“Sudah selesai,” ucap make up artist yang berjenis kelamin lelaki, tetapi bersikap tubuh perempuan, yang sejak satu jam lalu merias wajah Mawar. Dia memandang Mawar lama, lalu tertawa sendiri setelahnya, seakan puas sekali dengan hasil kerjanya.
Mawar mendengkus kesal. Ada yang aneh. Bukan, semuanya justru terasa aneh. Mereka tidak pernah merayakan ulang tahun pernikahan seperti ini, dan saat ini, Mawar merasa kalau ini bukan seperti pesta ulang tahun pernikahan. Ucapan cinta Kris tadi malam, membuatnya merasa telah memasuki gerbang kehidupan yang baru. Seakan dia dan Kris baru bersepakat untuk menjalin hubungan serius, dan hari ini mereka menikah.
Perasaan tidak menentu yang bercokol di hatinya, dilampiaskan dengan memasang wajah masam. Sedari tadi, ia sibuk berkeluh kesah. Gaun yang disediakan untuknya memang terlihat mewah dengan hiasannya, tetapi potongannya justru terlihat tidak menarik. Dadanya terlalu tinggi. Bukan jenis gaun yang Mawar sukai. Riasannya pun harus disesuaikan dengan gaun formal itu sehingga ia tidak bisa berdandan sederhana. Pestanya jugaa begitu mendadak. Meski sebenarnya, percuma saja ia melakukan itu. Kris tidak akan mau mendengar. Apa yang menurut pria itu harus terjadi, maka akan terjadi.
“Ih, Mbak gimana, sih?! Udah aku dandanin cuantik banget gini, kok malah lesu!” goda pria gemulai itu sambil memasang wajah cemberut.
Mawar menarik bibirnya paksa lalu membesarkan mata, menunjukkan ketidak-sukaannya pada si make up artist.
“Sudah selesai?” tanya Kris yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Mawar menatap dari pantulan cermin, dan begitu mereka bertatap mata, ia segera mengalihkan pandangannya. Kris dengan pakaian serba hitam, terlihat begitu rapi dan resmi, malah membuat jantungnya semakin berdetak kencang. Meski membenci, malam ini dia sadar menghapus rasa cinta tidak akan semudah itu.
“Kok cemberut, heum?” Kris yang sudah berdiri di sebelah Mawar, menarik wajah Mawar hingga menoleh, lalu memandangi bagian wajah Mawar perlahan-lahan, seakan meneliti.
“Cantik, kok. Kenapa malah cemberut?” tanyanya pada Mawar, tetapi karena Mawar diam saja, ia menoleh ke pria gemulai yang masih bertahan di sana.
“Nggak tau, tuh, Bos. Manyun aja. Padahal tadi eyke udah kasih bilang, loh, boleh ala-ala Megan Markle, boleh juga ala Korea biar kesannya fresh gitu, tapi malah nggak mau. Eyke kan jadi bingung. Padahal ini kan cantik banget. Nggak tau deh, kurang apaan.”
Bibir Mawar sudah bergerak-gerak, tapi ia tidak juga bicara. Masih malas karena ada makhluk yang menjadi orang ketiga di antara mereka. Tidak rela kalau sungutannya didengarkan secara gratis oleh pria yang sangat mungkin adalah biang gossip.
Kris menggerakkan kepala, menunjuk ke arah luar dengan dagunya, membuat si pria gemulai keluar dengan segera. Melihat itu, Mawar menyiapkan diri untuk dipaksa menjawab.
“Kenapa, heum?” Kris duduk di atas meja, di depan Mawar.
“Ini baju apa?!” sungut Mawar. Mengangkat kedua tangannya dan sedikit membusungkan d**a, yang sialnya, malah membuatnya semakin kesal karena Kris fokus menatap ke dadanya, dengan pandangan mendamba.
“m***m!” sungut Mawar lagi.
“Cantik, kok.”
Lagi dan lagi, Kris hanya mengucapkan dua kata itu. Merasa gamang dengan pandangan pria itu, yang begitu intens, Mawar berdeham, lalu berdiri dengan gerakan cepat. “Ya udahlah, terserah kamu! Ayo, turun!” ucapnya ketus.
