Part 11

1631 Kata
“Kamu nggak ngasih?” Mawar bertanya sambil mengangkat kepalanya, mengadah, karena memang tingginya itu sedagu Kris. Saat mereka berpelukan, posisi kepalanya memang tepat di ceruk leher pria itu. “Ya ... kan di hp aku banyak berkas penting.” Tidak membantah lewat kata, Mawar hanya memicingkan matanya, tentu saja melemparkan tuduhan bahwa alasan Kris itu mengada-ada. “Kadang orang kantor kirim file terus aku buka di hp. Kalau dipindahin sekarang ....” “Udahlah, kalau gitu.” Mawar mendorong tubuh Kris agar pelukan pria itu terlepas, kembali mendekati koper untuk memilih pakaian. “Serius, itu di hp banyak yang penting.” “Kamu itu suka bego-begoin aku. Mereka kirim lewat apa? Email, 'kan? Memangnya berkas di email ikut terhapus? Bilang aja kamu takut nggak bisa kirim-kirim pesan nakal sama perempuan kamu itu.” Tidak lagi bersuara lantang, Mawar kali ini berbicara pelan sekali. Tidak mau merusak suasana hatinya yang sudah sedikit membaik. “Kalau hp aku dirusak, keluarga kamu nelepon, gimana?” “Kan habis ini langsung beli hp. Tapi ya udahlah, kalau kamu nggak mau juga nggak papa. Kamu mandi gih sana. Aku mau cepat-cepat beli hp.” Hening, tetapi Mawar tidak peduli jika Kris menjadi patung sekalipun. Dia sudah memilih gaunnya. Ia berdiri, dan begitu memutar tubuh, ia langsung berhadapan dengan Kris yang ternyata sudah berdiri di belakangnya. Wajah pria itu tegang, mungkin marah, mungkin saja takut, Mawar tidak pandai menerkanya. “Geser!” geram Mawar pelan, menggerakkan tangannya menggeser Kris agar tidak menghalangi jalannya. “Ini.” Suara Kris pelan, tapi Mawar mendengarnya, tetapi Mawar pura-pura tidak mendengarnya. Sengaja, agar pria itu tau bagaimana rasanya tidak didengarkan. “Ini hp-nya. Silakan kamu hancurin, berkeping-keping.” Sambil mengucapkan itu, Kris menyenggol-nyenggolkan ponselnya ke tangan Mawar. Mawar meletakkan pakaian di tangannya ke ranjang, lalu menolehkan kepalanya ke samping. “Kalau nggak ikhlas nggak usah.” “Ikhlassssss, astaga!” geram Kris. Dia melangkah ke hadapan Mawar, menarik tangan wanita itu, lalu meletakkan benda pipih kepunyaannya ke tangan Mawar. “Ini, aku kasih dengan ikhlas, untuk kamu hancurin, bahkan lebih hancur dari hp kamu yang aku hancurin tadi. Ada yang kurang sama kata-kata aku?” Kris memajukan wajahnya dengan mata membesar, menunjukkan tantangan pada Mawar untuk berargumen lagi. “Nggak. Tapi ... hp kamu kana da dua.” Mata Kris membelalak, tetapi ia akhirnya mengeluarkan ponsel ke duanya pada Mawar. “Udah, aku mandi dulu. Kamu hancurinnya harus udah selesai sebelum aku keluar dari kamar mandi. Kalau nggak hancur ....” “Kalau nggak hancur?” “Hp itu yang jadi ganti hp kamu,” seru Kris sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu berlari cepat ke kamar mandi. Untung saja, kalau tidak Mawar pasti sudah berhasil melemparkan dua ponsel Kris ke tubuh pria itu. Masih sempat berdiri mematung karena memikirkan strategi menghancurkan ponsel Kris, ponsel itu malah berdering. Mama. Mama Kris. Wanita tua yang pendiam, tetapi kalau berbicara kata-katanya menyakitkan. Persis seperti anaknya. Melirik kamar mandi, Mawar mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengangkat. Dia menekan tombol hijau, langsung menempelkan ponsel itu di telinga, tanpa niat berbicara. “Halo, Kris? Mama dengar dari Nita kamu marah sama dia karena istri kamu itu mengadu? Iya? Mama nggak suka ya, kalau kamu jadi kekanakan begini! Jelas Nita itu ibu dari anak kamu, sedang wanita itu, apa? Hamil saja dia tidak mampu! Berani-beraninya dia mengadu domba! Kamu boleh tidak adil pada mereka, tetapi kamu harusnya sadar kalau posisi Nita sekarang lebih kuat! Mawar itu, kalau dia mati, tidak akan meninggalkan apa pun, sedangkan Nita, dia sudah memberikan kamu keturunan! Kamu dengar Mama nggak?” Mawar menarik napas panjang. Dadanya sudah sesak, air matanya sudah menetes. Ternnyata beginilah pandangan mama mertua terhadap dirinya. Lama