Membasuh wajahnya, Mawar mencoba menjernihkan pikiran. Ia sudah dijebak, dengan cara yang paling licik. Mau melawan, semua bisa berubah runyam. Dibiarkan, sepertinya Kris akan ketagihan memberinya kejutan. Menemani Kris di Batam, dipaksa kembali pulang, perayaan ulang tahun pernikahan, lalu ... apa lagi?
Semua terlalu cepat, dan tentu saja, mengejutkan. Kris pun seperti bukan dirinya. Perubahan Kris memang terasa belakangan, bahkan sudah berbulan-bulan. Tidak mau menaruh curiga, Mawar menganggapnya sebagai bentuk dari perubahan status, dari pria menikah rasa lajang, menjadi seorang ayah. Biasanya, kata orang-orang, baik lelaki atau perempuan, akan berubah saat bagian dari dirinya telah lahir ke dunia. Kesadaran bahwa ia memiliki tanggung jawab memberikan cinta dan kehidupan yang layak, serta hal-hal lainnya, membuat seseorang merasa ia perlu menjaga sikap.
Sekarang dia harus bagaimana? Menerima dengan pasrah jelas bukan hal yang mudah. Dia tau sekali Nita seperti apa. Wanita itu suka membuat keributan demi mendapatkan apa yang dia mau. Tipe wanita yang tidak tau mana yang salah dan mana yang benar. Tidak sejahat wanita di film India, tetapi cukup mampu untuk membuat Mawar merasa terganggu. Belum lagi si mama mertua kesayangan yang sudah pasti memihak Nita, karena dianggap lebih sempurna.
Menyebalkan. Harusnya Kris melepasnya saja. Meski nantinya Mawar harus hidup sendirian karena saat ia menjanda, tidak ada satu lelaki pun bersedia menikahinya, tidak masalah. Memandang halaman kosong di teras, mengintip hujan dari balik jendela, atau mengenang masa-masa manis bersama Kris sambil telentang di atas ranjang, itu saja sudah cukup. Dibuat bingung seperti ini membuat Mawar merasa ingin ... menangis.
Kris b******n, b******k, egois, dan tidak punya hati. Berkali-kali Mawar memaki dalam hatinya, tetapi itu tidak cukup berhasil memupuk keberaniannya, karena meski menyebalkan, semua ini terasa sedikit manis.
Mawar bertanya-tanya, apakah Kris sedang proses bertaubat, atau hanya sedang bosan, atau memang benar seperti katanya waktu itu, sudah ada cinta di hati pria itu.
Kalau memang sudah ada cinta, harusnya Kris tidak mampu menyakiti Mawar, bukan? Justru mati-matian berusaha membahagiakan? Kalaupun Nita menyerang, dia akan melindungi di baris terdepan, 'kan?
Tapi ... definisi cinta seorang pria seperti Kris itu, yang bagaimana? Ada banyak jenis cinta, dan Mawar tidak mampu menerka jenis cinta apa yang Kris rasakan. Kalau sama seperti yang Mawar rasakan, harusnya seperti terkaannya tadi. Kris akan melakukan segalanya untuk Mawar. Seperti Mawar yang berusaha berdiri tegak meski berkali-kali disiram rasa malu, saat dunia menatapnya dengan pandangan iba, bahwa meski dia wanita yang menyandang status sebagai seorang istri, posisinya seringkali terganti oleh wanita-wanita yang tidak terhitung jumlahnya. Mengenang itu, hati Mawar kembali merasa sakit. Tapi, orang bodoh karena cinta, bukan hanya dirinya, bukan?
Bertahun-tahun bersama, berkali-kali mencoba pergi tetapi tidak pernah bisa, Mawar pernah berpikir kalau mungkin sudah takdirnya. Dia hanya tinggal menunggu Kris lelah, lalu kembali dengan janji setia. Tidak masalah karena saat harus terpaksa menerima, maka lebih baik melakukannya dengan hati terbuka. Bukankah wanita yang mampu memaafkan itu artinya dia sangat mulia?