Tangan Kris menarik tangannya hingga tubuh Mawar tertarik ke arah pria itu. Mawar berusaha memundurkan tubuhnya, tetapi tangan Kris sudah melingkar di pinggangnya, memeluk dengan posesif. “Kamu nggak akan paham perasaanku sekarang ini, Mawar. Kamu nggak tau rasanya baru menyadari perasaan cinta dan ketergantungan yang begitu besar pada seseorang. Ada berbagai perubahan dalam diri seseorang yang sedang dilanda cinta, dan mungkin, aku termasuk yang menjadi menyebalkan.”
Lagi dibuai dengan kata cinta, Mawar kehilangan kata-kata. Ingin mengabaikan, matanya malah menatap lurus ke depan, ke mata Kris, mencari celah kebohongan. Menunggu sudut mata pria itu mengerut karena tertawa, menertawai percayanya Mawar akan kebogongannya, tapi tidak ada. Kris masih intens menatapnya, hingga mereka bertatap-tatapan, begitu terus, sampai mata Mawar terasa perih.
“Go ... gombal ....”
Mawar mengutuk dirinya sendiri yang hanya bisa mengucapkan kata itu dengan nada yang aneh. Kris menjadi menyeramkan kalau sedang marah, tetapi saat sedang begini, ternyata dia lebih menyeramkan lagi. Seolah dia adalah orang lain di dalam tubuh yang sama. Mawar bahkan menduga, jangan-jangan, ini adalah orang lain yang sedang menyamar. Seperti film yang pernah ditontonnya, dan buku yang pernah dibacanya.
Pletak!
“Aduh!” ringisnya. Matanya langsung menyorot kesal ke arah Kris. “Sakit, tau! Nggak sopan kamu mukul-mukul kepala! Kalau otak aku geger, gimana? Amnesia?!”
Bukannya memasang wajah bersalah, atau meminta maaf, Kris malah tertawa terbahak-bahak. Dia menarik Mawar lalu memeluk erat. Membuat Mawar segera mendongakkan wajahnya agar saat dipeluk seperti itu, wajahnya tidak mengenai bahu Kris. Bisa luntur bedaknya.
“Kamu itu ... unik. Mana bisa aku ke perempuan lain, kalau kamu semenggemaskan ini.”
Merasa risih dengan gelagat Kris yang mulai menciumi kepalanya, lalu turun ke lehernya, lalu bahunya, Mawar segera menginjak kaki Kris.
“Dasar m***m!” ejeknya, lalu ia berjalan cepat ke pintu.
Tentu saja Kris bisa menyusul dengan cepat, hingga mereka berjalan beriringan menuruni tangga. Pestanya diadakan di kebun, tetapi ada beberapa orang yang masih berdiri dan berbincang di ruang tamu, dan mereka semua langsung menatap ke arah Kris dan Mawar. Pandangan mereka, membuat Mawar gugup seketika. Membuat kakinya melemas, dan tubuhnya memanas. Dia ciut karena pemikiran bahwa semua orang sekarang sedang menghakiminya sebagai istri yang gagal dan dalam usaha memperbaiki rumah tangganya.
Beberapa wanita berbisik-bisik, yang langsung diartikan Mawar sedang menggunjingkannya, dan besar kemungkinan sedang membandingkan antara dirinya dan Nita. Bagi kalangan mereka, memuji wanita idaman lain bukan hal memalukan, meski mereka sendiri adalah seorang istri. Mawar terkadang memang emosi membaca beberapa artikel, atau postingan di sosial media, yang sangat vocal dalam menghakimi wanita idaman lain. Atau mereka sebut dengan kata 'pelakor'.
Lingkungannya terbiasa dengan perselingkuhan, maksudnya lingkungan kehidupan Kris yang menjadi lingkungannya juga setelah mereka menikah, sehingga kenyataan tabiat Kris amat sangat tidak terpuji, tidak membuat pria itu mendapatkan kendala berarti. Bahkan, terkadang, mereka membahas perselingkuhan Kris dengan gaya bercanda. Kris memang tidak menanggapinya, terkadang juga menegur, tetapi tetap saja, sedari awal, Mawar merasa tidak dibela siapa pun.
Hanya keluarganya, tapi dia pun berusaha bersikap tidak memedulikan pembelaan itu, karena malu. Semua memang salahnya yang tidak bisa tegas.
Pandangan Mawar akhirnya menemukan mereka-keluarganya. Kepalanya sempat menoleh kea rah lain, merasa tidak sanggup bertemu pandang dengan sang ibu. Wanita yang paling dicintainya itu sedang tersenyum, tetapi terlihat tidak bahagia. Justru terlihat seperti sedang meneliti, apakah Mawar baik-baik saja atau tidak, bahagia atau tidak. Saat sudah bisa menekan rasa bersalah dan sedihnya, barulah Mawar memandang ke arah keluarganya berkumpul lagi dengan senyum mengembang.
“Aku mau ke Mama,” ucap Mawar saat Kris hendak menariknya ke arah lain.
“Keluargaku dulu, baru keluarga kamu.”
“Tapi aku ....”
“Sebentar aja.”
Merasa kesal, tetapi tidak ingin menjadi bahan tontonan dengan perdebatan, Mawar akhirnya menuruti Kris. Menemui keluarga pria itu yang sebenarnya menyebalkan sekali. Papa Kris memiliki banyak wanita simpanan terang-terangan, bahkan dia membawa satu simpanan kesayangannya malam ini, digabungkan dengan istri sahnya yang duduk di kursi roda. Kris memiliki dua adik perempuan, dan satu telah menikah, yang sialnya bersuamikan pria mata keranjang. Mawar tidak pernah mengatakan hal memalukan yang pernah dialaminya, hanya karena tidak ingin Kris membuat keributan, bahwa adik ipar Kris itu pernah dengan tidak sopan. Sekarang pun, pria tampan tapi sangat murahan itu sedang memandangnya dengan senyuman menjijikkan.
Sepertinya, semua pria b******k memang terkumpul di keluarga Kris. Berbeda sekali dengan keluarga Mawar. Papanya baik dan lembut, abang dan adiknya pun sama. Dia benar-benar terpeleset sehingga mendapatkan jodoh seperti Kris. Bahkan ibunya yang dulu menyuruhnya bersabar, berjuang merebut Kris dari para wanita di luar sana dan mengajari pria itu arti setia, kini sudah mulai berharap mereka bercerai.
“Kakak ipar,” sapa adik Kris, terlihat melempar senyum mengejek. Mungkin dia tau suaminya menyukai Mawar, atau mungkin juga memang karakternya buruk. Mawar memang tidak pernah dekat dengan keluarga Kris.
“Hai, Kakak ipar.” Kali ini, adik perempuan Kris yang paling kecil, yang memang tidak pernah menunjukkan sikap permusuhan. Mawar paham, dia tidak mau kehilangan sumber uangnya, sama seperti Mawar dulu.
Mau tidak mau, Mawar menyalami semua anggota keluarga Kris. Setelah selesai sapa menyapa, ternyata Kris tidak kunjung beranjak. Dia asik menanggapi ucapan papanya. Mawar menoleh ke keluarganya, mereka masih berdiri di sana, tetapi memalingkan wajah saat pandangan mereka bertemu, yang diartikannya sebagai usaha untuk tidak membuat Mawar memaksa Kris mendatangi mereka. Tidak ingin ada perkelahian.
“Kris, mau ke Papa-Mama,” bisik Mawar.
Kris menoleh, membalas berbisik, “Tunggu.”
“Aku pergi sendiri aja.”
“Eum, dilanjut nanti, Pa. Aku ke keluarga Mawar dulu.”
Papa Kris menyuarakan protesnya. Sama seperti Kris, pria tua itu tidak suka diabaikan. Merasa tidak enak, Mawar sempat menyuruh Kris tetap meladeni papanya, biarlah Mawar yang menghampiri keluarganya sendirian, tetapi Kris menolak.
