Part 12

1616 Kata
Setidaknya, jika perpisahan mereka akhirnya memang terjadi, sudah ada kenangan manis yang terukir. Itulah yang Mawar pikirkan saat ia menggelayut manja pada Kris. Dia tidak mau repot-repot marah, malah berbicara lebih banyak dari biasanya. Malam ini, Mawar ingin berpacaran dengan Kris. Sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan. Dan keinginannya itu didukung oleh Kris yang mendadak memang bersikap lebih manusiawi, lebih lelaki, lebih seperti kekasih daripada suami. “Makan malam dulu?” Mawar menggelengkan kepalanya. “Kalau kamu makan, aku temenin, tapi aku enggak. Aku nggak suka makan malam.” Mawar menyenderkan kepalanya di lengan Kris. “Makan sekali aja nggak akan buat kamu gendut.” Kris membuka tangannya, memasukkan Mawar dalam pelukannya. Membuat Mawar kini bersandar di tubuh depan pria itu. “Kamu kalau diam begini, manis.” Bibir Mawar langsung tersenyum lebar. Tidak lagi membantah dengan berkata, meski manis, seorang wanita tidak akan bisa menahan si lelaki selalu ada di sisinya, karena pria justru lebih suka yang panas daripada yang manis. Dia ingin merekam momen. Seandainya pada akhirnya dia hanya sendiri di dunia ini, seperti kata mamanya, tidak memiliki anak dan kehilangan pasangan hidup, sedang satu per satu anggota keluarga pun sibuk dengan dunia mereka sendiri, ada sesuatu yang pantas ia lamunkan di teras rumah pada sore hari. Jemari Kris menyentuh dagu Mawar, menuntun untuk mengadah. “Kamu tau, 'kan, kalau kamu nggak akan pernah bisa lepas dari aku?” Pertanyaan itu dilontarkan pelan, tetapi sorot Kris, terlihat penuh tuntutan. Seakan pria itu sedang meminta Mawar dengan keadaan sadar mengikrarkan keterikatannya, yang jika ditinjau ke belakang, memang benar terjadi. Dengan egois, Kris sudah berulang kali menghalangi ia pergi. Mungkin cinta ala buaya darat, atau mungkin juga hanya karena ego, atau mungkin saja karena di antara wanita-wanita itu, memang tidak ada yang pantas dipamerkan, hanya pantas dinikmati sembunyi-sembunyi. Dipakai, lalu ditinggal pergi. Mawar tidak pernah benar-benar mengerti Kris. Dunia mereka jauh berbeda, disatukan secara paksa, dan sepertinya sebentar lagi akan hancur. “Aku nanya kamu,” ucap Kris lagi. Wajahnya sendu, seakan tersakiti dengan sikap diam Mawar. “Kok kamu nanya gitu? Udah mulai nggak pede, ya? Atau uang kamu udah berkurang banyak, makanya ngerasa takut kalau ancaman kamu udah nggak mempan?” Mawar mengirimkan tatapan menggoda, bercanda. Kris terkekeh, lalu menempelkan bibir mereka. Tidak dengan nafsu, tetapi dengan tekanan lembut, yang tidak pernah Mawar terima sebelumnya. Merasa sedang ingin menjalani malam tanpa beban, Mawar membalas pagutan itu, seliar yang dia bisa. Tidak ada Mawar yang menahan diri, tidak ada Mawar yang pemalu, tidak ada Mawar yang mulai mati rasa. Besok, semua mungkin akan berbeda. Untuk malam ini, Mawar sedang ingin bodoh, ingin menjadi seorang istri yang masa bodoh dengan skandal suaminya. Yang bersamanya sekarang ini Kris. Hanya Kris-nya. Ya, malam ini hanya ada mereka berdua. *** Tubuh mereka seperti sudah terkena lem. Terus menempel sepanjang malam. Enggan memisahkan diri, bahkan saat salah satu ingin ke kamar mandi. Kris merasa malam ini adalah malam terbahagia dalam hidupnya. Perubahan sikap Mawar pun tidak lagi ia pusingkan. Resiko terburuk memang Cuma satu, wanita itu marah lalu berteriak meminta cerai. Tinggal pura-pura tidak dengar, menunggu emosi Mawar reda, atau mungkin ia perlu melakukan sesuatu sehingga Mawar akan diam dengan sendirinya. Tidak ada yang Kris takutkan. Saat sedang nakal saja dia percaya diri, apalagi sekarang. Tadi dia sempat bertanya-tanya, tetapi semua pertanyaan itu buyar seketika saat Mawar membalas semua sentuhannya. Bahkan, malam ini, Mawar membalas gairahnya dengan cara yang luar biasa. Sudah lama menikah, mungkin Mawar