Tentu saja, semua harapan, impian, dan doa Mawar hancur seketika ketika mengetahui salah satu wanita Kris hamil. Dia mau marah, tapi salahnya juga, tidak mampu memberikan apa yang perempuan itu berikan. Mencoba berbesar hati, ia tidak mampu. Karena itu dia akhirnya sadar diri bahwa posisinya akan segera terganti, hanya tinggal menunggu hari, atau bulan, atau tahun, menunggu saat Kris akhirnya bosan. Tidak ada lagi angan-angan semu. Bagi Mawar, apa yang Kris berikan padanya: uang, perlindungan, kasih sayang, ancaman, dan semuanya, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan Mawar sudah bertekad, ia akan menerima jika nanti setelah menjanda, yang mau menerimanya hanya seorang duda yang ekonominya pas-pasan.
Hidup bersama Kris membuat Mawar tau kalau uang bukan patokan kebahagiaan, apalagi tampilan visual, itu justru racun paling mematikan. Yang biasa-biasa saja. Tidak bisa bahagia, setidaknya Mawar bisa melalui hari dengan perasaan tenang. Kehidupan serba rumit, tidak cocok dengannya yang tidak mampu sakit hati.
Ketukan pintu terdengar. Mawar mendengkus kesal lalu menatap kesal meski sadar pria arogan di balik pintu tidak akan bisa melihatnya. Bahkan di kamar mandi pun dia tidak bisa tenang.
“Mawar, kenapa lama di dalam? Kenapa dikunci?”
“Iya-iya! Nggak sabaran banget, sih!” gerutunya, melangkah cepat, dan dengan segera membukakan pintu.
“Kamu tuh, orang di kamar mandi aja nggak dibiarin tenang. Pelit banget sama kamar mandi. Sana tuh, pakai!” Mawar melangkah keluar, dan merasa gugup saat Kris malah membuntutinya. Kalau sudah begini, sangat jelas apa yang pria itu mau. Kebutuhan hasratnya memang tidak pernah bisa ditunda. Dasar Kris!
Menghempaskan bokongnya dengan kesal, Mawar memainkan jemarinya. Wajahnya menunduk, bukan ingin melihat jemarinya yang bertaut, tetapi menunjukkan pada Kris kalau ia sedang terganggu oleh sesuatu, dan pria itu harus menunda dulu gairahnya.
“Kenapa lagi, heum?” tanya Kris.
Nada berbicara Kris, seperti seorang ayah bertanya pada anaknya. Sangat bukan Kris sekali. Mawar mengangkat pandangannya, menatap Kris lekat. Bukan kagum, melainkan menerka, apakah suaminya telah mengalami pengalaman traumatis sehingga otaknya sedikit miring, atau mungkin pria di sebelahnya sudah berubah, menjadi pria berkepribadian ganda, atau mungkin lebih parah lagi, Kris yang di sebelahnya ini ternyata bukan Kris, melainkan orang yang mirip dan mereka sedang bertukar peran.
Pletak!
Sebuah jentikan yang terbilang kuat, mendarat di kening Mawar, membuat wajah wanita itu kembali masam. “Sakit, tau!” geram Mawar sambil mengelus-elus keningnya.
“Kamu pasti mikir aneh-aneh.”
“Enggak!”
“Iya.”
“Enggak!!!”
“Iya!”
“Ck, ya udahlah, terserah.” Mawar kembali memasang posisi duduk dengan punggung melengkuk.
“Kenapa, heum? Mau pulang? Nggak bisa. Udah dibilang nggak bisa, ya nggak bisa. Kalau kamu nekat, nih, ya, aku jual rumah di sana. Biar pekerja-pekerja di sana pulang kampung juga.”
“Ih, kamu kok gitu, sih?! Kamu udah bilang sama aku loh, tadi, kalau kamu bangunin rumah! Enak aja main usir-usir! Kelihatan banget nggak ikhlasnya! Dasar pelit!”
“Kan kalau kamu pergi.”
“Ya nyatanya aku nggak pergi. Kamu ngomong gitu, ya nggak boleh, dong. Kecuali aku udah susun pakaian ke koper, baru deh, kamu boleh ngancam. Apa-apa ngancam. Kayak nggak ada strategi lain aja!”
Kris terkekeh, lalu menarik Mawar ke pelukannya. “Kalau nggak mikir buat ke sana, terus kenapa?”
“Aku ... aku nggak suka perayaan besok. Kalau Nita tau, dia bisa cemburu, terus balas dendam kayak di film-film. Kamu kan nggak tau perempuan cemburu itu bahaya.”
“Kamu sendiri, nggak cemburu sama Nita?”
