan dengan ranjang.
Mawar tampak kaget, menarik selimut sampai ke d**a padahal wanita itu bukan tanpa busana. Dia mengenakan pakaian tidur disertai kimononya. Sopan. Mungkin dia lupa, batin Kris.
“Kamuuuu!!!!” teriak Mawar yang sudah dalam posisi duduk. Dia menangkup mulutnya dan kembali menangis.
Kris menaiki ranjang, melangkah kea rah Mawar dengan kaki berlutut, memeluk wanita itu untuk menenangkan.
“Kamu nggak cocok manis begini,” sungut Mawar pelan sekali. “ Kamu cocoknya itu jadi suami nyebelin. Kalau kamu begini, aku malah nggak ....”
Kris memisahkan pelukan mereka, lalu menangkup wajah Mawar. “Nggak apa?” tanyanya.
“Aku nggak sanggup ngasih kamu ke Nita! Enak aja aku dapat brengseknya, dia dapat manisnya! Pas jahat, kamu sama aku. Pas berubah, kamu sama dia. Itu tuh sama aja kayak aku merawat kecambah, tapi dia yang manen hasilnya.”
Sehabis berkata itu, Mawar menundukkan wajahnya. Sudah sekian lama bersama, Kris sudah mengerti apa yang wanita itu rasakan. Dia sedang malu.
“Kalau begitu, simpan aku buat kamu aja.”
Pukulan mendarat di d**a Kris. Pelan. “Nggak mau. Kamu manisnya sebentar, jahatnya lama.”
Meski berkata tidak mau, Kris tau Mawar menginginkannya. Sadar masih ada dua manusia yang tidak boleh melihat dia mencumbu Mawar, Kris menghentikan ucapan manisnya. Dia turun dari ranjang dan menarik Mawar bersamanya.
Mawar meniup lilin sambil menyender manja pada Kris.
“Eh, ini ....” Mawar berloncat pelan saat melihat dua tas yang diberikan Kris. Dengan segera dia memberikan pelukan sebagai ucapan terima kasih.
“Ada boneka juga,” gumam Kris.
Mawar melepaskanpelukannya lalu kembali memasang wajah masam. “Boneka? Kamu pikir aku anakkecil?!” sungutnya meski tangannya mengambil boneka beruang itu dari tangan sisupir.