28

1783 Kata

Akhirnya, Mawar sepakat. Semudah itulah semua pendiriannya goyah. Dalam hati, dia berdoa agar keputusannya tidak salah. Dia bukan sedang membatalkan perpisahannya dengan Kris, hanya menunda. “Jadi, gimana?” tanya Kris, terlihat tidak sabaran. Mawar membuang napasnya kesal, lalu kembali duduk di tempatnya duduk tadi. Setelah duduk pandangannya terpusat pada sang mama, menyerahkan sepenuhnya wewenang untuk menjelaskan keputusan akhirnya. “Jadi ...” Mama Mawar menarik napas panjang, lalu melanjutkan ucapannya, “Mawar sudah setuju untuk memberi kamu waktu.” Desahan napas kuat penuh kelegaan terdengar, tentu saja dari Kris. Saat mendengar itu, Mawar bukannya melirik pria yang duduk di sebelahnya, melainkan pada Nita yang masih berdiri. Mata Mawar memicing saat melihat raut senang yang aneh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN