Mawar bisa sangat merepotkan saat dia sedang mengamuk. Itulah yang Kris rasakan. Wanita itu tidak mau disuruh turun, saat ditarik paksa pun, dia masih terus berusaha melepaskan diri. Terpaksa, Kris memapahnya di bahu, seperti kuli memapah karung beras.
“b******k kamu, Kris! b******n! Suami kurang aja! Aku mau pulang! Pulaaaanggg! Aku mau pulang! Aku mau cerai sama kamu! Aku mau Mama! Aku mau Papa! Aku benci kamu!!!”
Padahal, biasanya, Mawar akan menjaga sikap di depan orang lain, meski itu hanya asisten rumah tangga. Kini, ia seakan tidak peduli semua pekerja di rumah berdiri menyambutnya, berdiri berjejer di depan pintu, hendak menyambut sang nyonya.
Karena ternyata hasilnya lebih buruk dari yang dipikirkan, Kris langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Awalnya, susunan agenda kegiatannya itu, Mawar tiba, diberikan sambutan selamat datang oleh para asisten rumah tangga, lalu mereka berjalan beriringan ke meja makan. Tentu saja asisten rumah tangga hanya bertugas menghidangkan makanan. Kris tidak sudi makan malam pertama mereka, setelah sekian lama, di rumah tercinta, tidak leluasa karena terlalu banyak orang. Dia butuh privasi. Masih ingin melanjutkan sesi berpacaran mereka dari Batam.
Sampai di dekat meja makan, Kris menurunkan Mawar. Merasa kasihan sekaligus terpana pada wajah istrinya yang merona, atau lebih tepatnya memerah, terlalu lama dalam posisi kepala di bawah. Dengan gerakan angkuh, Mawar merapikan rambutnya. Tentu saja, dengan dagu yang terangkat. Matanya menatap sekeliling.
“Di ... di mana yang lain?” tanya Mawar.
Kris tersenyum, sudah menerka apa yang sebenarnya ingin Kris tanyakan, tetapi sengaja tidak langsung menjawab dengan tepat. Ingin memancing sungutan, yang ditelinganya, seperti sebuah rayuan.
“Kan ada, tuh.” Kris menunjuk para asisten rumah tangga dengan dagunya.
“Kalau mereka, aku bisa lihat! Maksudnya itu ... eum ... mana itu, si Nita?” Mawar menggerakkan tangannya untuk menyelipkan rambut bagian depan ke belakang telinga. Kris menoleh, secara refleks matanya menatap ke leher Mawar, dan tersenyum lebih lebar lagi saat melihat bercak yang bertengger di sana. Itu bekas perbuatannya, dan sekarang di lehernya pun ada. Entah angin dari mana, malam itu mereka bermain 'adil'. Apa pun yang Kris lakukan, maka Mawar pun melakukannya. Agar impas, katanya.
“Nita? Nita, sih, emang nggak ada di sini.”
“Oh, gitu? Jadi mentang-mentang dia nggak ada, aku dibawa ke sini? Gitu? Enak banget, lah, jadi kamu. Selalu ada yang menemani. Tapi, udahlah, kan udah tabiat. Masalahnya, kenapa harus aku?!” Nada Mawar meninggi. “Kan ... bisa yang lain! Aku tuh udah kangen rumah, tau nggak! Bukan rumah ini, rumahku yang di sana! Itu bungaku semua pasti udah layu nggak ada yang nyiram! Ibu-ibu tetanggaku, juga pasti nyariin, kehilangan temen gosipnya!”
Menarik secara tiba-tiba hingga tubuh perempuan yang masih saja mendecak kesal itu terhempas menabrak tubuhnya, Kris mencium bibir Mawar, membungkamnya. Memberikan gigitan gemas di bibir bawah wanita itu, saat mengakhiri ciumannya, karena sudah saatnya Kris menyampaikan sedikit bocoran rencananya.
Sedikit.
“Nita udah beberapa bulan memang udah nggak tinggal di sini lagi. Rumah ini nggak ada siapa-siapa selain aku dan para ibu-ibu dan bapak-bapak ini. Dan satu lagi, aku, sampai kapan pun, nggak akan pernah membawa wanita lain ke rumah ini. Kalau-kalau kamu lupa, dari dulu aku memang nggak menjadikan rumah sebagai salah satu tempat bermain-main.”
Mawar tampak berpikir. Keningnya berkerut. Namun, bibir wanita itu tetap saja mendecak. “Nita ngambek, gitu? Ya, kalau kalian ada masalah, selesaikan sendiri, dong. Jangan bawa-bawa aku! Nanti mama kamu itu malah nyalahin aku! Dibilang orang ketiga!”
“Nggak ada masalah, Mawarku ..... Jadi, Nita memang pergi dari rumah ini karena kesal sama aku.” Kris terkekeh pelan. “Mungkin satu-satunya perempuan yang tahan sama aku, Cuma kamu.”
“Jelaslah! Aku kan emang wow gitu! Jangan dibandingkan sama Nita, dong! Kami beda kasta! Beda segalanya!”
Bukan hanya Kris, beberapa asisten rumah tangga pun ikut tertawa. Saat Kris dan Mawar sama-sama menoleh, melihat sumber suara, tawa mereka langsung berhenti, dan kepala langsung mereka tundukkan. Kris memang bukan orang yang ramah pada pekerjanya.
“Intinya, Nita memang nggak akan kembali ke rumah ini, Sayang. Dia sudah mendapatkan rumahnya sendiri, dan setuju untuk tidak mengganggu kita apa pun alasannya. Tanggung jawab materi, itu aku kasih sesuai permintaan dia. Selesai. Nggak ada masalah.”
“Nggak ada masalah gimana?! Yang kemarin dia kirim ...” Mawar menghentikan ucapannya, melirik segan pada pekerja rumah yang berusia lebih tua darinya. “Itu apa coba? Dia itu cemburu, tau nggak! Kayak ... seakan-akan aku mau rebut kamu! Padahal, sih, yang pendatang siapa yang tuan rumah siapa!” sindir Mawar sinis.
“Katanya dia salah kirim. Benar-benar salah kirim. Aku juga marah besar sama dia kemarin, karena kami udah sepakat sejak tiga bulan lalu. Aku bahkan motong uang belanja dia selama tiga bulan, loh, sebagai hukuman.”
“Masak? Terus ... dia bilang apa?”
“Nggak ada penjelasan. Intinya, nggak ada Nita, nggak ada siapa pun lagi, cuma ada kita, kamu dan aku.” Kris menarik Mawar lagi, dan kali ini wanita itu tidak menolak saat dipeluk.
“Ih, kamu apaan sih, ngomongnya?! Nggak malu ada orang tua!”
Kris hanya bisa terkekeh, mengecup lekuk leher samping Mawar beberapa kali dengan gemas, lalu menarik wanita itu untuk duduk di sebelahnya. “Kita makan dulu. Penjelasannya, lanjut nanti aja. Aku udah lapar.”
Begitu mereka di posisi siap untuk makan, tiga orang asisten rumah tangga segera menghidangkan. Mengambilkan apa saja yang Kris dan Mawar inginkan untuk ada di piring mereka. Sedang sisanya berdiri diam, menunggu sampai acara makan selesai. Harusnya memang tidak begini. Mawar sudah merusak semuanya. Harusnya setelah menyalami dan mengatakan ucapan selamat datang, mereka kembali ke tugas masing-masing. Tentu saja selain asisten rumah tangga yang bertugas menghidangkan.
Semua orang merindukan Mawar. Kris bisa merasakan itu dari cara para asisten rumah tangganya melirik Mawar. Ada tatapan sejuk, tatapan rindu, yang tidak pernah mereka lemparkan pada Nita. Mungkin Kris terlalu lama memandangi Mawar, sehingga akhirnya wanita itu merasa, lalu menoleh dengan ekspresi gugup.
“A ... apa?” tanyanya. “Ada yang belepotan, ya?” Mawar mengambil tisu denga mengelap sekitar bibirnya.
Merasa ingin iseng, Kris mengangguk.
“Udah belum?”
Kris menggeleng. Mawar kembali mengambil tisu, kali ini ia bahkan mengelap seluruh wajahnya, lalu setelah itu melihat ke tisu itu. “Ngak ada apa-apa, kok,” gerutunya.
“Ck, coba sini.” Kris menggerakkan jemarinya memberi kode pada Mawar untuk mendekat. Wanita itu menurut, memajukan tubuhnya kea rah Kris, dengan raut wajah menunggu. Lalu, Kris melakukannya. Dia mengecup bibir Mawar, dan saat tubuh wanita itu menegang kaget, Kris membuka mulutnya, melumat bibir itu.
“Kamu itu ... kesempatan!” sungut Mawar. Matanya melirik kepada para asisten rumah tangga yang masih ada di sekitar mereka, lalu mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Wajahnya terlihat seperti akan menangis.
Kris tertawa, menjepit hidung Mawar dan menariknya kuat sampai wanita itu kembali menggerutu. “Habisnya kamu ngegemesin. Kamu nggak usah malu sama mereka. Adanya mereka malah senang kita akur lagi.”
Kali ini, Mawar hanya menanggapi dengan menggerak-gerakkan bibirnya, seolah meniru ucapan Kris dengan gerakan mengejek. Suasana kembali hening. Mawar dan Kris sama-sama fokus ke makanan mereka masing-masing. Lalu, saat akhirnya sesi makan selesai, Kris sengaja menunggu Mawar kembali bicara. Ia ingin wanita itu bertanya apa pun yang wanita itu inginkan, karena sejatinya, Mawar adalah wanita yang suka tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Kepala Mawar kembali memutar, melihat dinding di sekitar mereka. Sebentar keningnya berkerut, sebentarnya lagi bibirnya tersenyum, dan saat bertemu pandang dengan Kris, wajahnya kembali ia masamkan.
“Terus ... aku di sini berapa lama? Aku tidur di mana? Aku nggak mau, ya, di kamar bekasnya Nita. Pokoknya nggak mau yang bekas Nita. Kamarnya, spreinya, bantalnya, pokoknya semuanya harus beda!”
“Di kamar kita dulu.”
“Hah?! Enggaklah, nggak mau! Pasti Nita pernah tidur di sana. Enak aja. Enggak! Nggak mau!”
Kris menarik tangan Mawar paksa, menggenggamnya. “Kamar itu nggak pernah dimasukin sama Nita. Selama ini dia pakai kamar yang paling ujung. Kalau kamu nggak percaya, kamu tanya aja sama mereka.” Menggerakkan kepalanya, Kris menunjuk para asisten rumah tangga dengan dagunya.
Mawar memandangi mereka satu per satu, seperti menilai, lalu akhirnya kembali menatap Kris. “Kamu bawa-bawa mereka. Mereka mana tau apa-apa. Mereka pasti juga takut kalau salah ngomong. Kamu kan seram,” ucapnya dengan suara pelan dan wajah sendu. “Terus, berapa lama?”
“Seterusnya. Barang-barang kamu sudah dipindahkan ke sini selama kita di Batam. Jadi, kamu nggak akan ke sana lagi, kecuali kalau kitaa berdua butuh tempat untuk bulan madu lagi.”
Mulut Mawar menganga, lalu ia kembali memukuli lengan Kris, tentu saja dengan satu tangannya karena yang satu lagi masih Kris pegang dengan erat, bahkan bisa dibilang kuat.
“Kamu tuh resek, tau nggak! Aku tuh suka tinggal di sana!” geram Mawar. “Ck, kamu suka gitu! Apa-apa suka maksa! Terus, mbak-mbak di sana, kamu kemanain?”
“Aku udah nanya mereka, dan mereka lebih betah di sana. Jadi, mereka di sana.” Kris melihat Mawar sepertinya akan memotong ucapannya, sehingga ia kembali berkata dengan cepat. “Di sebelah rumah itu, aku lagi bangun rumah lainnya. Nantinya akan dibuat beberapa petak rumah. Mereka bisa bawa keluarga mereka ke sana.”
“Hah?” Mawar melongo.
“Iya, mereka bisa bawa keluarga mereka ke sana. Dikasih rumah masing-masing, meski kecil. Aku kurang baik apa coba, sama kamu?”
Mawar mengerucutkan bibirnya, tetapi jelas terlihat wanita itu sedang menahan senyum. “Mereka pasti seneng, ya, kumpul sama keluarga. Terus itu kamu potong gajinya? Gaji si mbak kan nggak gede-gede banget, Kris. Mereka juga harus nanggung sekolah anak-anak mereka.”
“Gratis, Mawar! Gratis!”
“Oh....” Senyum Mawar semakin lebar.
“Jadi, udah bisa naik ke atas? Aku capek, mau tidur.”
“Ya udah, naik aja. Aku nggak akan nanya-nanya lagi. Kalau aku mau tau sesuatu, aku tunda sampai kamu udah bangun.”
“Ke atasnya sama kamu, Sayangkuuu.” Kris menarik pipi Mawar kuat, lalu menggoyang-goyangkannya gemas. Para asisten rumah tangga kembali tertawa, tetapi dengan suara yang lebih pelan dari tadi, itu pun hanya sebentar. Mungkin mereka tau Mawar tidak akan suka ditertawakan.
“Eum ... ya udah, deh,” bisik Mawar.
“Ya udah apa?”
“Ya udah, ayo naik ke atas. Aku juga capek. Tapi nanti kamu harus jelasin lagi sama aku. Aku masih ngerasa aneh, soalnya. Kamu ... nggak ngasih tau dulu, soalnya.”
Kris mengagguk. Dia berdiri, mengulurkan tangan meminta Mawar untuk mengikutinya. Saat Mawar berdiri, para asisten rumah tangga sudah berbaris di depannya.
“Maaf, Bu, mengganggu sebentar. Kami ... para pekerja di sini ... mau mengucapkan selamat datang kembali. Kami sangat senang Bu Mawar mau kembali ke rumah ini.”
Tidak langsung menyahut, Mawar malah menyenderkan tubuhnya pada tubuh Kris. “Makasih, Bik,” ucapnya dengan suara tercekat.
Kris tau Mawar tidak akan bertahan lebih lama lagi. Pasti sebentar lagi Mawar akan menangis dan suasana jadi kacau.
“Siapkan makan malam yang banyak. Nanti malam, kita makan bersama-sama. Anggaplah penyambutan Mawar kembali ke rumah ini,” ucap Kris lalu membimbing Mawar untuk ke kamar mereka di lantai dua. Kris sebenarnya tidak suka berkumpul dengan para pekerja di rumahnya. Namun, ia tadi mendengar suara Mawar yang seperti terharu. Itu artinya, Mawar menganggap para pekerja itu lebih dari pekerja, dan bertemu mereka lagi membuat wanita itu terharu.
Sampai di kamar, Mawar lebih banyak diam. Dia duduk di tepi ranjang, seperti merasa gamang untuk berada di kamar mereka. Matanya kembali mengitari sekitar, lalu berlama-lama pada foto pernikahan mereka yang terpasang di atas kepala ranjang. Tiga foto pernikahan berukuran besar yang berderet di dinding seberang ranjang. Dulu, Mawar meminta agar foto-foto itu diletakkan di atas kepala ranjang, dan tentu saja Kris menolak. Akan ada hari di mana penahan foto itu terlepas dan akhirnya foto itu jatuh. Kris tidak mungkin mengambil resiko membahayakan mereka berdua.
“Kenapa? Sebenarnya ... apa sih rencana kamu?” tanya Mawar pelan. Wanita itu menatap Kris dengan ekspresi serius.
“Simple. Aku menyeret kamu kembali pulang karena kamu nggak akan mau pulang secara sukarela, menahan kamu tetap di sini, dan ... sudah, selesai. Itu rencananya.”
“Ck!” Mawar mendecak kesal. “Itu tuh kayak nggak rencana, tau nggak!”
“Hahaha, memang itu rencananya. Kamu kan ngotot mau pindah, waktu itu, bilang ke aku kalau Nita aja yang tinggal di sini karena Nita sedang hamil. Sekarang Nita sudah melahirkan, dan wanita itu juga sudah pergi dengan sukarela. Tinggal mengembalikan semua ke posisi semula. Kemarin, aku membutuhkan anak, dan aku sudah mendapatkannya. Sekarang, aku membutuhkan istriku kembali, dan aku harus mendapatkannya juga.”
“Tapi ibu dari anak kamu itu nggak sama dengan istri kamu! Harusnya ....”
“Nggak harus satu orang kok, yang penting anak itu bener-bener anak aku, dan istri aku itu bener-bener perempuan yang aku mau.”
“Ih, egois!” sungut Mawar, tetapi ia kembali diam, menatap lurus ke depan dengan tangan yang saling menggenggam.
Kris menerka, Mawar pasti sedang sibuk berpikir baik dan buruk apa yang mereka lakukan sekarang ini. Ia melangkah mendekati Mawar, memeluk, lalu mengangkat Mawar ke sisi ranjang yang lebih atas lagi, membaringkan tubuhnya menindih tubuh wanita itu.
“Terima nasib aja,” bisiknya lalu memagut bibir Mawar yang ranum.
Tidak membalas, tidak juga menolak. Mawar membiarkan Kris melakukan apa yang pria itu mau. Setelah merasa Mawar agak tenang, dan pikiran wanita itu sudah teralihkan, Kris pun menyampaikan rencana lanjutan.
“Besok malam, ada perayaan ulang tahun pernikahan kita, di rumah ini. Undangannya sedikit, kok. Cuma kerabat dan beberapa rekan bisnis penting. Kalau kamu mau, masih ada waktu sehari undang siapa pun yang kamu mau.”
Seperti dugaan Kris, mata Mawar sudah membesar, mulutnya terbuka lebar. “Kris! Kamu tuh!”
Semua makianterdengar, dan tubuh Kris kembali menerima pukulan emosional Mawar, yangsejujurnya saking pelannya, terasa seperti belaian. Mawarnya tidak akan pernahbisa menyakiti orang lain, bahkan saat ia sedang marah.