tinggal berjauhan ternyata membuat dia tidak tau banyak. Sepertinya sudah ada banyak cerita yang ia ketahui. Wanita tua ini ternyata sudah mulai membencinya. “Kris? Kamu dengar Mama nggak, sih?!” Memilih untuk tidak takut, Mawar menarik napas panjang sekali lagi hendak menjawab. Dipikirnya, untuk apa takut? Toh, kalau karena ia melawan, Kris marah, kemungkinan terburuknya hanya diceraikan. Bukankah itu yang ia inginkan? Terlepas, terbebas, memiliki kehidupan baru yang lebih rendah tapi menyenangkan? “Kris?! Jangan ....” “Kris-nya sedang mandi, Ma.” “Eh, Mawar? Ini kamu? Kok, hp Kris ada di kamu? Mulai lancang kamu angkat-angkat telepon Kris?” “Mama ngomongnya kok jahat? Harusnya kalau Mama nggak suka sama Mawar, Mama suruh itu anak Mama ceraiin Mawar. Mama pikir Mawar mau jadi istrinya dia? Enggak! Mama pikir anak Mama itu pantas diperebutkan? Asal Mama tau, nggak ada perempuan yang mau bersuamikan laki-laki yang bisa tidur sama siapa aja, kapan aja! Perempuan mandul sekalipun. Nggak semua perempuan seperti Mama.” Mengakhiri panggilan itu, Mawar mematikan ponsel dengan menekan tombol merah berkali-kali. Dua lawan satu, dua wanita melawan dirinya, dan keduanya memiliki arti penting untuk Kris. Nita bisa Kris marahi, sedang mamanya? Wanita tua yang sudah berkendarakan kursi roda itu sepertinya masih menjadi bagian penting dalam hidup Kris. Merasa kesal pada mama mertuanya, Mawar membanting ponsel itu. Sialnya, tenaganya bahkan saat sedang marah sekalipun, hanya mampu membuat layar ponsel retak satu garis. Melihat itu, Mawar malah bertambah kesal. Dia menginjak ponsel itu, dan malah merasa kakinya yang kesakitan. “Memang b******k semuanya! b******k! b******k! b******k!” geramnya dengan rahang terkatup. Mawar mendudukkan dirinya, menggunakan ponsel Kris satunya lagi untuk menghancurkan ponsel yang sudah dibantingnya tadi. “Mampus, kamu! Eh, kok kamu?” tanyanya bingung pada diri sendiri. Tinggal satu ponsel berukuran kecil yang sepertinya kuat, karena sehabis dipakai untuk merusak ponsel saja, ia hanya lecet sedikit. Mawar mencari benda keras yang bisa digunakannya untuk merusak ponsel ini, tetapi tidak ada. Mau merusak botol minuman yang tersaji di mini bar, dia tidak tega pada room boy. Mawar membayangkan wajah sang mama mertua di dinding, lalu melemparkan ponsel itu kuat, agar mengenai wajah wanita tua menyebalkan itu. Namun, saat Mawar mengecek ponsel itu, meski layarnya sudah mulai retak, ternyata masih tetap hidup. “Ih, kayak Kris aja! Nyawanya banyak!” Mawar kembali mengedarkan pandangan, lalu mendapat ide. Dia mengeluarkan heelsnya dari koper, memakainya, lalu menginjak-injak dengan penuh semangat. “Mampus! Siapa coba yang bisa ngehubungi Kris? Nggak ada! Kesepian, kesepian, deh! Rasain!” “Kamu ngapain?” Kris sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan rambut yang masih basah. Handuk tidak ia kenakan, tetapi digunakan untuk menggosok-gosok kepala pria itu, mengeringkan rambut. “Hancurin hp kamu lah, apa lagi!” Setelah melihat bahwa ponsel Kris benar-benar hancur, Mawar beranjak. Kembali menghampiri pakaiannya di atas ranjang. “Kamu cantik handukan pakai heels gitu,” ucap Kris dengan nada menggoda, mengejek. “Aku cantik kapan aja! Kamu nyebelin kapan aja!” “Aku udah ngalah, aku salah apa lagi? Heum?” Kris memeluk Mawar dari belakang, lalu mencium pipi Mawar dengan tekanan kuat, membuat Mawar mengaduh sakit. “Kamu itu!” rengek Mawar, menggeliat karena merasa tidak nyaman. Kris hanya tertawa. Ia melepaskan pelukan, lalu mulai berpakaian, sama seperti yang Mawar lakukan. Setelah selesai berpakaian, Mawar dan Kris pergi ke mall untuk membeli ponsel baru. Mawar bersikeras meminta dibelikan dua ponsel, agar jika Kris marah dan membanting ponselnya, ia masih memiliki cadangan. Selain itu, agar adil, karena Kris juga membeli dua ponsel. Meski untuk itu Mawar harus terima merek ponsel yang disarankan Kris dengan paksa, merek ponsel yang tidak