Part 9

1125 Kata
Sesuai perkataannya, Kris pulang larut malam. Kali ini sedikit berkurang aroma alkohol dari mulutnya, tetapi suasana malah lebih runyam dari semalam. Mawar tidak peduli. Wajah wanita itu masih sekeras batu, karena rasa bencinya yang amat sangat pada Nita, tertular pada Kris. Bagaimanapun Nita ada di kehidupan mereka karena Kris. Pria itu yang terlibat dengan wanita sialan itu. “Jadi, kenapa nomor hp kamu nggak aktif? Aku telepon ke telepon kamar juga kamu nggak mau jawab. Aku suruh petugas hotel cek kamu bukain pintu, tapi masih nggak mau angkat telepon.” Mawar tambah menaikkan dagunya. Sebenarnya ia ingin marah, tetapi menahan karena tidak tau harus mulai marah dari mana. Sedari tadi sejak mendapatkan pesan dari Nita itu, Mawar sama sekali tidak bisa tenang. Apalagi wanita simpanan Kris itu tidak membalas pesannya sama sekali, tidak meminta maaf, tidak juga menghapus. Tujuannya tidak jelas. “Mawar, bukan Cuma aku, loh, yang nyariin kamu, Papa kamu juga nanya ke aku kenapa hp kamu nggak aktif. Mereka khawatir sama kamu.” Mawar masih bergeming, enggan menjawab. Kris mendekat, Mawar melirik dari sudut matanya, tetapi tidak mau menoleh. Dalam hati dia menerka-nerka apa tujuan Kris mendekatinya. Sedikit takut kalau pria itu marah dan main tangan. “Eh! Eh!” Mawar kaget sekali saat ponsel yang digenggamnya ditarik. Tentu saja dia berusaha menghalangi Kris merebut ponselnya. Itu kehidupannya. “Kesiniin hp kamu! Aku mau cek!” geram Kris. Enggan menurut, Mawar menggeser tubuhnya ke pojok ranjang, menjauh dari Kris. Saat pria itu mendekat, Mawar memiringkan tubuhnya, menggenggam ponsel itu erat-erat. “Kamu apa, sih?! Ha? Kepo aja kerjannya sama masalah orang! Aku Cuma malas aja ngangkat telepon!” teriak Mawar. Tidak sepenuhnya berbohong karena dia memang sedang tidak ingin diganggu. Tetapi ponselnya aktif. Dia menonaktifkan kartu sim di pengaturan, juga menonaktifkan penggunaan data jaringan internet untuk aplikasi pesan singkat. Sedari tadi Mawar memainkan ponselnya untuk berselancar di dunia maya, meski beberapa kali melempar ponsel itu ke ranjang saat tangannya yang iseng membuka lagi pesan dari Nita. “Kris! Ini hp-ku! Ini privasi aku, tau nggak!” teriak Mawar yang sekarang sudah berbaring telungkup, masih berusaha menghalangi Kris yang ingin merebut ponselnya. Kris tidak menyerah. Dia telah menindih tubuh Mawar dengan tangan terulur di sisi kiri dan kanan, terus berusaha meraih benda yang ada di genggaman Mawar. Akhirnya dapat! Kris turun dari ranjang, meninggalkan Mawar yang terus menggerutu. Posisi berbalik, kini Mawar yang berusaha merebut ponsel itu dari Kris. “Balikin!” Mawar mengeluarkan senjata terakhirnya, air mata. “Kasih tau dulu, kenapa,” ucap Kris. Tangannya terangkat tinggi, memustahilkan Mawar merebut ponsel itu. Saat Mawar berjinjit, dengan keras kepala masih merasa bisa menjangkau, Kris menarik pinggang wanita itu dengan tangannya yang satu lagi. “Kenapa?” Kali ini Kris bertanya dengan suara yang lebih lembut. Wajahnya ia sejajarkan dengan wajah Mawar, mendesak untuk diberi jawaban. Kedua tangan Mawar mendorong d**a Kris. Setelah rangkulan Kris terlepas, Mawar berjalan dengan kaki menghentak-hentak ke ranjang, duduk di tepi dengan wajah yang ia tolehkan ke samping. “Pacar kamu itu .... Buat kesal!” Dan rasa sesak di d**a Mawar bukannya berkurang, malah terasa semakin kuat. Air matanya semakin mengucur deras. “Pacar?” “Iya. Pacar rasa istri kamu itu! Nita nenek lampir!” Bukannya mengerti perasaan Mawar, Kris malah tertawa. Mawar mendelik kesal, merasa Kris meremehkan kekesalaannya. Dalam hati dia berkata, mereka berdua sama saja, sama-sama manusia sialan. “Dia ... kenapa?” Kris mendekat sambil memegangi perutnya. Wajahnya masih terlihat ceria, bahkan bibirnya seperti menyembunyikan senyum. “Dia kirim pesan sama aku! Gambar m***m kalian! Aku tuh ... nggak suka lihat gambar m***m begitu, apalagi gambar orang yang dikenal. Jijik aku lihatnya!” “Gambar m***m?” Mawar mengangguk, kembali menoleh ke samping, ke arah berlawanan dengan Kris yang sekarang sudah duduk di sebelahnya. “Kasih tunjuk,” pinta Kris. “Males!” “Gimana aku bisa tau, kalau nggak kamu kasih tunjuk?” “Buat apa kamu lihat? Kamu nggak percaya sama aku, gitu? Makanya minta bukti? Makan tuh Nita! Kamu nggak percaya juga nggak masalah. Aku juga nggak lagi ngadu sama kamu! Aku Cuma nggak mau dia ngirim pesan lagi makanya aku nggak aktifin nomor hp. Mau kalian buat foto, mau kalian buat video, mau kalian m***m di pinggir jalan itu juga ... Kris!!!!!” Mawar akhirnya menghentian makiannya saat tangannya ditarik, dan ditempelkan di bagian bawah layar ponselnya. “Pakai WA, ya?” tanya Kris yang kini sudah leluasa dengan ponsel Mawar. Kuncinya telah dibuka. Di saat seperti ini Mawar menyesal karena sudah menggunakan kunci sidik jari. “Kamu tuh ...” Mawar kembali berusaha merebut, tetapi Kris sudah beranjak menjauh. “b******k!” umpat Kris, diiringi dengan suara hantaman kuat. “Hp-ku! Kris kamu tuh!” Mawar memukuli Kris, tidak terima pria itu melampiaskan apa pun perasaan di hatinya sekarang dengan membanting ponsel Mawar. Nita yang berbuat kurang ajar, tetapi pria itu malah memberi pelajaran pada Mawar. Pria b******k memang tidak pernah adil. Setelah puas memukuli Kris yang sepertinya tidak merasa sakit sedikit pun, Mawar menghampiri pecahan ponselnya. Dia pun terduduk di lantai lalu menangis seperti anak kecil. Semua jadi semakin menjengkelkan. Dia mencoba menyatukan bagian-bagiannya. Tidak ada gunanya. Ponsel itu sudah pasti mati total dan tidak akan bisa digunakan lagi. Layarnya pecah. Bahkan dinding yang menjadi teman baku hantam ponsel itu pun lecet. Masih sesenggukan, Mawar mengeluarkan kartu sim dari ponselnya. “Nggak usah kamu ambil lagi lah! Nanti Nita kirim pesan lagi!” Mawar memaju-majukan bibirnya meniru ocehan Kris dengan gaya kesal. “Kamu itu bodoh. Jelas nomor WA bisa nggak sama kok sama nomor hp. Ini nomor aku udah lama. Kalau nanti ada yang nyariin, gimana?” “Siapa memangnya, yang akan nyariin kamu?” “Ya ... mana kutau. Kan kalau. Itu namanya masih dugaan!” “Kalau Nita telepon kamu, gimana?” “Sms aku nggak terpasang pesan multimedianya! Kalau dia nelepon pas dengan suaranya, langsung aku matiin! Asal jangan lihat muka kalian berdua tuh, aku nggak masalah kok! Setan kan memang banyak, ada di mana-mana. Aku harus biasa.” “Apa sih?” Dengan tangan berkacak pinggang, Mawar berdiri di depan Kris. “Dulu, aku udah sering kena terror sama setan-setannya kamu! Udah kebal! Tapi ini dia lancang! Aku udah kasih semua ke dia, karena dia lebih disayang sama mama kamu! Cuma seminggu! Cuma seminggu aku ikut sama kamu, itu pun dipaksa, dan dia udah resek sama aku? Harusnya dia itu ....” “Aku minta maaf, Sayang.” Hanya itu yang Mawar dengan setelahnya. Pria itu memeluknya erat, tetapi Mawar tidak mau membalas sama sekali. Kris sudah meminta maaf, ribuan kali, tetapi hasilnya sama saja. Pria itu tidak pernah tegas dengan para wanitanya. Apalah arti kemarahan Mawar. Di kepala pria itu wanita-wanitanya hanya sedang main-main. Dia tinggal memarahi, memberi pelajaran, lalu terlibat dengan wanita lain. Dia tidak pernah sadar kalau permasalahannya akan terus berulang semala sikapnya tetap sama. Wanita-wanita di luar sana, entah karena harta atau karena ambisi mereka pada Kris, merasa memiliki peluang untuk memiliki Kris karena mereka lebih sempurna dari Mawar. Untuk itu, mereka mulai menampakkan diri. Mulai menyuruh Mawar bersiap-siap jika sewaktu-waktu Kris masuk ke dalam jeratan mereka. “Udah jangan nangis lagi.” “Kita cerai aja. Kita cerai, biar masalahnya selesai.” Seketika, pagutankasar kembali Mawar terima. Tiba-tiba tubuhnya sudah terebah dan tertindih. Inilebih seperti diperkosa daripada bercinta. Meski begitu, terasa cukup ampuhmenjadi sarana pelampiasan emosi karena saat merasakan ledakan o*****e, Mawarmerasa dirinya, emosinya, dan dunianya, ikut meledak juga.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN