Perasaan berat menggelayuti Kris, padahal dia ada agenda penting hari ini. Agenda yang sebenarnya harus ia kerjakan semalam, tetapi ia membatalkannya karena masih ingin bersama Mawar. Pagi ini pun, Kris masih malas. Sepertinya dia mulai kehilangan ambisinya untuk terus memupuk kekayaan. Apalagi, dengan tubuh telanjang yang berbaring di atasnya.
Sehabis bangun tidur tadi, Kris membangunkan Mawar, yang tentu saja langsung mengerang kesal, setengah merengek, karena tidurnya diganggu. Seperti pria yang sedang kasmaran, Kris malah menikmati momen itu. Setiap hal yang terjadi, terasa membuat perasaannya menghangat. Dan saat Mawar membalikkan tubuh, meringkuk dengan selimut yang tersingkap, Kris langsung terpancing untuk melakukan yang tidak-tidak. Sekarang, Mawar berbaring di atasnya. Membuat tubuh di atasnya itu ikut bergerak setiap kali Kris menarik dan membuang napas.
Kris bergerak, Mawar menggeliat, membuat Kris berhenti sejenak karena merasa telah mengganggu tidur Mawar. Dia menggerakkan jemari ke dalam selimut, ke atas punggung Mawar, di kulit wanita itu yang lembut sekali.
Sebagai seorang wanita, Mawar benar-benar anggun. Dia tidak pernah bertutur kasar, selalu menjaga bobot tubuhnya, penampilannya sopan, dan tidak pernah melakukan hal-hal tidak pantas. Tidak seperti wanita bermartabat di luar, tetapi jalang di dalam, seperti yang Kris beberapa kali temui.
Ukuran tubuh Mawar standar, tetapi justru terlihat berkelas. Bukan jenis tubuh yang mengundang pandangan nakal. Dari pada seksi, dia lebih terlihat anggun. Terkadang saat Mawar merias wajahnya pun, selalu dengan riasan yang tidak begitu menor. Membuat auranya selalu terlihat muda di usianya yang sudah hampir kepala tiga.
“Sayang, aku mau kerja,” bisik Kris.
Seperti biasa, itu berhasil membuat Mawar terbangun, meski dengan kondisi yang masih setengah sadar. Dengan mata sayu dia menatap Kris, mengangkat kepalanya sehingga membuat dadanya juga sedikit terangkat dan Kris kehilangan tekanan dari dua benda menonjol yang menekannya tadi. “Jam berapa?” tanyanya.
Kris terkekeh pelan, saat melihat mata sang istri beberapa kali tertutup, tetapi kembali dibuka paksa. Sebegitu lelahnya Mawar.
“Udah jam delapan.”
Mawar memejamkan matanya rapat, seperti memberikan waktu pada dirinya untuk tenang sejenak, lalu ia beranjak dari atas tubuh Kris. Mawar duduk di sisi ranjang yang kosong, menggosok wajahnya beberapa kali.
“Sampai malam lagi?” tanyanya.
Kris mendudukkan dirinya, merenggangkan tangannya mengusir penat, lalu menggeleng. “Nggak tau, tergantung sama klien aku yang dari Singapur. Kan sehabis meninjau proyek, aku ke ketemuan sama dia. Kenapa?”
“Aku bosan di kamar terus. Aku mau ikut rombongan tour, ya? Bayarnya nggak mahal kok. Ada tuh yang sehari gitu, palingan dua jutaan. Aku ada lihat di internet.”
Mengulurkan tangan ke kepala Mawar, Kris mengacak rambut wanita itu. Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum masam. Entah kapan wanitanya ini akan mengerti bahwa Kris akan selalu keberatan jika dia pergi tanpa Kris di sisinya. Sebagaimana Kris bisa terlibat dengan wanita lain, meski itu dulu, membuatnya tau bahwa besar sekali kemungkinan Mawar terlibat dengan pria lain. Akan ada pria yang sama atau bahkan lebih b***t dari dirinya yang tidak peduli Mawar itu seorang istri atau masih wanita lajang asal mereka bisa bersama, bersenang-senang, memuaskan hasrat demi kenikmatan.
Dia bukan meragukan Mawar, tetapi meragukan pesonanya karena cukup tau arti dirinya pada Mawar sudah banyak berkurang. Dilayangkan permohonan cerai beberapa kali jelas menunjukkan bahwa meski ketergantungan pada Kris, Mawar sudah berani turun kasta jika kondisinya terdesak.
“Kalau enggak paket keliling Batam. Ada tuh yang nggak sampai lima ratus ribu. Aku nggak minta uang kamu, kok. Aku ada uang tabungan sendiri. Ya?” Mawar melebarkan bibirnya.
Meski manis, senyum itu takkan mampu membujuk Kris. “Bukan masalah uang, tapi kamu nggak boleh pergi sendiri selama kita di sini.”
“Ck, nggak sendiri. Namanya paket tour itu ya berarti gabung sama yang lain. Kamu kan kerja, aku bosan seharian di kamar. Ya, Kris, ya?” Mawar mulai dengan nada manjanya.