bisa diberikan tambahan kartu memory, yang bahkan untuk mendengarkan lagu saja harus berlangganan. Menyebalkan! Antusiasme Mawar, tidak ia tunjukkan. Mati-matian berusaha bersikap biasa saja, karena saat ia mulai senang biasanya ada kejadian yang merusak suasana hatinya lagi. Berlibur dengan Kris memang penuh kejutan. “Kita duduk di mana?” tanya Mawar saat sudah masuk ke dalam kapal. Di lantai bawah, ada tempat duduk yang terletak hanya di bagian pinggir saja, sedang di bagian tengahnya ada meja panjang, yang sepertinya akan menjadi tempat disajikannya makanan. “Lihat atas, yuk?” Kris menarik Mawar berjalan menaiki tangga. Lantai dua juga sama seperti lantai satu, bedanya di bagian depan ada space khusus untuk band, sedang bagian tengahnya kosong melompong. “Aku mau yang di dekat jendela!” sorak Mawar, langsung duduk di kursi terdekat, dan memojokkan dirinya. Memfokuskan pandangan ke luar jendela kaca. Merasa duduknya terlalu sempit, Mawar menoleh ke samping. Benar saja, Kris sudah menempel begitu rapat. Mawar menjulurkan lehernya, mengintip ke sisa kursi di sebelah Kris. “Ck, itu masih kosong banyak. Ngapain coba sempit-sempitan? Udah kayak di angkot aja!” Kris tertawa, menarik kepala Mawar hingga menempel di bahu pria itu, lalu menjepit hidung Mawar kuat. Tentu saja Mawar meringis sakit. “Kayak kamu pernah naik angkot aja!” Malas menanggapi Kris, Mawar hanya memajukan bibirnya. Meski ditahan Kris harus tetap bersandar, Mawar masih bisa menikmati pemandangan laut. Meski hanya hamparan laut lepas, lalu beberapa kali berganti dengan pulau-pulau yang masih alami, belum terjamah tangan manusia, tetap saja pemandangan terasa indah. “Nggak mau ke atas, Pak? Di atas pemandangan lebih terlihat bagus. Siapa tau mau foto juga.” Seorang pria yang sudah agak tua, berkata pada mereka. “Di atas ada lagi?” tanya Mawar spontan. “Bahaya nggak, di atas?” “Oh, aman, Mbak. Ada pembatasnya. Ada kursi-kursinya juga. Sekalian, kita ini akan segera melewati Jembatan Barelang.” “Jembatan Barelang?” “Iya, Mbak. Itu jembatan yang menghubungkan pulau-pulau di Batam ini. Sudah seperti maskot juga. Biasanya orang sering foto dengan view jembatan itu.” Mawar mengguncang lengan Kris penuh semangat. “Naik, yuk?!” serunya. Kris hanya mengangguk. Mereka naik ke atap, dan Mawar langsung bersorak riang. Ia benar-benar menyukainya. Bahkan ia rela memberikan Kris pelukan sebagai balasan. “Senang?” tanya Kris, saat mereka sudah banyak mengambil foto, kenyang dengan makanan sajian, lalu menikmati matahari yang perlahan tenggelam. Mawar yang sedang bersandar di tubuh pria itu diam, menikmati momen yang ia tau sebentar lagi akan berakhir. Mereka akan kembali pulang, ke tempat masing-masing, lalu semua akan saama lagi. Ia akan kembali sendiri. Berpisah dengan pria di sebelahnya ini. Memikirkan itu, membuatnya merasa sendu. Teringat perkataan mama mertua jahatnya. Ia sudah ingin menangis, tetapi menahannya kuat karena tidak mau merusak momen. Lagi pula mereka sedang di keramaian. “Hey, mikirin apa?” Mawar mengangkat kepalanya, menatap Kris dengan mata yang malah semakin memanas. Berusaha tersenyum, bibirnya malah bergetar. Ia lemah sekali dalam menyembunyikan perasaan. Akhirnya, ia hanya bisa memeluk Kris, lalu menyembunyikan tangisnya di d**a pria itu. Tangan Kris yang bergerak-gerak di atas kepalanya, malah membuat Mawar bertambah sedih. “Hey, kok malah nangis? Ada masalah apa lagi?” Saat Kris berusaha melepaskan pelukan, Mawar malah mengeratkan. Dia masih belum selesai. Saat hatinya sudah mulai sedikit lega, Mawar menjauhkan tubuhnya dari Kris. Memandang pria itu dalam. Lalu, mengikuti nalurinya, memajukan wajah untuk menyatukan bibir mereka. Memalukan karena mereka bisa saja jadi bahan tontonan, tetapi Mawar tidak peduli. Mereka sedang di Batam, dan dia tidak kenal siapa pun di sana. Andai kenal pun, ia sedang bertingkah m***m pada suaminya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN