Seperti pengingat otomatis, begitu kegiatan panas mereka selesai, rasa marah Mawar kembali mendera. Dia mendorong Kris yang menempel pada tubuhnya, lalu turun dari ranjang, menuju kamar mandi. Dia belum mandi memang, tetapi alasan utamanya bukan itu, melainkan karena ketidak-terimaannya pada lemahnya perlawanan yang bisa ia berikan.
Di kamar mandi, seperti biasa, Mawar merendam tubuhnya dalam air hangat menjelang panas. Dalam hati dia berkeras bahwa ponselnya harus diganti dengan yang lebih mahal. Bukan bentuk dari kemata-duitannya. Kris yang merusak, tentu saja pria itu wajib bertanggung jawab.
Entah berapa lama Mawar di kamar mandi. Dia sudah tau pasti kalau agenda berlayar akan batal. Kalau jadi pun, dia akan menolak ikut. Berlayar itu kegiatan manis, tidak akan menyenangkan jika dilakukan bersama orang yang berkarakter pahit.
Karena sudah bosan di berendam, Mawar keluar dari kamar mandi, dan kaget tidak menemukan Kris di ranjang. Pintu ke balkon sedikit terbuka. Dalam hati dia mewajarkan apa yang terjadi. Pria itu mungkin menelepon keluarganya yang jauh di sana. Hendak ber-video call ria mungkin, dengan buah hatinya.
“Ya, jangan gitu! Gua nggak suka! Sialan!”
Berbagai umpatan, samar-samar terdengar. Mawar yang merasa suaminya sedang bermasalah tergoda untuk menguping. Berjalan pelan-pelan, akhirnya dia sampai di balik dinding pembatas kamar dan balkon.
“Lu harus sadar posisi! Dari awal gua udah bilang, kan, lu ganggu dia, lu gua tendang! Lu sadar diri, lah!”
Mata Mawar menyipit, menggerakkan kepala agar telinganya bisa menangkap suara Kris lebih jelas lagi. Ternyata pria itu memang berantakan bicaranya saat marah. Pantas saja dia jarang marah pada Mawar. Mungkin takut kalau ketahuan, marahnya agak tidak berwibawa. Beberapa kali Kris marah padanya hanya berbentuk membentak beberapa kata, memasang wajah menyeramkan, lalu mengancam, paling parah melaksanakan ancaman itu.
“Gua nggak peduli! Lu minta uang gua kasih! Lu minta apa, gua sediain! Tapi gua punya aturan! Lu mau ngikutin, oke! Enggak mau juga oke! Lu jangan mikir kalau posisi lu itu hebat! Seribu perempuan macam lu gua bisa beli!”
Perempuan? Itu berarti ... Nita?
Nita kah?
Berarti Kris sedang memarahi Nita?
Mawar kembali menajamkan telinganya.
“Nggah usah ngelak, gua bilang! Dia bukan pembohong kayak lu, Sialan! Sekali lagi lu ganggu hidup gua, bukan Cuma lu yang gua hancurin, keluarga lu juga!”
“ ....”
Kris diam lama sekali. Mawar tidak mengerti, percakapan sudah berakhir atau belum. Dia mengintip pelan-pelan. Untungnya, Kris sedang menghadap kea rah berlawanan dengan pintu. Tangan pria itu masih memegang ponsel dan menempel di telinga.
“Buktinya ada, b*****t! Gua lihat pakai mata gua sendiri! Lu ngomong mutar-mutar buat gua mual! Pokoknya lu jangan ganggu dia lagi! Ingat, ya! Lu itu nggak siapa-siapa. Gua usir, lu jadi gelandangan!”
Kembali hening. Mawar menunggu, apa lagi ancaman pria itu. Mau melihat, separah ancaman yang Kris sering layangkan padanya, atau tidak. Marah pria itu konsisten atau tidak. Bisa saja saat marah begitu, Nita melemparkan rayuan mautnya, lalu Kris luluh seketika. Pria mudah sekali luluh dengan suara mendesah.
“Ngapain kamu?”
Tubuh Mawar tertegun. Terpergoklah sudah ia. Mulutnya tergagap berbicara karena otaknya seakan berhenti berfungsi. Memasang wajah masam, ia kembali berakting marah. Dihentakkan kakinya sekali, lalu ia melangkah menuju kopernya tergeletak.
“Aku udah marahin Nita,” lapor Kris.
Udah tau. Udah dengar, jawab Mawar dalam hati.
“Aku udah pastiin dia nggak akan ganggu kamu lagi. Katanya, dia salah kirim.”
“Salah kirim, pas aku balas kok nggak ngomong apa-apa? Basi, alasannya!”
“Itu kan kata dia. Yang ngirim kan dia. Kok kamu marah ke aku?”