Kris tetap menggelengkan kepalanya. “Kamu tadi aja ngantuk banget. Mending kamu tidur.”
Tidak memberikan kesempatan pada Mawar untuk membantah lebih banyak lagi, Kris turun dari ranjang, segera mandi dan bersiap-siap untuk agendanya hari ini. Bersikeras mengabaikan Mawar yang terus melayangkan bujukannya.
“Aku pergi dulu. Jangan nakal,” goda Kris, memagut bibir Mawar, lalu dengan tiba-tiba mencubit puncak p******a wanita itu.
Dia tidak tau mengapa, hanya iseng membuat wanita itu marah dan bersungut-sungut. Teriakan Mawar menyebut namanya dalam kondisi apa pun tetap merdu di telinganya.
***
Sampai sore, Kris tidak pulang juga. Mawar yang kesal memesan beberapa menu makanan hanya untuk mencicipinya saja. Setelah bosan, dia duduk di sofa, memandang ke luar jendela kaca.
Hidupnya masih panjang dan akan terus seperti ini. Siklusnya berulang. Tetapi dia bukan wanita yang sanggup menghancurkan suasana dan membuat semua menjadi buruk. Sikap manis Kris sekarang ini, tidak mungkin dibalasnya dengan kemarahan. Sejujurnya dia memang tersentuh. Perasaan yang sama persis seperti dulu, ketika mereka berpacaran, di mana setelah sekian lama Mawar merasa memang hanya pada Kris ia bisa menyandar, kembali menaungi hatinya.
Untuk itu, dia menegur dirinya sendiri, tidak boleh terlena karena semuanya bisa saja fana. Kenyataannya tetap saja sama, dia hanyalah istri sah yang tidak bisa memberikan hasil akhir dari pernikahan–anak.
Memikirkan itu membuat Mawar sedih. Dia baik-baik saja jika di rumah karena lingkungan yang ramai da nada tiga dayang yang menemaninya. Tapi saat dia sedang sendiri seperti ini, dia tidak bisa menghilangkan pikirannya yang mengarah ke sana.
Ia terbayang Kris yang menggendong seorang bayi, dengan Nita di sampingnya. Mereka berceloteh mengajak bayi mungil itu bermain padahal bayi itu belum mengerti apa pun sama sekali.
Memegang perutnya, Mawar tidak bisa menahan bulir yang mengalir dari matanya. Dia segera menghapusnya. Bukan salahnya jika sampai saat ini dia belum hamil juga. Kata dokter, rahimnya kurang subur, bukan mandul. Mungkin, rahimnya yang kurang subur, ditambah dengan semen Kris yang tidak sehat, sehingga tidak pernah berjodoh antara sel s****a dan sel telur mereka.
Seperti Kris yang malas membahas, begitu pula Mawar. Dia bukan wanita tidak punya hati yang tidak merasa sakit setiap berbicara tentang belum adanya buah hati mereka. Mendengar keluarga Kris bertanya padanya saja, membuatnya menciut, ingin hengkang dari keluarga itu, menjadi dirinya yang berstatus sendiri sehingga ia tidak bertanggung jawab untuk menyediakan keturunan pada siapa pun.
Terkadang, saat Kris bermain perempuan, ada saja pihak yang menyalahkan ketidak sempurnaannya. Dia mengabaikannya, tetapi karena lebih dari sekali, dia merasa rendah diri juga. Tidak mudah menjadi wanita. Suami selingkuh, kesalahan terkadang ditimpakan kepadanya. Bahwa ia tidak cukup mampu memberikan kepuasan, sehingga si pria mencarinya di tempat lain, pada wanita lain. Apalagi jika si wanita itu tidak sanggup memberikan anak. Lengkaplah sudah.
Mawar memeluk boneka yang diberikan Kris. Ukurannya sama dengan seorang bayi, dan kehangatan yang diberikannya pun sama. Seandainya dia bisa meminta pada Tuhan, sebagai hadiah ulang tahun pernikahan atau ulang tahunnya sendiri, dia ingin diberikan anak. Tidak apa-apa Kris tidak pulang, Kris bermain perempuan, karena saat itu dunia Mawar hanya satu, buah hatinya.
Kris itu jahat. Dia mendapatkan semua, tetapi Mawar tidak mendapatkan apa pun. Mawar menghapus air matanya lagi.
Jangankan bertemu keluarga Kris, bertemu keluarganya sendiri dia malu. Saat mereka bertanya, Mawar sakit hati, saat mereka tidak mau membahas masalah anak sama sekali, Mawar juga merasa sakit karena dengan begitu dia justru merasa bahwa semua orang mati-matian menjaga perasaannya.
Dia mencintai Kris, itu pasti. Pria itu menjadi pria pertamanya. Pria itu juga memberikan segalanya saat Mawar membutuhkannya. Kris tidak pernah kasar seperti suami di berita criminal yang pernah ditontonnya. Tetapi Kris memiliki tabiat yang jauh sekali dari tipe suami idaman Mawar.