“Kalau aku udah bosan cemburu sama kamu. Udah nggak ada gunanya. Lagi pula kalau cemburu kan aku diam aja. Kelahi demi kamu aja aku malas, apalagi sampai pasang siasat jahat. Toh, mau gimana juga, kalau kamunya yang mau sama mereka, nggak akan ada gunanya juga.”
Merasa terlalu banyak bicara, Mawar menghentikan ucapannya. Menggigit bibir bawah karena mendadak merasa takut Kris tersinggung. Ingin menarik tubuhnya yang bersandar, tetapi ia juga takut itu malah semakin membuat Kris marah.
“Mulai sekarang, ayo kita mulai semua dari awal. Aku ... aku bakalan coba belajar setia. Setidaknya, eum, maksudnya, aku akan berusaha ... aku nggak akan tidur dengan perempuan lain lagi. Gimana?”
Mengangkat kepala dari bahu pria itu, Mawar menatap Kris dengan pandangan geli. “Kalau nggak bisa nepatin, nggak usah janji! Nanti kalau nggak ditepatin, kamu dosanya tambah banyak. Udah melanggar norma agama, melanggar janji sendiri, lagi. Double!” ejek Mawar sambil mengerucutkan wajahnya.
“Aku lagi nyoba berubah, Mawar, dan aku serius. Itu kenapa aku memaksa kamu pulang. Karena tanpa kamu, semua nggak aka nada gunanya. Satu-satunya wanita yang aku anggap pantas menerima kesetiaan semacam itu ... cuma kamu.”
Pandangan Kris yang intens dan menyiratkan kejujuran, membuat Mawar terdiam. Bahkan saat sudut bibirnya ditarik hendak membentuk senyum, dia malah merasa aneh. Yang pada akhirnya, membuatnya menundukkan kepala. Dijanjikan hal semanis ini oleh pria seperti Kris, siapa yang tidak merasa istimewa.
Dari awal mereka berkenalan, pria itu memang tidak pernah menjanjikan apa pun, selain keamanan finansial, perlindungan, dan posisi sebagai istri sah. Tidak ada kata-kata cinta, tidak ada momen merancang masa depan, tidak ada visi dan misi keluarga yang pernah mereka bahas. Bahkan, hal romantis rasanya tidak pernah Mawar dapatkan. Kris itu hanya tau memberi dan menerima. Dia memberikan sesuatu pada Mawar, dan sebagai gantinya, Kris harus mendapatkan apa yang dia mau. Tidak ada bujuk rayu sebelum bercinta, atau lebih tepatnya bersenggama, karena Kris tinggal merengkuh tubuhnya lalu mereka melakukannya sampai Kris memutuskan cukup.
Itulah yang membuat Mawar tidak berani berharap banyak. Pria yang sedari awal saja sudah seperti itu, apalagi saat tahun-tahun pernikahan mulai memberikan kejenuhan.
Jemari Kris menjepit dagu Mawar, menuntun kepala wanita itu kembali terangkat, mengadah, memandang Kris. Melihat pandangan Kris yang seolah memohon, Mawar memalingkan wajahnya, dan kembali dipaksa menatap Kris dengan jemari pria itu. “Aku serius. Mungkin ini ... terdengar konyol dan ... memalukan. Tapi perlu kamu tau, belakangan, bersama ... orang lain ...” Kali ini Kris-lah yang menundukkan pandangan. Tangan pria itu sudah tidak lagi menahan wajah Mawar agar tidak berpaling pandang, melainkan tertaut persis seperti jemari Mawar tadi. “Bersama orang lain, tidak lagi terasa seperti dulu. Dan bahkan ....” Pria itu kembali menghentikan ucapannya, membuka mulutnya dengan rahang yang bergerak-gerak, seperti kehilangan kata-kata. Menghela napas panjang, Kris kembali angkat bicara. “Aku tidak lagi bisa menikmatinya selain bersama kamu. Nggak munafik, yang namanya laki-laki, pasti aku masih terangsang sama perempuan yang ... kamu taulah, gimana. Tapi ... sebatas itu aja. Nggak ada lagi ketertarikan yang begitu kuat untuk terlibat bersama mereka, seperti yang sebelumnya.”
Merasa percaya, tetapi Mawar lebih memilih melengkungkan bibirnya ke bawah. “Bohong banget,” gumamnya pelan.
“Untuk apa coba, aku bohong?”
Mawar mengedikkan bahunya. “Supaya aku tertipu,” jawabnya menerka.
“Dan apa yang aku dapetin kalau aku berhasil buat kamu tertipu?”