Mawar menoleh ke belakang dengan alisnya yang menyatu, memperjelas kemarahannya. “Ya, terus? Aku marahnya sama Nita? Gitu? Yang ada status sama aku itu kamu! Yang bawa dia ke kehidupan aku juga kamu! Dia buat begitu ke aku juga karena kamu! Jadi, yang pantas disalahkan di sini adalah?” tanya Mawar dengan alis yang melengkung ke atas.
“Nita-lah.”
“Kamu! Kamu tersangkahnya! Kamu yang .... Pokoknya, aku nggak mau kelahi sama perempuan karena laki-laki! Apaan. Malu banget! Kayak nggak ada laki-laki lain aja!”
“Eh, maksud kamu?”
Suara Kris yang meninggi membuat Mawar menggigit bibirnya. Dia merasa salah bicara. “Ya, maksudnya, aku nggak mau kelahi sama orang, apalagi karena laki-laki. Sesama wanita harus saling menasehati, kecuali memang perempuannya itu berhati iblis. Nah, hadapin kamu aja aku nggak mampu, apalagi hadapin perempuan begitu!”
Kris tertawa. Sesuatu yang menyebalkan terjadi lagi. Merasa kesal, Mawar mengambil gaunnya dan melempar ke wajah Kris.
“Apa?” tanya Kris dengan wajah yang jelas-jelas masih setengah tersenyum.
“Kamu itu, ya! Aku nggak pernah loh ngetawain kamu kalau kamu lagi marah! Harusnya kamu juga sama!”
Kris melangkah maju sambil melemparkan gaun itu sembarangan. Persis seperti adegan di film yang pernah Mawar tonton, tetapi di adegan lelaki yang sedang berusaha mengancam wanita yang akan dikerjainya.
“Nga ... ngapain kamu?” Mawar melangkah mundur. Meski Kris sudah menjadi suaminya, tetap saja ia takut pada wajah sinis dan marah pria itu, meski bisa saja ini wajah yang sedang bersandiwara.
Kembali terkekeh, Kris mengulurkan tangannya. “Aku minta maaf. Nita udah aman. Harusnya aku dapat hadiah karena bela kamu, bukan malah dimarahin begini. Jarang-jarang aku kelahi sama perempuan.”
Mawar menyilangkan tangannya di d**a, menolak uluran itu. Tidak akan. Dia masih belum bisa memaafkan. Kris sudah melempar ponselnya sampai rusak. Pesan memang Nita yang mengirim, tetapi tetap saja Kris juga bersalah.
“Aku minta maaf, Sayang. Udah ketiga kali aku minta maaf. Aku harus gimana coba, biar kamu nggak marah? Kamu mau apa? Bilang aja.”
“Aku ... kamu harus ganti hp aku yang tadi rusak! Beli yang lebih mahal, terus kamu ... nggak tau gimana, harus kembaliin isinya. Harus lengkap kontak sama fotonya. Itu ada video juga. Aku udah capek download, kamu harus balikin, soalnya aku udah lupa downloadnya dari mana aja!”
“Oke, ngerti. Aku janji aku bakalan cari cara buat penuhin permintaan kamu. Nanti malam kita keluar cari hp baru. Deal?”
“Nggak mau nanti malam! Enak aja aku nggak ada hp seharian! Pokoknya, nih, sebelum berlayar aku harus udah ada hp baru! Nggak boleh yang black market! Nggak mau yang rekond! Pokoknya harus mahal, asli, bagus, terus .... Pokoknya gitu!”
Sibuk menyiapkan kata, Mawar lupa menepis sentuhan Kris sampai dia berhasil dipeluk. Pria itu memeluknya erat sambil mencium puncak kepalanya, mengayunkan tubuh mereka dengan gerakan pelan.
“Ada lagi?”
“Kamu bau, tau nggak!” ejek Mawar tetapi dengan nada yang lebih pelan. Merasa sedikit malu soalnya dia ada andil dalam menciptakan ketidak-sedapan aroma tubuh Kris.
“Bau apa, Sayang?”
“Ya... baju aja. Kamu kan emang belum mandi.”
“Aku kira berlayarnya nggak jadi loh, soalnya kamu lagi marah.”
“Daripada di kamar berdua sama kamu ya mending berlajar. Di kamar kamu bisa ngakalin aku, kalau di kapal kan enggak!”
Alasan, tentus aja. Mawar ingin berlayar karena suasana hatinya sudah membaik.
“Ya udah. Aku mandi, terus kita ke mall, cari hp baru. Oke?”
Mawar menggelengkan kepalanya, menggesek d**a Kris karena pria itu memang memeluknya lumayan erat.
“Apa lagi?”
“Hp aku kamu rusak, hp kamu juga harus dirusak. Biar adil.”
“Hah?!”