sudah banyak belajar. Ponsel Kris berdering. Dia mengerang kesal. Tubuhnya bergerak sedikit, hanya untuk mencari posisi lebih nyaman lagi, lalu kembali tidur. Tentu saja sekaligus menciptakan sedikit gesekan tubuhnya dan tubuh Mawar yang sedang telanjang dan berpelukan. “Kris, hp kamu bunyi tuh!” gumam Mawar pelan. “Hmmm,” jawab Kris sambil lalu, tidak ada niatan untuk bangun dari tidurnya. Karena ponsel Kris masih terus berdering, Mawar merengek panjang, berkata agar Kris bangun dan mengangkat panggilan yang bisa saja penting, dengan gigih berusaha melepaskan diri dari lilitan tubuh Kris. Merasa kesal semua usaha tidak membuahkan hasil, Mawar menggigit kulit Kris yang tepat di depan wajahnya–kulit d**a pria itu. “Arrghh! Mawar!” teriak Kris. Pelukannya merenggang dan tubuhnya sedikit mundur. “Ya, kamu tuh, udah dibangunin juga! Makanya jangan jadi orang penting, jadi nggak banyak gangguan telepon pagi-pagi begini,” sungut Mawar. Membalik tubuhnya, kini ia tidur dengan posisi membelakangi Kris. “Kriiiissss.” Mawar kembali merengek karena tubuh Kris menimpa dirinya. Wanita itu lupa kalau nakas tepat di depannya, sekarang, dan untuk mengambil ponselnya tanpa turun dari ranjang, Kris memang harus melewati tubuhnya. “Eh?” Setelah melihat nama yang tertera di ponsel, Kris turun dari ranjang. Segera menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel di telinga. “Kenapa?” tanyanya, sambil melilitkan handuk di tubuhnya, dan ke balkon untuk mendapatkan privasi, berbicara leluasa dengan peneleponnya. *** “Jangan-jangan mamanya,” gumam Mawar pelan. Menyipitkan mata, ia mengintip ke arah balkon. Kris sedang berdiri memunggungi. Tangan pria itu beberapa kali bergerak-gerak. Mawar menerka bagaimana raut wajah pria itu. Dilihat dari kecepatan gerakan tangannya, dia seperti sedang menjelaskan sesuatu pada si lawan bicara, dengan cepat pula. Itu artinya Kris menganggap penting lawan bicaranya. Dan bisa jadi, itu adalah mama Kris. Mungkin wanita itu mengadu, mengatakan kekesalannya pada Mawar yang telah lancang mengangkat panggilannya, dan menjawabi perkataannya. Biar saja, batin Mawar, kalau si wanita tua itu marah dan mengadu, lalu Kris pun marah padanya, silakan saja. Toh, sebentar lagi mereka pulang. Kris ke rumahnya, Mawar ke rumah Mawar. Sakit hati karena dimarahi Kris tidak akan membekas begitu lama karena Mawar akan memiliki pengalih perhatian. Memilih menyegarkan tubuh, Mawar masuk ke dalam kamar mandi, berendam. Selama sisa kebersamaan mereka di Batam, Mawar berusaha untuk bersikap baik. Bagaimana pun juga, Kris sudah membelikannya banyak barang. Belum lagi momen seperti ini kemungkinan tidak akan terjadi lagi. *** Hari kepulangan pun tiba. Meski Kris menikmati perubahan sikap Mawar yang menjadi manis sekali, tetap saja dia antusias menungu hari ini. Pasalnya, ada rencana besar yang sudah ia siapkan. Mawar tidak tau, dan wanita itu pasti akan kaget. Kris bahkan tidak sabar melihat reaksi Mawar itu, meski besar kemungkinan dia akan marah-marah serta melempari Kris dengan berbagai barang. Kebar-baran Mawar saat marah, itu sangat menggemaskan. “Eum ... Kris, aku ...” Mawar berdiri di depan Kris dengan wajah bingung, persis seperti anak SD yang sedang gugup karena baru akan jujur akan kesalahannya. Kris menahan senyumnya, mencoba tidak merusak keseriusan wanitanya itu. “Duh ... gimana, ya, bilangnya?” Mawar menghentakkan kakinya sekali lalu duduk di sebelah Kris. Menarik napas dalam, lalu ia kembali menatap Kris dengan serius. “Aku kan kemaren ada beli jam. Terus ... jamnya ... kelebihan.” Jelas, wanita itu berbohong. Saat dia berkata 'kelebihan', nadanya memelan, matanya alih pandangan. Meski sudah lama berhubungan dengan pria seperti Kris, yang banyak mengakali, Mawar-nya tetap menjadi wanita yang apa adanya. “Terus?” jawab Kris, berusaha terlihat percaya. “Kamu ... mau nggak? Aku ... eum ... bagus kok jamnya. Mahal itu. Kamu lihat, deh. Sebentar, aku ambilin dulu.” Saat Mawar beranjak menghampiri kopernya, Kris melepaskan tawanya tanpa suara, dan langsung memasang wajah datar kembali ketika wajah merengut Mawar menoleh ke belakang. “Kok nggak ada, ya?” tanyanya dengan nada sedih. “Aku letak di sini tiga-tiganya. Yang mau aku kasih ke kamu .... Eh, maksudnya yang kelebihan itu, nggak ada. Apa ada yang nyuri? Room boy-nya, ya?” Mawar kembali memeriksa kopernya. Bahkan, ia membuka lebar penutup atas, dan mengeluarkan semua isinya. “Tuh, kan, nggak ada. Dicuri, nih! Kris, lapor polisi, dong! Itu jamnya mahal. Aku udah capek-capek milih malah dicuri. Jamnya itu bagus. Di lingkarannya itu ada mutiaranya. Terus, pasangan sama jam aku ini.” Mawar menunjukkan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kris beranjak, menghampiri koper baru yang isinya adalah barang-barang belanjaan Mawar, dan mengeluarkan sebuah kotak. “Ini?” tanyanya. Mata Mawar membulat, lalu ia memasang wajah merajuk. “Kamu kok ngambil jam aku?” sungutnya. “Ya, aku lihat kamu beli jam banyak banget. Aku yang bayar, aku nggak dikasih. Aku ambil aja. Nggak salah, dong.” “Ya, tapi, kan .... Ah, kamu tuh suka rese!” Mawar membalik tubuhnya, hendak melangkah, tetapi Kris dengan sigap melingkarkan tangan, menarik wanita itu mundur. “Karena akhirnya kamu berbaik hati ngasih ke aku, pakein sekalian, biar aku bisa bilang makasih.” “Makanya kamu itu jangan nggak sabaran,” geram Mawar. Ia membalik tubuhnya lalu mengambil kotak di tangan Kris dengan gerakan kasar. “Harusnya dikasih, malah nyuri. Nggak sabaran banget, jadi orang!” omelnya sambil mengeluarkan jam dari kotak, dan memasangkannya. Kris tersenyum lebar. “Makasih, hadiah ulang tahun pernikahannya,” bisiknya. Belum sempat Mawar meralat, atau mengucapkan apa pun itu, Kris menarik Mawar, memeluknya erat. “Kamu harus tau, sudah selama ini kita bersama, kamu itu sangat istimewa bagi aku.” Hening. Mawar tidak menjawab ucapannya. Kalau Kris berkata cinta sekarang, besar kemungkinan wanita itu tidak akan percaya. Nanti saja, batin Kris, setelah mereka pulang, sekalian dengan kejutan yang telah Kris siapkan. Akhirnya mereka berangkat. Saat telah sampai di kota tujuan, di mana Kris tinggal, mereka langsung disambut oleh supir pribadi. Mawar terlihat tidak nyaman bertemu supir itu. Tentu saja, dulu Mawar diantar oleh orang yang sama ke mana pun dia akan pergi. Ada banyak kenangan lama terukir, dan itu sedikit banyaknya pasti membuat Mawar teringat hal-hal menyakitkan pula. “Aku langsung pulang, 'kan?” tanya Mawar. “Terus aku nanti naik apa? Sama siapa?” Kris menggenggam tangan Mawar, menarik wanita itu masuk ke dekapannya. “Kamu emang langsung pulang, tapi bukan ke rumah sana. Kamu pulang ke rumah kita.” “Tunggu ... maksudnya rumah kita? Rumah yang .... Nggak-nggak, aku mau pulang! Ngapain kamu ajak aku ke sana? Disuruh Nenek Lampir, gitu? Mau diadu kami berdua? Enggak! Aku nggak mau! Pak Supir, antar saya ke tempat travel antar kota!” Mawar terus mengoceh, tetapi Kris dan si supir diam saja. Akhirnya, Kris menerima pukulan bertubi-tubi disertai dengan berbagai tuduhan aneh, termasuk Kris yang ingin memberi Mawar pelajaran karena telah menghabiskan banyak uang, serta membalas pesan Nita dengan kasar. Kris membiarkan saja. Yang penting baginya, niat untuk membawa Mawar kembali pulang, terlaksana. Wanita yang membuatnya merasakan kenyamanan, harus ada di rumah yang ia tinggali, agar saat mendatangi rumah itu, ia bisa merasakan indahnya pulang. Rumah akan kembali terasa seperti rumah. Apa yang dirasakannya selama di Batam, akan terus dirasakannya, selamanya. Jarak yang membentang, tidak akan lagi menjadi halangan. Mawar, akan kembali menjadi penghias harinya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN