"Sabar, Sayang. Sabar...." Ucapan itu terus dibisikkan mama Mawar sembari memberikan pelukan hangat. Berbading terbalik dengan papa dan saudara Mawar yang lain, sudah mengomel mengenai tindakan yang mereka anggap sebagai usaha mempermalukan mereka.
"Sudahlah, ceraikan saja suamimu itu! Ini sudah keterlaluan!" geram papa Mawar.
"Ma, Mawar ikut Mama pulang, ya?" ucap Mawar lirih. Bahkan untuk bersuara saja dia tidak mampu lagi. Tubuhnya benar-benar lemas. Tidak siap dengan sesuatu yang sebesar ini. Seumur pernikahan mereka, ini adalah kejadian yang paling menyakitkan, dan tidak mampu lagi ia tolerir. Menggabungkan dia dengan Nita dalam satu tempat, ditambah pengumuman kehamilan wanita itu, sama saja dengan membunuhnya secara perlahan.
"Mawar, kita bicara!"
Mendengar suara Kris, Mawar memeluk sang mama lebih erat lagi. Tidak peduli apa pun yang Kris lakukan, dia tidak mau melihat wajah pria itu lagi. Dia hanya ingin pulang.
"Wow, wow, mau ngapain lo? Ha? Nggak ada, Bro! Adek gue bakalan balik ke rumah mala mini ju ...."
Bough!
Suara hantaman terdengar dan teriakan panic mengiringi. Mawar melepas pelukannya, membelalak saat sang abang sudah terkapar dengan sudut bibir mengeluarkan darah.
"Kris! Kamu ...."
"Kita masuk!" geram Kris, berjalan cepat menghampiri Mawar dan menarik tangan wanita itu dengan kuat.
"Jangan kasar kamu, sama anak saya!" teriak papa Mawar.
"Kris, sudah. Jangan ganggu Mawar lagi, Nak. Biarkan kami membawanya pulang." Kali ini, mama Mawar yang memohon.
"Tolong, jangan ikut campur masalah rumah tangga kami. Saya pastikan Mawar baik-baik saja, dan tidak akan pergi ke mana pun."
"b******k!" Adik lelaki Mawar, sudah melangkan tinjuan ke perut Kris.
Kris memaki, melepas tangan Mawar, membalas pukulan itu dengan brutal. Dasarnya keluarga Mawar tidak suka berkelahi, dengan cepat Kris sudah berhasil menumbangkan adik Mawar.
"b******k kamu! Jangan sakitin adik aku, Sialan!" maki Mawar, memukuli punggung Kris. Karena tidak digubris, Mawar menangkap lengan Kris, menariknya agar Kris berhenti menendangi perut adiknya.
"KRIS! Kurang ajar sekali kamu, pada keluarga saya! Berani-beraninya kamu ...."
"Saya akan melawan siapa pun yang ingin membawa Mawar keluar dari rumah ini. Tidak akan. Dia tidak akan pergi tanpa seizing saya."
"b******k kamu! Siapa yang mau sama kamu? Ha?! Kamu makan itu Nita! Aku benci sama kamu! Aku mau cerai sama kamu! Cerai! Titik! Aku mau cerai!" teriak Mawar berapi-api, kembali memukuli tubuh Kris.
Pandangan Kris berubah menyeramkan. Dia menatap Mawar lama, tanpa kata, membuat Mawar merasa takut. Namun, saat Mawar hendak kembali melangkah mendekati mamanya, Kris kembali menarik tangan Mawar.
"Kalau kamu mau semuanya lebih ribut daripada ini, aku nggak masalah," bisik Kris mengancam, membuat Mawar yang sudah kehabisan kesabaran melayangkan tamparan ke pipi Kris.
Seorang istri bisa menerima perlakuan buruk pada dirinya, seorang menantu bisa menerima sikap tidak menyenangkan mertua, tetapi seorang anak tidak akan bisa menerima jika orang tuanya dipermalukan, apalagi saudaranya disakiti tepat di depan mata saat sedang memberikan pembelaan. Keluarga Kris yang salah, tetapi keluarga Mawar yang terkena imbasnya.
"Maaf .... Maafkan saya .... Semua ini salah saya, Pak, Bu, bukan Kris." Nita menghampiri mereka dengan berurai air mata. "Saya sudah merahasiakan kehamilan saya, tetapi mama Kris yang memaksa saya ke sini. Maaf, tapi kami memang sudah sepakat untuk tidak mengumumkan kehamilan saya yang sekarang ini. Saya dan Kris ...."
"Buat apa kamu meminta maaf pada mereka? Anak mereka yang salah karena tidak bisa hamil, kenapa jadi kamu yang salah? Justru kamu membantu mereka, bukan? Kalau tidak karena kamu, keturunan keluarga kami sudah berhenti! Tidak ada penerus!"
"Mama!" bentak Kris. Dia mengacak rambutnya kasar.
"Mama kamu benar. Aku yang salah, karena sampai saat ini, aku belum juga hamil anak kamu! Aku ... mungkin Tuhan nggak suka aku nikahnya sama kamu, makanya nggak dikasih anak! Kita cerai aja! Kamu lanjutin hubungan kamu sama Nita, dan aku mencari pria yang ..."
"Diam! Diam! Diam!" teriak Kris. Matanya sudah memerah dan dadanya naik turun dengan cepat. "Jangan sembarangan bicara, kamu!" teriaknya pada Mawar sambil menunjuk. "Enggak akan ada laki-laki lain! Kalau aku nggak bisa milikin kamu, nggak ada laki-laki lain yang bisa!"
Mendengar itu, Mawar mundur perlahan, mencari saat yang aman untuk berlari berlindung ke tengah keluarganya. Namun, baru dua langkah, Kris sudah kembali menarik tangannya, dan langsung menarik Mawar paksa menuju arah rumah.
"Pulang kalian semua! Pesta bubar! Pulang!"
"Kris, lepaskan Mawar!"
"b******k! Lepasin adek gue!"
Dan masih banyak lagi teriakan lainnya yang Kris abaikan. Mawar memberontak, berusaha agar cekalan tangan Kris yang begitu kuat, terlepas.
"Kamu b******k, Kris! Aku benci kamu! Benci banget!" teriak Mawar, berusaha memancing amarah pria itu agar akhirnya dengan penuh emosi Kris bersedia melepaskannya. Selagi ada keluarganya. Dia ingin ikut pulang. Tidak perlu membawa apa pun karena saat ini dia hanya ingin berkumpul dengan orang-orang yang bisa menerima dirinya apa adanya.
"Kamu dengar aku, ha?! Aku mau cerai sama kamu! Aku nggak sudi punya suami kayak kamu!"
Langkah Kris terhenti, lalu pria itu memutar tubuhnya hingga kini dia berhadapan dengan Mawar. "Mimpi kamu!" ucap Kris, lalu pria itu menaikkan Mawar ke bahunya, melangkah setengah berlari menaiki tangga.
Sesampainya di kamar, Kris langsung melemparkan tubuh Mawar ke ranjang, sedang pria itu segera ke pintu, mengunci dan membuang kuncinya entah ke mana. Mawar segera turun dari ranjang. Dia sedang marah. Merasa jijik dengan semua yang terjadi malam ini. Dan ranjang adalah tempat yang paling ia benci untuk menyelesaikan semua masalah mereka.
Berdiri di dekat jendela, berharap jika Kris berbuat sesuatu padanya, ada yang melihat, Mawar melipat tangannya di d**a. Menaikkan dagu, menunjukkan ketidak takutannya meski jantungnya berdetak kencang. Kris dan kemarahannya adalah hal yang tidak baik, apalagi Mawar tadi berani menampar pria itu.
"Okey, kita bisa bicara dengan tenang sekarang karena nggak ada siapa pun yang akan ikut campur," ucap Kris, berjalan mendekati Mawar.
"Stop! Jangan dekat-dekat! Kamu di sana aja, atau aku sama sekali nggak mau bicara sama kamu!" teriak Mawar. Dia mengangkat tangannya, memberi kode pada Kris untuk berhenti.
"Okey, nggak masalah. Aku ..." Kris kembali mengacak rambutnya, menggosok wajah dengan kedua telapak tangannya, terlihat frustasi. "Aku nggak tau kalau Mama akan melakukan itu. Kamu tau aku, meski aku b******n, aku masih tau batasa. Nggak mungkin ...."
"Aku nggak peduli, mau itu ide mama kamu! Ide kamu! Ide Nita! Aku nggak peduli! Yang aku tau Nita hamil, tiga bulan, padahal berapa hari belakangan ini kamu bilang kamu akan berhenti, Kris! Kamu palsu! Penipu, kamu itu!" Mawar melontarkan semua isi hatinya. "Aku ... aku juga benci sama mama kamu itu! Udah tua, penyakitan, bukannya tobat malah ... kuranga ajar! Pokoknya aku benci kamu sama keluarga kamu! Semuanya! Satu paket! Kata mama kamu aku yang salah?! Ada bukti nggak?! Terakhir cek, kita sama-sama nggak mandul, kan? Kita sama-sama nggak subur? Mentang-mentang kamu coba sama Nita dan jadi, terus aku yang jadi tersangka gitu? Ya udah, gentian aja, aku coba sama laki-laki ...."
Tidak sampai selesai ucapan itu, Kris sudah menarik tubuh Mawar dengan hentakan kuat sehingga tubuh mereka beradu, lalu bibir pria itu membungkam bibir Mawar.
"Awww!" erang Kris sakit.
Mawar merasa puas, berhasil menghalangi Kris dengan menggigit bibit pria itu. "Mampus!" ucapnya lantang.
"Main kasar, Sayang? Boleh juga!" Kris tersenyum seperti iblis, lalu ia menghempaskan tubuhnya, sehingga tubuh Mawar terjatuh di atas ranjang, di bawah tindihan tubuh pria itu.
"Aku nggak mau! Ini namanya perkosaan, tau nggak!" teriak Mawar.
"Apa pun namanya, aku nggak peduli!"
"Kris ... keluarga aku ...keluarga kamu ... tamu ...." Mawar tidak bisa berkosentrasi dalam berbicara karenapria itu terus saja berusaha membungkam mulut Mawar dengan pagutannya. Mawarterus memaling-malingkan wajahnya, tidak mau berciuman dengan Kris. Isakanmulai lolos dari tenggorokannya saat merasa roknya sudah tersingkap, celanadalamnya terkoyak, dan sesuatu yang keras sudah memasuki dirinya.
NB