“Malam, Ma, Pa, Bang, Sur, Fin ....” Kris menyapa keluarga Mawar dengan lengkap. Bahkan, dia menempelkan tangan orang tua Mawar di keningnya saat bersalaman. Sempat membuat keluarga Mawar melongo.
Selesai Kris, giliran Mawar yang menyapa keluarganya. Memeluk satu per satu dengan perasaan rindu. Sempat menitikkan beberapa tetes air mata yang langsung dihapusnya. Setidaknya, jika ia tidak bisa tegas pada Kris, ia harus mampu untuk terlihat kuat di depan keluarganya.
“Kamu cantik banget,” puji mama Mawar.
Tersipu, Mawar menyenderkan tubuhnya pada sang papa. Pria yang paling ia percayai di dunia ini. “Makasih, Ma. Tapi baju Mawar jelek, kan? Pilihan Kris, nih. Aneh. Selera Kris jelek banget, kan?” ucap Mawar sambil memasang wajah penuh permusuhan pada Kris.
Serempak keluarga Mawar tertawa, sedang Kris hanya menggaruk kepalanya. Tidak membantah sama sekali.
“Kris itu mau kamu nggak seksi, mungkin. Begini kan sopan. Nggak kayak pilihan gaun kamu yang biasanya. Bagus, dong.”
Mawar mengerutkan kening, lalu memandang pakaiannya lagi, merasa setuju kalau pakaiannya lebih sopan dari biasanya. “Tapi ... tapi ....” Mencoba menari celah membantah ucapan sang mama, Mawar langsung bungkam saat melihat senyum lebar Kris, seolah membenarkan.
Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah Kris membatasi gaya berpakaian Mawar. Justru wanita lain yang pernah dengan Kris itu lebih seksi. Berbeda dengan Mawar yang meski memakai gaun tanpa lengan dan rok pendek pun masih terkesan biasa saja. Saat mereka kuliah dulu pun, Mawar yang memutuskan mengganti rok dengan celana karena terkadang tangan Kris suka meraba pahanya meski mereka berada di tempat umum.
Hanya karena itu, bukan karena larangan.
Lalu, kenapa sekarang menjadi tabu untuk tampil dengan gaun yang lebih terbuka?
“Ih, udah tua masih aja malu-malu!” geram abang Mawar, yang menghadiahi cubitan di pipi Mawar.
“Ih, Abang apaan sih! Bedak aku luntur, nih!” gerutu Mawar sambil menepis tangan abangnya.
“Ciee yang dipuji cantik, takut jadi jelek karena bedaknya luntur!” Kali ini adik Mawar yang mengejek.
“Ih, kamu ini ya ....” Tidak sampai selesai ungkapan kekesalan Mawar lontarkan karena tubuhnya ditarik secara tiba-tiba, membuatnya kaget, memandang Kris bertanya.
“Kenapa, sih?” tanyanya karena tak kunjung mendapat jawaban. Kris hanya menggelengkan kepalanya, membuat Mawar hanya bisa mendecak kesal.
“Acara udah mau mulai, nih. Ke luar, yuk?!” Kris mengajak keluarga Mawar, tentu saja sekaligus menarik Mawar untuk mengikuti langkahnya.
Masih sama, semua mata langsung memandang ke arah mereka. Merasa canggung, Mawar mengalihkan pandangan. Tidak lagi mencari tau ke sekeliling. Kini, pandangannya lurus ke depan, ke arah panggung mini yang dihias dengan sederhana. Band yang sedang memainkan musik dengan lagu romantis, menambah kesan sakral langkah demi langkahnya menuju panggung itu. Sayang, suasananya sedikit rusak karena pandangan wanita yang menjadi penyanyi pengiring, menatap Kris dengan begitu intens. Seakan menyanyikan lagu romantis itu sebagai persembahan untuk Kris, dari dirinya.
Merasa berhak sedikit posesif, Mawar mengetatkan genggaman tangan mereka. Saat Kris menoleh, Mawar mengabaikannya. Beberapa langkah di depan panggung, wanita yang tadi menyanyi itu, beralih fungsi menjadi MC dan mulai berkata-kata untuk memeriahkan acara sejenak, lalu menyampaikan selamat pada pasangan yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan, dan menyilakan mereka untuk ke panggung.
“Aku di sini aja,” ucap Mawar, menahan tubuhnya agar tidak tertarik oleh Kris, dan penolakannya berakhir saat itu juga karena Kris segera mendelikkan mata dan dengan raut wajahnya yang masam mengirimkan pesan bahwa jika Mawar tidak menurut maka dia bersedia menarik paksa.
“Selamat malam, semuanya. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk mendatangi pesta sederhana ini. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa saya membuat pesta ini, bukan? Karena semua pasti tau, jenis pesta apa yang biasa saya datangi.”
Sontak, gelak tawa langsung terdengar. Mawar merasa malu, karena apa yang Kris anggap prestasi itu, aib bagi dirinya. Apalagi ada keluarganya juga, yang kini sudah menyusul ke kebun, sedang menatap mereka. Dia merapatkan tubuh ke Kris, hendak menegur, tetapi Kris malah merangkul dan memeluk pinggangnya. Membuat tubuh mereka menempel erat.
“Beberapa tahun lalu begitu, tetapi seiring berjalannya waktu, semua jadi membosankan. Memang hal-hal seperti ini terasa sangat manis, tidak cocok dengan saya, tetapi istri saya pasti sangat menyukainya, dan saya sedang belajar menyukai semua yang istri saya sukai.”
Lagi, sorak sorai terdengar. Kali ini bersorak menyemangati ucapan Kris yang sedang menggombal.
“Kris, apaan sih,” bisik Mawar bersungut-sungut, yang dibalas Kris dengan kecupan di dahi.
“Kami sudah menikah selama enam tahun, dan itu bukan hal yang mudah. Banyak ketidak-cocokan di antara kami, tapi di antara semua wanita, Mawar yang paling cocok dengan saya. Ya ... meski tidak cocok pun, saya memang tidak akan melepaskan dia. Banyak wanita yang bisa memuaskan, tetapi tidak banyak yang mampu mengajarkan apa arti kebahagiaan. Meski saya tidak sempurna, saya butuh Mawar di samping saya, hanya dia, untuk bisa menyempurnakan kehidupan saya. Kekurangan yang saya miliki, dan kekurangan yang dia miliki, tidak akan berpengaruh apa pun pada hubungan kami. Selama enam tahun belakangan, saya telah menjadi suami yang paling menyebalkan untuk istri saya, dan untuk menebus semua itu, saya rasa hukuman yang paling pantas adalah ... dengan sedikit malu karena ini memang ...” Kris menatap Mawar intens, “tidak pernah saya lakukan sebelumnya, dan mungkin juga bukan lagi hal yang cocok dilakukan oleh pria seumuran saya. Malam ini saya akan membuat pengakuan, kalau saya sangat mencintai Mawar.”
Suasana mendadak hening, atau memang keterpakuan Mawar membuat telinganya tidak lagi berfungsi. Yang ada di pandangannya hanya Kris, yang ada di pendengarannya hanya suara Kris, dan yang ada di pikirannya hanya kata cinta yang barusan Kris pamerkan. Ia menenggak ludah, tidak mampu berkata dan berbuat apa pun, hanya menunggu, menunggu apa yang akan Kris lakukan selanjutnya.
“Aku mencintai kamu, Mawar, dan terima kasih karena selama ini kamu mencintai aku juga.” Senyuman jahil yang menghias wajah Kris dan tawa yang kembali terdengar membuat Mawar tersadar dari keterpukauannya, mencubit pinggang Kris kesal, lalu saat pria itu menarik Mawar ke dalam pelukannya, ia membalas pelukan itu.
“Siapa coba, yang cinta sama kamu? Ge'er!” ucap Mawar, yang untungnya wajahnya menoleh ke arah berlawanan dengan kumpulan para tamu. Jantungnya berdetak sangat kencang, dan ia merasa Kris pun sama.
“Tidak banyak wanita yang bisa tegar menunggu prianya pulang, dan tidak banyak pria yang beruntung karena saat ia pulang, wanitanya telah pergi. Saya beruntung, dan saya harap kalian pun sama. Selama ulang tahun pernikahan untuk istriku tercinta, dan selamat menikmati hidangan untuk kalian semua. Jangan segan menghabiskan makanan dan minuman malam ini, karena saya sedang bahagia.”
Selesai mengucapkan itu, Kris kembali memeluk dan mengecupi kepala Mawar, membuat Mawar malu untuk melepaskan diri. Dia tidak sanggup melihat reaksi orang-orang atas tingkahnya yang seperti remaja kasmaran.
“Waahh, romantis sekali, ya, pasangan ini. Saya jadi iri. Jarang, loh, pria segagah, semacho, dan seganteng Mas Kris ini bisa seromantis ini. Tepuk tangan dulu, dong, untuk pasangan manis ini.”
Wanita tadi, kembali mengambil peran sebagai pemeriah acara. Setelah mengucapkan pujian-pujian yang terdengar seperti ucapan penjilat di telinga Mawar, MC itu membujuk Kris untuk duet bersamanya, bernyanyi, tetapi Kris menolaknya. Dia lebih memilih membawa Mawar berkeliling, bersalaman dengan tamu-tamu yang mengucapkan selamat.
“Kris, aku ke Mama, ya?” ucap Mawar karena sudah beberapa jam masih ada saja orang yang mengajak Kris berbincang. Mawar jarang bertemu dengan keluarganya, dan malam ini dia sedang ingin berbagi kebahagiaan bersama sang mama, meski hanya sekedar membicarakan hal lain.
“Nanti, sama-sama.”
“Udah jam berapa coba? Mama itu nggak bisa tidur larut, jadi sebentar lagi pasti pulang. Sebentar aja, ya?” bujuk Mawar.
Kris mengerutkan keningnya, lalu mengangguk sambil membuang napas. “Janji nggak bicara macam-macam sama mama kamu?”
“Bicara macam-macam?”
“Pokoknya, jangan bicara yang aneh-aneh. Aku nggak suka. Paham?”
Malas mendebat, Mawar mengangguk. Sebelum beranjak, Kris mengecup kening dan bibirnya singkat. Mawar pun segera berjalan cepat ke arah keluarganya.
“Mama ....” ucapnya manja, lalu masuk ke pelukan sang mama. Tanpa ia ucapkan pun, Mawar merasa, sang mama pasti tau apa yang ia rasakan.
“Apa itu tadi? Heum? Sudah baikan?”
Mawar menggelengkan kepalanya. Dikatakan sudah kembali akur layaknya suami istri normal, tidak juga. Semua serba mendadak sehingga Mawar menarik kesimpulan kalau semua ini tidak semanis yang terlihat. Masih banyak hal yang mengganjal, tentang Nita, tentang anak Kris, dan masih banyak hal lainnya.
“Selamat malam, semuanya. Tadi anak saya sudah memberikan kata sambutan, pengumuman kata-kata cinta, dan mereka pun sudah menerima ucapan selamat. Sekarang, saya mau memberikan pengumuman yang lain, yang juga membutuhkan ucapan selamat. Di sana ...” Mama Kris yang sudah berada di panggung menunjuk ke sebuah arah, yang langsung diikuti oleh semua orang termasuk Mawar. Di sana, berdiri dengan balutan yang begitu menggoda, berwarna sama dengan gaun yang Mawar kenakan, Nita. Di belakangnya ada suster yang membawa anaknya, dan anak Kris tentu saja. “... ada Nita. Wanita yang bukan siapa-siapa, tetapi telah memberikan kelengkapan dalam kehidupan anak saya ... Kris. Dan sekarang akan lebih lengkap lagi karena dia sedang mengandung anak Kris yang kedua. Sudah tiga bulan berjalan.”
Sontak, suasana kembali ricuh. Pandangan Mawar langsung tertuju pada bagian perut Nita, yang memang terlihat sedikit membuncit. Tubuhnya melemas, yang langsung ditopang sang mama. Mawar tidak bisa berpikir apa pun lagi. Yang dia tau, Mama Kris sedang menyudutkannya, dan wanita itu telah berhasil, dengan telak.
Posisi istri sah yangia sandang, telah kalah jauh dari Nita, sang simpanan.