“Ya ... senang karena kamu berhasil, lah!”
Kris tertawa. Mencubit kedua pipi Mawar dengan kuat, yang membuat Mawar menggerutu kesal. “Lama-lama pipiku lebar kamu cubit terus!”
“Yang di bawah aja nggak tambah lebar, aku masukin terus.”
Membelalak kaget, tangan Mawar mengepal refleks, dan langsung melayangkan pukulan ke paha pria m***m di depannya. “Kamu ini, apa, sih! Ngeres otaknya.”
Kris tertawa lagi, lebih keras, seperti puas telah membuat Mawar marah. “Coba aja, ayo, kita buktiin. Terakhir kali, sih, memang masih ketat, jepitannya.”
“Krrriiiisss, jangan gitu ngomongnya! Aku geli, tau nggak!”
“Geli? Nggak nafsu, Sayang?” Kris menarik tangan Mawar sehingga tubuh Mawar sedikit tersentak ke depan, ke arah tubuh Kris. “Jangan-jangan, kamu pelet aku.”
“Eh, aku nggak pernah main ilmu hitam, ya! enak aja,” sungut Mawar.
“Masak, sih?”
Kris kembali menarik Mawar mendekat. Mawar menggeliatkan tubuhnya, menunjukkan penolakan, tetapi memang tidak sungguh-sungguh karena tau tidak akan ada gunanya. Bahkan jika ia menangis dan berteriak meminta agar Kris tidak melakukannya, pria itu tidak akan berhenti. Dia punya seribu satu cara memaksa Mawar, atau mungkin selama ini Mawar yang memang tidak sungguh-sungguh dalam menolak.
“Krisss,” erang Mawar. Pria itu menciuminya, di wajah, di leher, dan di tengkuk. Tangan Kris yang satu meremas d**a Mawar, dan yang satu lagi bergerak menekan sesuatu di bawah sana. Titik di mana denyutan nikmat terasa begitu jelas. Tidak bisa memilah ia harus merapatkan kaki atau malah mengangkang, Mawar hanya mengetatkan otot kakinya, menggigit bibir saat siksaan kenikmatan itu terasa semakin menyiksa.
“Kriss, udah,” rengeknya. Tekanan jemari Kris semakin membuatnya kehilangan kendali. Titik sensitifnya di bawah sana sudah basah, dan meski ia masih mengenakan celana dalam, seakan jari Kris sudah menyentuhnya secara langsung. Kenikmatannya terasa begitu nyata.
Tubuh Mawar melemas. Ia menyandarkan tubuhnya pada tubuh Kris, karena tangan pria itu memang melingkar di tubuh belakangnya, menghalanginya untuk berbaring di ranjang. Tidak lagi sempat memikirkan gengsi, Mawar membuka kakinya lebar. Benda basah di telinga dan sekitaran lehernya yang terus membelai, dan jemari yang menekan dan menggesek kuat dengan gerakan yang tepat, membuatnya mengadahkan kepala.
“Eeengghhhh,” rengeknya kesal saat Kris menyudahi kegiatannya. Ia merasa dipermainkan. Dan saat mulutnya baru akan terbuka, Kris sudah mengangkatnya ke atas pangkuan pria itu dengan posisi membelakangi. Kris menarik kaki Mawar bergantian, kiri dan kanan, agar keduanya terbuka lebar, bertumpu di sisi luar kedua kaki Kris yang mengangkang. Rasanya, Mawar benar-benar terekspos. Bagian di bawah sana seakan terbuka lebar, dan kosong. Hampa, butuh sesuatu untuk memenuhinya.
Menoleh ke belakang, Mawar bertanya tanpa suara apa yang akan Kris lakukan selanjutnya. Pria itu malah menjawab dengan pagutan. Satu tangannya Kris melingkar di tubuh depan Mawar, terasa seperti menahan, dan berpegangan pada p******a Mawar. Meremas kuat, lebih tepatnya. Sedangkan, tangan yang satu lagi, kembali bergerak di atas kulit yang sedari tadi sudah berdenyut kencang, protes, meminta perhatian berbentuk penuntasan.
Tidak pernah seperti ini. Seperti terhipnotis pada hal-hal baru yang Kris lakukan padanya, Mawar tidak protes saat Kris melakukannya lagi dan lagi. Bahkan, ia menunggu. Penasaran, strategi baru apa yang akan pria itu gunakan agar mereka sama-sama mendapatkan kepuasan.