Ulang tahun pernikahan itu, Mawar bukannya lupa. Dia hanya tidak mau membahasnya. Masalah hadiah, bukan hanya Kris yang membeli, ia juga. Saat di toko jam, Mawar membeli tiga jam laki-laki. Satu untuk ayahnya, satu untuk adiknya, dan satu untuk Kris. Tetapi untuk memberikannya pada pria itu, dia tidak mau. Biarlah dia menyimpannya, seperti hadiah ulang tahun Kris yang tergeletak di lemarinya, tersembunyi di balik gaun yang menggantung.
Telepon hotel bordering. Dengan malas Mawar beranjak ke sisi ranjang untuk mengangkat gagang telepon. Sebelum itu, ia sempat mengecek suaranya parau atau tidak. Dia tidak mau acara menangisnya diketahui Kris.
“Apa?” tanyanya.
“Kamu lagi ngapain?”
Benark,'kan! Itu Kris.
“Lagi ngangkat telepon, dari kamu.”
Kris terkekeh. “Sebelum ngangkat telepon, ngapain tadi?”
“Duduk-duduk aja.”
Hening sejenak. Mawar menarik napas, merasa tidak pantas menjawab pertanyaan Kris dengan nada ketusnya karena Kris bertanya dengan baik-baik. Tapi, dia tidak akan meminta maaf. Biarlah Kris mengecap dirinya wanita yang tidak berperasaan dan lain-lain, siapa tau dengan begitu pria itu akhirnya menceraikannya.
Meski sikap manis Kris sudah melelehkannya, pendirian Mawar tetap sama. Bahagia Kris bukan dengannya. Posisi pernikahan mereka sekarang ini janggal. Kris menahannya padahal pria itu lebih sempurna saat bersama Nita. Tapi dia bukan wanita bodoh yang mau diduakan. Dia tidak akan mengizinkan Nita dinikahi, meski itu membuat anak Kris dan Nita tidak masuk ke dalam daftar anggota di kartu keluarga Kris. Kris harus memilih.
“Besok kita jalan-jalan. Berlayar.”
“Ha? Oh .... Ya ... ya udah.”
“Atau kamu maunya ngapain?”
“Berlayar aja. Kan kayak film titanic. Berlayar di laut. Aku belum pernah berlayar.”
Kris kembali terkekeh. “Ya udah. Kayaknya aku pulang agak telat. Kamu baik-baik di kamar ya. jangan keluar. Paham?”
“Iya-iya. Ngerti.”
Panggilan pun berakhir.
Mawar sedikit senang karena dia besok akan memiliki kegiatan. Tidak akan lagi duduk meratap seperti ini. Dia melangkah ke kamar mandi, memilih merendam tubuhnya dalam bathub, mencari ketenangan lebih banyak lagi, sambil memainkan ponselnya, menunggu kantuk.
Ada pesan masuk. Dari nomor asing.
“Ini perempuan dikasih hati minta jantung!” geram Mawar karena meski nomornya baru, dia tau pasti itu Nita karena isinya adalah foto-foto panas Kris dan Nita.
Mawar dengan jantung berdetak kencang dan tubuh memanas karena marah memilih men-screenshoot layar, menyimpan sebagai bukti siapa tau wanita itu segera menghapus pesan dan Mawar tidak memiliki bukti, lalu membalas pesan Nita.
“Hati-hati kamu, aku laporkan UU ITE. Barang siapa yang mendokumentasikan serta menyebarkan bisa dijerat hukuman penjara. Jangan macam-macam kamu. Sudah dikasih tinggal di rumah Kris malah cari masalah. Ingat, aku yang minta Kris karena kasihan sama kamu yang udah hamil besar waktu itu bertamu malam-malam. Kalau aku mau, kamu bisa diusir. Jangan geer karena udah lahirin anak Kris. Kris itu bisa buat anak sama siapa aja. Jangan lupa, sebelum kamu naik kasta jadi simpanan tetap, kamu juga sama dengan perempuan lainnya, perempuan bisa pakainya Kris.”
Setelah mengirimkan itu, Mawar berteriak sekencang-kencangnya. Melampiaskan emosinya.
Foto itu foto lama. Orang bodoh pun tau karena di situ rambut Kris masih berwarna seperti duri landak di bagian ujungnya. Itu sebelum Mawar tau hubungan Nita dan Kris. Padahal Mawar hanya pergi bersama Kris beberapa hari, wanita itu sudah mengganggu. Apa Nita tidak berpikir bagaimana perasaan Mawar membiarkan mereka satu rumah?
Tapi kemudian Mawar membela Nita. Namanya wanita kedua, mana mungkin yang punya hati. Wanita yang sanggup memiliki hubungan dengan pria beristri, memang wanita yang egois dan rakus. Mungkin Nita takut kembali turun kasta.
Bodoh! Maki Mawardalam hati.